RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Tipu Daya Setan


"Kaakk... Hihihi!" makhluk kecil itu tertawa melengking.


"Tolong, tolong akuu!" teriak Maura tanpa henti.


Dia terus menggedor pintu itu, entah sudah lama dia menggedor pintu itu tapi tak satupun bantuan datang.


"Maura, gunakan kekuatanmu!" terdengar suara Dewi Srikandi di telinganya.


"Oh, shitt! Kenapa aku jadi lupa soal itu, ini efek dari rasa takut sendiri" gumamnya menyadari pikirannya sempat lemot tadi.


"Kaak..." makhluk itu semakin mendekat kearahnya.


"Diam!" bentak Maura.


Sosok kecil itu sempat terdiam karena terkejut karena akhirnya mendapat perlawanan dari Maura.


"Whaaaaa!" dia menjerit menangis kencang.


Seketika ruangan itu terguncang seperti ada gempa, barang-barang yang ada di sana berjatuhan. Menyadari bahaya semakin dekat dengannya, Maura sekali tarik maka pintu itu langsung terbuka.


"Hh... Hh, hh" dia ngos-ngosan berlari keluar.


Baru beberapa langkah dia keluar, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik kakinya dan kembali masuk kedalam ruangan itu, pintu terkunci kembali.


Pada saat itu, teman-teman berada didepan pintu kamarnya. Terlihat mereka sedang bersiap-siap ingin berangkat, lengkap dengan barang-barang bawaannya.


Pada saat Maura sempat keluar, mereka melihat Maura ditarik oleh makhluk itu menggunakan rambut panjangnya. Seketika mereka berlari mengejar Maura.


"Mauraaa!" teriak mereka semua.


"Gawat! Pintu ini terkunci dari dalam!" kata Kevin panik.


"Maura, buka pintunya!" teriak Maurice panik.


"Apa yang terjadi, kenapa Maura bisa ada disini?!" tanya Joanna kebingungan.


"Sepertinya ada yang tak beres dengan penginapan ini, aku yakin kita sengaja ditidurkan lama hingga tak menyadari bahaya mengintai" gumam Ardian.


"Rosarioo!" teriak Julian.


Tapi sosok dipanggil tak terlihat, mereka mencoba menghubungi petugas di penginapan itu tapi tak satupun yang datang. Akhirnya mereka berusaha mencoba membuka pintu itu.


"Sepertinya ini dikunci menggunakan kekuatan gaib, Joanna!" Ardian meminta Joanna menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu itu.


Dan akhirnya mereka berhasil membuka pintu itu, dan melihat Maura tengah sibuk membuka tali gaib yang mengikat Rosario, mereka bengong karena bingung apa yang terjadi.


"Jangan diam saja, bantu aku!" teriak Maura menyadarkan mereka semua.


Akhirnya Rosario berhasil dilepaskan, dan mereka keluar dari kamar misterius itu. Baru saja beberapa langkah mereka keluar dari kamar itu, tiba-tiba pintu kamar itu menghilang menyatu dengan dinding


"Apa yang terjadi? Ada apa dengan penginapan ini?!" ujar Kevin kebingungan.


"Sudah tak ada waktu, ayo kita pergi sebelum menghilang seperti kamar itu!" teriak Maura.


Semuanya berlari menyusuri koridor itu, dan benar saja tiba-tiba saja lantai diujung koridor dekat kamar misterius tadi tiba-tiba retak dan hancur amblas runtuh kebawah.


"Aakh!" teriak mereka bersamaan.


Mereka berlari meninggalkan tempat itu, dan mengambil barang-barang mereka yang terletak didepan kamar mereka.


"Barang-barangku!" teriak Maura, dia hendak masuk ke kamarnya lagi.


"Sudah dikeluarkan, apa kau tak lihat barang-barangmu ada disini!" teriak Maurice mencegah Maura masuk.


"Sudah, cepat kita pergi sebelum ikut amblas bersama lantai ini!" teriak Ardian.


"Sempat-sempatnya kalian mikirin barang!" teriak Kevin juga.


"Sempatlah!" teriak Maura dan Maurice bersamaan, sambil melotot kearahnya.


Mereka berbicara harus setengah berteriak karena mengimbangi suara-suara keras reruntuhan bangunan itu.


Akhirnya dengan bersusah payah mereka keluar juga dari bangunan itu, saat mereka keluar dan melihat bangunan itu mereka dikejutkan oleh bangunan aslinya.


Bangunan tua sudah tak terurus, jamur dinding ada dimana-mana. Beberapa sisi bangunan sudah hancur, dan disekelilingnya ditumbuhi tumbuhan liar.


"Apa-apaan ini?! Kenapa bisa berubah seperti ini?!" tanya mereka kebingungan.


"Sepertinya ada yang coba mempermainkan kita, mata batin kita sempat tertutup tadi hingga tak bisa melihat atau menyadari kejadian ini" gumam Ardian.


"Tapi siapa?! Oke, kita manusia bisa dikelabui. Tapi Rosario, dia itu jin! Masa bisa dikelabui juga!" ujar Julian kesal.


"Berarti yang mengelabui kita Ilmunya tinggi dan kita bukan tandingannya, sudah yang penting kita semua selamat dan barang-barang juga masih utuh. Ayo kita pergi" ujar Ardian.


"Tapi..." Julian masih tak terima mereka dikerjain seperti itu.


"Sudahlah, tak ada waktu untuk membahas itu. Kita harus cepat-cepat kembali ke bandara, kalau tidak kita akan ketinggalan pesawat" ujar Ardian lagi.


Mereka semua langsung menuju bandara yang letaknya tak jauh dari tempat itu, mereka masih tak bisa berpikir bagaimana bisa mereka bisa terjebak di bangunan tua itu?


Yang membuat mereka terkejut dan kecewa lagi, mereka juga ketinggalan pesawat. Mereka telat kurang lebih 30menitan.


"Apa kalian tak bisa menunggu sebentar saja? Kami sudah berusaha secepat mungkin untuk cepat sampai disini?!" ujar Kevin protes kepada pihak bandara.


"Maaf, Tuan. Kami tak bisa merubah jadwal keberangkatan pesawat begitu saja, pesawat akan berangkat sesuai jadwal. Karena kami tak ingin mengecewakan penumpang lain yang ingin berangkat tepat waktu" ucap petugas wanita itu.


Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka, seorang lelaki berpenampilan rapi dengan ramah menyapa mereka.


"Permisi, Tuan-Tuan dan Nona-Nona... Maaf jika saya mengganggu waktu kalian. Perkenalkan nama saya Marcus, saya adalah manajer perusahaan Plane and Jets. Perusahaan yang menyewakan pesawat atau jet pribadi.


Tadi saya sempat mendengar kalau kalian ketinggalan pesawat yah? Kalau kalian ingin berangkat sekarang, kami pastikan kalian akan tiba tepat waktu dan mungkin lebih cepat sampainya dibandingkan pesawat anda sebelumnya" ujar lelaki bernama Marcus itu menawarkan jasa perusahaannya.


"Bagaimana? Mau tidak?!" tanya Ardian kepada yang lain.


"Jangan, mahal" bisik Maura.


"Kalau soal itu, tidak usah khawatir" ujar Ardian sambil tersenyum simpul.


"Baiklah, kami akan sewa pesawat jet pribadi. Pilihkan yang bagus, dan makanannya juga. Dan jangan lupa kru-kru berpengalaman kalian" ujar Ardian.


Tentu saja membuat Marcus terlihat senang, dia langsung menghubungi bawahannya untuk menyiapkan pesawat jet dan juga kru-kru termasuk permintaan Ardian yang lainnya.


"Apa tidak berlebihan?!" tanya Maura lagi.


"Aku capek, gak tahu dengan kalian. Kita masih membutuhkan perjalanan panjang menuju Indonesia, aku sengaja mencari yang terbaik karena aku ingin istirahat yang nyaman selama diperjalanan" ujar Ardian.


Mau gak mau Maura dan lainnya ikut juga, toh gak ada ruginya juga. Apalagi yang menanggung biaya itu adalah Ardian, si pengusaha sukses kaya raya.


Akhirnya, mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan lagi. Mereka sudah di pesawat, dan sudah terbang kembali diatas awan.


"Akhirnya bisa juga berangkat, semoga sampai tepat waktu seperti yang dijanjikan oleh orang itu tadi" ucap Julian sambil mencoba bersantai disofa empuk pesawat itu.


Mereka sedang menikmati makanan yang disediakan oleh beberapa kru wanita cantik untuk melayani mereka selama di penerbangan itu.


"Maura, bisa kau ceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Selama kami tertidur itu, apa yang terjadi?" tanya Ardian penasaran dengan semua kejadian yang menimpa mereka.


"Sebelumnya, aku ingin menceritakan sesuatu kepada kalian. Tapi aku gak tahu, apa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa kita tadi" jawab Maura.


"Apa itu??" mereka semua nampak antusias.


Maura menceritakan semua tentang mimpinya, yang membuatnya bangun kesiangan sebelum berangkat ke bandara. Juga termasuk mimpi keduanya saat tertidur di pesawat, hingga membuatnya tertidur lama.


"Entah apa maksud dari mimpi itu, tapi aku merasa ada kaitannya dengan semua ini" ucap Maura lagi.


"Dan aku pikir, kalau kak Tari dan Maurice tak membangunkanmu... Mungkin kau akan tertidur selamanya" ujar Kevin membuat Maura takut.


"Apa-apaan sih, Vin! Bikin merinding saja" ucapnya sewot.


"Bisa saja yang diucapkan Kevin itu benar, May. Kau tahu, saat kak Tari mencoba membangunkanmu dia harus menggoyang-goyangkan tempat tidur dengan keras dan berteriak kencang baru kau bangun.


Dan di saat pesawat juga aku harus membangunkan mu dengan keras juga, tapi tak mungkin juga kan aku melakukan hal yang sama seperti kak Tari saat dipesawat" ucap Maurice.


"Lalu, bagaimana caranya kau membangunkanku, hingga aku kembali tersadar?" tanya Maura penasaran.


"Aku, aku mencubitmu dengan keras. Hehe! Maaf ya, May... Aku terpaksa, jika tak begitu kau tak akan bangun. Aku belum siap melihatmu mati muda" ucap Maurice dengan ekspresi mengsedih.


"Hush, jaga ucapanmu! Dimana kau mencubitku?! Pantaslah ketika aku bangun rasanya sakit semua" ujar Maura meringis kesakitan.


"Di pinggangmu, di pipi dan juga lenganmu. Sorry ya, May!" ucap Maurice menyesal.


"Sakit sih, ya udahlah! Mau gimana lagi, kalau posisiku ada di kamu aku juga akan melakukan hal yang sama" ucap Maura tersenyum penuh arti.


"Contohnya?" tanya Maurice khawatir dengan arti senyumannya tadi.


"Aku akan menaruh jangkrik di telingamu sampai kau berteriak kesakitan karena bunyinya yang berisik itu" jawab Maura, dia tahu Maurice paling tak suka diganggu oleh suara-suara berisik seperti itu.


"Ish, dasar!" ujarnya manyun.


Semuanya tersenyum geli dengan tingkah keduanya, diam-diam Ardian memperhatikan Maura. Ada pandangan khawatir dimatanya saat menatap Maura.


"Dan bagaimana cerita saat kita di penginapan hantu tadi? Sampai Rosario hilang juga?!" tanya Julian penasaran.


Maura pun menceritakan semuanya apa yang terjadi saat itu, dia juga menceritakan disaat dia ditarik kembali ke kamar itu.


"Aku lihat makhluk kecil sebenarnya lemah, hanya ada sosok lain yang membantunya dan aku yakin sosok itulah yang menipu kita selama di sana, termasuk menangkap Rosario" ujar Maura menjelaskan semuanya.


"Aku sejujurnya tidak tahu apa-apa, saat itu aku sedang berkeliling mengitari penginapan itu, tiba-tiba tubuhku seperti terhisap oleh sesuatu. Entah apa itu, yang jelas seketika pandanganku gelap.


Saat aku terbangun sudah ada dikamar itu, aku berusaha melepaskan diri tapi tak bisa, aku juga mencoba menghubungi kalian juga tak bisa.


Sampai akhirnya aku melihat Maura ada di sana dan mencoba menolongku" ujar Rosario.


"Ini aneh, apa kalian melihat sosok yang membantu hantu kecil itu?" tanya Ardian lagi.


Keduanya menggelengkan kepalanya, sama-sama tak tahu apa-apa. Rosario mengalihkan pandangannya ke jendela kaca pesawat itu, dia nampak begitu gelisah.


"Ada apa?!" tanya Julian kemudian melihat ke sisi jendela pesawat itu.


Kemudian ekspresinya sama dengan Roario, terlihat gelisah dan khawatir. Terlihat Rosario merubah bentuk wujudnya menjadi kabut putih menembus keluar dari pesawat itu.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Joanna.


"Ada sesuatu yang sedang mengincar kita, sosok kabut hitam itu mengingatkan aku pada sesuatu" ujar Ardian dalam posisi duduk bersila sambil memejamkan matanya.


Sedangkan diluar pesawat itu, sosok kabut putih alias Rosario terlihat sedang menghadang gumpalan kabut hitam yang mengejar mereka.


......................


Bersambung