RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kisah Seorang Kakak Beradik


Sambil menghela nafas berat, Maura memberanikan diri untuk menoleh kearah belakangnya. Dia harus berani, dia harus tunjukkan kepada para makhluk itu jika dia bukan seseorang yang gampang mereka takuti.


Ketika menoleh dia begitu terkejut melihat makhluk yang ada dibelakangnya, tidak sesuai ekspektasinya. Yang dia pikir akan menemui sosok genderuwo atau Kunti dan sebangsanya, tapi ini berbeda dari lainnya.


"Ka-kakak.." ucap makhluk kecil itu.


Wujudnya sama persis seperti anak kecil pada umumnya, hanya saja wajah dan tubuhnya pucat, badannya basah kuyup, dia nampak gemetaran kedinginan, ada rasa iba sedikit dihati Maura.


"Kamu siapa? Dan kenapa disini?" tanya Maura hati-hati, dia menjaga jaraknya dengan makhluk kecil itu.


"Aku sedang mencari kakakku, hiks!" makhluk kecil itu malah menangis.


"Haduh, kenapa aku selalu terlibat dengan makhluk seperti ini sih?! Dulu arwah bayi, Maria dengan anaknya, sekarang makhluk kecil ini, entar apalagi yang muncul!" gumamnya kesal.


"Kakakmu dimana?" tanya Maura lagi.


Makhluk kecil itu malah menunjuk dirinya, tentu saja Maura gelagapan, siapa mengira makhluk kecil itu malah ingin menempel pada dirinya.


"Haduh, aku bukan kakakmu!" bentak Maura lalu pergi meninggalkan makhluk kecil itu.


"Hwaaaa!" hantu kecil malah menangis kencang.


Maura tetap pergi dari sana dan menghiraukan hantu kecil itu, makhluk itu semakin mengencangkan suaranya saat Maura tak memperdulikannya.


Dhuum!!


Suara kencang menggema di rumah kost itu, menimbulkan getaran yang cukup kuat di sana, sejenak Maura berpikir ada gempa atau ada mobil meledak, tapi ada yang aneh dengan suara dentuman itu, auranya berbeda.


"Apalagi ini, ish!" gumam Maura berdesis kesal.


Dia tetap berjalan menuju kamarnya yang letaknya di ujung anak tangga itu, dia masuk kedalam kamar dan sedikit menoleh kearah hantu kecil itu, makhluk itu tersenyum sambil melambaikan tangannya, seolah tak terjadi apapun.


"Akh, terserahlah!" gumamnya bete.


Dia sedang beristirahat didalam kamarnya, rebahan sambil mendengarkan musik, dan akhirnya ketiduran. Ketika dia bangun dan sangat terkejut hari sudah mulai gelap.


"Astaghfirullah al'azim.. Aku ketiduran sampai magrib gini" ucapnya kesal dengan diri sendiri.


Dia segera mandi dan menunaikan ibadah sholat Maghrib, sebelumnya pintu dan jendela sudah dia tutup dan kunci, lampunya pun sudah menyala.


Dia hendak mencari makan malam, tapi sebelumnya dia membawa sekantung plastik berisi pakaian kotor untuk dibawa ke laundry. Tapi dia samar-samar mendengar suara tawa anak kecil dari samping kamarnya.


"Kok ada anak kecil? Apa Meera punya adik sepupu atau keponakan yah? Tapi kok tadi sepi, gak kedengaran ada orang dikamar sebelah?


Hem.. Sepertinya mereka baru datang tadi sore saat aku masih ketiduran, yasudahlah.. Aku mau pergi ke laundry terus nyari makan malam" ucap Maura berusaha tak mau ambil pusing lagi.


Saat dia keluar dan melewati kamar itu, bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh kearah kamar itu, auranya begitu gelap dan suram.


Tidak terdengar ada kegiatan didalam kamar itu, terlihat begitu hening dan sepi, dia berusaha tak peduli dan tak mau ikut campur dulu untuk saat ini, badannya sebenarnya masih gak enak, sehingga harus bolos kuliah lagi.


Jadi, dia belum mau mengurusi dunia gaib dulu, sekarang perutnya butuh diisi dan mengantarkan pakaian kotornya ke laundry.


Setelah selesai, dia hendak kembali ke kosannya, tapi rada malas aja. Jadi dia putuskan untuk duduk-duduk dulu didepan taman dekat rumah kostnya itu.


"Ngapain disini? Gak istirahat aja di kamar?" tanya seseorang, dan ternyata Ardian.


"Kamu sendiri ngapain disini?" tanya balik Maura.


"Ini kan lingkunganku.." jawab Ardian.


"Lah, ini didepan kostanku.." sahut Maura juga.


Akhirnya kedua sama-sama ketawa saling ledek, dan duduk didepan sana bersama sambil memperhatikan beberapa anak-anak bermain di sana.


"Tumben kamu nongkrong disini? Biasanya lebih betah didalam kamarmu.." tanya Ardian penasaran.


"Aku malas di sana, aku ngerasa aku tinggal sendirian di kostan. Sepi banget, dan tiba-tiba ada gangguan anak kecil lagi.." sungutnya dan menceritakan semuanya.


"Masa sih? Bukannya Meera juga lagi ada di kostan juga?" ujar Ardian.


"Masih ingat aja, susah ya melupakan te-man ter-indah-mu!" ucap Maura penuh penekanan.


"Apaan sih kamu, bukan gitu! Emang bener kan kalau dia ada.." ujar Ardian menjelaskan.


"Gak tau, aku gak liat siapapun didalam kostan, bahkan mang Supri aja gak ada.." sungut Maura.


"Aneh, biasanya dia gak pernah ninggalin kostan.." gumam Ardian lagi.


Tiba-tiba Maura melihat ada hantu kecil tadi ikutan bermain dengan anak-anak di taman itu, disalah satu bangku taman yang posisinya agak jauh dari mereka, yang minim penerangan, Maura juga melihat ada sosok bayangan hitam sedang memperhatikan anak-anak yang bermain di sana, dia juga sadar tengah diperhatikan oleh Maura.


Sosok bayangan itu berjalan ketengah taman, dan samar-samar Maura mulai bisa melihat penampakannya. Jantung Maura makin berdegup kencang, Karena sosok itu adalah sosok yang dia lihat di angkot pak Madjid, sopir angkot tadi.


"Astaghfirullah, jadi dia mengikutiku. Tapi mengapa?!" ujar Maura terpaku.


"Tidak perlu diperdulikan, abaikan saja dia. Jangan sampai kejadian di kostanmu yang dulu terjadi lagi" ucap Ardian memperingatinya.


Ardian langsung berjalan ketengah taman dan menghampiri anak-anak, dia meminta mereka untuk pulang karena hari semakin malam, anak-anak pun menurutinya, untungnya.


Hantu anak kecil tadi terlihat marah dengan Ardian, karena dia tak bisa bermain dengan anak-anak itu lagi, dia menghampiri sosok bayangan hitam tadi yang kini berwujud seorang gadis remaja dengan kepalanya terus mengucurkan darah.


"Ayo kita pulang, tidak baik juga buat kita masih disini Nanti dikiranya kita menantang ataupun dikira mau membantu mereka lagi" ujar Ardian sambil menarik tangan Maura dan meninggalkan taman itu.


"Aku antarkan kamu ke kostan" sambungnya lagi.


Maura menurut, mereka masuk ke kost-an Maura dan Ardian mengantarkan Maura sampai masuk kedalam kamarnya, saat dia berbalik dia sangat terkejut tiba-tiba hantu gadis remaja itu tadi sudah didepannya.


"Astaghfirullah al'azimm!" sontak Ardian beristighfar karena terkejut.


Karena wajah hantu itu hanya berjarak beberapa centi saja dengannya, Maura yang ada didalam kamar mendengar suara Ardian yang berteriak karena terkejut, juga refleks membuka pintu dan ingin tahu apa yang terjadi dengannya.


"Ardian, apa yang--" dia sangat terkejut melihat makhluk itu tadi berada tepat didepan pintu kamarnya, pas di samping Ardian.


"Cepat masuk, tutup pintunya!" bentak Ardian kepada Maura.


Tapi Maura tak bergeming, dia menatap lurus kepada makhluk itu. Seolah sedang menembus waktu, dia terhisap dari pandangan makhluk remaja itu.


Dia sekarang berada ditengah hutan, dan Maura merasa pernah ada di sana atau mungkin pernah melewati hutan itu, tapi dimana?


"Lepaskan adikku, kalian semua bajing*n!" teriak seseorang dibalik pepohonan dibelakang Maura.


Karena penasaran, gadis itu menghampiri arah suara. Dia melihat ada seorang gadis remaja dan anak kecil laki-laki sedang disekap oleh beberapa remaja lelaki.


"Kau harus menuruti keinginan kami dulu, baru kami akan lepaskan kalian!" teriak salah satu pemuda yang ada di sana.


"Apa maumu?! Cepat lepaskan adikku, dia tak bersalah dan dia juga gak tahu apa-apa!" gadis itu tak kalah gertaknya.


"Haha! Besar juga nyalimu, jal*ng! Kamu harus menjebak Bagas, suruh dia datang kemari jika tidak kami akan ceburkan adikmu kedalam danau ini" sahut pemuda itu tadi.


Salah satu temannya sedang membawa anak lelaki menaiki sebuah perahu rakitan, dia mengikat tubuh anak itu hingga tak bisa bergerak. Ada dua orang pemuda yang naik perahu rakitan dari bambu itu bersama anak lelaki tadi.


"Jika dalam hitungan sepuluh kau tak menghubunginya aku ceburkan adikmu!" ancam pemuda itu tadi.


Kedua temannya mulai bersiap memegangi adiknya, gadis itu berteriak dan memohon agar mereka melepaskan adiknya.


"Baik, tapi turuti kataku!" ucap pemuda itu lagi.


Tapi gadis itu sangatlah pintar, dia diam-diam merekam pembicaraan mereka lewat Hp, dia berpura-pura sedang mencari no Hp temannya Bagas untuk menghubunginya, padahal dia juga sedang menyimpan hasil rekamannya.


"Halo, assalamualaikum.." seseorang mengangkat telponnya.


Semua yang ada di sana tersenyum sumringah, karena gadis itu berhasil menghubungi anak lelaki itu, tapi tidak sesuai ekspektasi.


"Bagas, jangan menerima panggilan apapun dari Galang dan teman-temannya, bahaya! Mereka mau menjebakmu, karena--" telponnya putus karena ada seseorang yang memukul kepalanya.


Buk!


Kepalanya berdarah, kepalanya pusing dan langsung terjatuh lemas, samar-samar dia melihat adiknya yang diatas perahu itu berontak saat melihat dirinya terjatuh berdarah akibat pukulan itu tadi.


"Dasar jal*ng hina! Berani-beraninya kau bohongi aku!" ucap pemuda itu tadi murka.


Dia berkali-kali menendang tubuh gadis itu padahal gadis itu sudah jatuh tersungkur, dan berteriak kesakitan. Dia tak peduli, seakan tak cukup dengan itu dia bahkan memukul kepala gadis itu dengan batu dengan kerasnya.


Brak!


Kepala gadis itu hancur, darahnya berceceran kemana-mana sampai muncrat kebaju pemuda itu tadi bersama teman-temannya. Ada sekitar enam orang yang ada di sana, dua diantaranya bersama anak kecil itu.


"Tidak, kakak!" teriak anak itu.


Dia terus berontak, kedua pemuda tadi terus memegangi, tenaga anak itu cukup kuat sehingga pegangan mereka terlepas dan anak itu malah tercebur kedalam danau ditepi hutan itu.


Byur!


"Aakh! Sialan, kenapa tak kau pegangin dengan kuat?!" tanya temannya gusar.


"Tenaga anak itu cukup kuat, dan kenapa menyalahkan aku saja, kau juga tak memperhatikannya tadi?!" sahut temannya tak mau disalahkan.


"Sudah, berhenti. Biarkan saja dia mati tenggelam bersama kakaknya! Setidaknya kematian mereka akan menutupi kesalahan kita" ucap pemuda itu tadi, yang bernama Galang.


"Tapi dia sempat menelpon Bagas!" sahut yang lain.


"Gampang soal itu, kita buat seolah dia yang melakukan pembunuhan itu, aku mahir soal itu" seringai pemuda itu.


Dan tiba-tiba dia menoleh kebelakang, tempat Maura berdiri dan menyaksikan semuanya, dengan tersenyum smirk menatap kearah Maura.


......................


Bersambung