RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Siapa Dia?


Dewi Srikandi memacu kuda itu melaju dengan cepat, Maura memeluknya dengan erat.


" berpegangan yang erat Maura, aku akan memacu kuda ini lebih kencang lagi " ujar Dewi Srikandi.


Mereka menerobos hutan berkabut, pandangan Maura terhalang oleh kabut itu. Matanya perih terkena angin yang kencang karena kuda melaju semakin cepat.


Dia memejamkan matanya sambil memeluk pinggang Dewi Srikandi.


" Dengar Maura, sebentar lagi kita akan sampai. Sesampainya nanti, jangan kau ceritakan ke siapapun pengalamanmu disini.


Kita tidak bisa menebak isi hati orang dan tidak bisa menilai orang, karena yang baik belum tentu baik.


Dan terkadang yang kita pandang buruk, siapa tahu dia yang terbaik. Faham kan? " tanya Dewi Srikandi.


Maura hanya mengangguk, dia menggigil kedinginan. Entah kenapa hawa di sana semakin dingin.


Setelah itu, suasana begitu sunyi. dia tidak merasakan hawa dingin ataupun terpaan angin kencang lagi.


' Apa sudah sampai, kenapa berhenti? ' Maura membatin.


Dia membuka matanya pelan-pelan, dia terkejut sekali saat ini dia kembali di koridor rumah sakit.


Yang mengejutkan lagi, posisinya saat ini dalam keadaan memeluk pria itu.


Yah, pria misterius yang menyebalkan selalu mengikutinya, bukannya tadi dia sedang naik kuda bersama Dewi Srikandi.


Masih keadaan tak sadar tangannya masih melingkar di pinggang pria itu, Maura heran kenapa tiba-tiba dia bisa kembali lagi disini?


" Sepertinya kau memang suka padaku yah, sampai bangun pun kau masih memelukku " kata pria itu setengah berbisik dengan nada sarkasme.


Maura terkejut, dia sadar apa yang dia lakukan. Buru-buru dia melepaskan tangannya, dia mengibaskan tangannya seolah tangannya kotor terkena debu.


Terdengar suara kekehan kecil dibalik masker mulut itu. Sekilas Maura tadi sedikit terpana dengan tatapan mata pria tadi.


Dengan posisi lebih dekat tadi, dia bisa melihat mata itu lebih lekat lagi, dan ini sudah kedua kali dia bertatapan dengan pria itu.


Saat tatapan pertama, pria itu sedikit lebih garang dengan mata yang tajam. Dan tatapan yang kedua ini nampak begitu berbeda.


Ah, mungkin karena seharian ini bersama, hal itu menjadi biasa aja. Pikir Maura.


" Kenapa kau diam? tidurmu pulas sekali, tanpa sadar memeluk orang. Lihat, ilermu itu kemana-mana.. " kata pria itu.


Maura seketika langsung mengelap mulutnya dengan kasar, pria itu tertawa melihat tingkah Maura itu.


Sadar dirinya dipermainkan, dia meluapkan kekesalannya dengan memukul pria itu.


*


Disisi lain, keluarga Kevin datang ke rumah sakit. Sepertinya mereka pulang dulu sebelum menjenguk Maurice.


Saat mereka menuju lobby rumah sakit, seseorang memanggil Dhania.


" Dhania, my darling. Hoho.. " seorang pria berpenampilan rapi dengan jasnya, rambut klimis dengan kumis tipisnya.


Dia adalah Marino de Paquillo, pemilik rumah sakit ini. Dia juga sahabat Dhania waktu sekolah, dan sempat menaksir Dhania.


Hem, Marino de Paquillo. Sepertinya nama itu tak asing yah..?


" Hai Marino, apa kabar? lama tak bertemu.. " sapa Dhania.


" Siapa dia? " tanya pak Wisnu.


" Teman waktu sekolah Pa. " Jawab Dhania.


Marino menghampiri Dhania dan orang tuanya, dia memberi salam hormatnya kepada mereka.


Mereka berbincang sebentar, mengulang cerita masa sekolah dulu.


" Bagaimana, apa kau masih mengekor pada Angga? hehe.. " tanya Marino pada Dhania.


" Iya, kami bahkan sudah mau bertunangan " jawab Dhania.


" Wow selamat yah, kalau sudah melaksanakan resepsi pernikahan nanti, jangan lupa undang aku yah? " ujarnya sambil tersenyum.


" Jangankan undangan pernikahan, saat melaksanakan tunangan nanti aku juga akan mengundangmu juga " ucap Dhania.


" Kalau tunangan aku tidak akan datang, siapa tahu nanti nikahnya batal. Aku bisa meminangmu nanti, kan jadi tidak enak menikahi wanita yang tidak jadi menikah.


Sedangkan aku pernah menghadiri acara pertunangannya dulu, haha.. " katanya sambil berseloroh.


Dhania tersenyum kecut mendengar perkataan Marino itu, sedangkan kedua orang tuanya geram.


" Ah, calon menantuku juga sudah datang.. " kata bu Ella sambil melambaikan tangannya kearah Angga.


Kebetulan sekali Angga juga datang hari itu untuk menjenguk Maurice, yang sudah dianggap adiknya itu.


Dia menghampiri Dhania dan orang tuanya, dia melihat Marino juga di sana.


" Halo semuanya.. " sapa Angga.


Semua orang tersenyum melihatnya, tidak dengan Marino. Cih, panjang umur juga orang ini. Pikir Marino.


Bagaimana tidak, baru saja dia menggoda Dhania, Angga sudah datang.


" Hai Marino.. " sapa Angga.


" Hai bro, kau masih mengenalku? " jawabnya dengan bangga, seolah dia sangat hebat.


Makin jengkel saja orang tua Dhania melihat tingkah pria ini.


" Tentu saja, Marino de Paquillo salah satu konglomerat hebat di kota ini.. " sahut Angga.


Makin pongah saja dia dipuji oleh Angga, tidak tahan dengan tingkah pria itu, bu Ella langsung berpamitan dengannya.


" Maaf yah, kami tak bisa berlama-lama disini. Kami harus menjenguk kerabat kami disini, permisi.. " kata bu Ella langsung berlalu pergi.


Pak Wisnu agak kaget dengan sikap istrinya itu, dia lalu menyusulnya.


" Maaf ya Marino, kami juga harus berpamitan. Senang bertemu denganmu.. " kata Angga seraya menjabat tangan Marino.


Setelah itu mereka berlalu pergi, Marino menghentikan langkah mereka.


" Tunggu dulu, kalau boleh tahu kalian mau bertemu dengan pasien yang mana?


Siapa tahu aku bisa membantu dalam hal lain, kau tahu kan aku pemilik rumah sakit ini.. " katanya masih menyombongkan diri.


" Namanya Maurice, dia sahabat adikku. Tapi kami semua sudah menganggapnya bagian dari keluarga juga.. " kata Angga.


" Oh, baiklah. Aku akan mengingatnya, sampai jumpa.. " kata Marino sambil berlalu pergi.


' Maurice, sepertinya aku pernah mendengar nama itu ' batinnya.


Siapa sebenarnya Marino de Paquillo ini?


......................


Bersambung