RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Pertemuan Dengan Seseorang


"Terima kasih sudah menemani aku disini, sekarang cepat kalian pergi. Aku akan segera pergi dari tempat ini untuk sementara, aku akan mencari tempat yang aman untuk sementara waktu, yang jelas bukan di kota ini" ucap Maura kepada yang lain.


"Kamu ingin pergi kemana, Maura? Ini negara asing bagi kita" ucap Maurice berkaca-kaca melihatnya.


"Tenanglah, aku tidak akan memutuskan komunikasi dengan kalian, aku akan mengganti no ponselku, kalian harus aktifkan ponsel kalian setiap saat, siapa tahu suatu saat nanti aku akan menghubungi kalian dengan nomor ponsel baru" katanya lagi sambil menatap teman-temannya satu persatu.


"Tenanglah, kami akan selalu ada untukmu.." ucap Joanna sambil memeluknya.


Mereka mengantar Maura ke terminal bis, mereka tidak tau kemana bis itu akan mengantar Maura pergi. Mereka hanya memandangi bis itu berlalu dengan tatapan sendu.


"Sudah, kita harus pergi jangan sampai ada yang melihat kita disini dan akhirnya membuat keberadaan Maura terlacak!" ujar Ardian membuyarkan lamunan mereka semua.


Sedangkan Maura didalam bis itu hanya menatap kosong kedepan, dia tidak tahu mau kemana dan mau ngapain. Tidak sadar air matanya jatuh menetes ke pipinya, dia buru-buru menghapus air matanya.


Sedangkan disamping kursinya itu ada seorang perempuan yang usianya cukup tua sedang memperhatikannya diam-diam.


"Gadis ini mengingatkanku dengan mendiang kakakku, ah! Kenapa tiba-tiba aku begitu merindukannya.. Bagaimana kabar anak-anaknya? Semenjak lelaki pengecut itu pergi, kami kehilangan anak-anakmu, kak.." gumamnya dalam hati sambil memperhatikan Maura.


Mereka kini berada cukup jauh dari kota neneknya itu, disebuah kota yang cukup maju untuk ukuran daerah yang lumayan jauh dari ibukota daerah provinsi. Kota itu juga terkenal dengan sebutan kota pelajar, kota Adipura.


Maura turun dari bis itu sambil memakai ransel dipunggungnya, dia masih bingung mau kemana di daerah baru yang masih asing baginya.


"Aku harus mencari hotel dulu untuk menginap" gumamnya.


Dia berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan itu, cuaca panas dengan matahari terik menyengat membuat kulitnya putih itu memerah, keringat banjir membasahi tubuhnya.


"Aku istirahat dulu, capek" gumamnya.


Dia bukannya tidak mau naik kendaraan lain, tapi dia belum mengenal daerah sana, jadi dia memilih berjalan kaki sambil melihat keadaan dan suasana kota itu.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti didepannya, ada seseorang yang membuka kaca jendela mobil itu, dan ternyata wanita paruh baya tadi dan menyapanya dengan ramah.


"Maaf, dek mau nanya.. Tadi saya perhatikan kamu terus berjalan sendirian seperti orang bingung, kamu baru disini?" ujarnya bertanya hati-hati.


Maura diam sambil memperhatikan wanita itu, entah mengapa dia merasa wanita ini tak asing baginya. Melihat Maura terlihat bingung, wanita itu turun dari mobilnya.


"Jangan takut, aku bukan orang jahat. Mungkin kamu tidak tahu, tapi kita tadi satu bis dari kota Pagaralam. Dan melihat caramu melihat sekitaran daerah sini, sepertinya kamu baru disini.


Aku hanya mengingatkan hati-hati saja, disini orang-orang bisa saja menilaimu yang bukan-bukan, apalagi kamu seorang wanita muda cantik, kasihan kalau jadi korban penipuan" ujarnya lembut kepada Maura.


"Benar, bu.. Saya baru disini, saya... Saya datang untuk kuliah disini, yang aku dengar di kota ini ada universitas yang bagus, makanya aku datang" ucapnya mencari alasan untuk menjawab pertanyaan wanita itu.


"Oh begitu, sudah menemukan tempat tinggal?" tanya wanita itu lagi.


"Belum, ini pertama kalinya aku datang ke kota ini.." jawab Maura polos.


"Kalau kamu mau, Ibu punya kost-kostan yang bisa kamu tempati salah satu kamarnya.. Kebetulan Ibu punya kost-kostan juga, jangan khawatir kost-kostan ini khusus putri kok, insyaallah amaann.." ujar ibu itu perhatian.


"Benarkah, Bu?!" tanya Maura heran sekaligus senang.


Ibu mengangguk sambil tersenyum, Maura senang dipertemukan dengan orang baik seperti ibu itu, mudah-mudahan dia benar-benar baik dan ikhlas membantunya, pikir Maura.


Maura ikut ibu itu kedalam mobilnya menuju kost-kostannya, ibu itu memperhatikan Maura semakin dia perhatikan semakin pula gadis disampingnya itu mirip dengan mendiang kakak perempuannya.


"Kamu tidak membawa barang-barang yang lain, hanya tas ranselmu saja?" tanya ibu itu.


"Tidak, Bu. Hanya tas ransel ini saja, hemm... Saya bawa koper sebelumnya tapi hilang tidak tahu kemana" ujarnya beralasan.


"Ooh, kasian sekali kamu... Itu pasti ada yang ambil, lain kali kamu harus berhati-hati yah" ujar ibu itu.


"Ohh, iya.. Nama Ibu Nela" jawab ibu itu, dia masih sedikit terkejut dengan nama gadis disampingnya itu.


Kini mereka sudah sampai di kost-kostan bu Nela, suasana bersih dan rapi, nampak begitu asri dari luar karena didepan kost-kostan itu ditanami beberapa pohon buah dan bunga-bunga cantik.


Konsep kost-kostan itu seperti rumah keluarga dua lantai, tapi penghuninya anak-anak kost semua. Ada juga penjaga dan tukang bersih-bersih rumah di sana tinggal bersama anak-anak kost itu, jadi kalau anak-anak butuh sesuatu akan lebih mudah karena ada penjaga yang bisa membantu keperluan mereka.


"Disini ada dua kamar yang kosong, kamu mau kamar yang mana? Satu ada dilantai bawah tapi kamar mandinya ada diluar dan satunya ada dilantai atas kamar mandi ada di dalam" ujar bu Nela menawarkan kamarnya.


"Em, aku kamarnya diatas saja ya Bu, maklum saya kalau mandinya suka lama, gak enak ama yang lain harus nungguin lama saya mandi, hehe!" ujar Maura lagi.


"Ya udah kalau begitu, kamu bisa tunggu dulu diteras depan sana yah. Ibu mau manggil bi Surti buat bersihin kamar yang diatas sekalian buat naruh barang-barang yang ada diatas" ujar bu Nela.


"Baik, Bu.." jawab Maura.


"Nunggu sebentar gak apa yah, soalnya mendadak begini, hehe" kata bu Nela berusaha akrab dengan Maura.


"Gak apa Bu, maaf merepotkan. Kalau begitu saya permisi sebentar ya Bu, mau nyari makan siang juga" ujar Maura merasa tidak enak juga dengan kebaikan bu Nela.


"Tidak apa.. O ya sebentar, Rizka! Kamu mau beli makan siang yah?" tanya bu Nela kepada salah seorang penghuni kost yang baru keluar dari kamarnya itu.


"Iya, Bu. Ada apa?" jawabnya singkat.


"Ini perkenalkan namanya Maura, dia penghuni kamar baru yang ada diatas samping kamar kamu.. O ya, dia juga mau beli makanan, temenin juga yah, dia masih baru disini masih belum banyak mengenal tempat di daerah ini" ujar bu Nela lagi.


"Baiklah, ayo ikut aku!" jawab Rizka cuek.


"Ayo ikuti saja dia, gak perlu diambil hati dengan sikapnya itu, anaknya emang begitu orangnya" bisik bu Nela sambil tersenyum kearah Maura.


Maura hanya mengangguk saja sambil mengikuti Rizka yang sudah berjalan jauh darinya, dengan sedikit berlari Maura mengejarnya.


"Kamu.. Tidak ribet bawa ransel segede itu?!" tanya Rizka menatapnya heran.


"Oh, berat sih.. Tapi tidak mungkin juga aku tinggal" jawab Maura.


"Tinggal aja, tenang rumah itu aman tidak akan ada yang berani macam-macam dengannya, para penghuninya juga baik-baik dan pengurus rumah juga amanah, rajin dan baik" ujar Rizka menjelaskan.


"Iya, akan aku ingat" balas Maura sambil tersenyum.


Benar kata bu Nela, dia anaknya baik tapi memang sikapnya seperti itu. Setelah makan siang si warteg, Rizka mengajaknya berbelanja di minimarket untuk kebutuhannya sehari-hari, Maura juga minta ditemani membeli kartu ponsel yang baru agar bisa menghubungi teman-temannya dengan aman.


Setelah semuanya selesai, keduanya pun kembali. Dan kamar Maura pun sudah siap, Maura senang mendapatkan kamar itu meskipun sederhana tidak sebagus dan semewah kamarnya di New York, ini cukup membuatnya nyaman.


"Ternyata sudah lengkap dengan perabotannya juga, bu Nela sangat baik" gumamnya.


Dia meletakkan tas ranselnya dan menaruh beberapa barang belanjaannya dan merapikan semuanya, dia juga menghubungi Ardian jika dia sampai dengan selamat dan sudah memiliki tempat tinggal yang nyaman untuknya.


"Aku mau beristirahat sebentar, sebelum berbelanja pakaian-pakaian dan lainnya, ugh! capeknya,, untung saja Nala juga membawakan kartu kredit dan debit ku, sehingga aku juga tak perlu kesusahan dalam hal keuangan.


Dan Ardian juga, anak itu! Segitu khawatirnya dia sampai harus menyelipkan beberapa uang tunai didalam tas ini! Hufft, aku menjadi tidak enak dengannya" gumamnya sambil rebahan diatas kasur empuk itu.


Tidak sadar matanya mulai berlahan tertutup rapat, dia tertidur karena kelelahan.


......................


Bersambung