RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Saling Menguatkan


Tepat saat kejadian itu rombongan Julian datang bersama Kevin dan Maurice, mereka berhasil menghalau dan menghalangi para pasukan iblis itu.


Para pasukan itu berhasil dipukul mundur dan kembali kepada tuannya, mereka berhasil menerobos masuk setelah mengalahkan para penjaga pintu itu.


"Maura!" mereka menghampiri Maura dan Ardian yang terduduk lemas sambil berpelukan menangis melihat kearah atas ruangan itu.


Mereka semua belum tahu apa yang terjadi, mereka bingung kenapa keduanya menangis seperti itu. Mereka mencoba melihat kearah pandangan keduanya itu.


"A-apa itu?!" mereka kaget melihat makhluk besar berbulu berselimutkan api.


"Makhluk apa itu? Dan apa yang dia dekap itu?" kata Julian penasaran.


"Kedua makhluk itu sepertinya tidak asing bagiku" gumam Joanna.


"Apa ini, operasi bunuh diri atau apa? Yang jelas keduanya auranya semakin melemah" ucap Rosario ikut memberi pernyataannya.


Sedangkan Kevin dan Maurice hanya bengong melihat fenomena itu, jujur mereka tidak bisa merasakan perasaan mereka antara takut atau takjub.


Karena kedua makhluk itu berbahaya, tetapi juga menakjubkan dimata mereka seperti melihat dunia film yang biasa ditonton.


"Ini nyata kan, Vin?" tanya Maurice tidak percaya.


"Iya, aku seperti masuk di dunia game. Seru banget!" teriaknya kagum.


Seketika kepalanya langsung digeplak oleh Julian dan Joanna, karena kesal dengan sikapnya itu.


"Game seru, game seru! Apanya! Kamu gak lihat, hah?! Bahaya didepan mata!" bentak Julian dengan keras.


"Ma-maaf, saya tak bermaksud begitu" kata Kevin merasa bersalah, apalagi setelah melihat Maura menangis sedih pilu seperti itu.


"Maura, Ardian tolong katakan apa yang terjadi?" ujar Joanna berusaha menenangkan keduanya, Maura dan Ardian.


"Camelia berubah, dia merupakan reinkarnasi dari ratu penyihir hitam. Ratu jahat yang pernah dikalahkan oleh Panglima Arialoka dan ratu Kenanga Ungu" ujar Ardian menjelaskan semuanya.


"Kenapa bisa? Bukankah selama ini dia tidak memiliki ciri atau ada perubahan? Jika memang dia dulunya ratu jahat itu" tanya Julian juga.


"Aku juga tak tahu, yang jelas ketika dia bertemu dengan iblis itu dia berubah" ucap Ardian sambil menatap tajam kearah Zhurak yang terlihat lemah.


"Jika iblis itu tidak menggodanya, mungkin dia tidak akan berubah dan pertempuran mereka tidak akan terjadi juga. Dan... Mungkin tindak bunuh diri juga tidak akan pernah mereka lakukan" ujar Ardian lagi dengan suara pelan, tapi cukup jelas didengar oleh mereka semua.


"Maura..." Maurice menatap sendu sahabatnya itu.


Bagaimana tidak, dia tahu betul jika Maura begitu menyayangi Gerald dan selalu mencarinya. Dan Camelia, dia juga tulus ingin membantu hantu cantik itu. Tak ada dendam ataupun benci kepadanya meskipun Camelia dulu pernah mencoba menyakitinya.


Waktu itu, Maura pernah bercerita kepada Maurice soal Camelia. Tapi dia tak pernah mengatakan siapa sosok Camelia, dia menggambarkan sosok Camelia hanya sebuah tokoh cerita karangannya saja.


Maka dari itu Maurice tidak pernah menganggap serius ceritanya, dia pikir Maura lagi bersemangat bercerita saja mungkin itu cerita yang dia baca di novel-novel kesukaannya.


Dan sekarang Maurice baru mengerti, jika sosok Camelia itu bukan hanya tokoh dongeng semata tapi benar nyata adanya.


"Kevin, mari kita temani Maura. Dia pasti membutuhkan kita" ucap Maurice kepada Kevin.


Keduanya menghampiri Maura yang masih terlihat lemah, saat itu Zhurak melihat Gerald dengan wujud menyeramkan itu menahan wujud astral Camelia, sedangkan Camelia berusaha sekuat tenaga melepaskan belenggu itu.


Tapi gagal, Gerald melekat erat tubuh itu dan takkan pernah melepaskan apapun yang terjadi.


"Lepaskan! Lepaskan aku, kucing nakal" teriak ratu jahat itu.


Gerald tidak menghiraukannya, Zhurak geram melihat ratunya yang tersiksa itu dia melesat terbang menuju Gerald dan Camelia yang melayang diatas langit-langit ruangan itu.


Dia berusaha sekuat mungkin melepaskan belenggu yang dibuat oleh Gerald untuk menahan Camelia.


Tiba-tiba angin kencang datang dari seluruh arah, dari atas langit itu terlihat lubang hitam mulai menghisap mereka semua kedalamnya. Bagaikan lingkaran angin membentuk lubang hitam dan siap menelan apapun yang terhisap olehnya.


"Semuanya, berpegangan yang erat. Mari bikin barikade untuk melindungi Maura!" teriak Ardian.


Dia tahu, satu-satunya yang akan menjadia incaran para iblis itu sebenarnya Maura. Mereka saling berpegangan tangan melawan derasnya angin itu, Gerald dan Camelia sudah dulu terhisap masuk ke lubang itu disusul oleh Zhurak.


Baru para mayat yang bergelimpangan di ruangan itu yang terhisap habis oleh lubang hitam itu.


Sekarang lingkaran setan berbentuk lubang hitam itu mengincar para kawanan untuk masuk kedalamnya.


"Bertahan, kuatkan pegangan kalian!" Ardian kembali memberikan pengarahan kepada kawanannya.


"Akh!" Joanna terlepas genggaman tangannya, karena kuatnya terpaan angin kencang itu.


"Joanna!" teriak Julian.


Semuanya tidak bisa fokus dan akhirnya terhisap semua satu persatu ke dalam lubang itu.


Mereka berputar-putar didalam lubang hitam itu terbawa arus angin kencang dan tak tahu kemana mereka akan dibawa.


......................


Bersambung