RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Penyesalan


Aurora menemui panglima Arialoka malam itu, dia datang dalam wujud seorang dewi bukan kuda Unicorn lagi. Melihat kedatangannya, panglima Arialoka memberi hormat kepadanya, karena dia tahu Aurora adalah jiwa yang mati akibat berkorban demi jiwa yang suci, benar Aurora adalah jiwa lain Laura Magdalena, mamanya Maura.


"Panglima, temui Ardian dan katakan jika sang Dewi, yaitu istrinya dalam bahaya!" ucap Aurora mengatakannya dengan langsung maksud dari kedatangannya itu.


"A-apa?! Dewi dalam bahaya?! Bagaimana bisa?! Seharusnya aku, dan kami semua yang menjaganya bisa mengetahui jika sang Dewi terluka atau dalam bahaya?!" sahut panglima Arialoka terkejut.


"Dia melakukan ritual yang seharusnya tak dia lakukan, dia pergi lewat jalur lain sehingga kalian tak ada yang menyadari kepergiannya, cepatlah! Beritahu dia dan bangunkan Maura dengan paksa, dengan begitu jiwanya langsung kembali dengan sendirinya. Cepat!" perintah Aurora dengan tegas.


Setelah memberi hormatnya, panglima Arialoka langsung melesat dengan cepat masuk kedalam rumah itu, dia mengejutkan Ardian yang nampak tertidur dengan nyenyak.


"Ardian, bangun! Maura dalam bahaya, bangunlah!" bisik panglima Arialoka, dan Ardian pun langsung bangun terlonjak kaget.


Dia berlari menuju kamarnya Maura, menggedor-gedor pintu nya tapi tak ada respon ataupun sahutan dari dalam, Ardian begitu panik dia mencoba mendobrak pintu kamar itu tapi tak bisa, Maura sepertinya menahan pintu itu dengan sesuatu agar tak ada yang bisa masuk sebelum ritualnya selesai.


Sementara itu, didalam dunia gaib, di dimensi area kekuasaan pohon keramat tempatnya nenek Dawiyah bersemedi, Maura dikejar-kejar oleh para lelembut penghuni hutan angker dan keramat itu.


"Aku harus menuju sungai itu, sungai itu area netral! Mereka tak bisa menyerangku di sana, hah.. hah!" ujarnya ngos-ngosan.


Maura bisa saja melawan mereka, tapi jumlah mereka begitu banyak, jika harus menggunakan energinya untuk melawan mereka semua maka dipastikan dia akan kelelahan dan kehabisan energi.


Tubuhnya basah kuyup oleh keingat, kakinya berdenyut kesakitan berlari tak tentu arah, bersembunyi dari para lelembut dan sesekali menghajar mereka yang duluan menemukan keberadaannya, kondenya sudah berlumuran lendir busuk akibat luka-luka para demit yang dia hajar.


Kakinya yang tanpa alas itu lecet penuh luka, dia menginjak rumput berduri, kerikil-kerikil kecil dan tajam, belum lagi jebakan-jebakan yang dibuat untuknya, berhasil melukai kakinya.


"Hah..Hah..Hah.. Aku harus kemana? Aku harus kemana?! Dewi?! Panglima?! Tolong aku!" teriaknya putus asa.


Maura malu pada dirinya sendiri, terlalu menggampangkan musuh dan tidak mengukur kekuatannya sendiri. Bahkan dia melupakan suaminya sendiri, rasa buruk sangkanya selama ini membutakan mata dan hatinya, sehingga berbuat nekat melakukan ritual diluar anjuran agama maupun ajaran Dewi Srikandi sebelumnya.


"A-aku menyesal.. Aku salah, tolong maafkan aku..." gumamnya putus asa.


Dalam keadaan kaki bergetar dan lemas, kelelahan, badan kesakitan, tenggorokan sakit, dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara aliran air sungai yang tak jauh darinya, semangatnya kembali bangkit dan mulai bangun dan menuju sungai itu.


"Aku harus kuat, aku harus berani! Aku yang diharapkan oleh mereka semua, aku tak boleh putus asa! Aku harus bertanggung jawab sendiri apa yang aku perbuat..." gumamnya dalam hati.


Maura berjalan terpincang-pincang menuju aliran sungai yang sudah nampak didepan matanya, senyum sumringah terukir diwajahnya, tapi itu tak bertahan lama. Kemudian dia juga mendengar suara-suara para lelembut itu mulai mengendus keberadaannya.


"Sedikit lagi, sedikit lagi sampai! A-aku bisa, aku.. Bisa!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri.


Byurr!


Maura melompat sedetik kemudian sebelum para tangan-tangan kotor menjamahnya, dia menceburkan diri kedalam sungai dan berenang menuju sebuah batu besar ditengah-tengah sungai itu.


"Hah.. Hah! Hampir saja," ujarnya.


Sementara itu para lelembut sedang menatapnya dan menunggu Maura dipinggir sungai di seberangnya tempat dia melompat tadi. Mereka tak bisa menyeberangi sungai, karena ada batasan dan hukum tak bisa mereka lawan.


"Aku yakin, Ardian dan lainnya menyadari keberadaanku sekarang. Mereka pasti akan datang, yah! Mereka akan datang.." ucap Maura lagi positif.


Dia terduduk diatas batu besar ditengah sungai itu, sambil menatap waspada didepannya. Dia belum aman betul dan tetap harus berjaga sambil menunggu bantuan datang.


Tiba-tiba ditengah hutan terdengar suara tawa melengking memekakkan telinga, para lelembut yang nampak berusaha mendekati Maura langsung terdiam dan berusaha menyingkir dari sana, memberikan celah untuk sosok yang akan datang nanti.


Maura tercengang, tenggorokannya tercekat saat melihat sosok yang ada diseberang sana. Maura melihat neneknya berubah menjadi ular setengah manusia, tubuhnya berwarna hitam keabuan sampai ke ekornya.


Sementara tubuh bagian atas masih wujud manusia tapi mengerikan, rambut nenek Dawiyah yang sudah beruban itu terlihat acak-acakan dibiarkan terurai. Matanya hitam dengan wajah pucat dan bersisik, bibirnya hitam sama dengan matanya, bergigi taring yang tajam, dia juga membawa tongkat dengan kepala tengkorak.


"Mauraaaa, cucuku! Ayo kemarilah, datang ke nenek ya, Cuuu.. Hihihi!" ujar nenek Dawiyah sambil tertawa melengking nyaring.


"Tidak, kau bukan nenekku! Dan hubungan kita sudah lama terputus!" teriak Maura marah.


"Tidak, seorang nenek tidak akan mengorbankan cucunya untuk kepentingan egonya, seorang ibu tidak akan mengajarkan hal buruk pada anaknya, tidak akan mengorbankan anak cucunya demi sebuah harta duniawi semata, dan tak ada yang abadi di dunia ini!" teriak juga Maura sambil bergetar suaranya, menahan amarah dan menahan rasa sakit juga.


"Simpan saja omonganmu itu untuk anak cucumu nanti, jika kau masih ada di dunia ini. Tapi apa kau yakin bisa kembali lagi ke dunia manusia? Apa kau yakin caramu masuk itu sudah benar? Haha.. Dasar bodoh, kau memerangi ilmu hitam tapi kau gunakan cara yang sama untuk masuk dan menyerang tempat ini! Apa kau yakin dengan semua perbuatanmu itu?! Kau adalah aib bagi keluargamu, kau durhaka pada suami, kau melakukan ritual yang salah melanggar keyakinanmu, bahkan kau membuat kerajaan yang selama ini melindungimu! Kau itu adalah aib!" teriak nenek Dawiyah berusaha meracuni pikirannya.


Maura sedikit gamang mendengar ucapannya nenek Dawiyah, dia mengakui jika dia melakukan semua kesalahan itu, dia bahkan mendatangi makhluk lain untuk meminta petunjuk, dan akhirnya dia merasakan apa yang dia perbuat.


Nenek Dawiyah memanfaatkan situasi dimana Maura tak lagi fokus, nenek Dawiyah diam-diam menyeberangi sungai dan ingin menangkapnya. Tiba-tiba Maura tersadar jika dirinya kena pengaruh sihir untuk menghipnotisnya agar tak fokus memperhatikannya.


Tapi terlambat nenek Dawiyah sudah didepan matanya, wajah tua penuh keriput dan bersisik itu tersenyum menyeringai tepat dihadapan wajahnya, yang berjarak sejengkal saja.


"Cu, mainnya sudah selesai... Ayo kita pulang, hihi!" ujar nenek Dawiyah sambil melilit tubuh Maura dengan ekor panjangnya.


Maura tersentak, dia meringis kesakitan. Tubuhnya kaku tak bisa digerakkan begitu saja, lilitan nenek Dawiyah begitu kuat. Dan ahli sihir yang sudah menjadi siluman ular itu hanya tertawa melihat reaksi Maura seperti kehilangan nafasnya secara berlahan.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya ini rahasia tapi karena kau akan mati, maka rahasiaku akan aman ditubuh yang sebentar lagi akan mati ini, hihi..


Kau tau, solusinya gampang untuk menghancurkan kerajaan sihirku, cukup kau hancurkan pohon itu maka selesailah semuanya.. Karena sumber kekuatanku ada padanya, jika pohon itu tumbang maka aku akan mati, jika aku mati maka semua manusia yang bersekutu dengan iblis melalui diriku pun akan gila dan kehilangan semuanya, dan selesai!


Tapi kau bodoh, datang menghantarkan nyawamu sendiri! Aku takkan membunuhmu segampang ini, sebelum mati kau harus menyerahkan darah perawanmu itu, sebagai sesembahan untuk pohon keramat, yaitu pohon Gaharu!


Maka kejayaan kerajaanku akan abadi sampai seratus hingga seribu tahun lagi, haha! Jika usaha para kerajaan bayangan gagal untuk menaklukkanku dan semua ini itu semua adalah salahmu, ingat! Itu semua adalah salahmu!" teriak nenek Dawiyah senang.


Maura menangis dalam diamnya, benar apa yang dikatakan oleh nenek itu. Ini semua adalah salahnya, ini semua akibat kebodohan dan kecerobohannya sendiri.


"Tapi aku tak ingin mati seperti ini, aku tak ingin menjadi korbanmu selanjutnya! Aku tak ingin kematian mama menjadi sia-sia, jika aku tak bisa menaklukkan kalian, maka aku pun takkan membiarkan kalian menyentuh tubuhku!" ujar Maura dengan geram.


Dengan sisa tenaganya yang sedikit, dia menarik tangannya yang terhimpit badan akibat lilitan ekor nenek itu. Dengan sisa keberaniannya dia mengangkat kondenya dan menancapkannya ketubuh ular sang nenek.


Crasss!


"Aaaarrrgghhh!!"


Teriak nenek Dawiyah kesakitan dengan suara mengerikan, dia kembali mengencangkan lilitan ekornya pada Maura, gadis itu mengangkat kembali kondenya dalam keadaan lemah.


"Kau takkan bisa membunuhku dengan benda kecil itu!" teriak nenek Dawiyah murka, dia ingin menghantam Maura dengan tongkatnya.


Tapi nenek itu salah perkiraan, Maura menghunuskan kondenya ke, tubuhnya sendiri. Hampir mengenai jantungnya..


"Kau takkan bisa mewujudkan impianmu itu, justru kemampuanmu akan melemah karena kondeku ini memiliki racun yang bisa melemahkan ular sepertimu ini!" ucap Maura sambil menyeringai licik.


"Uhuuukk!!" kemudian Maura muntah darah begitu banyak akibat luka dalam yang dia terima.


"Dasar kurang ajar!" teriak nenek Dawiyah.


Kemudian dia baru merasakan efek luka tusukan itu, badannya terasa panas dan kesakitan.


"Aaakkhh!!"


Nenek Dawiyah menjerit kesakitan dan tak sengaja melempar Maura.


Dan pada saat bersamaan, ada seberkas sinar kuning keputihan bersinar terang menangkap Maura menariknya keatas, seolah baru saja disedot oleh langit.


"Tiidaaaakk!" teriak nenek Dawiyah kehilangan korban berharganya.


......................


Bersambung