
"Udah, gak usah dipikirin. Paling iseng doang nyapa kamu, makanya jangan suka bengong.. Disamperin kan akhirnya!" ujar Maurice.
Maura setelah kejadian pagi tadi buru-buru mandi, dandan dikit langsung cus pergi kuliah bareng Ardian sama Maurice dan Kevin, tapi sebelum itu dia mampir sebentar ke rumah mereka, buat nyapa. Karena semalam tidak sempat, dan bercerita tentang kejadian pagi tadi.
"Kok aku gak nyadar yah? Padahal setiap ada makhluk lain yang dekat sama aku, biasanya aku langsung tau.." ucap Maura heran.
"Maka dari itu, jangan bengong! Karena pikiran dan fokus kamu buyar kemana-mana, makanya gak sadar. Ya udah, gak usah dipikirin, makan gih!" tawar Maurice, dia memberikan Maura semangkuk lontong sayur.
"Kamu yang bikin? Gak mungkin, pasti beli kan??" tanya Maura sambil tersenyum jahil.
"Bukan, sisa semalam!" jawab Maurice asal.
"Apa?!" Maura hampir tersedak dengan jawaban sahabatnya itu.
"Haha! Bukan, ini dikasih ibu-ibu tetangga.." ucap Maurice jujur.
"Buat Ardian, katanya buat calon mantu! Ada sekitar tiga orang ibu-ibu pagi ini ngasih sarapan gratis!" ucap Maurice lagi.
"Ooh.." jawab Maura cuek.
"Kok gitu reaksinya? Marah kek? Ngambek gitu?" sahut Maurice kesal lihat reaksinya Maura.
"Kalau kayak gitu, maunya Ardian! Ngapain aku cemburu atau ngambek segala, jodoh itu rahasia Tuhan, jika Dia menghendaki maka kami akan berjodoh, bagaimanapun caranya.
Tapi jika gak jodoh, mau sedekat apapun kami, kalau mau gak jodoh, mau apa lagi. Masa harus protes sih? Makanya aku biasa aja jika ada hal begitu.." ujar Maura memberikan jawabannya.
Ardian sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari dalam, saat ini Maura dan Maurice sedang berbicara di teras rumah itu. Jadi mereka tidak tahu jika Ardian mendengar semuanya.
"Jadi, kamu gak anggap aku didalam hati kamu, May? Jika kamu menganggap aku ada, setidaknya rasa cemburu itu ada meskipun sedikit. Aku pikir kemarin itu kamu marah sekali saat Meera dekat denganku..," tiba-tiba saja Ardian keluar dari rumah dan menyahuti mereka berdua.
"Soal itu.." Maura kaget dan bingung mau jawab apa.
"Sudah, katanya gak penting. Ayo kita pergi, nanti terlambat. Hari ini mereka akan mendaftarkan diri ke kampus kita, dan Kevin juga harus kerja pagi ini!" sambung Ardian tak peduli dengan jawaban apa yang ingin Maura ucapkan.
Dia menarik tangan Maura dan mengajak naik motornya, sedangkan Kevin dan Maurice menyusul dibelakangnya, mereka juga sama kagetnya dengan Maura dengan segala ucapannya tadi.
"Kenapa?" tanya Kevin ke Maurice.
"Syut, diam aja! Gak tau.." jawab Maurice tidak ingin ikut campur.
Sedangkan Maura pasrah saja ketika tangannya ditarik oleh Ardian, tiba-tiba saja Ardian teringat dengan ucapan makhluk siluman babi semalam, jika mereka tidak akan berjodoh, entah karena maut ataupun orang ketiga.
"Jangan kau berpikir percaya apa yang dikatakan oleh makhluk rendahan itu!" tiba-tiba saja panglima Arialoka membisiki dirinya.
"Aku hanya.." Ardian juga ragu dengan dirinya.
"Takut?! Betul apa yang diucapkan oleh Maura tadi, dia tak salah hanya berpikir logis saja, dalam hatinya aku yakin dia tak terima dan cemburu.." sahut panglima Arialoka.
"Tapi aku melihat sikap dan cara bicaranya, biasa saja.." ucap Ardian.
"Ardian, kau tau.. Putri Dadar Bulan sebelum mendapatkan gelar Dewi Srikandi dari putra mahkota pada zaman itu, yaitu maharaja Balaputradewa, juga memiliki perasaan yang ragu antara aku dan Balaputradewa.
Dia bingung memilih antara pangeran atau seorang prajurit biasa sepertiku, saat mereka sudah dah bertunangan pun dia masih ragu. Tapi ketika gelar yang memiliki daya magis yang tinggi itu membuatnya memiliki pendirian yang kuat, dan bisa memutuskan sesuatu dengan tegas dan bijak.
Dan aku melihat dia telah memutuskan untuk memilih pangeran, calon suaminya dulu yaitu putra mahkota Balaputradewa, yang sekarang telah menjadi raja.
Begitu juga dengan Maura, saat gelar itu belum dia miliki, sifat manusiawinya masih ada, rasa cemburu, marah, dan penuh emosi. Makanya saat Meera mengejarmu dia tak terima.
Tapi sekarang keadaan berbeda, Ardian.. Kamu harus percaya dan menerima semua keputusan ini di tangan Tuhan, dan percaya saja dengannya. Jika kau benar-benar ragu dan takut kehilangannya, lamar dia. Dan kau akan melihat perasaannya yang sesungguhnya.." ucap panglima Arialoka menjelaskan semua yang dia ketahui.
"Baiklah, aku akan percaya dengan segala ucapannya, semoga ini adalah rasa kekhawatiran ku saja.." ucap Ardian juga.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus bersama Kevin dan Maurice, dan tentu saja Maura yang dia bonceng pakai motornya, sedangkan kedua sahabat mereka dibiarkan membawa mobil saja.
Ardian dan Maura hanya diam sepanjang jalan itu, keduanya sama-sama larut dalam pikirannya, di saat Ardian sedang berkomunikasi dengan panglima Arialoka, Maura malah sibuk mendeteksi makhluk lain disekitaran mereka, maklum Dewi Srikandi mode on.
Mereka sudah sampai, Kevin dan Maurice langsung menuju ruang staff untuk mendaftarkan diri, sedangkan Maura dan Ardian langsung menuju kelas masing-masing.
Ardian yang selalu take care dengan Maura tiba-tiba berbeda, dia lebih pendiam dan tidak banyak bicara juga, biasanya dia selalu mengantarkan Maura sampai didepan kelasnya, kini dia langsung pergi saja tanpa menoleh kearahnya.
"Dia kenapa? Apa dia mendengar semua pembicaraan aku dan Maurice tadi?" gumam Maura bingung.
Dia mencoba mendeteksi aura Ardian, putih keemasan, tak ada aura kelabu di sekitarannya, berarti bukan pengaruh buruk dari makhluk lain, berarti memang itu dirinya.
"Sebaiknya aku tanyakan saja nanti setelah kelas berakhir.." gumamnya lagi.
.
.
"Kalian kenapa baru mendaftarkan kuliahnya? Apa tidak apa ketinggalan jauh dengan teman-temannya?" tanya salah satu staf itu.
"Tidak apa, Bu.. Bukankah untuk belajar itu tidak mengenal usia? Lagian kami tidak terlalu jauh ketinggalannya, hanya beberapa bulan saja kok jaraknya.." jawab Maurice dengan ramah.
"Kalau lihat dari wajah dan postur tubuh kalian, sepertinya kalian berasal dari luar negeri yah? Tadi tidak memperhatikannya, karena kamu pakai hijab, dan temanmu itu memakai topi juga.." ujar staf itu lagi.
"Iya, cantik dan ganteng! Kalian muslim yah, liat dari identitas kalau kalian dari Amerika, New York! Wah, keren. Ada anak pintar dan berbakat seperti kalian mau kuliah ditempat kota kecil di negara yang jauh dikatakan maju seperti negara kalian.." sahut juga staf yang lainnya.
"Kami disini ikut bersama teman kami kuliah disini Bu, Pak.. Selama ini kami belajar Islam di pondok pesantren di kota ini, dan menjadi mualaf baru dua bulan ini, emm.. Mau tiga bulan, masih belajar banyak juga.." jawab Kevin juga.
"Menurut kami, Indonesia negeri yang unik, begitu banyak keanekaragaman budaya, ras, suku dan agama, yang jarang dimiliki oleh beberapa negara, terutama negara-negara barat seperti Amerika khususnya.
Jadi kami sangat excited sekali saat baru datang kesini, belajar bahasanya, adat dan budayanya, juga kebiasaan-kebiasaan warganya dan terakhir belajar islam juga.." sambung Kevin lagi.
"Wah, kami tak sangka respon kalian begitu baik sekali dengan negara kami, terima kasih yah. Semoga betah selama tinggal disini, dan cepat beradaptasi dengan makanan, cuaca dan segala adat dan budayanya yang mungkin bagi kalian sangat asing sekali.." sahut staf itu kagum.
"Dan jangan lupa, sama cuacanya juga! Hahaha! Kalau orang yang sudah biasa dengan cuaca dingin, maka kalian akan kaget dengan cuaca disini, karena hanya ada dua musim saja, yaitu musim hujan dan musim panas.." sahut staf yang lain.
"Dan musim buah, haha! Kamu suka Durian? Duku? Di kota ini sangat populer dengan buah itu, rasanya manis, legit dan enak!" ujar yang lain ikut nimbrung juga.
"sepertinya menarik, nanti akan dicoba.." ucap Kevin lagi.
Mereka berdua sangat senang mendapatkan respon positif dari mereka semua, setidaknya mereka tidak akan kesulitan nantinya, karena para staf dan dosennya begitu ramah dan baik kepada mereka, ciri khas orang Indonesia.
"Btw, kalian ini teman atau saudara?" tanya lagi staf itu.
"Dia ini istri saya, Pak.." jawab Kevin sambil tersenyum ramah.
"Hah? Apa?!" ujar staf itu kaget.
"Kalian masih muda sudah berani mengambil keputusan untuk menikah, semoga apa yang kalian ambil keputusan ini bisa dipertanggung jawabkan, karena sebuah pernikahan bukan seperti pacaran bisa putus nyambung seperti itu.." kata staf yang sudah lebih berumur dari yang lainnya, dia sangat bijak dalam menanggapi mereka.
"Kalian menikah bukan karena MBA kan?!" tanya salah satu dosen cantik dan galak.
"Maksudnya?!" kali ini Maurice bersuara lagi.
"Tidak usah dipikirin, yang penting kalian bahagia dan bisa bertanggung jawab dengan rumah tangga kalian ini. Ya udah, kalian bisa masuk kelas hari ini ataupun besok tak apa.." ujar staf yang sudah berumur tadi langsung menimbalinya.
"Baik Pak, Bu.. Sepertinya besok kami baru bisa masuk kelasnya, terima kasih sudah mau menerima kami, dan mohon bimbingannya.." ucap Kevin dan Maurice undur diri.
Setelah keduanya keluar dari ruangan itu, mereka kembali ricuh karena dihebohkan oleh kedatangan mahasiswa baru dari luar negeri, yang paling mengejutkan karena cerita mereka yang begitu menarik, hingga pernikahan mereka yang membuat mereka tak habis pikir.
"Ibu tadi kenapa tanya begitu? Tidak sopan, Bu!" ujar salah satu dosen itu.
"Loh, orang nanya apa salahnya! Lagian aneh banget masih muda kok cepet banget nikahnya, kalau bukan MBA apalagi.." sahut dosen galak itu.
"Namanya Jodoh kita gak tau, Bu.." sahut staf lainnya.
"Alah, anak muda jaman modern sekarang mana mau mikirin pernikahan kalau gak kebobolan duluan, apalagi mereka berasal dari negara maju dan penuh teknologi informasi dan modern, memangnya menikah segampang itu!" jawab dosen muda, cantik tapi galak dengan mulut judesnya itu.
Semua dosen atau staf lainnya tak mau lagi meladeninya, karena ini takkan pernah berhenti kecuali dari mereka harus mengalah, mereka sudah hapal betul dengan tabiatnya.
Apalagi dia merupakan anak salah satu rektor di kampus itu, mereka tak ingin berurusan dengan mereka, tak ada gunanya juga.
"Mungkin dia tidak terima ada mahasiswa mendahuluinya menikah, apalagi mereka pasangan muda dan serasi, beda seperti dirinya.." sahut salah satu dosen setelah wanita itu pergi.
"Kenapa pak Damar gak mau sama dia, Pak? Dia kan tipe wanita idaman dan ideal.." sahut salah satu staff mengejeknya.
"Dia terlalu ideal untuk dimiliki, seleranya terlalu tinggi, Haha! Gak kuat sayanya.." ujar dosen itu tadi bernama Damar.
Semuanya kembali ceria lagi mendengar beberapa candaan dari rekan-rekannya, setelah itu mereka kembali dengan kesibukan masing-masing.
"Dia milikku, aku takkan membiarkan lelaki manapun mendekati wanitaku.."
Di salah satu tempat paling belakang di ruangan itu, ada sosok yang sedang mengamati mereka, matanya tajam menatap pak Damar dengan marahnya.
......................
Bersambung