
Maura mempertajam pendengarannya, dan suara tawa cekikikan itu berlahan menjauh darinya. Cukup lama Maura menunggu tapi dia tak mendengar lagi suara-suara itu lagi, dia sedikit lega akhirnya tak ada gangguan lagi tapi yang dia pikirkan sekarang ini adalah kenapa salah satu temannya berada didalam mimpinya itu?
Apakah itu hanya mimpi biasa, atau sebuah firasat? Dan kenapa harus Ichan? Maura mencoba mengingat-ingat lagi mungkin ada sesuatu yang dia lewatkan tentang temannya itu, tapi tak ada hal yang mencurigakan sama sekali.
"Sebaiknya aku tidur kembali, aku akan bertanya besok aja kepada orangnya langsung.." gumamnya.
Maura kembali tertidur, dan tidak mendapatkan gangguan lainnya lagi. Dan tentu saja karena dia sudah mendapatkan perlindungan dari kalungnya ditambah lagi didalam tubuhnya ada jiwa Dewi Srikandi, yang dikelilingi oleh ratusan prajurit jin pilihan untuk melindunginya.
Sehingga semua makhluk disekitaran Maura tak ada yang berani mendekatinya, apalagi dengan sekali perintah darinya maka semua prajuritnya akan menumpas semua gangguan yang berada disekitarnya.
Memang saat ini dilantai atas aman tanpa gangguan karena sudah dijaga dan dilindungi oleh perisai pelindung milik Maura, tapi satu hal yang tidak diketahui oleh Maura, jika semua makhluk itu tidak akan berhenti sampai disitu saja.
Karena tujuan utama mereka sebenarnya adalah bu kost dan rumah ini, karena si tetangga misterius itu menginginkan rumah yang menurutnya memiliki energi cukup besar untuk dia melakukan ilmu hitam miliknya.
"Lupakan gadis itu, urus saja dia nanti! Sekarang utamakan tujuan awal kita, kalahkan nenek tua itu, karena selama ini dia yang menghalangi tujuan kita!" ujar seorang nenek-nenek tua didalam rumahnya sedang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk peliharaannya itu.
"Gggraaaggrr!"
Para makhluk sedang berkumpul dilantai bawah, ada begitu banyak. Mereka sedang melakukan adu energi dengan para penjaga milik Mbah Sukinah, Mbah Sukinah didalam juga sedang melakukan ritual pengusiran roh jahat yang berusaha masuk untuk menyakiti mereka.
"Kau masuk kedalam kamarmu, jangan keluar apapun yang terjadi!" ujar mbah Sukinah memberi perintah bu kost.
"Ta-tapi, Mbah..." bu kost nampak bingung dan khawatir, tidak tau harus bagaimana.
"Tidak ada penolakan apapun, ini adalah perintah! Aku datang kesini untuk menyelesaikan tugasku, yaitu mengusir para makhluk itu!" ujar si Mbah.
"Ba-baik, Mbah!" ucap bu kost ketakutan.
"Dan ingat, jangan keluar walaupun yang terjadi, keluarlah jika hari sudah siang. Meskipun kau mendengar suara jeritanku, panggilanku.. Jangan kau sahuti ataupun kau buka pintu kamarmu, apapun yang terjadi.." ucap si Mbah Sukinah lagi.
Bu kost mengikuti sarannya Mbah Sukinah dengan berat hati, bagaimanapun juga beliaulah yang selama ini selalu menjaga dan membantunya menjaga rumah dan kost-kostan nya itu.
Mbah Sukinah merupakan tetangga bu kost sewaktu masih kecil, mereka tinggal di sebuah pedesaan cukup terpencil dibawah kaki bukit yang cukup jauh dari kota.
Di desa mereka, Mbah Sukinah cukup dihormati sebagai dukun yang bisa membantu semua orang, dari dukun beranak, dukun urut sampai orang sakit atau orang hilang pun dia bisa bantu.
Bu Kost mengalami beberapa peristiwa aneh didalam rumah dan kostannya sudah setahun terakhir ini, jauh sebelum Maura datang. Ternyata rumahnya sudah diincar cukup lama, niat si nenek tua itu ingin menakuti saja agar ibu kost termasuk anak-anak yang tinggal takut dan pergi dari sana.
Tapi siapa tau jika bu kost sangat berani dan mempertahankan rumah dan bisnisnya itu, karena itu adalah warisan mendiang dari ibu mertuanya, sedangkan sang suami menghilang entah kemana. Dia mencoba mempertahankan apa yang harus dia pertahankan, berharap sang suami cepat kembali dan itu juga salah satu pekerjaan Mbah Sukinah, menemukan dang suami bu kost juga.
Tapi bagaikan ditelan bumi, keberadaan suami bu kost tak ditemukan di manapun dia berada, bahkan jejaknya pun tak ada. Bahkan para polisi menyerah dan menghentikan pencarian, bahkan ada rumor jika suaminya bu kost malah kabur dengan wanita lain.
Dalam hitungan menit tak lama bu kost masuk, suara teriakan dan jeritan terdengar dari luar. Tepatnya tempat Mbah Sukinah tadi, bu kost ketakutan, dia meringkuk dan menangis dipojokkan kamarnya.
Dia sama sekali tak mengerti, kenapa dia harus mengalami semua ini padahal selama ini dia dan keluarganya tak pernah berbuat jahat sama semua orang.
Sementara itu, diluar pertarungan semakin sengit. Adu kekuatan saling melempar energi terjadi diantara Mbah Sukinah dengan nenek tua yang berada di samping rumah itu, beberapa kali Mbah Sukinah terjatuh dari duduknya dan memuntahkan darah, sepertinya kekuatannya tak cukup kuat untuk melawan ilmu hitam itu.
Sedangkan para makhluk diluar juga saling bertarung untuk mempertahankan posisinya di sana, sama seperti dengan tuannya, jika sang tuan menang dalam pertarungan, maka mereka juga akan bertahan tapi sebaliknya, jika mereka kalah sudah dipastikan sang tuan juga dikalahkan.
Begitu juga yang terjadi saat ini, Mbah Sukinah jatuh pingsan tak sadarkan diri, beberapa luka sayatan dan lebam berada di sekujur tubuhnya, seolah dia dikeroyok oleh belasan dan mungkin belasan makhluk, sampai muntahan darahnya sampai berceceran dilantai.
Sedangkan para makhluk penjaganya sudah hilang semenjak kekalahan Mbah Sukinah, beberapa makhluk yang menyerupai pocong, kuntilanak, genderuwo, dan lainnya masuk kedalam rumah, dan ada juga sedang berkeliling disekitaran rumah, seolah mereka ingin menunjukkan kekuatan mereka kepada makhluk yang lainnya.
"Hihihi.."
"Khahahhaa.."
"Cucu, cucu.. Bukalah pintu, Mbah mau masuk! Hihi.."
Sehingga bu kost tetap aman didalam, tetapi serangan suara dan halusinasi terus terjadi, bu kost tetap berusaha menjaga kewarasannya agar tetap fokus dan tidak mudah terpancing oleh semua makhluk itu.
"Jangan membuka pintu apapun yang terjadi!" suara Mbah Sukinah terus terngiang ditelinganya.
.
Maura masih terlelap tidurnya dengan nyenyak, didalam alam bawah sadarnya dia sedang berkumpul dengan seluruh keluarganya di new york, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya, Maura bergegas membuka pintu itu, dan alangkah terkejutnya dia melihat sosok Mbah Sukinah berada di luar pintu apartemennya itu.
"Astaga, Mbah! Apa yang terjadi denganmu?!" tanya Maura heran dan juga sangat kaget, bagaimana bisa Mbah Sukinah berada ditempat itu dalam keadaan terluka parah.
"Bangunlah, Nak! Aku meminta padamu, bangunlah.. Selamatkan Hayati, dia butuh pertolonganmu!" ucap Mbah Sukinah sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Hayati? Bu kost? Kenapa dengannya, dan apa yang terjadi dengan Mbah??" tanya Maura masih tak mengerti.
"Nanti kau akan mengerti, saat ini Hayati tak bisa menunggu lama! Jangan sampai dia terpengaruh oleh suara-suara itu, bukankah kedatanganmu ke negeri ini untuk menumpas sihir ilmu hitam?!" tanya Mbah Sukinah menyakinkan Maura.
"Benar, tapi aku tak tahu harus bagaimana.." ucap Maura bingung.
"Pergilah, Nak.."
Maura mendengar suara dari belakangnya yang dia kira itu bi Marni, dan ternyata semua anggota keluarganya berubah menjadi prajurit dan ksatria dari kerajaan bayangan, bahkan di sana juga ada Maharaja Balaputradewa, Putri Mahkota Kenanga Ungu, dan Dewi Srikandi dan panglima Arialoka.
"Ka-kalian? Bagaimana bisa?!" tanya Maura bingung.
"Kami selalu ada didekatmu, kau tak pernah sendirian. Percaya saja pada dirimu sendiri, bahwa kau kuat dan mampu! Jangan takut jika kau gagal, ada begitu banyak pasukan yang siap membantumu! Pergilah, setiap masalah yang kau hadapi selama ini semuanya berkaitan dengan misimu!" ucap Dewi Srikandi sambil berjalan kearah Maura.
"Ta-tapi aku tak begitu yakin, Dewi.. Selama ini aku bertarung dibantu olehmu dan panglima Arialoka, jika aku bertarung tanpa kalian, pasti ada Ardian di sampingku.
Kali ini berbeda, waktu melawan hantu gaun merah juga, aku banyak dibantu juga dengan makhluk lain. Aku juga selama ini dibantu oleh beberapa orang seperti pak Kyai dan muridnya, dan selebihnya adalah makhluk lemah yang mudah aku kalahkan.
Tapi kali ini berbeda, ini adalah ilmu hitam yang begitu kelam. Aura jahat begitu besar, aku tak bisa tanpa kalian dan Ardian, dan tak ada orang-orang lain yang membantuku juga.. Aku, aku kali bertarung sendirian.." ucap Maura tak yakin dengan dirinya sendiri, bukan dengan kekuatannya.
"Dengar, kau adalah Dewi. Dan berarti itu adalah aku, dan aku adalah kau! Kau harus berani dan menguatkan diri, kau bisa! Jangan meragukan kekuatanmu sendiri, aku yakin kau pasti bisa! Ingat, kita pernah melakukan hal ini sebelumnya? Dan itu berhasil! Ayo, kau pasti bisa!" teriak Dewi Srikandi tepat dihadapannya langsung.
Dan itu mengagetkan Maura dan terbangun dari tidurnya, dia melihat kearah sekelilingnya, samar-samar dia melihat bayangan kabut tipis berlahan memudar meninggalkan kamarnya itu, siluet Mbah Sukinah terlihat dari dalam kabut itu.
"Apakah ini adalah salah satu misiku yang belum selesai? Apakah sekarang tujuanku adalah rumah ini?" gumamnya sendiri.
"Aaaaakkkkkhhh!"
Maura terkejut saat mendengar suara teriakan dari bawah lantai kamar kostnya, dia teringat dengan bu kostnya yang dalam berbahaya. Tanpa pikir panjang lagi, dia bergegas turun kebawah dan menutup pintu kamarnya kembali dan melihat begitu banyak prajuritnya sudah menunggu dirinya dari tadi.
"Kami siap dengan perintahmu, Dewi.." ucap salah satu prajuritnya itu.
"Hukum dan hancurkan semua makhluk yang berniat jahat kepada siapapun, bawa mereka semua ke kerajaan bayangan, jaga dan lindungi seluruh bangunan ini dari serangan semua makhluk!" perintah Maura tanpa ampun.
"Siap, kami mengerti!" sahut para prajuritnya mengerti.
Kemudian mereka memencar keseluruh arah, mereka membuat perisai dan benteng mempertahankan diri untuk menangkal ilmu hitam yang dikirimkan ke rumah itu, dan ilmu hitam itu berasal dari rumah tetangga misteriusnya itu.
"Sudah kuduga, ada yang aneh dengan rumah itu!" gumamnya menatap tajam kearah rumah itu.
Sementara dibawah terdengar suara jeritan dan lolongan minta ampun dari para makhluk saat diserang balik oleh prajurit Dewi Srikandi tanpa ampun, mereka sadar yang dihadapi saat ini bukanlah sembarang makhluk, tapi seperti penjaga dari alam lain.
......................
Bersambung