
Sore itu dengan perasaan tidak menentu Ardian menuju rumah nenek Maura, di sana Maura sudah menunggunya di teras rumah itu, dia agak kebingungan melihat Ardian berjalan dari bawah bukit itu menuju rumah neneknya.
"Motormu mana?" tanya Maura.
"Aah, aku tinggal didepan agen bensin tadi. Aku nitip sebentar" ujar Ardian terpaksa berbohong.
"Oh, ya udah. Masuk yuk, sebentar lagi waktunya magrib.." ajak Maura.
Dan benar saja, ketika mereka masuk azan magrib pun berkumandang. Maura mengajak Ardian sholat berjamaah di sebuah ruangan kosong dilantai atas.
"May, itu semua anggota keluarga ini tidak ada yang sholat atau bagaimana? Maaf jika lancang, apakah mereka non muslim?" tanya Ardian penasaran.
"Emm, aku juga gak tahu. Yang jelas aku tak pernah melihat mereka semua beribadah dengan cara apapun, mungkin mereka atheis" jawab Maura.
"Tapi kalau dipikir, wajar saja.. Mereka kan penganut sekte itu, wajar saja jika mereka tak beriman kepada Tuhan" ujar Ardian lagi.
"Sst, pelankan suaramu! Nanti mereka bisa mendengar" bisik Maura sambil menunjuk dinding-dinding kamar itu.
Ardian mengernyitkan keningnya, dia tak mengerti maksud dari perkataan Maura. Mereka membereskan peralatan ibadah tersebut lalu berjalan menuju ruang tamu keluarga itu.
"Jadi, kau adalah teman kuliah Maura?" tanya pak Herman.
"Iya, Om" jawab Ardian sopan.
"Terima kasih sudah mengantarkan Maura pulang, lain kali kalau mau main jangan pulangnya terlalu sore, agar tidak telat seperti hari ini" ujar pak Herman sambil memandangi Ardian dengan penuh curiga.
"Iya, Om. Maaf.." jawab Ardian lagi.
Waktunya makan malam, seperti biasa para tetua didahulukan untuk makan malam setelah itu dilanjutkan oleh para pemuda atau anak-anak dirumah itu.
"Aneh banget tradisi rumah ini, kenapa tidak makan bareng saja? Atau siapa yang udah laper kan bisa makan duluan, yang belum lapar bisa menyusul.." tanya Ardian heran.
"Sst, diam! Ikuti saja dan rasakan bagaimana hidupku disini.." ujar Maura menimbali ucapannya.
Ardian memandanginya dengan raut wajah kasihan pada gadis itu, waktu makan saja diatur, tidak boleh telat ataupun lewat sebelum waktunya, dan semua orang wajib mematuhinya.
Setelah makan, Ardian dan Maura duduk didepan teras rumah itu sambil menunggu pamannya, tiba-tiba salah satu sepupu Maura mendatangi mereka, siapa lagi kalau bukan Shalimar.
"Hai, Maura! Kau punya teman ganteng kok gak ngenalin ke aku" ujarnya sok imut.
Ardian melihatnya biasa saja, baginya tak ada yang lebih cantik dan imut selain Maura. Tapi Shalimar begitu semangatnya saat melihat Ardian, lelaki tampan macho maskulin itu benar-benar telah memikat hatinya.
"Hai, namaku Shalimar.." ujarnya sambil tersenyum genit.
"Halo, aku Ardian pacarnya Maura" ucap Ardian to the points.
Dia tak suka berbasa-basi, dia juga ingin menjaga perasaan Maura. Setelah itu dia berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan tidak memperhatikan Shalimar lagi, apalagi gadis itu hanya memakai celana pendek ketat dengan kaos oblong yang lehernya terlalu rendah, memperlihatkan belahan dadanya, Ardian tak nyaman dibuatnya.
"Katakan pada pamanmu, aku mau mengambil motorku dulu.." ujar Ardian kepada Maura sambil mengelus rambut Maura dengan lembut.
Setelah itu dia pergi menuruni tanah berbukit itu menuju bawah menemui Rosario yang sudah menunggunya dibawah.
"Kau ini, kenapa tak bilang kalau dia itu pacarmu?!" delik Shalimar kepada Maura.
"Mau aku katakan atau tidak, aku yakin kau juga tak peduli" ujar Maura seraya meninggalkan dirinya sendirian di sana.
"Ish, dasar tak tahu diri! Kehadiranmu disini tak diharapkan tau!" teriaknya.
Maura tak peduli dengan segala ucapannya, bukannya tak tahu seringkali dia mendengar para sepupunya itu menggosipkannya, ada aja topik pembicaraan mereka tentang dirinya.
"Aku tak peduli dengan semua ini" gumamnya dalam hati.
"Maura, Ardian mana?" tanya pak Herman.
"Oh, dia sedang mengambil motornya, Mang. Mungkin sudah menunggu diluar" jawabnya sopan.
Dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, sekilas dia melihat bayangan dibawah tangga itu. Bayangan yang tak asing baginya..
"Apa itu tadi, apakah aku salah lihat?" gumamnya sendiri.
Dia berjalan melewati kamarnya Nayra, tak sengaja dia mendengar obrolan Nayra dengan Nala karena pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
"Aku sudah tak tahan lagi, Kak. Sebaiknya anak itu segera pergi dari sini jika tidak ingin terluka" terdengar suara Nayra.
"Kau benar, terlalu bahaya jika dia tinggal disini. Dia akan membahayakan semua orang, auranya terlalu tinggi. Sepintar-pintarnya dia menyimpannya akan tetap diketahui oleh para tetua.
Kita aja bisa mendeteksinya, apalagi para tetua itu dan aku yakin mereka sudah tahu tentangnya saat pertama kali melihatnya" terdengar suara Nala juga.
"Apa yang mereka katakan, apakah mereka sedang membicarakan aku?" gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, dia mendengar ada suara langkah kaki dibelakangnya suara itu terdengar dari arah anak tangga menuju kearahnya. Dia buru-buru melangkah cepat masuk kedalam kamarnya.
Dia sempat mengintip dari balik pintunya sedikit, siapa yang datang dengan langkah berat itu. Alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang berjalan menuju kearah kamarnya itu, sosok bayangan hitam yang dia lihat tadi.
Sosok itu semakin mendekat kearah kamarnya, Maura menutup pintu kamar itu rapat dan menguncinya. Dia mendengar langkah kaki itu berhenti tepat didepan kamarnya.
Jantungnya berdegup kencang, dia menutup mulutnya agar suara nafasnya yang memburu itu tidak kedengaran oleh makhluk itu. Cukup lama Maura berdiam diri menunggu didepan pintu kamarnya itu, tak ada suara ataupun pergerakan dari sosok itu tadi.
"Aaakhh!"
Terdengar suara teriakan dari kamar sebelah, yaitu kamar Nayra. Maura terkejut mendengar suara teriakan itu, dia memberanikan diri membuka pintu kamarnya dan melihat kearah luar, dia tak melihat atau menemukan siapapun diluar sana.
Makhluk itu telah menghilang seiring jeritan wanita dari balik kamar Nayra, karena takut ada apa-apa Maura nekat memeriksa kamar Nayra.
Dia tak peduli jika nanti dia diusir atau mendapatkan hinaan dari mereka, dia hanya ingin tahu apa yang terjadi di sana.
Ceklek!
Dia membuka paksa pintu kamar itu, dia mendapati Nala diam terpaku duduk dilantai samping lemari kayu milik Nayra, wajahnya pucat, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.
Matanya menatap nanar disekeliling kamar itu, dia terkejut melihat Maura ada didepannya. Sambil gemetaran dia mundur menjauhi Maura.
"Pe-pergi! Pergi sana, jauhi aku.." ujarnya gemetaran.
Maura bingung dengan sikap Nala kepadanya, yang membuatnya bingung lagi karena dia tak melihat Nayra ada didalam kamar itu.
"Nala, apa yang terjadi? Nayra mana?" tanya Maura bingung.
Karena tidak mungkin gadis itu pergi secepat kilat, karena dia tidak mendengar ataupun melihat sesuatu yang keluar dari kamar ini, dia hanya merasakan sedikit hembusan angin keluar dari kamar itu.
"Semua, semuanya gara-gara kamu! Seandainya kamu tak ada disini, mungkin dia takkan diambil oleh-nya!" teriak Nala menatap benci kearah Maura.
Maura bingung sekaligus penasaran apa yang terjadi tadi, dan apa yang dimaksud Nala barusan? Dan siapa yang dimaksud dari kata "oleh-nya" tadi?
"Nala..." Maura mendekatinya pelan.
"Berhenti dari situ atau aku berteriak!" bentak Nala.
Maura benar-benar bingung dibuatnya, Nala bangun dari duduknya dengan badan sedikit linglung dia membongkar isi lemari Nayra seperti sedang mencari sesuatu.
Lalu dia keluar berjalan menuju kamarnya, dengan badan sedikit sempoyongan dia masuk kedalam ruang pribadinya itu. Sedangkan Maura masih berdiam diri didalam kamar Nayra itu, dia seperti sedang mencari sesuatu, menyelidiki seisi kamar itu mencari petunjuk atas hilangnya Nayra.
"Aku yakin ini semua pasti ada hubungannya dengan sosok yang aku lihat tadi" gumam Maura.
Saat dia tengah memeriksa isi lemari Nayra, dia mendengar suara langkah kaki datang dari bawah berjalan menuju kearah kamar mereka, yaitu kamar Nayra, kamarnya, dan juga paling ujung kamar Nala.
Wajah dan tubuhnya terhalang oleh pintu lemari itu, jadi siapapun yang melihat kearahnya tidak bisa melihatnya langsung karena pintu lemari kayu itu cukup lebar.
Ketika Maura ingin bersembunyi dari sana, karena dia takut ketahuan dan disangka ataupun dituduh yang bukan-bukan, lebih baik dia bersembunyi dari sana, pikirnya.
Tapi terlambat, ada beberapa orang yang berdiri didepan kamar Nayra. Mereka lihat pintu kamar itu tidak tertutup rapat, mereka membukanya sedikit dan melihat bayangan Maura dibalik pintu lemari kayu itu.
"Nayra, lain kali tutup pintu kamarmu dengan rapat!" bentak pak Herman.
"Hem!" Maura berdehem untuk menghilangkan rasa curiga mereka.
Setelah itu mereka pergi dari sana, Maura buru-buru menutup pintu lemari itu dan menuju pintu kamar, dia sedikit mengintip dari dalam apa yang ada diluar sana.
Dia melihat ada beberapa tetua di rumah itu ada di sana, diantaranya pak Herman dan bu Sinta. Mereka memeriksa pintu kamar Maura, kebetulan Maura tadi tak sempat menutup pintu kamar itu, sehingga memudahkan mereka untuk memeriksa isi kamar itu.
"Gadis itu tidak ada, sepertinya rencana kita berhasil" terdengar suara bu Sinta yang sedang berbicara.
"Bagus, setidaknya rencana ini berhasil dan kita tidak akan malu menghadapi ibu" terdengar juga suara pak Herman.
Maura masih menyimak setiap perkataan mereka, jadi mereka merencanakan untuk menyingkirkannya duluan sebelum dia berhasil menghancurkan sekte itu.
Bahkan keberadaannya belum satu bulan, mereka sudah ingin membunuhnya.
"Seperti rencana awal, bulan ini kita harus mempersembahkan korban hidup dari anggota keluarga kita, dia adalah korban yang sangat cocok" terdengar juga suara lain.
"Benar, dia begitu mirip dengan ibunya itu! Membuatku muak melihatnya, capek rasanya berpura-pura dihadapannya" kata bu Sinta.
Maura terkejut mendengar pernyataan mereka, jadi mereka berniat ingin mengorbankan nyawanya sebagai tumbal ritual mereka.
Tapi rencana mereka gagal, bukannya Maura yang diambil tapi melainkan Nayra yang hilang dari sana, mungkin sosok itu salah mengira bahwa Nayra itu Maura.
"Kasihan sekali dirinya, aku tidak akan membiarkan ada korban lagi dari sini. Cukup ibuku saja yang menjadi korban kekejian mereka!" gumamnya dalam hati.
Dia mulai menyusun rencananya untuk menyelamatkan Nayra, tapi bagaimana caranya? Dia saja tidak tahu dimana anak itu berada?
......................
Bersambung