RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Ingatan Yang Lain


"A-apa yang terjadi sebenarnya, Non?!" tanya Security itu penasaran.


"Aku gak tau, Pak.. Yang jelas untuk saat ini jangan dulu terima tamu apapun alasannya, setidaknya dia memiliki izin dari pengurus atau dari pak Kyai dulu kalau mau masuk!" jawab Maura.


Dia bangkit dari duduknya, sedikit meringis karena badannya terasa sakit semua karena dia sedikit menggunakan kekuatannya untuk menghalau para makhluk itu tadi.


Dia melihat sekelompok makhluk bayangan hitam itu sedang mengamuk karena targetnya lepas begitu saja, terlebih sang target dalam perlindungan yang sangat kuat. Kemudian para makhluk itu berkeliling mengitari luar pagar bangunan pesantren itu, mencoba mencari celah untuk masuk kedalam.


"Gawat, mereka tak menyerah begitu saja! Aku harus cepat bergerak sebelum kecolongan lagi," gumam Maura.


"Pak, aku mau masuk dulu menyusul temanku tadi. Ingat kataku tadi, jika ada yang mau masuk tanyakan dulu keperluannya!" ujar Maura sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Baik, Non!" ujar security itu sambil bersikap hormat kepadanya, sedikit bercanda mengurangi ketegangan yang ada.


Tiba-tiba Maura teringat sesuatu, Ardian! Dia hampir melupakannya, dia menoleh kebelakang ingin memberitahukan soal dia kepada security, tapi ternyata Ardian sudah datang dan terlibat perdebatan dengan security itu.


"Maura!" panggil Ardian saat melihatnya datang kembali menghampiri security itu.


'Pak, aku lupa lagi! Ini teman saya, biarkan dia masuk.." ucap Maura sedikit merasa tak enak dengan security itu.


"Saya tau ini Den Ardian, cuma masalahnya asli gak nih orangnya.." kata Security itu sedikit ragu.


"Asli, Pak! Asli.." sahut Ardian tak sabaran.


Maura mengangguk ketika security meminta pendapatnya, kemudian Ardian masuk dan mereka langsung menuju tempat Ayahnya Ichan ditangani oleh pak Kyai dan yang lainnya.


Satu hal yang tidak mereka ketahui jika gerak-gerik mereka diawasi oleh para makhluk itu, mereka sedang mencari waktu yang tepat untuk bisa memasuki area itu dengan cara yang lain, seperti saat ini.


Dari kejauhan nampak beberapa santri datang dengan beberapa barang bawaannya, sepertinya mereka baru pulang dari suatu tempat.


"Pak, bukain pintunya dong.." pinta dari salah satu mereka.


"Gak bisa, kalian siapa dan dari mana?" tanya security itu curiga penuh hati-hati.


"Ya ampun, Pak.. Kita-kita ini santri di pesantren ini, masa' gak tau sih?!" sahut teman santri itu.


"Tau saya, tapi kenapa kalian magrib-magrib masih ada diluar bukannya sholat berjamaah? Astaghfirullah, jadi lupa kan saya mau sholat juga!" ujar security itu sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Kita baru pulang dari rumah, Pak.. Kan kemarin kita libur sebentar, maaf balik lagi kesini kesorean karena habis beli keperluan dulu, maaf.." sahut salah satunya dari anak-anak itu.


"Ya udah, buruan masuk! Bapak mau sholat juga keburu telat lagi ini," ujar security itu.


Akhirnya ketiga santri itu masuk setelah pintu gerbang dibuka oleh security-nya, tanpa sadar ada sosok bayangan ikut masuk bersama mereka dan berhasil melewati perisai itu, karena sosok itu bersembunyi disalah satu dari mereka.


Sementara itu, Maura dan Ardian masuk kedalam sebuah ruangan dimana beberapa orang sedang berkumpul di sana. Maura melihat Ichan nampak menangis di samping ibunya, sedangkan ayahnya Ichan nampak tak sadarkan diri disamping pak Kyai.


"Maura!" ustadzah Mariam memanggil Maura dan segera menghampirinya.


"Sebelum masuk pakai ini dulu, maaf ya.. Sesuai peraturan pesantren ini harus menutup aurat dengan sesuai syariat nya.." ujar ustadzah Mariam memakaikan Maura dengan Khimar yang besar, hampir mirip dengan mukena jika Maura yang memakainya.


"Gak apa, Ustadzah.. Saya juga terburu-buru datang kesini secara mendadak, maaf tidak memberitahu sebelumnya.." ucap Maura sopan.


"Tidak apa, saya mengerti kok.. Masuklah, kalian juga sudah ditunggu oleh pak Kyai.." ujar ustadzah ramah seperti biasanya.


Kemudian Maura dan Ardian masuk kedalam ruangan itu dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, tiba-tiba mata ayahnya Ichan langsung terbuka begitu saja dan menatap kearah mereka dengan seringai menakutkan.


"Akhirnya, yang ditunggu datang juga! Hahaha.." ujar ayahnya Ichan dengan gelak tawa yang menggelegar.


"Siapa kamu? Kenapa kau menunggu kedatangan kami?!" tanya Ardian sedikit menarik tangan Maura kebelakang, agar terhindar dari jangkauan sosok itu.


"Aku tak berbicara denganmu bocah sialan!" ujar makhluk yang mendiami ayahnya Ichan.


"O ya, ternyata kau tidak sekuat itu sampai-sampai mengira aku bocah biasa.." kata Ardian, meskipun kata-katanya biasa dengan tatapan biasa juga dia sedang memanggil panglima Arialoka disampingnya.


"Ck, ternyata kau memiliki penjaga juga! Hah, hanya pengawal biasa bukan apa-apa dibandingkan dengan ratu kami!" ujar makhluk itu.


"Kalau begitu, katakan siapa ratumu itu maka aku akan menghadapinya langsung! Maka akan tahu siapa yang lebih kuat diantara kami, karena kau tak bisa meremehkan aku jika belum merasakan kekuatan pedangku ini.." sahut Ardian sambil menatap tajam kearah makhluk yang mendiami makhluk itu.


Makhluk itu tiba-tiba menggeram sambil melotot kearahnya, entah dia takut atau sedang bersiap menyerangnya. Yang jelas makhluk itu menatap Ardian tak sama lagi seperti yang tadi.


Pemuda itu sekarang di pandangannya merupakan sosok panglima perang yang begitu gagah dan perkasa, dengan pedang besar dan panjang di punggungnya, membuatnya nampak kuat dan berwibawa.


Selain makhluk itu, Maura dan beberapa orang saja yang bisa melihat wujud lain Ardian itu, tentu saja orang-orang yang memiliki kemampuan khusus yang bisa melihatnya.


"Sudah, hentikan! Dia sudah ketakutan melihatmu seperti ini, yang ada jantungku yang tak aman..." bisik Maura ditelinga Ardian.


Nyeeesss!


Adem rasanya Ardian mendengar bisikan dari Maura itu, yang tadinya begitu murka terhadap makhluk itu sekarang tiba-tiba hatinya menjadi sejuk dan seketika wujudnya kembali normal kembali. Yang tadinya panas mendadak menjadi sejuk, dia melirik kearah Maura gadis itu sedikit menarik bibirnya membuat pola senyum kecil yang amat manis baginya.


"Jangan menggodaku, aku lagi mode serius ini!" bisik juga Ardian pura-pura kesal, padahal jantungnya juga deg-degan apalagi posisi Maura berada tepat disampingnya.


"Ish, siapa juga yang menggoda! Buruan tanya lagi setannya," ucap Maura pura-pura tak peduli, padahal kalau lagi serius Ardian bisa se cool itu.


Sementara itu, diluar gedung tempat mereka mengintrogasi makhluk itu tadi ada keributan yang terjadi. Santri yang diikuti oleh salah satu makhluk yang ikut masuk menyelinap tadi mengamuk dan menyerang siapa saja.


"aaakkhh!"


Terdengar beberapa suara teriakan para santri saat melihat salah satu temannya ikut diserang, apalagi makhluk itu berhasil mempengaruhi anak yang dia rasuki untuk menusuk salah satu temannya dengan pisau cutter yang dia ambil didalam salah satu laci gurunya.


"Apa yang terjadi?!" tanya pak Kyai khawatir saat mendengar suara gaduh diluar sana.


"Kalian tunggu disini saja, sedangkan yang lain ikut saya!" perintah pak Kyai kepada pengurus dan beberapa guru yang berada didalam sana.


Sedangkan Maura, Ardian bersama Ichan dan ibunya masih berada didalam ruangan itu, sedangkan ayahnya didudukkan diatas kursi dan diikat dengan tali yang sudah didoakan oleh pak Kyai, agar makhluk itu juga terikat di sana.


"Sekarang tidak ada siapa-siapa disini kecuali kami, katakan apa yang terjadi? Kenapa para makhluk itu menginginkan anak ini.." tanya Maura sambil menunjuk Ichan.


"Hihi, anak ini sudah di tumbalkan sejak lama sekali! Ibarat menanam padi, kini saatnya kami memanen hasilnya. Orang ini sudah menikmati semua harta kekayaan pemberian ratuku, sekarang saatnya dia memberikan imbalannya kepada sang ratu!


Terlihat Ichan dan ibunya sangat syok mendengar kenyataan itu, Maura merasa tak enak ketika melihat mereka harus mendengar kenyataan pahit itu.


"Jangan berbohong dan mencoba memanipulasi keadaan, aku tau jika kau mencoba berbohong!" ujar Maura lagi.


"Jika begitu, perhatian aku dan lihat apa aku berbohong, Dewi... Hihi," kata makhluk itu seolah sedang menguji Maura.


"Jangan coba-coba, kau tau akibatnya jika mencoba menipu kami,." sahut juga Ardian.


"Hahaha.." makhluk itu hanya tertawa saja.


Blas!


Tiba-tiba ada bayangan hitam keluar dari tubuh ayahnya Ichan, dan seketika ayahnya Ichan terdiam dan pingsan kembali. Bayangan itu keluar melalui pintu luar menuju keributan yang terjadi, Maura ikut berlari menyusulnya.


Saat dia membuka pintu, dia menemukan ruangan kosong gelap tanpa cahaya, dia menoleh kebelakang menatap Ardian, dan lelaki itu mengangguk tanpa percaya dan menyerahkan semuanya kepada Maura.


"Pergilah, dan hati-hati.. Disini biar aku yang tangani," ujar Ardian.


"Baik, aku pergi dan tolong.. Perhatikan mereka," ucap Maura.


"Iya,," ucap Ardian sambil mengusap kepala Maura lembut.


Seolah mendapatkan kekuatan penuh, Maura kembali percaya diri dan bersemangat menangkap makhluk-makhluk itu. Sedangkan Ardian berusaha menenangkan Ichan dan ibunya, dia juga berusaha memagari tubuh orang tua itu agar dirasuki kembali.


.


.


Didalam ruangan gelap itu Maura berjalan dalam keheningan, suara kayu berderit setiap langkah dia lalui. Maura faham kalau saat ini dia berada disebuah ruangan berlantai kayu, entah itu disebuah rumah panggung atau hanya pondok biasa.


Dia menatap kearah langit-langit ruangan itu, dia melihat seberkas sinar datang dari sela-sela lubang ventilasi jendela kayu. Maura membuka jendela dan melihat kearah luar.


Dia terkejut karena saat ini dia berada di rumah neneknya, yaitu nenek Dawiyah! Maura ingat betul pemandangan saat ini, merupakan kebun bunga yang pernah menjadi kebun kesayangan mamanya, dan didekat kebun bunga, ada perkebunan teh milik keluarganya itu.


Ada sedikit perbedaannya di rumah itu, ingatannya rumah itu terbuat dari tembok beton bukan kayu seperti ini, lalu dimana ini? Kemudian dia melihat ada beberapa orang berada dibawah rumah itu, posisi Maura saat ini berada di lantai dua atau mungkin dia berada di rumah panggung, dia tidak tahu.


Keadaan diluar gelap, hanya ada cahaya sinar bulan dan beberapa cahaya dari lampu petromax, Maura seolah berada di masa lalu.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan para korban selanjutnya?" salah satu dari mereka berbicara, tepat dibawah jendela tempat Maura mengintip.


"Belum ada, kalau begitu kita harus mengambil anak itu segera! Jika tidak Nyai ratu akan marah..." jawab temannya itu nampak putus asa.


"Siapa yang akan mau menyerahkan anaknya terlebih dahulu, kau herman? Sinta? Atau Irwan?" lelaki sebelumnya berbicara lagi.


Dheg!


Jantung Maura berdetak lebih kencang karena nama ayahnya disebut, meskipun dia tahu sang ayah tak terlibat langsung tapi darah keturunan penyihir masih ada ditubuhnya.


"Tidak, Irwan sejak awal sudah menolak. Biarkan saja dia, dia sendiri yang akan rugi tidak akan mendapatkan kekayaan dan umur yang panjang, anak bodoh!" dan ternyata mereka semua adalah paman dan bibinya.


"Tunggu dulu, kita punya solusinya.. Hehe, Laura istrinya Irwan juga mengetahui semuanya dan dia juga sama bodohnya, bagaimana jika dia saja kita tumbalkan!


Tanamkan saja benda itu didalam kebunnya ini, biarkan makhluk itu mengambilnya ketika dia lengah! Setidaknya kita tak perlu bingung lagi soal tumbal, dan aku yakin ayah dan ibu juga setuju!" ujar bu Sinta, bibinya Maura.


"Ide bagus!" sahut yang lain.


Maura melihat dengan jelas ketiga orang itu seperti menanam sesuatu didalam kebun mamanya, dia juga melihat ada dua orang yang dalam ingatannya itu adalah nenek dan kakeknya, mereka sedang mengamati ketiga anaknya yang sedang mengubur sesuatu ditengah kebun itu.


Maura menutup pintu jendela sesaat dia melihat gerakan neneknya yang mau menghadap kearah jendela diatasnya, Maura bergegas bergerak dan mencari pintu, tapi dia malah mendengar percakapan mama dan ayahnya.


"Aku tau, Bang.. Aku tau resikonya, lebih baik aku yang menjadi korban daripada anak-anak kita! Tanpa persetujuan kita aku yakin mereka akan mengambil salah satu dari mereka, dan yang aku takutkan itu adalah Maura!" terdengar suara wanita muda.


Bergetar hati Maura, dia yakin itu adalah suara ibunya. Dia menjadi mantap untuk melawan keluarga ayahnya itu, karena mereka memang sudah kejam terhadap ayah dan mamanya. Ingatan di masa lalunya ini menjadi saksi kuncinya, dimana ini adalah ingatan masa kecilnya yang lain.


Saat ini Maura sedang berhadapan dengan seorang anak kecil, anak perempuan yang manis sedang terpaku menatapnya. Anak itu menatap dirinya seperti kebingungan.


"Kakak, siapa? Kenapa berada didalam kamarku?" tanya anak itu bingung.


"Maura.." tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


"Iy.."


"Ya, Maaa.." anak kecil itu menyahuti panggilan itu.


Maura terkejut, dia hampir saja menyahuti panggilannya jika bukan anak itu yang duluan menjawabnya, tunggu dulu.. Anak itu menjawabnya?


"Kamu sedang berbicara dengan siapa, Nak?" terdengar suara lembut yang berbicara dengan anak itu.


Maura bersembunyi dibalik pintu lemari baju anak itu, sedangkan anak itu sedang berbicara dengan mamanya di depan pintu sesaat pintu itu dibuka.


"Dengan kakak.." jawab anak itu.


"Kakak siapa? Tidak ada orang didalam kamarmu ini, sudah yuk turun sudah waktunya makan malam.." ujar mama anak itu.


"Baik, Ma.." kata anak itu menimbali sang mama.


Tidak lama kemudian, suara pintu kembali tertutup. Maura membuka pintu lemari itu pelan-pelan dan terkejut saat melihat sosok makhluk lain berada tepat dihadapannya.


"Mengenang masa lalu sudah selesai, kini saatnya hadapi masa sekarang!" ujar makhluk itu.


Dia menjulurkan tangannya untuk menarik keluar Maura dari dalam lemari itu, tapi gadis itu langsung menendang makhluk itu dan terjungkal kebelakang.


Dia seperti terjun bebas kedalam jurang yang sangat jauh, begitu dalam dan gelap. Suara teriakannya tak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri.


......................


Bersambung