
Maura nampak waspada menghadap kearah ular itu, dia tidak ingin lengah sedikitpun. Apalagi dia juga harus menjaga Nala yang sedari tadi diam ketakutan itu.
"Jika kalian kalah, kalian akan berada di sini selamanya. Menemaniku menjaga hutan ini dari manusia-manusia busuk dan jin laknat lainnya" sambung jin ular itu.
"Dan jika kami menang maka kau harus menjadi pintu dan kendaraan bagi kami agar bisa keluar dan masuk dengan mudahnya" sahut Maura.
"Baiklah, kau harus mengalahkan aku dulu. Jika kau bisa menundukkan diriku dan berhasil mematahkan kutukan ini, maka aku akan menepati janjiku ini" ujar jin ular itu.
"Baiklah, aku terima tantanganmu" ucap Maura penuh percaya diri.
"Apa kau yakin dengan semua ini? Apa kau tahu yang kau hadapi ini adalah jin yang berbahaya?! Dia bisa saja menipumu!" ujar Nala tidak setuju dengan Maura soal itu.
"Kau tak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan" ujar Maura lagi.
Maura bersiap-siap untuk memulai pertempuran dengan jin itu, sedangkan Nala bersembunyi dibalik pohon besar yang terletak cukup jauh dari sana.
Dia tak ingin menjadi sasaran serangan berikutnya dari jin ular itu, sambil dia mempelajari mantra-mantra dari bukunya itu. Mungkin dia bisa membantu Maura dengan itu, pikirnya.
"Baiklah, anak manusia yang sombong! Bersiaplah!" teriak jin itu sambil menyerang Maura dengan menggunakan kepalanya itu.
Maura beberapa kali menghindari serangan itu, dia terbang kesana-kemari dan melompat dari pohon satu ke pohon lainnya.
Dia berusaha mengulur waktu sambil menunggu Dewi Srikandi menyalurkan ilmu kebatinannya, ilmu yang diwariskan oleh Dewi Srikandi yang diyakini bisa menghancurkan jin itu.
Meskipun badannya besar dan terlihat berat, jin ular itu sangat lincah dan gesit sekali menyerang Maura, beberapa kali jin itu menggunakan lidahnya yang panjang dan tipis itu menyerang Maura.
Tapi Maura berhasil mengelak, dia sudah berubah separuh menjadi Dewi Srikandi. Pakaiannya berubah menjadi pakaian Dewi Srikandi, dia menggunakan selendang kuning keemasan itu sebagai senjata melawan jin ganas itu.
Setelah pertempuran yang cukup alot itu, akhirnya Maura mendapatkan ilmu yang cukup memadai untuk mengalahkan jin itu.
"Gunakan itu sebagai senjata terakhir untuk mengalahkan dirinya,, saranku penggal kepalanya. Maka dia akan mati dan kutukan itu menghilang dengan sendirinya" bisik Dewi melalui jalur batin mereka.
"Baiklah, percayakan semua ini kepadaku" ujar Maura yang sudah tak sabar lagi.
Tiba-tiba selendangnya itu berubah menjadi cambuk berapi, Maura terkejut melihat keajaiban itu. Dia senang sekaligus takut dengan cambuk itu, dia takut jika cambuk itu malah menyakiti dirinya bukan jin itu.
"Haha! Kau memiliki senjata juga rupanya, baiklah aku juga akan mengeluarkan senjataku juga" ujar jin ular itu.
Kemudian dia menyemburkan bisa beracunnya kearah Maura, dengan sigap Maura menghindar dan terbang mendarat diatas kepala ular itu.
"Dasar manusia laknat! Berani-beraninya kau berdiri di atas kepalaku! Apa kau tidak tahu, jika kepalaku ini sangat berharga!" teriak jin itu tidak terima kepalanya diinjak-injak begitu oleh Maura.
Jin itu menggoyangkan kepalanya agar Maura terjatuh dan Maura tidak menyakiti kepalanya, kini dia tahu bahwa kepala itu merupakan kelemahan jin ular itu.
Dia berulang kali memecutkan cambuknya kearah badan jin ulat itu, padahal cambuk itu tidak terlalu panjang, tapi ketika Maura menggunakannya cambuk itu langsung memanjang Menyentuh seluruh tubuh jin itu.
"Akh! Tidak, sakit! Berhenti, tidak! Jangan lakukan, aku bisa mati!" teriak jin itu kesakitan.
Lama-kelamaan bergerakan badan jin ular itu melemah, dan dia sepertinya sudah kelelahan dan sudah tak kuat menahan serangan itu, Maura melihat ada mustika kecil keluar dari kepala jin ular itu.
Mustika berbentuk batu biru kehijauan, berpendar menimbulkan cahaya kehijauan yang begitu indah yang bisa memikat siapapun.
Maura mencabut mustika itu dari kepalanya, dan dia mendengar suara jin itu memintanya memenggal kepalanya sendiri. Maura heran dengan permintaan itu.
"Aku sudah tak ada kekuatan dan kekuasaan lagi, mustika itu sudah keluar dari kepalaku. Itu berarti aku sudah tak ada apa² nya lagi, aku tak lebih dari ular biasa" ujar jin ular itu.
Maura tak melepaskan kesempatan itu untuk menebas kepala ular itu menggunakan cambuk yang sudah berubah menjadi pedang yang sangat panjang dan begitu tajamnya.
Kepala jin ular itu tertebas habis olehnya, Maura melompat turun dari kepala ular itu dan mendarat disebuah cabang pohon yang tertinggi di sana sambil memperhatikan ular itu.
Tiba-tiba ada cahaya putih kekuningan muncul dari leher yang terputus itu, ada sesosok makhluk keluar bersamaan dengan cahaya itu.
Sosok kakek tua berpenampilan pendekar jaman dulu, meskipun rambut, jenggot dan kumisnya yang panjang itu sudah putih semua, tapi badannya masih berdiri tegak dengan sorot mata tajam.
"Kau, siapa?" tanya Maura penasaran.
"Aku adalah roh jin ular ini, dengan kata lain aku adalah wujud aslinya. Terima kasih sudah mengambil mustika itu dikepalaku, jika tidak aku akan menjadi siluman ular selamanya" ujarnya menjelaskan.
Maura bengong mendengar penjelasannya itu, melihat Maura seperti itu sosok itu hanya terkekeh kecil.
"Aku tahu kamu bingung dengan semua ini, aku sengaja mencari manusia kuat sepertimu itu untuk membebaskan kutukanku ini" ujarnya pelan.
"Tapi sebenarnya kau ini apa? Sejenis jin atau hanya arwah penasaran yang terperangkap didalam tubuh ular atau apa??" tanya Maura lagi penasaran.
"Aku ini jin, dan mungkin usiaku lebih tua dari jin yang menempel terus padamu itu!" ujar sosok jin itu tadi sambil menujuk dirinya.
"Apakah dia menyadari kehadiranmu tadi, Dewi" gumam Maura untuk terhubung dengan Dewi Srikandi.
"Tentu saja, dari awal kalian muncul dari permukaan danau itu, dia sudah tahu akan kedatangan kalian" ujar suara Dewi Srikandi didalam dirinya itu.
"Bagaimana bisa?" tanya Maura penasaran.
"Karena dia bisa mencium bau tubuhmu, itu karena bau tubuhmu itu mirip dengan bau tubuh mendiang ibumu.
Maura, sebelum ibumu mengandung dirimu. Dirinya pernah datang kesini bersamaku, kami datang untuk menyelamatkan istri dari saudara suaminya itu.
Yaitu ibu dari anak muda itu" ujar Dewi sambil menoleh kearah Nala yang kena sibuk dengan bukunya itu.
"Tapi bukankah ibunya Nala meninggal diperkebunan teh?" ujar Maura penasaran.
"Betul, tapi sebelumnya dia juga pernah diculik seperti anaknya, setelah selamat dia masih diincar hidupnya, hingga terjadi datang menghantui anak-anaknya itu" ucap Dewi menjelaskan semuanya.
"Tapi kenapa kau diam saja, kenapa tak menolong ibu mereka? Dan kenapa juga tak bercerita kepadaku soal ini?!" ujar Maura marah.
"Tugasku menolong dan membantu ibumu, tapi sayangnya dia kembali terjebak setelah ibumu meninggal, aku waktu itu hanya menemanimu saja. Jika tuanku tak meminta aku pun tak bisa bergerak" ujar Dewi lagi.
"Bagaimana aku tahu, orang aku masih kecil kok!" gerutu Maura kesal.
Setelah itu Dewi meminta maaf dan kembali hening, sepertinya dia pergi meninggalkan Maura sendirian dengan jin itu.
"Sesuai dengan janjiku, aku akan membuka pintu itu dan membiarkan kalian masuk. Aku akan menunggu disini" ujar sosok itu.
Tiba-tiba diatas bangkai ular itu ada lubang hitam menganga lebar, dia meminta Maura dan Nala masuk ke dalam lubang hitam itu.
"Pergilah, kalian sudah dekat. Bantu saudaramu itu dan cepat kembali lagi ke sini" ujar sosok itu lagi.
Maura langsung masuk kelubang hitam itu menarik tangan Nala, ketika mereka sampai sudah disambut dengan hujan deras dengan suasana malam yang gelap gulita ditengah hutan itu
......................
Bersambung