RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Intuisi Jiwa Maura


Mereka sudah sampai di apartemennya Maura, Ardian nekat ingin mengantar Maura sampai didepan pintu unitnya.


"Kamu gak usah nganterin aku sampai masuk, disini aja udah cukup" kata Maura terlihat gelisah.


"Aku gak akan mengganggumu ataupun meminta masuk kedalam, hanya memastikan kamu sampai kedalam apartemen mu ini" jawab Ardian.


"Aku sudah sampai, dan cukup sampai disini. Aku juga gak kenapa-kenapa kok.


Sudah yah, kalau kamu terlihat oleh keluargaku dikiranya nanti kamu yang mencelakai aku," kata Maura lagi.


"Justru itu aku akan menjelaskan semuanya, agar mereka tidak akan panik dan mengira yang tidak-tidak." Ujar Ardian ngotot ingin mengantar Maura masuk kedalam.


Sebenarnya ada alasan kenapa dia ingin sekali melihat kedalam apartemennya Maura, dia penasaran apa benar apartemen ini sudah terlindungi?


Mengingat kejadian tempo hari saat Rosario melihat ada jin yang mengawasi Maura dari sekitaran apartemen itu.


Tapi dia sempat ragu, soalnya Maura saat ini sudah memiliki Dewi Srikandi untuk menjaganya.


Tetapi bagaimana dengan keluarganya atau orang-orang disekitarnya, apakah mereka akan aman-aman saja? Itu yang dipikirkan Ardian.


"Ya sudah jika itu mau mu, tapi ingat jangan macam-macam atau berbuat ulah. Mengerti?" Kata Maura dengan mata melotot.


Niat hati ingin memberi peringatan, tetapi yang terlihat oleh Ardian mata cantik yang menggemaskan.


Dia hanya tersenyum geli melihat tingkah Maura, Sedangkan Maura sendiri menjadi salah tingkah saat melihat Ardian tersenyum manis.


Keduanya terjebak oleh perasaan masa lalu Dewi Srikandi atau Putri Dadar Bulan dan Panglima Adipati Arialoka.


Seperti kita ketahui, Putri Dadar Bulan juga menaruh hati pada Arialoka, karena dia sudah dijodohkan dengan Balaputradewa maka dia mengusir perasaan itu dan memantapkan hatinya ke Balaputradewa.


Saat ini Maura tidak mengetahui kisah asmara itu, dia hanya tahu Dewi Srikandi menjalin asmara dengan Balaputradewa saja.


Tidak dengan Ardian, dia mengetahui semuanya. Sehingga dia tahu dengan perasaan itu.


Sangat menyakitkan buatnya, tidak bisa membedakan mana perasaan murni atau perasaan Arialoka di jiwanya.


Makanya dia berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan Maura, dia takut akan menumbuhkan perasaan itu lebih besar lagi.


"Aku tak boleh terjebak oleh perasaan semu ini, aku harus profesional. Aku harus tahu bagaimana cara menempatkan diri," ujarnya dalam hati.


Tapi bagaimana pun juga takdir sudah menentukan hidup mereka, sekuat apapun dia berusaha menolak atau menjauhi Maura, tetap saja dia akan selalu bersamanya.


"Kau jangan menghindari takdirmu Ardian, meskipun kau berlari sejauh mungkin jika dia ditakdirkan bersamamu, maka itulah yang akan terjadi." Kata bi Marni.


Dia jadi teringat dengan perkataan dan nasehat bibinya itu, tentang hubungannya yang sudah terikat lama dengan Maura.


"Aku tak mau bi, perasaan ini tidak nyata. Aku tidak mau membodohi diri sendiri dengan perasaan palsu ini.


Perasaan ini milik Arialoka dengan Putri Dadar Bulan, bukan perasaanku dengan Maura!" Ucapnya mulai frustrasi.


"Tenangkan dirimu, Nak ... biarkan perasaan itu mengalir saja, jika dia memang jodohmu, maka dia akan terus bersamamu kemanapun kamu pergi.


Jika dia tidak ditakdirkan bersamamu, maka dengan sendirinya perasaan itu menghilang dan kalian akan menjauh dengan sendirinya" nasehat bi Marni.


Kata-kata itu selalu mengingatkan dirinya jika perasaan itu mulai tumbuh lagi saat dia bersama Maura, seperti saat ini.


"Hei, bengong saja! kalau mau mengantarkan aku, ayo..!" Teriak Maura sambil berjalan kearah lift.


Ardian setengah berlari menyusulnya, saat didalam lift keduanya hanya diam saja.


Perasaan canggung menerpa keduanya, kalau ada orang lain sih tak apa, ini hanya mereka berdua.


Diam-diaman seperti orang asing, kikuk sekali rasanya, Ardian mencoba mengajaknya ngobrol tiba-tiba suara lift berbunyi.


Tingg!


Saat pintu lift terbuka, sepasang kekasih masuk kedalam lift itu. Wanitanya terlihat pucat dan dia kondisinya sangat lemah sekali.


Sedangkan kekasihnya itu masih memapahnya dengan hati-hati agar wanita itu tidak terjatuh.


Saat mereka masuk, terlihat oleh Maura dan Ardian ada sosok hitam yang mengikuti mereka.


Dia terlihat takut melihat Maura dan Ardian, dan memilih mundur. Tetapi ekor mata makhluk itu tertuju pada wanita itu.


Ardian dan Maura saling pandang-pandangan, seolah memberi isyarat bahwa mereka juga sama-sama melihat sesuatu di sana.


"Bagaimana, apa yang harus kita lakukan?" tanya Maura berbisik kearah Ardian.


"Tidak usah dipedulikan, jangan ikut campur urusan mereka nanti kamu yang terluka." Ucap Ardian.


"Mau ku sih begitu, tetapi perasaanku mengatakan lain. Aku harus menolong wanita ini, sepertinya dia dalam bahaya," ujar Maura masih berbisik.


Saat dia membisikan ucapannya itu, terlalu dekat dengan Ardian sehingga bibirnya hampir menyentuh telinganya.


Ardian merasakan sesuatu yang hangat dan geli secara bersamaan, tiba-tiba perasaan itu datang lagi.


"Ah dasar otak mesum! Bisa tidak untuk saat ini tidak memikirkan hal itu?!" batinnya memberontak, tapi perasaan itu menginginkannya.


Wajahnya bersemu merah, dia menahan rasa malu dan berusaha menyembunyikan suara detak jantungnya.


Lelaki yang bersama wanita itu menoleh kearah mereka, dia terlihat risih saat Ardian dan Maura menatapi mereka.


Untunglah lantai apartemen Maura sudah dekat, jadi mereka bisa keluar dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


Saat Maura keluar lift dan berbalik arah, tiba-tiba makhluk itu sudah didalam lift itu. Mata Maura terbelalak kaget melihatnya.


"Biarkan saja dia, tidak usah dipedulikan" ujar Ardian berusaha menarik tangan Maura.


" Tapi mereka dalam bahaya?!" ujar Maura terlihat khawatir sekali.


Ardian menarik napasnya, dia tahu ini tidak akan mudah. Sisi Dewi Srikandi hampir memenuhi jiwa Maura, hingga perasaan ingin menolong atau menyelamatkan jiwa yang hampir tersesat itu ada.


Dia tahu, tidak akan bisa mencegah keinginan Maura yang satu ini.


"Bukan mereka, tetapi wanita itu saja" jawab Ardian.


"Apa maksudmu," tanya Maura tidak mengerti.


"Makhluk itu bawaan kekasih wanita tadi, aku bisa merasakannya. Ternyata makhluk tadi menempel padanya" jawab Ardian dingin.


"Aku tahu kamu ingin menyelamatkan wanita itu, tapi sebelumnya kamu harus sehat dulu.


Tapi aku juga tahu kamu mengalami demam ditambah beberapa luka ditubuh mu itu.


Kamu harus pulih dulu kalau ingin menyelamatkan orang" ujar Ardian lagi.


Dia tak sadar jika tangannya masih menggenggam erat tangan Maura, Maura jadi serba salah.


Dia ingin melepaskan genggaman itu, tapi hatinya merasa nyaman jadi tidak rela melepaskannya.


"I-iya kau benar" jawab Maura kikuk.


Sesampainya mereka didepan unit apartemen Maura, tiba-tiba saja pintu terbuka.


"Maura?! Darimana saja kamu, kenapa pulangnya terlambat? Dan ini kenapa kepalamu diperban, itu tangan, leher kenapa pada plasteran semua?!" Cecar Angga terlihat panik melihat kondisi Maura.


"Sudah jangan panik dulu, biarkan dia masuk dulu" ujar Dhania berusaha menenangkannya.


"Tunggu dulu, kamu siapa? Kenapa adikku bisa bersamamu? Dan itu tangan kenapa masih pegangan aja?" tanya Angga penuh selidik.


Sadar akan kelakuannya itu, Ardian buru-buru melepaskan pegangan tangannya pada Maura.


"Maaf saya hanya ingin mengantarkannya pulang saja, Kak" ujar Ardian tanpa basa-basi.


Maura terbelalak mendengar Ardian memanggil Angga dengan sebutan Kak, seolah mereka sudah kenal dekat.


Sedangkan Angga dan Dhania menatapnya penuh selidik dan curiga.


......................


Bersambung