
Suasana semakin mencekam, pertarungan didunia gaib itu semakin mengganas. Efek dari pertempuran itu sampai ke dimensi manusia, di dunia dimana bi Marni, Tari juga Angga dan Dhania berada.
"Langit begitu gelap dan angin begitu kencang, apakah terjadi sesuatu?" gumam bi Marni merasa gelisah.
"Apa yang terjadi, Bi? Aku yakin ini bukan fenomena alam biasa, auranya sangat berbeda" ujar Tari merasa gelisah juga.
"Apa kau sudah dapat kabar dari adik-adikmu? Semenjak pertarungan di gedung itu, mereka sudah tidak menghubungi kita lagi" tanya bi Marni.
"Mereka juga tak mengabari ku, Bi. Aku mencoba menghubungi mereka pun tak bisa. Aku tak tahu mereka sedang apa dan dimana" ucap Tari pelan.
Setelah itu Angga datang keluar dari gudang untuk mengecek keadaan Daniel, saat ini Daniel dibiarkan sendiri didalam gudang itu dengan ikatan kencang. Dia juga tak mau mengakui perbuatannya itu meskipun sudah tertangkap basah.
"Ada apa ini?" tanyanya saat melihat bi Marni dan Tari terlihat gelisah sekali.
Dia juga berdiri diatas balkon apartemen mereka, melihat langit begitu gelap dan angin menderu kencang terdengar suara kilat bersahutan dari arah jauh.
"Kenapa tiba-tiba gelap begini?" gumamnya.
"Angga, Nak. Coba kau hubungi adik-adikmu kenapa sampai saat ini mereka masih belum menghubungi kita" ujar bi Marni khawatir.
Angga menghubungi mereka tak ada jawaban sama sekali dari mereka semua, dia juga mencoba melacak sensor suhu tubuh mereka memakai alat-alat canggihnya juga tak ada hasil.
"Kemana mereka semuanya? Dhania pun tak bisa dihubungi" gumamnya khawatir.
"Kak, Bi. Aku akan menyusul mereka, aku khawatir kalau sesuatu telah terjadi" ujarnya, Angga bersiap-siap akan pergi.
"Aku ikut denganmu" sahut Tari.
"Tidak, Kakak disini saja bersama Bi Marni. Kakak masih terluka dan harus beristirahat" jawab Angga.
"Tapi aku takut jika kau tak juga memberi kabar" ucap Tari dengan raut khawatirnya.
"Tidak akan, jika dalam satu jam aku tak memberi kabar... Kalian pasti tahu apa yang harus kalian lakukan" ujar Angga.
"Tapi..." Tari masih saja merasa hatinya gelisah.
"Apa yang dikatakan oleh Nak Angga betul, Tari. Kita tunggu saja disini sambil mengobati lukamu yang masih basah juga, kau juga harus mengawasi suamimu itu karena Bibi tak sanggup sendirian disini" ucap bi Marni.
"Iya Bi, iya ..." jawab Tari lirih.
Angga melajukan mobilnya cukup kencang kearah gedung bertingkat tinggi milik Marino itu, dia tak tahu apa yang terjadi saat itu. Bahkan Marino dan para sekutunya sudah tewas dan lenyap semuanya.
Sesampainya di sana, dia merasakan hawa dingin yang mencekam. Auranya sangat berbeda, begitu ganjil dan aneh sekali.
Karena suasana diluar begitu gelap karena cuaca buruk membuat gedung itu nampak gelap dan mengerikan, padahal banyak lampu-lampu yang menghiasi dan menyinari gedung itu tetap saja sangat buram dan gelap.
Angga memasuki gedung itu, begitu sepi dan sunyi. Awalnya Angga menganggapnya wajar saja mengingat gedung ini masih baru dan belum beroperasi, tetapi sudah diisi penuh oleh dekorasi dan furniture dengan berbagai ornamen-ornamen aneh menurutnya.
Semakin dalam dia masuk ke gedung itu, semakin mencekam. Samar-samar dia mendengar suara teriakan lirih dan suara orang minta tolong dari kejauhan, tapi berusaha menghiraukannya.
Tibalah dia disebuah koridor menuju auditorium, koridor itu terbagi dua satu kearah taman samping gedung itu satunya kearah auditorium.
Entah kenapa matanya selalu tertuju kearah lorong gelap minim cahaya itu, dia berpikir jika semua adik-adiknya itu ada di sana karena dia tahu tujuan mereka kesana karena sebuah misi bukan liburan.
Pelan tapi pasti Angga menyusuri koridor itu, hanya diterangi cahaya lampu pijar yang temaram. Dia merasakan sepatu yang dipakai menginjak sesuatu yang licin berlendir.
"Bau amis darah bercampur bau busuk! Apa ini?" gumamnya.
"Aakhh!"
Dia mendengar suara jeritan dari arah auditorium itu, pelan tapi pasti dia jelas mendengar suara itu. Dengan setengah berlari dia melewati koridor panjang itu menuju auditorium itu, dengan suara jeritan itu dia yakin adik-adiknya ada di sana.
"Mas... Tolong, tolongin aku ..."
Terdengar suara lirih dari arah samping dinding koridor itu, Angga melihat kearah sana tapi tak ada apa-apa karena gelap tidak terkena cahaya lampu. Angga kembali berjalan kearah auditorium itu.
"Maaass..."
Terdengar lagi suara itu, suara wanita dengan sedikit serak. Setelah itu angga mendengar suara ketukan jari dari arah lantai, berlahan terlihat sosok mengerikan merayap kearahnya merangkak menggunakan kedua tangannya.
Mahkluk itu hanya setengah badannya saja, dari arah pinggang ke bawah sudah tak ada apa-apa hanya ada jeroan tubuhnya yang tersisa menjuntai keluar dan ceceran darah hitam membasahi lantai koridor itu.
"Aakhh!" Angga berteriak berlari kearah auditorium dengan dikejar oleh mahkluk itu.
Langkahnya sedikit berat karena cairan lengket hitam itu membasahi seluruh koridor itu, semakin dekat dengan auditorium itu semakin banyak cairan dilantai itu, sepertinya cairan itu berasal dari sana.
Situasi benar-benar diluar dugaannya, semakin dekat dengan auditorium itu semakin lambat langkahnya karena tergelincir terus oleh cairan itu, sedangkan mahkluk yang mengejarnya semakin dekat dengannya menyeringai menjulurkan lidahnya penuh dengan cairan hitam pekat.
Angga panik dia tidak tahu harus bagaimana, tiba-tiba saja ada ide gila di kepalanya, dia memilih berseluncur menggunakan cairan hitam busuk menjijikkan itu kearah auditorium agar lebih cepat.
"Ahh!" dia meluncur kencang kearah pintu sedikit saja dia terlambat maka kakinya akan berada di cengkeraman makhluk itu.
Tapi sialnya, makhluk itu malah ikut berseluncur dengannya, beriringan makhluk itu berusaha mencapai Angga, sambil tertawa meringkik menakutkan.
"Akkh! hhh...hh..hh" di akhirnya sampai tepat waktu membuka pintu itu dan menutupnya kembali sebelum mahkluk itu ikutan masuk.
Dia mengatur nafasnya, yang kelelahan karena mahkluk itu. Bukan saja terkejut melihatnya tetapi juga ketakutan dikejar oleh setan itu juga.
Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat makhluk halus secara langsung, berbeda dengan orang tuanya juga kakak dan adiknya dia satu-satunya yang tak pernah berhubungan dengan makhluk gaib.
Yang membuatnya ketakutan lagi adalah apa yang ada didepannya saat ini, daripada setan diluar sana, setan-setan disini malah lebih menakutkan.
Dia melihat segerombolan mahkluk itu berjalan seperti zombie menuju arah yang sama, dari arah itulah suara jeritan tadi berasal.
"Akh, tolong!" terdengar lagi suara teriakan minta tolong dari arah ruangan, dan para makhluk itu semakin ganas mendekati pintu itu.
Angga yakin suara teriakan itu suara teriakan minta tolong manusia, bukan seperti setan tadi. Setelah dia dengarkan seksama suara jeritan itu sepertinya dia mengenalnya.
"Dhaniaa!" teriaknya.
Tentu saja suara teriakannya mengalihkan pandangan para makhluk itu beralih kearahnya, mereka malah mengganti arah tujuan mereka bergerak menuju kearahnya.
Angga berteriak berlari menghindari mereka, dia hanya berputar-putar saja didalam ruangan itu, sementara itu Dhania mendengar suara Angga berteriak memanggilnya mengintip dari arah cela pintu itu, dia melihat para makhluk itu mengejar Angga.
Sedangkan Angga yang panik hanya berlarian tak tentu arah, saat dia berlari melewati pintu tempat Dhania berada, tangannya langsung ditarik oleh Dhania masuk kedalam ruangan itu dan menutup pintu itu sekuat mungkin.
......................
Bersambung