RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Ritual Berdarah


Beberapa hari telah berlalu, kehidupan mereka normal berbeda dari hari biasanya, yang biasanya selalu sibuk mengurus kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia hitam.


Hanya saja hubungan mereka sedikit berbeda dari biasanya, bukan karena sudah menikah lalu hubungan romantis selalu bersama mereka, bukan karena itu. Melainkan sikap Maura yang berubah dengan Ardian.


Ardian menghabiskan masa cutinya berada di showroom nya, dan berusaha mencari tahu ada apa dengan Maura sebenarnya.


Sedangkan Maura sendiri malah sibuk menghabiskan waktunya untuk mencari cara agar lebih cepat menjalankan misinya, setelah itu dia ingin pergi jauh dari semuanya. Sangat menyakitkan baginya menghabiskan sisa waktu hidupnya, hanya untuk menjalankan misi yang tak ada habisnya.


"Apa kau yakin, bukankah kalian baru saja menikah? Apa setidaknya kalian beristirahat dulu setelah itu baru menjalankan misinya?" tanya pak Kyai, saat ini Maura berada di pesantren menemui pak Kyai meminta pendapatnya tentang semua idenya itu.


"Ini semua tentang hidup dan mati kita semua, Kyai... Kalau kita terlalu lama menundanya, akan begitu banyak korban berjatuhan. Jangan sampai itu terjadi dan akan menjadi penyesalan bagi kita.


Lagian ini adalah misiku, bukan misinya Ardian. Jadi tak ada hubungannya dengan dirinya, aku tak mau lagi dia terlibat dengan semua masalahku. Dan aku harap Kyai mau merahasiakan soal ini kepadanya.." jawab Maura.


"Ada apa dengan kalian, apa kalian bertengkar?" tanya lagi pak Kyai curiga, tak biasanya Maura seperti ini.


"Tidak seperti itu, Kyai... Aku hanya tak ingin menambah korban lagi, dia harus ada disini untuk menjaga yang lainnya, sementara aku pergi menjalankan misiku, lagian aku juga tak sendiri.." jawab Maura enggan sebenarnya membahas Ardian saat ini.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu.. Tapi ingat, ridho suami adalah ridho ilahi. Jika kau ingin selamat dunia dan akhirat, sebaiknya kau meminta izin kepada suamimu jika ingin menjalankan perjalanan ataupun tugas diluar rumah.


Aku tidak tahu ada masalah apa diantara kita, sebaiknya selesaikan masalah kalian dengan baik-baik, apalagi hubungan Kalian juga masih sangat baru. Jangan terhasut oleh godaan setan, Nak..


Setelah semua urusanmu selesai, kau dan Ardian temui aku. Kita akan memulai ritualnya disini, anak-anak santri akan ikut membantu membuat pertahanan disini, agar dirimu di dunia ini masih aman terlindungi.." ujar pak Kyai memberikan nasehat dan pendapatnya.


"Baik, Kyai... Terima kasih," ucap Maura setelah itu dia pamit untuk pulang.


Hampir seminggu sudah mereka menikah dan tinggal bersama, selama itu juga Mereka berpisah dan belum menjalani hubungan badan sebagaimana mestinya, alasan Maura masih menstruasi.


Setelah habis satu Minggu, malah dia menstruasi beneran. Membuat Ardian bingung dengannya, Maura terkesan menjauhinya, malah selalu menghindar jika bertemu. Meskipun mereka satu rumah, jika ada Ardian, Maura lebih suka berdiam diri didalam kamarnya, seperti malam ini.


Tok!


Tok!


Tok!


"May, bisa keluar sebentar.." pinta Ardian diluar kamarnya Maura.


"Ada apa?" tanya Maura dari dalam menyahutinya.


"Sebentar lagi mau makan malam, mau membantuku?" sahut Ardian berbasa-basi.


"Kamu tau sendiri aku tak bisa masak," ujar Maura rada malas.


"Tidak apa, siapkan saja piring diatas meja dan air minumnya.." sahut lagi Ardian.


"Kamu makan saja sendiri, aku lagi malas.." balas Maura pada akhirnya.


Ardian menghela nafasnya berat, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa bertatap muka lagi dengan Maura. Dia sempat berpikir sejenak, apa dia pernah bersikap tak mengenakan? Apa dia pernah berkata menyakiti perasaannya?


"Apa jangan-jangan karena kejadian malam itu? Tapi masa iya, dia kan tau itu demi keselamatan kita berdua, kalau tidak mungkin kami takkan bisa pulang dari sana.." gumamnya dalam hati.


Ardian jadi teringat dengan kejadian malam pengantin mereka, yang diganggu oleh pohon keramat dan memaksanya harus mencumbu Maura, sebelum itu terjadi mereka langsung dilempar pulang sama pohon keramat.


Krieet!


Maura membuka pintu dan terkejut melihat Ardian masih berdiri didepannya, dia pikir sudah tak ada suaranya lagi berarti anaknya sudah pergi, ternyata masih menunggunya di sana.


"May, aku mau ngomong sama kamu.." ujar Ardian sesaat setelah dia memegang tangannya Maura, takut anak itu pergi dan masuk kembali kedalam kamarnya.


"Mau ngomong apa?" tanya Maura dengan nada malas.


Maura menurut, mereka pergi ke meja makan dan makan malam bersama, tapi seperti biasanya Maura hanya diam saja tak menanggapi setiap perkataannya Ardian. Ardian merasa dia sedang berbicara sendiri, padahal dia berusaha membuat suasana senyaman mungkin, dan tidak mengatakan ataupun bertanya hal yang sensitif.


Setelah makan, Maura membantu Ardian membereskan meja makan mereka, dan mencuci piringnya. Ardian memperhatikan dirinya dari jauh, dia merasa Maura menjadi orang lain, entah rasanya sangat sedih sekali.


Disaat mereka disatukan dalam ikatan halal, tapi malah hubungan mereka merenggang seperti ini. Dia sudah berkeliling ketempat biasanya Maura pergi dan mencari tahu apa yang terjadi, mungkin saja ada sesuatu hal yang tak dia ketahui menimpanya, tak ada hal yang aneh dengannya itu dia ketahui dari orang-orang yang dia temui.


Sementara waktu Maura sedang menunggu misinya, dia sibuk membantu Ichan dan keluarganya agar tak diganggu lagi oleh anak buah neneknya, Ichan bersama keluarganya di usingkan untuk sementara waktu di daerah lain.


.


Sementara itu, di rumah neneknya.. Suasana gelap menyelimuti rumah itu, nenek Dawiyah sedang melakukan ritual pemanggilan iblis yang dipuja olehnya, dia benar-benar sudah muak dan murka sekali.


Cucu-cucu kesayangan ditemukan mati terkubur didalam tanah di hutan tidak terlalu jauh dari rumahnya, yang membuatnya lebih marah lagi adalah bagaimana bisa dia tak mendeteksi bahaya yang mengancam mereka.


"Aku yakin mereka mati ditangan anak itu, meskipun aku tak mencium keberadaannya tapi pikiranku mengatakannya itu semua adalah perbuatannya! Bersiaplah semua, kita akan melakukan serangan besar-besaran kali ini!


Ini menyangkut hubungan dan masa depan kita kedepannya, anak cucu keturunan kita sudah habis olehnya, semuanya pergi meninggalkan kita, bahkan ada yang mati! Kali ini aku tak ingin kalah dengannya.


Anak itu harus mati dalam keadaan mengenaskan melebihi kematian ibunya, dia harus menanggung penderitaan terlebih dahulu sebelum mati.


Untuk itu, darah perawannya harus menjadi milikku, agar aku bisa membebaskan pohon suci kita! Anak itu akan mati dengan cara menyakitkan, kapan perlu kita lakukan itu didepan keluarganya, didepan suaminya! Hahahha!" ujar nenek Dawiyah dihadapan semua anak dan para tetuanya.


Sebelum itu, mereka harus menjalankan sebuah ritual pemanggilan iblis yang mereka puja selama ini, mereka harus menambah kekuatan dan bantuan dari iblis itu untuk mengalahkan Maura dan para prajuritnya.


"Maafkan aku, Kak... Tak ada pilihan lain selain mengorbankan dirimu sebagai tumbal sebagai sesembahan dan pemanggilan sang Tuan, dan ini semua keputusan ibu dan para tetua.


Anggap saja pengorbananmu ini adalah suatu hal yang mulia yang kau lakukan, demi keberlangsungan hidup kita semua, anggap saja ini juga penghapusan dosa apa yang dilakukan oleh anak-anakmu.." ujar bu Sinta dan pak Heru.


Mereka akhirnya mengorbankan pak Herman sebagai tumbal pemanggilan iblis pujaan mereka, dan ini juga sebagai penghapus kecurigaan mereka apa yang terjadi selama ini, apalagi Nayla dan Nala sudah melakukan pemberontakan besar-besaran dengan membawa semua saudara sepupunya, termasuk yang terakhir ini, anak yang selamat dari kematian malam itu.


Pak Herman gak bisa berbuat apa-apa, dia hanya merenung dan menangis saja. Mendadak semua ingatannya tentang mendiang istrinya, anak-anaknya, dan ingatan semasa kecil mereka sebelum mengenal ilmu sihir itu.


"Sepertinya apa yang dikatakan oleh Irwan benar adanya, tak ada yang abadi di dunia ini. Buktinya, pengorbanan yang aku lakukan selama ini tidak berarti bagi mereka, aku hanya seonggok daging bagi mereka semua.." gumamnya.


Pak Irwan berada ditengah-tengah altar didalam sebuah ruangan bawah tanah didalam rumah itu, disebuah ruangan rahasia lainnya. Tubuhnya dilucuti semua tanpa sehelai benangpun, disekelilingnya ada berbagai macam jenis bunga dan dupa, lilin kecil menyala membentuk lingkaran mengelilingi altar tempat tubuh pak Herman berada.


Dia tak bisa menggerakkan badannya, bahkan untuk mengeluarkan suaranya pun dia tak mampu, dia sepertinya sedang dibius, dia hanya bisa melihat dan mendengar saja, tapi sensitifitas tubuhnya masih bekerja.


Disaat bu Sinta ingin menyalakan lilin disampingnya menggunakan lilin lainnya, cairan lilin panas itu tak sengaja jatuh ke tubuhnya. Rasanya begitu perih dan sangat sakit sekali. Tapi dia tak bisa menjerit ataupun menggerakkan tubuhnya, benar-benar bagaikan mayat hidup.


Nenek Dawiyah memulai ritualnya dengan berbagai mantra yang dia ucapkan, tubuh pak Herman mulai dikelilingi semua orang, mereka seperti menggerakkan suatu gerakan pemujaan terhadapnya.


Setelah itu, dua algojo membawa tubuh pak Herman dan diikat di batang kayu yang sangat kokoh dan kuat, tubuh pak Herman sudah seperti kambing guling yang siap dibakar.


Kemudian dua algojo itu meletakkan tubuh pak Herman ditengah-tengah kobaran api dan bersiap menebas leher pak herman.


Sring!


Bass!


Sekali tebas leher pak Herman putus seketika, darah segar mengucur deras dari lehernya yang terputus masuk kedalam kobaran api tersebut, dan kepalanya pun sudah jatuh masuk kedalam kobaran api itu.


Tak ada kesedihan, tak ada air mata dan tak ada penyesalan dimata semua orang yang berada di sana, hati dan jiwa mereka semua sudah mati sepenuhnya, dan penyesalan pak Herman pun datang terlambat.


......................


Bersambung