RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Perkenalan Yang Tak Diinginkan


Malam harinya, semuanya berkumpul di rumah Ardian untuk membicarakan perihal tempat tinggal mereka. Angga dan Ardian sepakat untuk tinggal bersama disalah satu kamar kost tipe studio milik Ardian, yang berada di showroom nya.


Sedangkan di rumah Dhania yang akan menemani adik-adiknya, dan Maura masih tinggal di kosannya. Dia tidak mau diajak serumah bersama, karena dia merasa sungkan meskipun ada kakak kandungnya sekalipun.


"Kak, kenapa kalian bisa menjadi dosen di kampus kami? Aneh saja, tiba-tiba saja kalian berada disini dan langsung mengajar begitu aja," tanya Kevin penasaran.


Malam ini Kevin sengaja untuk tidak kuliah agar bisa makan malam bersama dengan yang lain, termasuk untuk membicarakan perihal mereka.


"Kami punya beberapa koneksi disini, apa kau lupa kalau papah adalah orang asli sini juga? Dia punya teman dekat yang kebetulan salah satu dewan yayasan kampus kalian, mereka mengizinkan kita jadi dosen sementara, karena ada dua dosen yang lagi libur bersama.." jawab Dhania.


"Siapa dua orang dosen itu? Biasanya disuatu Universitas gak boleh ada staf pengajar atau dosen yang menjalin hubungan," tanya Angga juga penasaran.


"Oh, bu Vera dan pak Damar.. Mereka adalah dosen kami, mereka baru menikah dan katanya lagi pergi honeymoon dan mau mengerjakan sesuatu sekitar dua atau tiga bulan ini, dan bu Vera merupakan anak salah satu rektor di kampus ini.." jawab Maurice pula.


"Oh, pantesan.." sahut Dhania sambil manggut-manggut.


Mereka sedang mengobrol asik dan tidak kerasa sudah mau tengah malam, Maura diantar pulang oleh Angga ke kosannya, tadinya Ardian ingin mengantarnya tapi dilarang oleh Angga.


"Sebelum kita pindah ke showroom kamu, malam ini kita tidur di kamar kamu bertiga bersama dengan Kevin, Dhania bersama Maurice. Malam ini biarkan aku pergi mengantar Maura pulang, ada yang ingin aku katakan kepadanya.." ucap Angga kepada Ardian.


"Iya, kak.." sahut Ardian, padahal dia juga ada yang ingin disampaikan ke Maura.


Gadis itu setelah tau ada kesalahpahaman diantara mereka berdua, tidak sedikitpun berkata apapun padanya, jangankan untuk meminta maaf, mengobrol banyak dengannya saja tidak.


.


.


Angga memilih mengantar Maura pulang dengan jalan kaki, sebenarnya jarak antara kost Maura dengan rumah Ardian tidak jauh hanya berjarak beberapa kilometer saja, hanya dibatasi jalan setapak menuju taman bermain anak-anak di perumahan itu.


"May.." tegur Angga setelah cukup lama di keheningan diantara mereka.


"Hem.." sahut Maura.


"Bagaimana disini? Apa kamu mengalami banyak kesulitan?" tanya Angga berbasa-basi.


"Kesulitan pasti ada, apalagi aku juga baru datang ke Indonesia. Meskipun ini bukan negara asing bagiku, tapi setelah belasan tahun aku baru datang lagi ke sini, semuanya menjadi baru bagiku.


Apalagi.. Di rumah nenek, meskipun semuanya bersikap baik tapi begitu banyak kepalsuan di sana. Saat di sana aku tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang terlihat dingin ternyata dia yang baik, yang baik malah menjerumuskan aku.


Aku gak tau apa kakak bisa menjalani ini semua jika berada di posisiku, tapi asal kakak tau aja.. Hanya Ardian yang selama disini yang benar-benar bisa membantuku, bahkan dia selalu ada jika aku terkena bahaya..


Aku harap kakak tidak terlalu keras dengannya, dan percaya saja dengannya. Aku bisa melewati ini semua berkat dukungannya juga.. Aku harap tidak memisahkan kami, aku gak apa gak tinggal bersamanya ataupun tidak bertemu beberapa hari saja, asalkan tidak memisahkan kami itu sudah cukup bagiku.." ucap Maura mengeluarkan isi hatinya, dia berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya.


Terdengar Angga sedang menghela nafasnya, entah apa yang dipikirkan olehnya saat ini yang jelas dia terlihat lebih banyak berpikir, dia melihat kearah adiknya lalu tersenyum simpul.


"Aku tak mengira bahwa adikku ini sudah dewasa, bukan hanya usianya saja tapi pemikirannya juga. Aku mengerti apa yang kamu pikirkan, aku bisa memahaminya.. Dan maaf jika aku menjadi kakak yang overprotektif, itu semua aku lakukan demi menjaga kamu dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.


Kakak percaya dengannya kok, jika gak mana mungkin kakak biarkan kalian terus bersama selama disini. Kakak hanya memikirkan keselamatan dan kebahagiaan kamu saja, karena kakak takut kamu seperti kak Tari...


Dia diam-diam menanggung beban sendirian dalam menangani 'kelebihan' yang dia miliki, tapi malah percaya dengan orang yang salah, orang yang hanya memanfaatkan dirinya.." ujar Angga lagi.


"Iya, aku faham soal itu. Aku juga tak ingin seperti itu, makanya sebisa mungkin untuk tidak terlalu bergantung dengan orang lain, agar aku bisa mandiri sendiri. Kalau seandainya aku sendirian, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan..


Lagian, Ardian sangat mengerti aku. Dia tau mana yang perlu dibantu dan mana yang enggak, dia kadang hanya mengamati aku dari kejauhan agar aku merasa nyaman. Tapi aku juga kadang merasa bersalah dengannya karena sering sekali tidak bersamanya, kadang jika ada masalah aku tak sempat bercerita dengannya, dia marah. Bukan marah karena hal lain, tapi marah takut aku kenapa-kenapa.. Dia perhatian dengan caranya sendiri," ucap Maura, tanpa sadar dirinya tersenyum saat membicarakan Ardian.


Angga tersenyum juga saat melihat ekspresi wajah adiknya itu, setidaknya dia dan ayahnya tak salah memilih orang untuk menjaga Maura, lelaki yang diberi tanggung jawab yang cukup besar untuk menjaga amanah dari mereka.


"Em, Maura.. Kok aku merasa agak aneh dengan lingkungan sini, kok sepi banget sih?!" ujar Angga sambil matanya berkeliling melihat-lihat disekitarnya.


"Wajar aja, kan udah malam juga. Disini berbeda dengan kota-kota besar lainnya, apalagi Amerika, beda!" sahut Maura sambil tersenyum geli menatap kakaknya itu.


"Aku tau soal itu, tapi hawanya berbeda saja. Seperti ada sesuatu," ucap Angga lagi, dia mengusap tengkuknya beberapa kali.


Saat mereka melewati taman bermain, taman yang berada tepat didepan konstannya Maura itu, sekilas Angga melihat ada bayangan melintas di taman itu, begitu cepat melintasi mereka.


"Astaghfirullah, apa itu?!" teriak Angga terkejut.


"Ada apa, kak?!" Maura ikut terkejut mendengar suara teriakan kakaknya itu.


Angga terdiam sambil mengamati arah bayangan yang berhenti dibawah pohon besar diseberang taman itu, Maura mengikuti arah pandangan sang kakak, kini dia tau apa yang dilihat kakaknya itu.


"Dia penunggu taman ini, dia tidak jahat hanya sekali-sekali suka jahil aja. Ayo tinggalin aja, nanti dikiranya kakak mau ngajak dia main lagi, repot ntarnya!" ujar Maura sambil menarik tangan Angga.


"Ta-tapi.." Angga terlihat seperti kebingungan.


"Sudah, gak usah dihiraukan! Nanti ke geeran lagi dianya, dia memang begitu kalau melihat ada orang baru, isengnya langsung keluar," ucap Maura lagi.


Akhirnya Angga setuju mengikuti Maura dan memilih untuk tidak menghiraukan hantu itu..


"Kamu ngeledekin aku?! Eh, anak kecil! Aku sekarang sudah biasa liat setan, jadi gak takut! Sana masuk, anak gadis tak baik lama-lama diluar," sahut Angga kesal merasa diremehkan.


"Ish, bedalah! Hantu yang di Amerika ataupun negara-negara Eropa lainnya berbeda dengan hantu di sini, disini lebih beragam bentuknya! Dari yang cakep sampai hancur banget banyak, tapi jangan tertipu dengan penampilan, biasanya yang cakep itu lebih jahat dan sadis!" ucap Maura menjelaskan semua tentang dunia perhantuan yang dia tau tentunya.


"Alah, dimana-mana yang namanya hantu itu sama aja! Sudah, masuk sana!" ujar Angga tak perduli dengan omongan Maura tadi.


"Ish, dibilangin juga!" sungut Maura.


Krieeett!


Pintu gerbang itu dibuka Maura pelan, karena sudah begitu malam anak-anak kost sudah berada didalam kamarnya masing-masing, suara deritan pagar besi itu terdengar nyaring saat Maura membukanya, padahal dia cukup pelan membukanya.


"Astaghfirullah, Maura! Tempat apa yang kamu diami ini, kok serem banget!" ucap Angga merinding.


Saat pintu gerbang terbuka, mereka sudah disambut oleh si Kunti diatas pohon dengan tawa cekikikan nya yang siapapun mendengarnya dibuat merinding olehnya.


Bahkan Angga sempat melihat ada bayangan lain yang melintas dari arah bawah lantai kamar kost itu, bahkan bayangan itu sedang mengamati mereka.


"Kamu yakin masih ingin tinggal disini?" tanya Angga.


"Iya, jika sudah tak tahan aku tinggal mengibarkan bendera putih, haha!" canda Maura.


"Heh, serius dikit napa anak kecil!" ujar Angga kesal sambil menjitak kepalanya.


"Sakit! Serius banget malah, emang serem tapi mereka gak terlalu mengganggu. Paling sesekali suka iseng dia, tapi ini masih mending jika dibandingkan dengan kost yang dulu," ucap Maura sambil mengingat kembali.


Sebenarnya masih banyak kisah yang belum diceritakan oleh Maura selama dia berada di Indonesia, termasuk saat bertemu dengan bibi kandung mereka, yaitu adik dari Laura Magdalena.


"Ya udah jika kamu bisa mengatasinya, tapi jika kenapa-kenapa langsung hubungi kami dan kamu segera pindah aja," ucap Angga sambil berpamitan dengannya.


Maura tersenyum mendengar ucapan sang kakak yang penuh perhatian itu, kemudian dia kembali menutup pintu pagar dan naik ke lantai atas menuju kamarnya, dia pura-pura tak mendengar saat si Kunti memaksanya minta dikenalin sama Angga.


Sementara itu, diluar yang sepi dan dingin itu Angga berjalan sedikit lebih cepat dibandingkan biasanya. Dia mengikuti saran Maura untuk tidak memperhatikan ke sekelilingnya, dan mengabaikan suara-suara yang menggodanya.


Dan benar saja, bayangan hitam dibawah pohon itu tadi dengan secepat kilat menghampiri Angga, badannya tinggi kurus tapi perawakannya seperti anak kecil, seperti anak kecil tapi memiliki kaki yang sangat panjang.


"Hei, mau bermain denganku!" bisiknya ditelinga Angga.


"Jangan pura-pura tak mendengar, aku tau kau bisa melihat dan mendengarku!" ujar hantu itu.


Angga memilih mengabaikannya dan terus berjalan, menatap lurus ke depan tanpa melirik sedikitpun. Tapi hantu itu tak tinggal diam saja, dia malah menghadang Angga di ujung jalan itu.


Angga bingung harus bagaimana, jika dia berjalan memutar itu berarti dia menunjukkan diri jika dia bisa melihat semua makhluk yang di sana, jika tak menghindar maka dia akan menghadapi mereka, sedangkan dirinya saat ini nampak begitu tegang dengan berkeringat dingin membasahi tubuhnya itu.


"Bismillah, aku percaya jika kita tak memiliki niat buruk maka Allah akan menjaga dan melindungi kita dari segala godaan dan gangguan pada setan ini!" gumamnya dalam hati.


Hantu itu berdiri ditengah jalan menghalangi langkah Angga, tubuhnya tiba-tiba menghitam dengan bola mata memerah dan menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang hitam dan mengeluarkan lendir busuk berbelatung.


Gegara hantu iseng itu, makhluk-makhluk lainnya yang bersembunyi di tempat-tempat itu malah penasaran dan ikut memperhatikan Angga, mereka mencoba mendekati Angga. Dan..


Sriiinnggg!


Brrrmmm!


Cahaya lampu dari motor sport menyilaukan nya, suara motor yang kencang itu mengagetkan semua makhluk itu termasuk hantu jahil tadi, mereka semua menghilang dan bersembunyi.


Angga langsung terduduk lemas, dia merasa baru saja terlepas dari serangan jantung mendadak. Motor sport itu berhenti tepat didepannya, pemiliknya turun dan mendekati Angga.


"Bagaimana, apa jantung masih aman?!" terdengar suara tak asing ditelinga nya.


"Kau.." Angga bernafas lega ternyata itu Ardian.


"Itu mengapa aku juga ingin mengantar Maura pulang, meskipun jaraknya dekat tapi terasa jauh karena kita pasti akan melewati mereka semua!" ucap Ardian sambil menunjuk beberapa makhluk yang masih terlihat mengintip mereka dari jauh.


"Setidaknya aku bisa mengantar Maura dengan motor ini, kalau kakak mau kenapa gak bawa motorku aja tadi?" tanya Ardian sambil mengulurkan tangannya agar Angga bisa bangkit kembali.


"Kenapa gak kau bilang tadi?!" sungut Angga kesal.


"Lah, kan tadi katanya mau jalan kaki aja!" sahut Ardian gak mau kalah.


"Kalau aku tau disini setannya banyak dan menyeramkan, aku mana mau jalan kaki! Mana Maura juga tadi diam aja gak bilang apa-apa, pas bilangnya karena kadung ketemu setan langsung, mana tadi sempat-sempatnya nakutin lagi!" gerutu Angga sambil menaiki motor bersama Ardian.


Kali ini Ardian tidak menyahuti, dia hanya tertawa saja. Akhirnya Angga bisa merasakan ketakutannya selama ini ketika mengantar Maura pulang, tapi kini dia sudah biasa, malah pada hantu itu saat mendengar suara motornya langsung pergi.


......................


Bersambung