
"Kalian berdua sudah ditandai,jangan pergi sendirian. Jika kalian ada keperluan atau ingin pergi usahakan ada yang menemani, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti" ujar bi Marni kepada Ardian dan Maura.
"Tenang, Bi. Kan kita ada yang jagain" jawab Maura tersenyum.
"Kalau masalah gaib, iya kamu ada yang jaga. Tapi kita tidak tahu jika ada manusia yang berniat jahat padamu" balas bi Marni sewot.
"Ardian mah kuat, mau ngelawan berapa orang dia mah sanggup. Tapi kalau kamu?" sambungnya lagi.
"Eits, Bibi lupa yah. Maura kan juga bisa bela diri" ujar Maura sambil membusungkan dadanya.
"Hei, jangan pernah meremehkan lawan. Jangan anggap mereka semua bodoh, Nak. Aku yakin mereka juga berpikir begitu tentang kita, jadi lebih waspada itu penting" kata bi Marni.
Maura dan Ardian mengangguk mengerti, Ardian pamit mau pulang sedangkan Angga dan Dhania lagi ngobrol santai dengan Tari beserta suaminya.
Bi Marni sibuk di dapur untuk menyiapkan cemilan untuk mereka semua, Kevin dan Maurice menunggu Maura di balkon tadi.
"Kalian berdua kenapa menatapku seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Maura heran.
"Maura, apa saja yang kamu sembunyikan dari kita? Kenapa kamu merahasiakan hubunganmu dengan lelaki itu, Siapa namanya? Ardian kan?!" tanya Maurice kesal.
"Sebenarnya mereka sudah ketahuan olehku, tapi masih mengelak. Si Ardian udah ngaku dulu kalau mereka pacaran, eh Maura malah bilang gak pacaran. Tau gak, aku dengar Maura duluan kasih cium pacarnya. Hihi!" ujar Kevin setengah berbisik kepada Maurice.
Maurice terbelalak tidak percaya kalau sahabatnya itu sangat agresif sekali.
"Kevin! Jangan ngarang kamu yah!" teriak Maura marah padanya.
Kevin hanya nyengir cengengesan, Maurice hanya tersenyum geli melihat tingkah Maura yang terlihat serba salah itu.
"Sudah gak usah ngelak lagi deh, kamu. Sudah ketahuan juga, parah ya kamu udah sejauh itu hubungan kalian. Heh?!" ledek Kevin.
Maura mendelik marah padanya, alhasil Kevin jadi bulan-bulanannya. Dia melampiaskan kekesalannya kepada Kevin.
"Hei, gila kamu ya?! Berhenti gak, sakit tahu!" teriaknya, Maurice hanya tertawa saja melihat tingkah mereka seperti anak-anak itu.
#
#
Ditempat lain, Ardian menuju kantornya dia menelepon Julian dan Joanna untuk bertemu dengannya.
"Dia ketahuan sedang bercinta dengan nona Maura di balkon sana" sahut Rosario, entah datang darimana dia.
"Apa?! Wkwkwk!" Julian tertawa puas mendengar berita mengejutkan itu.
Joanna hanya tersenyum geli melihat tingkah Ardian, antara malu dan marah ditambah dengan sikapnya yang salah tingkah itu.
"Diam kamu! Siapa suruh kamu yang jawab?!" bentak Ardian kesal kepada Rosario.
Rodario menundukkan kepalanya merasa bersalah, Julian melihat kearah apartemen Maura lewat teropong Ardian dan dia tersenyum.
"Wajar saja dia tahu, dari sini sangat jelas sekali apa yang kalian lakukan disana" ujar Julian membela Rosario.
Rosario terlihat terharu karena pembelaan Julian, dia mengangguk cepat tanda setuju.
"Sudah, sudah... Kasian dia diledekin terus, pasti dia sudah disidang lama tadi. Coba kamu ceritakan apa yang terjadi tadi di sana dan apa yang diceritakan oleh Rosario itu benar atau tidak?" tanya Joanna penasaran.
Ardian terpaksa menceritakan semuanya, dari pertama dia datang ke sana sampai dia mau pulang, termasuk dengan rencana-rencana mereka.
"Jadi kalian semua akan ikut denganku, termasuk membantuku membuat renacana untuk penyerangan minggu depan" kata Ardian memberi perintah.
"Kenapa mendadak banget sih ngasih tahunya, minggu depan itu waktu yang mepet banget Bro. Apalagi kita ini tujuannya untuk menyerang bukannya piknik!" ujar Julian nampak kesel.
"Ini bukan inginku, ini perintah dari atasan kita dan bosnya. Yaitu bi Marni dan kakaknya Maura, Tari namanya" jawab Ardian.
"Ya udah kita tak punya waktu lagi, ayo buat rencananya dulu. Rosario kau berjaga saja yah, laporkan jika ada terjadi sesuatu diluar sana," pinta Joanna lembut padanya.
Rosario senang padanya karena selalu bersikap lembut padanya, bukannya Julian yang selalu memberi perintah seenaknya saja.
"Baik, Nona" jawabnya langsung, dia langsung memecah diri menjadi lebih banyak dan menyebarkan diri mengelilingi gedung Ardian dan apartemen Maura termasuk sekelilingnya.
......................
Bersambung
Lagi gak enak badan ya guys akhir-akhir ini 🙏 Maafkeun jika babnya terus pendek ceritanya🙏🙏