RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Perjalanan Menuju Danau Hutan Terlarang


Maura menarik tangan Nala menjauh dari sana, dia tak ingin mengganggu Dewi Srikandi melawan siluman ular itu. Mereka bersembunyi dari balik pohon besar yang ada di sana.


Sebelumnya, Maura sempat bertanya kepada Dewi Srikandi kenapa dia harus turun tangan melawan ular itu?


"Dia salah satu jin siluman ular yang diutus menjaga perbatasan ini, dia adalah salah satu prajurit Arion Gaharu. Aku tau kau mampu melawannya, Tapi untuk saat ini biarkan aku yang menanganinya.


Pergilah, selamatkan gadis itu. Jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya" ucap Dewi Srikandi tadi.


"Sekarang kita harus bagaimana, Maura? Kita harus kemana lagi?" tanya Nala bingung dan ketakutan.


Mereka sedari tadi jadi tontonan para makhluk, sedangkan Dewi Srikandi sedang melawan jin ular itu tadi, salah satu makhluk terkuat di hutan itu.


Tapi dengan mudahnya Dewi Srikandi menghancurkan ular itu, para makhluk yang ada di sana ketakutan tidak berani mendekat. Mereka lebih memilih menjauh dari sana.


"Kenapa kalian masih disini? Pergilah!" ujar Dewi Srikandi.


"Kami tak tahu jalan mana yang akan kami lewati, Dewi. Didalam peta ini kami harus masuk kedalam hutan ini sampai menuju air terjun yang ada di sana, setelah itu harus menyelam kedasar danau air terjun.


Masalahnya kami tak tahu ini berada dimana, aku benar-benar buta dalam membaca peta" ujar Maura bingung harus bagaimana.


"Aku akan memandu kalian sampai ketengah hutan ini, setelah sudah dekat dengan air terjun.. Kalian harus melakukan itu semuanya sendiri" ujar Dewi Srikandi lagi.


"Baiklah, Dewi!" sahut Maura senang.


Mereka bertiga berjalan menuju tengah hutan malam itu dengan diiringi tatapan mata para makhluk didalam hutan itu, tak ada yang berani mendekati mereka.


"Aku akan mengambil jalan pintas.." ujar Dewi Srikandi.


Maura dan Nala bingung dengan ucapan Dewi Srikandi, apa maksudnya tadi dengan jalan pintas?


Pwiiiewwtiit!!


Dewi Srikandi bersiul nyaring sampai memekakkan telinga mereka yang dapat mendengarkannya, tiba-tiba datang dari arah atas langit malam itu seekor kuda putih bersayap dan memiliki tanduk kecil di kepalanya.


"Unicorn.." gumam Nala takjub melihat hewan mitos itu.


"Naiklah, dengan ini kita akan sampai dengan cepat!" ujar Dewi.


Maura dengan Nala menaiki kuda itu diiringi dengan Dewi yang terbang menggunakan kekuatan selendangnya.


Mereka terbang di atas hutan ini menembus kegelapan malam, angin kencang meniup kulit mereka sedingin es. Udara malam itu di area itu begitu dingin sekali.


Tidak disangka ternyata hutan itu begitu luas dan lebar sekali, tidak dibayangkan oleh Maura dan Nala jika mereka nekat masuk ketengah hutan itu, mereka pasti akan tersesat, jika berhasil pun akan memakan waktu yang panjang.


Sedangkan mereka tidak tahu kondisi Nayra saat ini seperti apa, apakah nenek Dawiyah menyadarinya atau tidak.


Disaat mereka terbang melewati hutan itu didepan mereka ada kabut putih menghadang, kuda unicorn itu terbang melewatinya.


Setelah keluar dari kabut itu terlihat dibawah sana sangat berbeda dengan hutan yang mereka lewati sebelumnya.


Kuda itu turun secara berlahan masuk kedalam hutan itu, diiringi oleh Dewi Srikandi. Didalam hutan itu begitu hening dan sepi, tak ada binatang ataupun makhluk lainnya.


"Ini adalah salah satu hutan larangan lainnya, kau tau Maura.. Begitu banyak hutan larangan di dunia ini, kita tak bisa menemukannya begitu saja.


Kita harus memiliki niatan baik agar bisa masuk kedalam hutan ini, karena hutan ini dikategorikan hutan suci bagi kami kaum para jin" ujar Dewi Srikandi menjelaskan semuanya.


"Tapi bagaimana bisa hutan ini berada didalam peta ini? Jika hutan larangan ini begitu suci bagi para jin.." tanya Maura penasaran.


"Hanya ada satu kemungkinan yang seperti itu, memaksa masuk dan mengotori tempat ini dengan pesugihan oleh manusia-manusia laknat yang meminta kekuatan, kekuasaan duniawi.


Karena mereka mungkin tahu tentang hutan ini, mereka mencari keberkahan hutan ini dengan cara yang salah. Memanfaatkan sesuatu yang baik untuk tujuan yang buruk" ujar Dewi Srikandi menjelaskan.


Mereka kembali menyusuri hutan itu, unicorn tadi sudah terbang entah kemana. Kata Dewi Srikandi hutan ini juga merupakan hutan para hewan mitos seperti unicorn tadi.


Para hewan ini memiliki kekuatan yang luar biasa, jika digunakan hal yang buruk akan mencelakai manusia dan merusak keseimbangan alam nantinya.


Dari kejauhan Mereka sudah mendengar suara gemercik air terjun, mereka seperti berada di negeri dongeng. Dengan hutan yang sangat indah ditumbuhi beberapa bunga-bunga cantik dan kunang-kunang berkelap-kelip mengitari pohon-pohon menghiasi malam di hutan itu.


"Kalian sudah sampai, aku sampai sini saja mengantar kalian. Aku sekarang berada di hutan larangan, aku tak ingin menghancurkan apapun yang ada didalam sini" ucap Dewi Srikandi.


"Kami harus bagaimana, Dewi?" tanya Maura lagi.


"Kau ikuti saja jalan setapak ini, ini akan mengarahkan kalian ke air terjun itu" ujar Dewi Srikandi.


Mereka pun mengikuti arahan Dewi Srikandi dan berjalan menyusuri jalan itu, Maura membalikkan badannya dia sudah tak melihat Dewi Srikandi lagi. Kini, mereka benar-benar sendirian.


"Maura, siapa Dewi itu tadi?" tanya Nala penasaran.


"Nanti aku akan menceritakan semuanya kisah tentang Dewi Srikandi, itu namanya" ucap Maura.


"Dia seperti tak asing denganku, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi aku lupa dimana.." ucap Nala sambil berpikir.


"Mungkin, mungkin saja kamu pernah melihatnya.." gumam Maura.


Mereka akhirnya tiba juga di area air terjun itu, pemandangan yang sangat indah dan cantik sekali. Air terjun itu bergemericik menimbulkan suara deras air mengalir jauh sampai ke ujung entah dimana tepatnya.


Mereka menyeberangi sungai disamping air terjun itu menggunakan batu-batu yang berjejer rapi sampai diseberangnya.


Hembusan angin kencang dan tetesan embun air terjun itu menimpa mereka, membuat mereka semakin menggigil kedinginan.


Setelah melewati air terjun itu, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju danau yang sudah disebutkan tadi, danau yang merupakan jalan satu-satunya menuju tempat Nayra berada.


"Apakah kita masih hidup, Maura? apakah ini masih dialam manusia?" tiba-tiba saja Nala bertanya seperti itu.


"Tentu saja kita masih hidup, pertanyaan seperti apa itu! Dan kita ini masih di bumi, Nala. Kita terbang tadi bukan berarti meninggalkan bumi, kamu mengerti kan maksudku?!


Ini alam manusia, hanya saja kita berada di dimensi yang berbeda. Kata orang alam manusia dengan alam jin itu hanya dibatasi dinding tipis, setipis kulit bawang.


Dengan kata lain kita ini hidup berdampingan dengan mereka, hanya saja kita tak bisa melihat dan menyadari kehadiran mereka, hanya orang-orang seperti kita yang mengetahui mereka, tidak dengan yang lain" ucap Maura.


Nala hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, penampilan mereka saat ini sudah tak menentu, kotor dan bau. Aroma kotor itu sedikit memancing penghuni hutan itu.


Ada yang merasa jijik dan terganggu dengan kehadiran mereka dan memilih pergi, ada juga yang memilih mengikuti mereka seperti melihat sesuatu yang aneh dan penasaran mengikuti.


Hanya sebatas itu saja, tidak ada yang membahayakan. Setelah berjalan cukup jauh akhirnya yang dituju sudah cukup dekat, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara raungan.


Gggraaauumm! Ggrr!.


"A-apa itu, Maura?!" ujar Nala gemetaran.


Maura mengedarkan pandangannya kearah semua tempat dihutan itu, dari kejauhan Maura bisa melihat dengan jelas sesosok makhluk buas menatap tajam kearah mereka.


"Nala, ikuti arahanku. Dalam hitungan tiga detik kita harus berlari kencang kearah danau itu, apakah kau bisa?!" ujar Maura.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kau ketahui, Maura?" tanya Nala semakin takut saja.


"Ikuti saja saranku!" ujar Maura mulai khawatir, karena dia melihat makhluk yang mengawasi mereka tadi sudah mulai mendekati mereka.


"Ta-tapi--" Nala tidak mau takut tanpa sebab, makanya dia harus tahu apa yang mereka hindari sekarang ini.


Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh sesuatu yang bertubuh besar, berkaki empat dengan bulu-bulu tebal yang tajam bagaikan duri-duri yang siap menancapkan ke kulit mereka.


Mata merah menyalak menatap tajam kearah mereka, gigi taring panjang dan besar bagaikan kapak siap menancapkan taringnya ke tubuh mereka, keduanya bergidik ngeri melihat makhluk itu.


"Ayo, Nala! Ikuti aku!" teriak Maura sambil menarik tangannya.


Mereka berlari kencang menuju danau yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari mereka, sebelum mereka melompat ke danau itu, makhluk berbulu tajam tadi sudah menghadang mereka menutupi jalan menuju ke danau itu.


Ggrrr!


Dia menggeram melihat kearah mereka berdua, pelan-pelan Maura dan Nala mundur kebelakang. Menghindari makhluk itu, dengan saling bertatap mereka tak berkedip melihat kearah makhluk itu.


Makhluk itu terus berjalan pelan menuju kearah mereka, dan mereka bergerak mundur berputar mengarah ke danau.


"Dengarkan aku, dengan hitungan ketiga kita loncat kedalam danau ini!" ujar Maura.


Tapi siapa disangka, Nala langsung meloncat masuk ke danau meniggalkan dirinya sendiri di sana.


"Ah! Sialan ini bocah!" teriak Maura.


Byurrr!


Dia pun langsung melompat kedalam danau menyusul Nala, seandainya dia terlambat sedikit saja, maka kepalanya akan tertebas habis oleh kuku makhluk tadi.


Didalam danau itu terlihat Nala sedang menunggu dirinya, Maura menarik tangan Nala masuk kedalam dasar danau itu.


......................


Bersambung