RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Cobaan Apa Lagi Ini?


Keesokan harinya, Ardian dan Angga mulai berkemas untuk pindah ke studio milik Ardian yang berada di showroomnya, meskipun kamar itu berbentuk studio tapi cukup luas bagi mereka berdua, cukup muat untuk dua kasur, ada kamar mandi, dapur mini dan juga laundry room.


"Aku izin dulu hari ini gak ngampus, mau operasi pindahan dan juga bebenah di sana, sekalian juga mau check kerjaan anak-anak.." ujar Ardian ke Maurice.


"Sip, nanti aku bilangin juga ke Maura! Vin, kamu hari ini libur kan kerjanya? Bisa nganterin aku dan Maura ya hari ini, sekalian buat beli beberapa perlengkapan lainnya buat kak Dhania.." ucap Maurice ke Kevin.


"Iya, aku hari ini akan jadi ajudan kalian berdua. Aku juga mau izin lagi ngampusnya, mau beresin kamar yang mau kakak pake nanti," sahut Kevin.


"Gak usah, kan kamarnya juga bersih dan rapi! Lagian mau belanja apa lagi, Maurice? Perlengkapanku sudah cukup kok, kemarin aku sudah belanja sama Angga. Gak usah belanja lagi, dan kamu Kevin harus kuliah jangan libur terus, gak ada alasan yah!" perintah Dhania ke Kevin.


"Iya, bu!" ucap Kevin malas.


"Lagian kalian sudah menikah, kok masih manggil nama aja. Panggil sayang kek, atau nama panggilan yang romantis gituuu.." ucap Dhania lagi heran melihat mereka berdua.


"Kata-kata sayang itu penting, tapi gak mesti dihadapan orang, cukup hanya kami berdua saja yang tau," jawab Kevin klise.


Ardian dan Angga hanya tertawa saja mendengar ucapannya itu, Dhania mendengus kesal sedangkan Maurice langsung beberes di dapur malu dengan ucapan Kevin.


"Sudah, kalian berangkat sana jangan sampai terlambat, kamu juga punya kelas kan pagi ini?" tanya Angga ke Dhania.


"Iya, Vin aku ikut yah sama kalian! Tunggu sebentar aku mau siap-siap dulu," sahut Dhania.


Kevin hanya menghela nafas sedikit lebih panjang dari biasanya, sepertinya dia dan Maurice untuk dua atau tiga bulan ini harus banyak-banyak bersabar menghadapi kakaknya itu.


"Aku sudah siap, yuk! Jangan lupa jemput Maura," ucap Dhania setelah kembali dari kamar dengan tas ditangannya.


Mereka pergi ke kampus bersama setelah menjemput Maura, dan kembali dengan kegiatan masing-masing. Sedangkan Kevin kembali ke rumah membantu Ardian dan Angga.


Beberapa jam kemudian, kelas berakhir Maura memutuskan untuk belajar di perpustakaan kampusnya, sedangkan Maurice dan Dhania memilih pulang langsung.


Maura dan Maurice tidak jadi keluar berbelanja karena dilarang sama Dhania, mereka menurut saja dan Maura memilih belajar di perpustakaan, Maurice pulang bersama Dhania setelah menunggu sebentar di perpustakaan bersama Maura.


Maura berniat mengejar nilai yang tertinggal, karena beberapa kasus yang harus dia tangani membuatnya terpaksa meninggalkan kuliah dan akibatnya nilainya menjadi menurun.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Dia mulai merasa lelah berniat ingin keluar sebentar ingin merenggangkan kedua tangannya, sekalian untuk mencari minum. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan suasana diluar, semuanya nampak hening dan sepi padahal masih siang hari.


Kebetulan pagi itu dia hanya memiliki satu kelas saja, setelah itu dia memilih untuk belajar di perpustakaan seharian ini, dan pas sekali hari ini dia tak memiliki jadwal lainnya.


Maura menyusuri koridor kampus menuju kantin yang nampak begitu sepi, biasanya banyak mahasiswa lainnya yang berlalu lalang di sana.


Dia juga melihat kearah lapangan basket, juga nampak sepi. Tak ada teman-teman lainnya yang bermain ataupun bersorak di sana, kelas, laboratorium, ruang dosen dan staf juga sangat sepi, benar-benar sepi seperti kampus kosong tak berpenghuni.


"Kemana semua orang? Kok sepi banget sih! Ini masih jam dua siang, gak mungkin jam kampus sudah berakhir kecuali ini sudah jam sembilan malam, karena jam itu kelas terakhir bagi mahasiswa yang kuliah disini, aneh.." gumamnya sendiri.


Maura tiba di kantin, suasananya sama dengan diluar begitu sepi dan hening. Jangankan teman-teman kampusnya, para pedagang juga tak ada di sana. Maura terus berjalan ketengah kantin berharap menemukan orang lain ataupun pedagang lainnya, tapi nihil.


Tring, tring.. Ting!


Terdengar suara dentingan gelas kaca seperti orang sedang mengaduk minuman, saat itu Maura hendak keluar dari sana dan langkahnya langsung terhenti saat mendengar suara itu.


Maura berbalik mencari arah suara itu, samar-samar dia melihat bayangan orang dibalik stan minuman yang berada di kantin itu. Maura melihat seorang lelaki sedang membuat minuman, tapi sosok itu tak bergeming dari tempatnya, terlihat dia hanya mengaduk minumannya dengan pelan dengan tatapan kosong didepan.


"Mas, mau pesan minuman boleh?" tanya Maura dengan hati-hati.


"Tu-tunggu se ben taarr.." jawab sosok itu pelan tanpa menoleh kearah Maura.


"Kantin sepi banget yah, tumben ini!" ucap Maura berbasa-basi.


Tapi tak ada jawaban dari sosok itu, terdengar dia sedang bergumam tapi tidak jelas apa yang diucapkannya, Maura maju mendekatinya untuk mendengar apa yang diucapkannya tapi ada sesuatu yang mengagetkannya, dia melihat bayangan sosok itu berbeda dengan bentuk tubuhnya.


Bentuk bayangannya menyerupai sosok yang tinggi besar berbulu dengan lidah menjulur sehingga beberapa tetes air liurnya jatuh kedalam gelas minuman itu.


"Astaghfirullah!" ucap Maura sangat terkejut.


Makhluk itu berbalik menghadap kearahnya,


tapi gadis itu tak kalah cepat dia langsung bersembunyi dibalik dinding stan lainnya.


Terdengar suara langkah kaki berat berjalan keluar dari stan itu, Maura mencoba menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara apapun agar keberadaannya tak diketahui oleh makhluk itu.


"Gila, makhluk apaan tuh?!" gumamnya dalam hati.


Dia heran kenapa dari tadi dia tidak berpikir sama sekali dengan semua perubahan pada suasana kampusnya itu, ternyata ini semua ada sangkut pautnya dengan ulah jin ataupun setan yang berada di kampus itu.


"Setan mana lagi ini? Perasaan semua jin atau setan semuanya sudah ditangani waktu itu bersama pak Kyai, dan kenapa tingkat sensitivitasku menurun? Aku tak begitu peka lagi dengan kehadiran mereka..." gumamnya meragukan kemampuannya sendiri.


"Mbaaakk... Inii minumaannyyaaaa..." terdengar kembali suara makhluk itu, kini semakin dekat dengannya.


Maura kembali dibuat panik oleh kehadiran makhluk itu, bukan karena dia takut tapi dia harus mencari tahu dulu siapa makhluk dibalik ini semua, karena dia tahu ini bukanlah ulah jin iseng biasa, ada kekuatan besar lainnya yang mengendalikannya.


Sriiiinngg!


Tiba-tiba telinga Maura berdengung kencang, sakit sekali sampai dia terpejam saat mendengar suara itu. Dan suara dengungan itu berhenti seketika, ketika dia membuka matanya dia sangat terkejut saat melihat ada beberapa orang sedang menatapnya heran.


"Kenapa, Neng? Mau makan? Bisa tunggu aja di bangku sana, jangan disini!" ujar salah seorang dari mereka, pemilik stan makanan itu.


Maura kebingungan dia melihat ke sekelilingnya, kantin kembali normal seperti biasanya. Banyak anak-anak kampus yang lagi makan dan minum di sana, termasuk semua stan makanan dan minuman yang semuanya buka, dan yang jaga juga manusia asli. Tidak ada makhluk yang seperti tadi.


"A-aku kenapa?!" gumamnya bingung.


"Hei, adik kecil! Ngapain kamu ngumpet di sana, sini!" salah satu senior di kampusnya memanggil.


"Iya siapa lagi kalau bukan kamu!" teriak senior itu.


Maura menghampirinya dengan ragu, dia masih bingung dengan semua ini. Apa kali ini penglihatan sudah benar atau dia masih terjebak di alam lain?


"Kau ini aneh, bukannya duduk disini malah jongkok didalam sana! Nih minum dulu, mukamu pucet banget," ucap senior itu memberi minumannya ke Maura.


Gadis itu mengambil minumannya kebetulan dia juga dari tadi sangat haus, ditambah lagi detak jantungnya terus berdegup kencang membuatnya merasa kelelahan sendiri.


Byuurrr!


"Puih! Minuman apa nih, gak enak baget! Ih, bau!" teriak Maura sambil memuntahkan minumannya.


Tiba-tiba suasana kantin kembali sepi, semua orang yang berada di sana terdiam saat mendengar ucapannya, dan serentak menoleh kearahnya.


"Eh, gak boleh menolak pemberian orang gak baik namanya, minum dan habiskan!" ucap senior itu sambil menatapnya dengan senyuman licik.


"Ta-tapi minuman itu, ba-bau dan.." ucapan Maura terhenti ketika melihat minuman itu berlahan berubah menjadi lendir busuk hitam kehijauan.


"Suudaaahh, akuu kaataakaann... Minuumm!" tiba-tiba seniornya berubah menjadi sosok mahluk mengerikan tadi.


"Aakh!" spontan Maura berteriak dan berlari meninggalkan kantin itu.


Dia terengah-engah mengatur nafasnya dan sempat berhenti sebentar, dia menoleh kebelakang tak ada siapapun yang mengejarnya tapi dia masih mendengar suara gelak tawa mengerikan daripada semua makhluk didalam kantin itu.


"Hah, hah! Sadarlah, Maura! Kendalikan dirimu! Dia hanya makhluk lemah dan jangan biarkan mereka melemahkan kekuatanmu, jangan sampai dia menguasai pikiranmu! Dan membuatmu ketakutan seperti ini," ucapnya memberi semangat kepada dirinya sendiri.


Dia berdiri dan berbalik kearah kantin, kali ini dia memberanikan diri lagi untuk menghadapi semua makhluk itu. Setidaknya dia sudah tau makhluk apa yang sedang dia hadapi saat ini.


Krieeeett!


Dia membuka pintu kantin yang tiba-tiba tertutup tadi saat dia keluar, bau busuk menyeruak keluar dari sana ketika dia masuk kedalam, dia mengibas-ibaskan tangannya mengusir bau busuk yang melintasi hidungnya.


"Grauukk, grauuk, graaauuukk! Sluurp, sluurp!" terdengar suara orang sedang makan sesuatu.


Maura mengintip kearah suara itu, dia melihat ada dua atau tiga orang sedang makan mayat busuk didalam sebuah stan makanan kosong itu, tubuh mayat busuk sudah mengeluarkan banyak belatung dan kelabang itu, dilahap oleh mereka.


Seketika Maura merasa mual, tapi dia harus mengendalikan dirinya. Dia terus berjalan maju sampai pada bangku tempat makhluk tadi duduk bersama minuman tadi.


"Hahaha! Aku pikir kau akan terus berlari dan meninggalkan tempat ini begitu saja, siapa sangka kau akan kembali lagi! Ah, aku lupa! Kau merupakan seorang titisan dewi makanya kau begitu berani kembali lagi.


Tapi kesan pertamamu begitu jelek, bodoh dan memalukan! Masa kau takut dengan makhluk rendah sepertinya, Dewi Srikandi!" ucap makhluk yang duduk didepannya sambil menunjuk makhluk berbulu tadi yang sedang berdiam diri didalam stan minuman itu.


Maura hanya berdiri dan berdiam diri sambil mengamati makhluk itu, makhluk ini berbeda dengan makhluk yang berdiri itu. Makhluk ini wujudnya sedikit mirip dengan manusia, wujudnya seorang lelaki dengan rambut panjang hitam terurai dengan dua tanduk kecil di kepalanya. Dari belakang Maura kira dia adalah setan wanita karena rambut panjang hitam lurusnya, dengan kulit putih pucat, alis lebat dengan bola mata hitam kelam, dan bibirnya merah seperti merah darah.


Makhluk itu berdiri dari duduknya lalu menghadap kearah Maura, alangkah terkejutnya Maura saat melihatnya berdiri, ketika makhluk itu berdiri terlihat jelas olehnya bagian bawah makhluk itu. Dari arah badan kebawah tubuhnya berbentuk ular bersisik hijau, begitu besar dan panjang meliuk-liuk hampir memenuhi seisi kantin itu.


"Si-siapa kau?!" Maura memberanikan diri bertanya kepada makhluk itu.


"Aku? Panggil saja aku Garaga.." ucap makhluk itu, lebih tepatnya siluman.


"Pantas saja aku sempat tak merasakan atau menyadari apapun tadi, ternyata yang aku hadapi ini siluman! Dari energinya yang sangat besar dan mampu mengelabui aku, dia bukan siluman biasanya. Mungkinkah dia seorang pangeran, raja atau mungkin pemilik suatu negeri dari para siluman itu?" gumamnya dalam hati sambil mengamati siluman itu.


"Apa yang kau pikirkan, sedang mengamatiku? Hehe, silakan saja! Setidaknya aku tak perlu malu ataupun kehilangan kepercayaan diri saat berhadapan denganmu, aku bisa jadi diri sendiri!" ucap siluman itu sambil tersenyum.


Deg!


Maura sempat terpaku saat melihat senyuman siluman itu dalam beberapa detik, dia langsung menetralisir perasaannya, dia merasa ada semacam sihir dari senyuman itu.


"Kau tak bisa memikatku dengan senyumanmu itu, di mataku kau hanya siluman menjijikan! Bau dan busuk," ucap Maura sambil menatap tajam kearah siluman itu.


Siluman bernama Garaga itu hanya menyeringai dan bergerak lambat sambil meliuk-liukkan tubuhnya mendekati Maura, gadis itupun langsung mundur seketika.


"Benarkah? Begitu banyak wanita yang tergila-gila denganku, baik itu manusia ataupun makhluk lainnya.. Kenapa kau tidak? Aku tau kau seorang titisan Dewi, bukan berarti kau tak suka denganku bukan?" tanya Garaga sambil menatap Maura lekat.


Siluman itu semakin dekat dengannya, sedangkan Maura dalam posisi terpojok dia menutup matanya dengan rapat sambil melafalkan beberapa doa-doa untuk membentenginya dari siluman itu.


Sring!


Sebuah lingkaran tipis menyelimuti Maura tapi memiliki kekuatan yang sangat besar menjaganya sebagai pelindung, dan siluman itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Maura dan seketika terbakar saat menyentuh perisai itu.


"Akh!" teriaknya kesakitan, dan langsung mengibaskan tangannya melenyapkan api yang menempel pada tangannya yang terbakar.


Maura masih bertahan dengan posisinya, sedangkan Garaga menatapnya terus, mengamatinya lalu tersenyum. Dia langsung memutar-mutar badannya beberapa kali kemudian tubuhnya yang setengah ular itu berubah menjadi wujud manusia seutuhnya.


Saat dirinya tidak merasakan energi besar yang mengancamnya, Maura membuka matanya pelan-pelan. Dia terkejut saat melihat didepannya ada sosok lain, lebih tepatnya sosok Garaga dalam wujud manusia seutuhnya.


Entah dia merasa Deja vu atau bagaimana, dia merasa sedang bertemu dengan panglima Wang Qin Nian, tapi dengan wajah yang lain, karena panglima Wang Qin Nian wajahnya begitu mirip dengan Ardian tapi kalau dengan Garaga dia lebih mirip dengan Kstaria lainnya, dengan penampilan yang gagah dan tampan dengan rambut panjang terurai, kulit putih pucat dengan sedikit sisik ditubuh dan wajahnya, membuatnya memiliki sedikit karisma dimata Maura.


Siapapun akan terpukau saat melihat ketampanan sang siluman itu, dan mudah terpancing dalam perangkapnya.


"Bagaimana dengan sekarang? Apa aku tak menakutkan lagi? Mau berteman?" ucap Garaga sambil tersenyum manis.


Maura hanya diam terpaku, dia tidak tahu ada maksud apa dibalik pendekatan yang dilakukan oleh Garaga.


......................


Bersambung