
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kevin saat memperhatikan Maurice sedari tadi hanya diam saja.
"Aku pikir, ini ada hubungannya dengan pemilik apotek itu. Soalnya saat melihat sosok itu tadi, mengingatkan aku dengan sosok yang ada difoto didalam apotek itu tadi" ujar Maurice menceritakan semua apa yang dia lihat tadi siang.
"Kamu bilang fotonya dalam keadaan hamil, tapi sosok tadi tak memperlihatkan dirinya sedang hamil atau tanda-tanda sudah melahirkan seperti para makhluk sebelumnya?" tanya Ardian bingung.
"Entahlah, tapi tadi sore sebelum kalian datang makhluk itu datang bersama sosok makhluk lain dengan tubuh begitu kecil seperti boneka bayi, menempel kepada kakinya hingga dia terlihat kesulitan berjalan.." jawab Maurice lagi.
"Setelah aku ingat lagi, apa yang dikatakan oleh Maurice ada benarnya, sebelum aku menghempaskan selendangku kearahnya, aku sempat melihat sosok kecil dikakinya. Tapi aku tak terlalu memikirkan, aku hanya fokus kepada Maurice saja.." ucap Maura juga.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Menerobos apotek itu dan mencari tahu apa penyebabnya, atau.. Langsung menghajar makhluk itu yang masih menunggu diluar sana?" tanya Rizal gregetan.
"Jangan gegabah, kita tak tahu sedang menghadapi mahkluk seperti apa diluar itu, seperti yang kalian tau dia adalah wexian atau wei wuxian, yang artinya dalam bahasa Tionghoa adalah wanita suci, atau makhluk yang disucikan oleh mereka*
Kemungkinan dia adalah makhluk peliharaan ataupun makhluk yang disembah oleh pemiliknya, kita tidak bisa menaklukkannya begitu saja.." ujar pak Kyai memberikan arahan kepada mereka.
"Apa yang dikatakan oleh pak Kyai ada benarnya, tapi Kyai.. Jika kita tak cepat bergerak, maka yang kita takutkan akan terjadi, ingat cerita Kevin saat diatas jembatan tadi, bagaimana jika ada orang lain yang terjebak olehnya?" tanya Ardian sedikit tak sabaran.
"Mungkin sudah ada korbannya.." gumam Kevin, sontak semuanya melihat kearahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Maurice.
"Aku tadi diselamatkan oleh supir angkot, tapi aku dipandang aneh oleh beberapa warga di sana, entah mengapa aku seperti sedang berbicara dengan orang mati.." ujar Kevin mengatakan apa yang dia rasakan.
"Mengapa kau sampai berpikir seperti itu? Apa ada yang aneh dengan orang itu?" Maura pun ikut bertanya.
"Tidak ada, dia sama dengan orang-orang seperti biasanya. Hanya saja wajahnya sedikit pucat dan tangannya dingin, aku pikir mungkin dia kedinginan karena hujan saja, karena dia hanya memakai jaket saja tadi.." jawab Kevin terlihat sedikit terguncang.
"Sepertinya kita harus mengusirnya dulu.." ucap Maura.
Dia mendengar samar-samar seperti ada dentuman kecil dari luar, sepertinya makhluk itu berusaha masuk kedalam pagar rumah itu. Semuanya keluar kecuali Kevin dan Maurice, mereka sengaja dilarang keluar, karena makhluk itu sepertinya sedang mengincar keduanya.
"Tetaplah didalam, kapan perlu kalian beristirahat saja didalam kamar dan jangan keluar sebelum dipanggil.." ujar Ardian mengingatkan keduanya.
"Baiklah, kami akan menunggu didalam kamar saja.." ucap Kevin dengan was-was.
Setelah itu, Maura dan Ardian menyusul pak Kyai juga Rizal keluar rumah dan memperhatikan beberapa sisi pagar gaib mulai retak dikarenakan perbuatan makhluk itu, mereka menelisik semua area sekitaran rumah untuk mencari sosok makhluk itu tadi, tapi mereka tak menemukannya.
"Sepertinya kita harus keluar mencarinya langsung, dia tidak akan muncul begitu saja disini setelah gagal membobol pagar gaib ini!" ucap Rizal, tanpa arahan pak Kyai dia langsung keluar membuka pintu pagar rumah itu.
"Rizal, tunggu!" pak Kyai ingin mencegahnya tapi terlambat, anak itu sudah berhasil keluar dari sana.
Dan benar saja, saat dia baru beberapa langkah keluar, dia dikejutkan oleh sosok itu menyeringai diatas pohon rambutan depan rumah Ardian. Sontak saja anak itu kena Hujaman bertubi-tubi dari makhluk itu dengan pukulannya yang cukup keras.
Rizal tak sempat membalas, sepertinya makhluk itu tak memberikannya kesempatan untuk membalasnya, dia hendak menusukkan kondenya kearah Rizal tapi untung saja pak Kyai datang tepat waktu.
Zreet!
"Aakh!" makhluk itu menjerit kesakitan saat belati milik pak Kyai menebas lengan makhluk itu yang sedang memegang kondenya hingga terlepas.
"Pergi!!" teriak pak Kyai kencang, hingga suaranya begitu menggelegar menggema hingga dipenjuru area pemukiman itu.
Hanya para makhluk tak kasat mata yang bisa mendengar suaranya menggema seperti itu, sedangkan di pendengaran manusia normal, dia seperti sedang membentak saja, bahkan suaranya tak terdengar sampai tetangga rumah Ardian.
Makhluk itu langsung menghilang begitu saja setelah menjerit kesakitan saat tangannya terluka akibat sabetan belati milik pak Kyai, sebelum itu dia sempat memberikan ancaman yang cukup membuat merinding.
"Aku akan kembali, pastikan semua jendela dan pintumu terkunci rapat jika tidak aku akan menyusup diam-diam kedalam rumahmu, atau.. Bersiaplah berjaga semalaman, karena aku akan hadir di setiap tidurmu, menjadi mimpi burukmu sepanjang masa.." ujar makhluk itu tadi sambil menyeringai.
Setelah itu dia menghilang begitu saja, Maura dan Ardian ingin mengejarnya dan melacak makhluk itu, tapi dicegah oleh pak Kyai, orang yang sangat dihormati itu meminta mereka untuk berhati-hati untuk saat ini.
Keduanya menurut saja, Maura diminta untuk menemani Maurice tidur di kamarnya, sedangkan Kevin dan Ardian memilih untuk berjaga saja malam itu di rumahnya, pak Kyai dan Rizal memilih pulang ke pesantren.
Tengah malam tiba.
Ardian dan Kevin berusaha tetap berjaga, meskipun tak ada tanda-tanda kedatangan makhluk itu, mereka telah memeriksa beberapa pintu dan jendela semuanya telah tertutup rapat dan dikunci, dan Ardian juga pak Kyai kembali memagari rumah itu dengan pagar gaib setelah diperbarui kembali.
"Tenang saja, kita akan tahu jika makhluk itu datang lagi, aku sudah menaburi garam khusus untuk mendeteksi kehadiran makhluk halus itu.." ujar Ardian, dia meminta Kevin untuk beristirahat duluan sementara dia akan berjaga, mereka akan berjaga bergantian.
Sementara itu, Maurice dan Maura telah terlelap buaian mimpi, didalam mimpinya Maurice sedang berjalan-jalan dengan Kevin kesebuah tempat wisata kuno, khas suku Tionghoa.
Mereka sedang menikmati lukisan atau ukiran disetiap ornamen-ornamen khas negeri tirai bambu itu, semuanya terlihat unik dan estetik. Tiba-tiba saja dia terlihat tertarik dengan sebuah lukisan indah dan cantik.
Sebuah lukisan wanita berpakaian khas tirai bambu itu, seorang wanita nampak anggun dengan gaun merah, seperti gaun adat pengantin khas Tionghoa, dia semakin lama, semakin lekat memandangi lukisan itu, dan tiba-tiba..
"Ikut aku!"
Lukisan indah itu berubah menjadi mengerikan, lukisannya menghitam dan terbakar. Ditengah sobekan kertas kanvas itu terlihat tangan menjulur keluar meraih tubuhnya masuk kedalam lukisan tersebut.
"Aakkh!" teriaknya.
"Maurice, hei! Maurice, bangun!" teriak Maura mengguncangkan tubuh sahabatnya itu.
"Hah.. hah.. May, aku.. Aku lihat.." dia kesulitan mengatur nafasnya karena kelelahan.
"Minum dulu, tenangkan dirimu.." ucap Maura sabar.
Dia memberikan air minum kepada sahabatnya itu, sementara itu Kevin dan Ardian terkejut mendengar suara jeritan Maurice ikut masuk kedalam kamar, Ardian hanya menunggu diluar kamar, Kevin dan Maura terlihat mendampingi Maurice didalam kamar itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Kevin bingung sambil mengusap kepala istrinya itu.
"Aku tak tahu, dia menjerit kencang sambil tidur hingga aku terkejut dan terbangun dari tidurku.." jawab Maura sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia datang, ingin menjemputku.." gumam Maurice lirih.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin lagi.
"Makhluk itu, aku ingat dengan jelas! Dia mendatangiku Kevin," ujar Maurice gemetaran.
Masih terbayang dengan jelas ingatannya dalam mimpi tadi, ekspresi wajah makhluk itu didalam lukisan tadi, dari sosok gadis berwajah oriental dengan senyuman manis dan tiba-tiba saja berubah menjadi mengerikan, menatapnya tajam dan tangan itu, seakan ingin menariknya kedalam kegelapan.
"Tenanglah, tidak ada apa-apa. Itu hanya mimpi saja.." ucap Kevin berusaha menenangkannya.
"Tapi, katanya kalau kita sedang tidur.. Roh kita terlepas dari raga ini, melayang berkelana, mungkinkah yang aku alami dalam mimpi tadi itu hanya kebetulan atau kenyataan?" tanya Maurice tegang, dia jadi tak berani tidur kembali.
"Tidak ada seperti itu..," sahut Kevin lagi, meskipun didalam hatinya mulai meragukan pernyataan dirinya sendiri.
"Istirahatlah, aku dan Kevin akan berjaga diluar. Jika ada apa-apa, panggil saja.." ujar Ardian.
Setelah Maurice kembali tenang, Kevin bergabung kembali dengan Ardian di ruang tamu, sedangkan Maura bersama Maurice di kamarnya.
"Apa yang dipikirkan Maurice itu benar atau tidak, hanya Allah yang tahu. Sebaiknya kita sebagai manusia biasa cukup mengimani keyakinan kita dan percaya jika Allah selalu melindungi kita dari segala godaan setan dan makhluk halus lainnya..," ucap Maura dalam hati, menyakinkan dirinya sendiri.
Sementara Maurice kembali tertidur dalam keadaan tak sadar, Maura malah tak bisa tidur, dia mengambil air wudhu dan menggelar sajadah dan mulai sholat malam. Saat dirinya sedang berzikir, tanpa sadar dirinya lepas raga dan masuk ke dunia gaib.
......................
Bersambung