RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kehadiran Seekor Kucing Lain


Besok paginya, Maura seperti biasa akan bersiap-siap akan ke kampus. Sebelum itu dia penasaran apa yang membuatnya terganggu, dia mengecek diluar kamarnya ada bekas cakaran didaun pintu kamarnya.


"Siapa yang melakukan hal ini? Tidak mungkin kalau kucing, bekas cakarannya terlalu dalam untuk seekor kucing.." gumamnya.


Dia kembali masuk, saat dia mau mengambil sesuatu diatas mejanya dipantulan cermin dia seperti sedang melihat seseorang berdiri dibalik pintu kamarnya.


Otomatis dia menoleh kebelakang, tapi tak ada siapa-siapa di sana, Maura sudah memiliki perasaan was-was dia bergegas mengambil tasnya lalu pergi dari kamarnya.


"Maura, mau sarapan bareng?" tanya bu Sinta.


"Nggak, Bi. Maaf... Aku hampir kesiangan, aku berangkat duluan yah" ujarnya berpamitan.


"Makanya, tidurnya jangan malam-malam mulu biar gak kesiangan!" ledek Nayra di meja makan sambil mengunyah nasi goreng.


"Iya, kalau nenek tahu kamu bisa dimarahi" sahut Nala juga.


"Maaf, banget! Aku gak bisa, aku bawa sandwich roti selai aja yah" ujar Maura sambil mengoles roti dan memasukkan kedalam kotak bekal plastik berukuran kecil.


"Terserah kau ajalah, ingat pulang jangan malam lagi kayak kemarin! Kau yang salah, kami juga kena dampaknya tahu!" kali ini Syalimar ikutan berkomentar.


"Iya, maaf.." ujar Maura lagi.


Setelah itu dia bergegas pergi menuju halaman luar, berharap bisa menumpang kesalah satu mobil paman atau bibinya. Tapi sayangnya semuanya sudah pergi.


Akhirnya dia berjalan menuju jalan didepan tepatnya dibawah bukit itu, sedikit menurun kalau berjalan hingga dia berhati-hati untuk turun agar tak tergelincir.


"Ini mangsa kitaaa!" terdengar suara serak dibalik rerimbunan semak disamping Maura.


"Hwaaa!" dia melihat ada beberapa makhluk berbentuk gorila ingin mengejutkannya.


Tapi respon Maura biasa saja, dia tak terkejut ataupun ketakutan melihat mereka. Dia masih fokus berjalan menuju ke depan.


"Kenapa dia tak terkejut?"


"Mungkin kita tak cukup seram baginya"


"Bukan, dia mungkin tak bisa melihat kita.."


"Tidak, aku sudah membuka diri agar manusia biasa yang kita tuju bisa melihatnya"


"Tapi kenapa dia seperti itu?"


Begitulah kira-kira percakapan mereka, Maura tersenyum geli mendengar komentar mereka tentang dirinya. Dia sekarang lagi dipinggir jalan, celingukan kalau-kalau ada angkot yang lewat.


"Mari kita dekati ia, aku masih penasaran" ujar makhluk tadi.


Mereka mendekati Maura dengan hati-hati, mengamati gadis itu tak ada special darinya. Itu karena Maura tidak membuka auranya lebih lebar lagi, jika dia melakukannya dikhawatirkan dia akan mencelakai makhluk yang baik.


"Menjauhlah, aku sedang tak ingin bermain-main!" ujar Maura mengagetkan para makhluk itu.


"Apa dia sedang berbicara dengan kita?"


"Aku rasa begitu"


"Coba kau dekati dia lagi, dan amati sekali lagi siapa tahu dia berbicara sendiri memakai benda lecil itu" yang mereka maksud mungkin ponsel yah.


Salah satunya memberanikan diri mendekati Maura, dia tak melihat dirinya melakukan apapun, yang ada dia mendapat tatapan tajam dari Maura.


"Akh! Gadis ini berbahaya, dia bukan manusia lemah seperti yang biasa kita temui"


"Kenapa? Apa kau melihat sesuatu didirinya?"


"Entahlah, aku merasa ada energi besar didirinya.. Aku ketakutan sediri melihat tatapan matanya itu"


Mereka hanya berdiam diri dari kejauhan menatap Maura berdiri sendiri menunggu angkot lewat, setelah menemukan angkot itu Maura naik dengan tenangnya meninggalkan para makhluk itu.


Saat angkot itu hendak melewati para makhluk itu, Maura mengacungkan jari tengahnya sambil menjulurkan lidah ke para makhluk itu.


"Weee, emang enak dikerjain! Usil sih, suka gangguin orang lewat" gumamnya sendiri.


Para makhluk itu bengong apa yang dilakukan oleh Maura barusan, mereka merasa dipermainkan olehnya. Seketika jatuh harga diri mereka itu.


Sedangkan angkot yang membawa Maura menuju kota berjalan dengan mulus tanpa gangguan.


Sesampainya di kampus dia disambut pelukan Maurice, seperti tak bertemu lama saja. Maura risih dengan tingkahnya yang manja itu, tapi dia suka karena sahabatnya itu mentraktir makanan favorit terbarunya, cilok.


"Aku baru tahu kalau ada makanan seperti ini, enak! Apalagi dicampur dengan bumbu kacangnya, ajib!" kata Maurice mengomentari makanannya.


"Meeeoonngg!"


Tiba-tiba mereka disamperin seekor kucing lucu dan menggemaskan, kucing berjenis persia berbulu putih dan halus. Hanya saja keadaannya sedikit mengkhawatirkan, tubuhnya kurus dengan bulu-bulunya sedikit rontok, dan terlihat ada beberapa luka di tubuhnya.


"Kucing siapa ini? Kok bisa ada disini?!" tanya Maurice heran.


"Mungkin kucing penjaga kantin atau kucing ini memang sudah lama tinggal disini" sahut Maura.


"Kok bisa?" tanya Maurice lagi.


"Bisa saja, kalau disini sudah biasa ada kucing liar berkeliaran seperti ini. Biarkan saja, asal tidak mengganggu" ucap Maura.


Tapi entah kenapa hatinya miris melihat keadaan kucing itu, tiba-tiba ingatannya kembali kepada sosok sahabat mungilnya dulu.


"Bukan begitu, May. Aku hanya kasihan saja padanya.. Kalau dibolehkan aku mau mengurusnya, tapi aku yakin penjaga asrama juga teman-teman dikamarku pasti tak suka" ucap Maurice sedih.


"Aku hari ini lumayan banyak jadwal kelas, kau duluan saja yah.. Kalau mau pulang juga tak apa, jangan kesorean kayak kemarin!" teriak Maurice kepada Maura yang sudah berjalan agak jauh.


Maura hanya melambaikan tangannya saja, sambil berlalu menuju kelasnya. Dia duduk di samping Ardian, entah kenapa dia tak bisa jauh darinya.


"Kamu kenapa sih, selalu ikut kelas yang sama denganku?!" tanya Maura sambil melirik kearahnya.


"Kebetulan aja kok" jawab santai Ardian.


Maura mencibir kearahnya, tapi sebaliknya Ardian malah menatapnya lekat sambil tersenyum manis, membuat Maura jadi salah tingkah hingga dosen pun datang untuk mengajar kelasnya.


//


Kelas hari ini selesai, Ardian membawa Maura pergi ke alun-alun kota itu. Dia ingin sedikit meluangkan waktu bersamanya.


"Kamu tumben kayak gini, ada apa?" tanya Maura canggung.


"Gak ada apa-apa, aku hanya ingin bersamamu saja. Kita masih punya banyak waktu kok, nanti pulang aku antar yah.." pinta Ardian.


"Gak usah, desaku lumayan jauh dari sini. Nanti kamu kecapekan, lagian aku takut mereka tak suka aku dekat dengan orang lain disini" ucap Maura.


"Aku harap kamu gak lupa dengan misi kita disini, kita disini bukan sekedar pulang kampung atau hanya kuliah saja. Kita ada tujuan lain, May..


Aku harap, kamu di sana baik-baik saja. Semoga kamu tak terpengaruh oleh mereka, ingat kamu berada di kandang sekte itu!" ujar Ardian memperingatkan Maura.


"Iya, aku tau kok. Aku juga sudah mulai menyelidiki mereka, tapi tidak mudah. Mereka juga sangat cerdik, aku harus berhati-hati.


Dan aku yakin tidak semua anggota keluarga ikut dalam sekte itu, aku lihat ada beberapa sepupuku yang di sana tak tahu apa-apa" sahut Maura lagi.


"Bukan maksudku ingin menjauhkan kamu dari mereka, tapi May.. Ingat kata bi Marni, mereka sangat pandai dalam memanipulasi sesuatu, jangan sampai terpengaruh" ucap Ardian.


"Iya, jangan khawatir! Aku baik-baik saja, o ya! Sudah mau sore, jadi mau nganterin aku pulang?" tanya Maura.


"Jadi dong! Yuk pulang.." sahut Ardian dengan senyumannya.


Dia menggandeng tangan Maura menuju sepeda motor sportnya, ada beberapa pasang mata memperhatikan mereka dengan iri, bagaimana tidak dua pasangan sejoli ini nampak begitu serasi sekali.


"Kamu punya motor?? Keren banget! Emang yah kamu itu, definisi gak kuat sengsara!" ujar Maura meledek Ardian.


"Bukan begitu, bagaimana juga aku butuh alat transportasi buat digunakan jika ada keadaan darurat saja" ucap Ardian.


"Emang ini keadaan darurat yah?!" sindir Maura.


"Iya, darurat banget malah. Karena calon istri mau pulang, kan kasian kalau pulang sendirian" sahutnya sambil nyengir.


Maura dibuat malu dengan ucapannya tadi, dia menaiki motor itu agak susah, maklum dengan tubuh mungilnya dia harus berusaha naik keatas motor sport besar itu.


"Raih tanganku!" ujar Ardian sambil mengulurkan tangannya.


Maura menyambut tangan itu, dan berhasil naik keatas motor itu dengan aman.


"Lain kali, minum susu yang banyak biar cepat gede!" goda Ardian.


"Maksudnyaaaa" sahut Maura dengan malasnya.


Mereka meluncur ke desa neneknya Maura, pukul 4 sore mereka pulang, bukanlah waktu yang terlalu sore, tapi cuaca yang tak mendukung. Langit sore itu begitu mendung, awan hitam mulai menyelimuti langit.


"Sepertinya mau hujan, kita istirahat dulu May!" kata Ardian dibalik helmnya.


"Lanjut saja, nanggung bentar lagi nyampe!" jawab Maura dibelakangnya.


Mereka nekat berjalan menyusuri jalanan berliku dibalik tebing-tebing curam itu, sedangkan disampingnya adalah jurang yang lumayan dalam.


Hujan mulai turun, Ardian mulai sedikit mengurangi kecepatannya jalanan basah takut tergelincir dan masuk kedalam jurang itu, kan bahaya!


"Kita lanjut aja yah, disini tak ada tempat untuk beristirahat" ujar Ardian.


"Iya!" sahut Maura.


Hujan sangat deras membasahi tubuh mereka, pandangan Ardian terhalangi oleh embun yang menempel dikaca helmnya.


Didepan sana, dia melihat ada pondok kecil seperti pos roda jaga siskamling gitu.


Ardian berhenti di sana, dan membantu Maura turun dari motornya. Mereka mengeringkan tubuh dan rambut mereka alakadarnya saja, tubuh kecil Maura menggigil kedinginan, Ardian jadi merasa bersalah dibuatnya.


"Seharusnya kita tadi berhenti sebentar, jadi tidak akan kebasahan seperti ini" ucapnya.


"Tak apa, lagian aku yang minta tadi" balas Maura sambil berusaha tersenyum.


Ardian tahu gadis ini sedang menahan rasa dingin itu, dia berinisiatif membuatnya hangat dengan memberikan jaketnya ketubuh Maura, tapi dia lupa jaketnya juga basah, alhasil Maura jadi tambah basah.


"Akh, dingin!" teriak Maura.


"Ah! Maaf, maaf! Aku lupa jaketku juga basah" ujarnya bingung dengan kelakuannya sendiri.


Keduanya tertawa dengan kejadian itu, dan mampu sedikit melupakan rasa dinginnya itu.


......................


Bersambung