RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Arwah Bayi Penasaran


Malam itu hampir semua penghuni kost di rumah itu dibuat merinding oleh suara jeritan tangis anak kecil yang mengerikan, semuanya tak ada yang berani keluar dari kamar mereka.


Bahkan hanya sekedar keluar ke kamar mandi saja tak ada yang berani.


"Ini tak bisa dibiarkan! Lama-lama kepalaku pusing dibuatnya, aku aku harus tidur dan beristirahat dengan tenang malam ini, aku hari ini capek banget! Mana besok masuk pagi lagi" ucap Shelly, salah satu penghuni kost rumah itu.


Dia anaknya sangat realistis dan tak percaya dengan hal-hal mistis itu, dia yakin suara tangis itu berasal dari anak tetangga dan menangis diluar rumah itu.


"Orang tuanya gimana sih?! Masa biarin anaknya menangis begitu saja, apalagi ini tengah malam. Mengganggu orang istirahat!" gumamnya begitu gusar.


Dia nekat keluar dari kamarnya, dan masuk kedalam kamar mandi untuk buang air kecil, dia juga sesekali menyingkap gorden jendela untuk melihat kearah keluar, tapi dia tidak melihat siapapun diluar sana, hanya saja suara tangis anak itu semakin kencang.


"Ngapain, Mbak?" terdengar suara dari arah belakangnya.


Dan ternyata Siska dan beberapa anak lainnya yang ikutan keluar, mereka sepertinya sudah tak tahan oleh suara jeritan itu dan membuat telinga mereka sakit mendengarnya.


"Aku mau cek ada apa diluar, tapi tak ada apa-apa. Darimana arah suara itu?" ujar Shelly bingung.


Semua anak-anak dilantai atas itu menggeleng tidak tahu, mereka menggunakan kesempatan itu untuk buang air kecil mumpung semuanya lagi diluar dan mengambil air minum.


"Aku penasaran, ada apa diluar sana" ujar Siska pula diiringi oleh anak-anak lain.


Awalnya mereka tak melihat apapun, tapi fokus mereka sekarang ada di pohon mangga didepan rumah kost mereka itu, mereka pikir ranting pohon dan dedaunan bergoyang karena ditiup angin.


Tapi lama kelamaan mereka perhatian, ada sosok memakai gaun serba putih dengan rambut panjang terurai kusut, sedang menggendong seorang bayi sambil menimang-nimangnya.


"Apaan tuh? Masa iya ada orang diatas pohon sambil nimang bayi!" gumam Siska spontan.


Membuat semuanya penasaran dan ingin melihat kearah luar, tiba-tiba mereka semuanya dibuat kaget dan syok oleh bayi dalam gendongan ibu itu tiba-tiba saja melompat kearah mereka dan menempel ke dinding kaca jendela itu.


"Aaakhh!" teriak mereka semuanya.


Dan kompak menjauhi jendela itu, mereka ada yang berlari menuju kamarnya, dan ada juga yang masih stay di sana berjaga-jaga kalau saja tuh bayi setan masuk begitu saja kedalam kostan mereka.


"Buat apa lu bawa ember? Lu juga bawa sapu ama pengki, mau nyapu?! Itu bayi setan gak mempan dipukul beginian!" teriak Siska sama teman-temannya.


"Setidaknya kita udah usaha buat ngelindungi diri sendiri, Sis! Daripada pasrah aja di ngap ama tuh bocah demit" Sahut si Ranti, penghuni kost yang lain.


"Ini si Maura lagi ngapain di kamar?! Ngebo banget tuh bocah gak kebangun sama suara-suara berisik kayak gini!" ujar Siska heran melihat Maura masih diam saja didalam kamarnya.


"Takut kali, Sis. Saking takutnya gak berani keluar" sahut si Ranti.


"Ho'oh, palingan lagi selimutan sekarang dia" sahut yang lain.


Mereka masih fokus kearah jendela atau tangga bawah kali aja tuh setan kecil datang, sesekali juga memperhatikan arah sekelilingnya karena tiba-tiba suara anak kecil itu hilang.


"Aneh, kok tiba-tiba berhenti?!" gumam Siska.


"Mungkin udah ketemu sama emaknya kali" sahut si Shelly.


"Mungkin juga, btw... Siapa emang emaknya?" tanyanya kepo.


"Tuh si Kuntilini diatas pohon mangga!" teriak si Shelly langsung kabur masuk kamarnya.


"Sialan tuh bocah! Yuk ah, masuk! Besok pagi-pagi dah harus berangkat" ajak Siska sama yang lain.


Semuanya masuk kedalam kamar masing-masing dengan berbagai pertanyaan dikepala. Kenapa tiba-tiba kostan mereka mendadak menjadi angker? Kemana bayi setan itu, kenapa tiba-tiba menghilang?


Sedangkan didalam kamarnya, Maura sedang menunaikan ibadah sholat tahajud. Dia ingat perkataan bi Marni dahulu, jika tiba-tiba tengah malam kamu terbangun dari tidurmu oleh gangguan-gangguan jin atau sejenisnya, mintalah bantuan kepada Allah langsung.


Dan langsung mengambil air wudhu dan sholat tahajud, itu yang dilakukan oleh Maura saat ini. Tapi selain meminta pertolongan kepada Allah, kita juga harus berusaha sendiri untuk melawan rasa takut dan gangguan itu.


"Ini bayi bukan bayi jin biasa, kemungkinan dia lahir tak diinginkan dan dibuang begitu saja oleh orang tuanya. Mungkin dia dendam atau mungkin merindukan ibunya itu" gumam Maura.


"Bagaimana menurutmu, Dewi?" ujarnya berdiskusi dengan Dewi Srikandi.


"Coba kau temui bayi itu, tanyakan apa maunya? Jika dia meminta yang aneh-aneh atau memberatkanmu, tinggalkan saja dia. Jangan hiraukan, biasanya itu jin yang sengaja untuk menipu manusia" jawab Dewi Srikandi.


"Tapi bagaimana caranya, aku tak mungkin keluar begitu saja dan menemui bayi itu. Sedangkan diluar anak-anak kost pada keluar melihatnya" ujar Maura bingung.


"Tunggu sebentar lagi, kalau mereka membubarkan diri kamu segera menemui bayi itu sambil menenangkannya" sahut Dewi Srikandi.


"Gimana mau bubar, orang suara bayi itu semakin kencang. Yang ada mereka makin takut dan tak ingin sendirian didalam kamar" ucap Maura kesal.


"Tenang, kamu bersiap saja dulu. Biar aku temui bayi itu, dan mencoba menenangkannya" ujar Dewi Srikandi, dan langsung melesat keluar dari kamarnya keluar menemui arwah bayi itu.


Dewi Srikandi melihat bayi itu ingin masuk kedalam kostan itu, tapi langsung dia pagari dengan ilmunya agar dia tak bisa masuk dan mencelakai manusia yang ada didalamnya.


"Mamaaaa!" Arwah bayi itu semakin menjerit karena tak bisa masuk.


"Diamlah! Mamamu tidak ada disini!" teriak Dewi Srikandi.


Seketika arwah bayi itu terdiam dan menatap tajam kearahnya, sedangkan hantu Kuntilanak tadi hanya tertawa dan bertepuk tangan melihat bayi itu, juga langsung terdiam.


"Siapa kau?!" tanya Dewi Srikandi sambil mendekati arwah bayi itu.


"Aku lahir tanpa nama, bahkan aku tak sempat melihat wajah mama maupun papaku. Aku langsung ditanam didalam sana begitu saja ketika baru lahir" ucap arwah itu sambil menunjuk kearah bawa pohon mangga itu.


"Apakah jasadmu didalam sana?" tanya Dewi lagi.


Arwah bayi itu hanya mengangguk, dia sepertinya ingin menangis lagi tapi tertahan oleh aura Dewi Srikandi sehingga dia tak bisa mengeluarkan suara apapun.


"Dan kau, mau sampai kapan berada diatas sana?" ujar Dewi Srikandi kepada Kuntilanak yang asik duduk diatas pohon itu.


"Aku bahkan tak tahu kenapa aku berada di atas pohon ini, dan sudah berapa lamapun aku juga sudah lupa. Aku takkan pergi dari sini, ini rumahku. Lagian aku tak mengganggu siapapun disini.


Malah aku tadi mencoba menenangkan bayi itu dengan menggendongnya, dia malah menangis kencang, ck!" jawab kuntilanak itu kesal.


Dewi Srikandi tak bisa berbuat apapun kepadanya, karena si Kunti memang tidak mengganggu ataupun menampakkan dirinya kepada manusia manapun.


Setelah dikiranya sudah sepi, Maura pun menyelinap keluar dari kamarnya untuk turun kebawah, tapi sayangnya aksinya diketahui oleh Ranti yang baru keluar dari kamar mandi.


"Mau ngapain Maura? Kok celingukan kayak begitu?" gumamnya curiga sambil berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Maura sudah ada dilantai bawah dan membuka pintu rumah hati-hati dan kembali menutupnya pelan, dia melihat arwah bayi itu masih menempel dikaca jendela lantai atas.


"Turunlah, katakan apa maumu?! Jangan mengganggu para penghuni rumah ini!" kata Maura kepada arwah bayi itu menggunakan telepati.


"Aku datang tidak ingin mengganggu orang! Aku hanya ingin bertemu dengan ibuku!" ujar arwah bayi itu tidak terima diusir dari sana.


"Ibumu tidak ada disini, pergilah! Cari dia ditempat lain" sahut Maura.


"Tapi kata dia ibuku ada disini!" ujarnya sambil menunjuk si Kunti.


"Apa yang dia katakan itu benar?!" tanya Maura kepada si Kunti.


"Iya, aku melihatnya sendiri. Malam itu aku melihat ada dua orang yang menanamnya dibawah pohon ini, jangan tanya siapa mereka, karena aku tak tahuuu.." ujar si Kunti sambil berdendang dan mengeluarkan suara cekikikan khasnya.


"Tapi apa kau yakin mereka adalah orang yang ada didalam rumah ini? Dua orang katamu?!" tanya Maura bertanya lagi untuk menyakinkan nya.


"Iya, dua orang. Aku tak tahu sapa mereka, karena malam itu hujan dan terjadi tengah malam, mereka memakai jas hujan saja, dan wajah mereka tertutup dari pandanganku" sahut si Kunti lagi.


"Pastikan pernyataanmu itu benar, jika kau mencoba-coba menipuku.. Kau tahu betul akibatnya jika membohongiku" ujar Maura sambil menatap tajam kearahnya.


Kunti itu hanya mengangguk sambil terdiam tidak berani menatap Maura, apalagi di sana masih ada Dewi Srikandi.


"Malam ini kau tenanglah,, tinggallah bersamanya malam ini sampai besok aku mngantarmu pulang, dan membawa ibumu juga" ujar Maura.


Dia meminta si Kunti untuk menjaga arwah bayi penasaran itu, si Kunti malas-malasan menggendong bayi itu, kalau tidak didesak oleh Maura mungkin dia tidak akan pernah mau merawat bayi itu.


"Arwah bayi penasaran lebih berbahaya dan merepotkan melebihi arwah lainnya, kita harus mengantarkannya ke ibunya agar dia tak mendendam dan akhirnya menjadi jin pengganggu" sahut Dewi Srikandi.


"Kau benar, Dewi. Pasti malam ini dia akan merepotkan si Kunti" ujar Maura.


"Tidak juga, lihat mereka sudah seperti ibu dan anak saja.." ujar Dewi tersenyum melihat si Kunti dengan hati-hati menggendong arwah bayi itu.


"Atau sebaiknya biarkan dia yang merawat arwah bayi itu?" tanya Maura.


"Tidak, tidak boleh terjadi! Selama ini Kunti tidak menggangu, jangan sampai membuatnya cemas atau terganggu, dia akan berbahaya nantinya" ujar Dewi Srikandi juga.


"Kau benar, jika ia sudah menganggap arwah bayi itu anaknya, takutnya dia akan mengganggu manusia lain karena cemas dengan bayinya itu, takut diambil atau disiska.." gumam Maura.


Dalam hatinya berpikir, kadang manusia lebih kejam dan jahat dibandingkan oleh makhluk apapun di dunia ini, termasuk makhluk halus lainnya.


......................


Bersambung