RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kedatangan Aurora


Naga putih itu terbang melesat dengan kecepatan yang tinggi menuju arah petir yang berbentuk kuda yang ditunggangi oleh sosok iblis besar, tangan petir iblis itu mencekik putri satu-satunya milik sang naga.


"Suamiku, turunkan aku disini!" teriak Fa Wei Xian.


Dia melihat tepat dibawahnya ada Maura sedang menatap kehadiran mereka, setelah turun dari tubuh Liu Wei Yan, dia terbang melesat turun kebawah menghampiri Maura.


"Maura, apa terjadi?! Kenapa iblis itu malah menyerang putriku?!" tanyanya khawatir setelah mendarat tepat dihadapan Maura.


"Sepertinya putrimu itu sudah tak berarti lagi bagi iblis ini, para sekutu dan demit lainnya juga memilih kabur meninggalkannya sendirian, karena mereka tahu raja iblis sedang murka dan luapan amarahnya bisa membunuh mereka semua.


Tapi sepertinya putrimu itu masih tidak mengerti apa yang terjadi saat ini, dia masih percaya dan yakin jika raja iblis itu masih membutuhkannya. Aku harap setelah ini dia percaya apa yang terjadi kepadanya saat ini bukanlah hal yang baik bagi dirinya.." jawab Maura, masih fokus dengan pandangannya.


"Aku takut, Maura.. Suamiku sangat murka, dia rela meninggalkan hutan larangan itu demi menyelamatkan putrinya, entah apa anaknya itu tahu apa tidak yang dilakukannya ini hanya demi menyelamatkan dirinya.." ucap Fa Wei Xian sedih.


Maura hanya bisa memegang erat tangannya, mencoba menguatkan dirinya. Meskipun dia seorang siluman, dia juga makhluk ciptaan Tuhan, makhluk yang memiliki perasaan seorang ibu juga.


Sementara di suatu sudut ditempat itu, panglima Wang Xin Nian nampak begitu menyelidiki Maura, beribu pertanyaan mengenai siapa sebenarnya gadis itu? Ini adalah pertemuan kedua mereka tapi dia merasa ada sesuatu yang dia rasakan, suatu hal aneh yang mengenai sebuah perasaan, bukan rasa kagum atau suka tapi perasaan aneh mengenai dirinya dan Maura.


"Apa dimasa lalu aku memiliki hubungan dengan dirinya? Kenapa dia nampak tak asing bagiku?" gumamnya sendiri.


.


.


Di dimensi lain, dunia masa kini..


Waktu berjalan cukup lambat disini, malam panjang penuh ketegangan berhasil mereka lalui. Maurice bangun dari tidurnya melihat Maura tertidur diatas sajadahnya, dia tersenyum mengira sahabatnya sholat malam sampai ketiduran.


"Dasar anak ini, sebaiknya aku bangunkan sekarang atau nanti saja yah? Lebih baik aku sholat dulu, setelah itu membangunkannya. Apa Kevin dan Ardian juga sudah bangun yah?" gumamnya sendirian.


Dia keluar dari kamarnya dan melihat Ardian sedang duduk sendirian didepan meja makan sambil menikmati kopi hangatnya.


"Subuh-subuh sudah ngopi aja, Pak.." godanya kepada Ardian.


"Hei, sudah bangun? Gimana, apa ada gangguan semalam didalam kamar?" tanya Ardian langsung tanpa menanggapi gurauan Maurice.


"Alhamdulillah, gak ada. Adanya calon istri Solehahmu itu sholat sampai ketiduran.." jawab Maurice sambil tersenyum geli.


"Biarkan saja dia dulu, bangunkan setelah kamu selesai sholat aja" ujar Ardian.


"Oke, Kevin?" Maurice menanyakan keberadaan suaminya.


"Lagi sholat dikamar, dia gak bisa tidur nyenyak. Mungkin gak bareng kamu kali.." kali ini Ardian yang menggodanya.


"Haha, mungkin. Aku mau ke kamar mandi dulu, wudhu.." pamit Maurice.


Ardian hanya mengangguk saja, setelah itu dia teringat lagi dengan Maura. Dia tersenyum simpul mendengar ucapan Maurice tadi mengenai sang kekasih.


"Sudah sholat, bos?" Kevin datang dari arah kamar Ardian.


"Sudah, istrimu sudah bangun. Sekarang lagi mau sholat.." ujar Ardian sambil menyeruput kopinya.


"Oh, aku mau ke kamar dulu. Mau mengambil pakaian ganti.." ucap Kevin seraya meninggalkan Ardian.


"Tunggu dulu, Maura ada didalam. Tunggu istrimu saja yang mengambilnya.." cegat Ardian sambil menarik bajunya.


"Posesif Banget sih? Iya deh, iya!" sahut Kevin sambil menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Maurice sudah selesai menunaikan ibadah sholatnya tapi sahabatnya itu belum bangun juga. Posisi Maura dalam keadaan sujud dan tertelungkup dengan wajah miring kesamping, memperlihatkan wajah teduh nan tenang.


"Aku jadi tak tega membangunkannya, tapi ini sudah pagi, jangan sampai dia melewati sholatnya..


Maura, bangun! Udah pagi, woi! Maura Hartawijaya, bangun sudah pagi!" teriak Maurice sengaja mengencangkan suaranya.


Tapi tak ada reaksi ataupun respon dari gadis berkulit putih bersih itu, dua kali, tiga kali Maurice memanggilnya sampai harus mengguncang tubuhnya tapi tak bangun juga.


Perasaannya mulai khawatir, dia tak pernah melihat Maura seperti ini sebelumnya, memang gadis itu agak susah bangunannya tapi dia begitu mudah dikejutkan, rasanya tak mungkin dia tak merespon suara teriakkan dan guncangannya yang lumayan keras itu.


Mendengar suara Maurice beberapa kali memanggil Maura dengan berteriak keras, membuat Ardian dan Kevin datang menghampirinya, mereka khawatir takut jika terjadi sesuatu diantara keduanya.


"Ada apa?" tanya Kevin setelah membuka pintu kamarnya dengan lebar.


"Maura, Vin! Susah banget banguninnya, berulang kali aku berteriak dia tidak merespon padahal suaraku sangat kencang!" jawab Maurice nampak begitu khawatir.


Mereka diam sejenak sambil memperhatikan Maura, samar-samar mereka mendengar dengkuran halus dari Maura menandakan anak itu sedang tidur. Tapi aneh saja rasanya ketika dibangunkan dia tidak merespon sama sekali, apa dia begitu kelelahan? pikir mereka.


"Pindahkan dia ke kasur, lepas mukenanya Maurice. Biarkan dia tidur sebentar.. Jangan lupa selimuti dia dan pasang alarm di Hpnya, kita lihat nanti, apakah dia akan bangun dengan cepat," sahut Ardian juga.


"Ide bagus juga, daripada teriak-teriak tapi gak direspon, kayak di prank tau!" ucap Kevin sambil menggoda istrinya.


Maurice hanya memanyunkan bibirnya saat digoda oleh sang suami, jika tak ada Ardian mungkin bibir manisnya sudah dikecup oleh sang suami, menggemaskan.


"Ardian, tolong pindahkan Maura yah. Aku gak kuat gendong tubuhnya.." pinta Maurice dengan serius.


Ardian langsung memindahkan Maura ke kasurnya, setelah itu dia dan Kevin keluar dari kamar setelah diminta keluar oleh Maurice karena dia ingin melepaskan mukena Maura dan mengganti pakaiannya.


"Kamu kenapa sih, May? Kok tidurnya kayak kebo gini sihh!" ujar Maurice kesal bercampur khawatir juga.


.


.


.


Sementara itu, di dunia masa lalu. Pertempuran antara naga putih dengan raja iblis dengan wujud petir sedang berlangsung, suara dentuman dan kilatan cahaya petir saling beradu. Meskipun pertarungan itu nampak tak seimbang, tapi naga putih itu masih tanggung mempertahankan posisinya saat ini.


"Aku tak boleh tumpang sebelum putriku selamat dan lepas dari cengkraman iblis itu!" gumam naga putih alias Liu Wei Yan.


Nafasnya mulai tak beraturan, keringatnya bercucuran dan jatuh ke bumi seperti hujan, membuat sekitaran area pertarungan itu menambah kesan menegangkan.


"Apa ini??" Maura melihat ada butiran debu putih dan halus berjatuhan menimpa mereka.


"I-ini??" Fa Wei Xian nampak ketakutan melihat benda itu.


"Ada apa?" tanya Maura penasaran.


"Waktu Liu Wei Yan tak banyak, dia harus kembali ke hutan larangan jika tidak dia akan hilang dan musnah disini!" ucap Fa Wei Xian dengan nada khawatir dan ketakutan.


"Apa ini sebuah pertanda?" tanya lagi Maura.


"Ini bukan hanya sebuah pertanda saja, ini juga menunjukkan kelemahannya juga. Dan aku yakin raja iblis itu tahu hal ini, dia sengaja membiarkannya mengeluarkan tenaganya lebih dalam lagi untuk membuatnya semakin melemah!" ucap Fa Wei Xian semakin ketakutan.


Maura nampak diam sejenak, cukup lama dia berpikir lalu dia langsung menegakkan kembali kepalanya, dia tersenyum saat bertatapan dengan Fa Wei Xian, membuat wanita itu nampak kebingungan dengan sikapnya.


"Bersiaplah, saat ini raja iblis sedang fokus menghadapi Liu Wei Yan. Kita manfaatkan saja waktu ini untuk menyelamatkan putrimu itu!" ujar Maura sambil menunjuk putri iblis yang nampak tak sadarkan diri diatas punggung kuda petir milik si raja iblis.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Fa Wei Xian terlihat kebingungan.


"Soal itu serahkan kepadaku, ketika aku memberikan sebuah pertanda kepadamu segera bawa putrimu pergi menuju hutan larangan itu!" jawab Maura dengan tegas.


"Tapi bagaimana dengan Liu Wei Yan?!" tanya siluman wanita yang terlihat muda dan cantik itu, begitu mengkhawatirkan suaminya.


"Percayalah, aku yakin saat ini hal utama yang dia pikirkan saat ini untuk menyelamatkan putrinya dan tentu saja dirimu. Jadi, percayakan ini semua kepadaku dan dia!" sahut Maura sambil menunjuk kearah langit yang berlawanan arah dengan area pertempuran itu.


"Ngiiiiikkk!" terdengar suara ringkikan kuda dari arah langit entah berlari atau terbang, tapi sosok kuda bersayap itu sedang menuju kearah Maura saat ini.


"Dewi, ini cukup lama anda berada disini. Cepat selesaikan setelah itu kita kembali lagi ke dunia kita, dunia manusia pada era dewi dilahirkan..." ucap Aurora dengan anggunnya.


Kuda unicorn itu berdiri melayang dihadapan Maura dan Fa Wei Xian dengan anggun dan cantiknya, membuat siapapun akan terkesima melihatnya, termasuk para prajurit dan kesatria yang masih berjaga saat ini.


"Siapa dia? Kenapa dia begitu kuat dan memiliki ilmu yang sangat berbeda dari yang pernah aku lihat? Bahkan dia berhubungan dengan baik dengan siluman terkuat di wilayah ini, penguasa hutan larangan itu!" gumam sang panglima bertanya-tanya.


Sementara itu, Fa Wei Xian tanpa sadar berjalan mendekati Aurora, bak memiliki sihir tersendiri, Aurora mampu memikat makhluk apapun, termasuk siluman terkuat seperti Fa Wei Xian.


"Kau tunggu disini, perhatikan setiap langkah dan gerakku. Tetap fokus dan selamatkan putrimu!" ujar Maura langsung menaiki tubuh Aurora.


Dia berusaha menjaga jarak antara Aurora dengan Fa Wei Xian, dia tau Unicorn itu tidak suka didekati ataupun disentuh sembarangan, ibarat kata seekor kuda bangsawan hanya untuk bangsawan, bukan sembarang orang bisa memilikinya.


Setelah itu, Maura dan Aurora melesat tinggi menuju awan untuk menyelamatkan sang putri iblis, dimana ayahnya sedang kewalahan bertarung melawan iblis dan ibunya menunggu dibawa dengan perasaan cemas dan khawatir.


......................


Bersambung