RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Perburuan 2


Sosok merayap itu menyelusuri pohon rindang itu,pohon yang cukup besar dan daun-daunnya begitu lebat hampir menutupi separuh pohon itu.


"Seeess.. Dia terlihat begitu lemah,tapi kenapa 'mereka' nampak takut padanya? sseesss.. Bagiku dia adalah makanan terlezat,ada energi besar didalamnya,emmm... cukup kuat untukku bertahan,seess.. jadi aku tak perlu tunduk lagi pada lelaki tua itu, seess.." Kata sosok itu sambil berdesis.


Sosok berdesis adalah seekor ular besar,bentuknya seperti ular piton. Besar dan panjang. Dia melingkari pohon itu dan bersembunyi disela-sela dedaunan rimbun itu.


Maura masih duduk bersender dibawah pohon itu,tanpa tahu ada bahaya mengancam. Sedangkan Gerald dan Camelia lagi sibuk memberi ultimatum kepada arwah-arwah gentayangan yang ada disana.


"Jangan mencoba mendekati nona Maura kalau kalian tidak ingin mati,kalian tahu kan siapa aku. Aku adalah keturunan ras terakhir pemegang batu giok delima sakti ini..! Aku bisa dengan mudah menghancurkan musuhku..!" Kata Gerald dengan keras dan penuh wibawa.


Seseorang yang sedari tadi duduk bersantai yang tidak jauh dari mereka,melihat Gerald mengeong terus sambil menatap ke arah pohon.


Dia tersenyum geli melihat tingkahnya,dia pikir Gerald sedang mengincar kucing lain diatas pohon itu.


Tapi tidak bagi para arwah itu,bagi mereka Gerald terlihat mengerikan. Wujudnya seperti Kucing besar,memiliki gigi taring besar mencuat sampai keluar,mata besar memancarkan warna biru keeemasan,membuat siapapun takut sekaligus terkesima dibuatnya.


Sementara itu,ular besar tadi sudah dekat dengan Maura. Mulutnya menganga lebar siap melahap Maura, gigi taringnya yang besar siap ditancapkan ke kepala Maura,ada sedikit racun diujung gigi itu siapapun yang terkena langsung mati lemas,meskipun sedikit tapi efeknya sangat mematikan.


Mulutnya semakin melebar mendekati Maura, dan ada sesuatu keluar dari kepala Maura,seperti ada percikan air kecil yang menyebur ke arah ular itu.


Warna air itu seperti Keemasan,sangat menyilaukan mata. Ular itu kaget dan refleks mundur menghindari Maura. Tapi tidak sampai disitu saja,keluarnya sesuatu itu menimbulkan getaran hebat disekelilingnya.


Gerald kaget,dan langsung menoleh kearah Maura,begitu kagetnya dia melihat ada ular disana.Dia langsung melesat lari kearah Maura.


Ulat itu menyadari kedatangan Gerald,dia langsung bersembunyi dibalik pepohonan itu,tapi terlambat lehernya sudah dapat serangan Gerald.


Gerald menggigit ular itu tanpa ampun, gigitan begitu kuat giginya tertancap kedalam tubuh ular itu,darahnya bermuncratan keluar.


"Aakkhh... tidak,tidak.. lepaskan,lepaskan aku..! hentikan ini kucing brengsek,kau bisa membunuhku.." Kata ular itu memberontak.


Para arwah disana melihatnya ketakutan,mereka pada lari kabur menjauhi tempat itu,mereka tidak ingin seperti ular itu. Ular itu termasuk makhluk terkuat dikawasan itu bisa dengan mudahnya Gerald menghajarnya,apalagi para arwah biasa seperti mereka. Bisa langsung hancur tercabik-cabik olehnya.


Maura tersadar dari istirahatnya,setelah mendengar suara Gerald menggeram. Betapa kagetnya dia melihat ada ular diatasnya sedang bergelut dengan Gerald.


Sontak dia lari menjauh mendekati Camelia yang sedari tadi hanya melihat saja.


"Kenapa kau diam saja, cepat bantu Gerald.. Dia bisa mati tertelan ular itu..!" Tunjuk Maura.


"Tenang saja,dia akan baik-baik saja. Apa kau tak melihat,ular itu sudah lemah tak berdaya,tubuhnya sudah tercabik-cabik oleh Gerald.." Kata Camelia terlihat santai.


Maura kira itu ular biasa mencoba mendekatinya, tiba-tiba ular itu bergerak dan kepalanya mengangkat tegak menghadap Maura.


"Maura Hartawijaya,keturunan dari darah murni Kesultanan Sriwijaya.. Kau takkan selamat,jangan berharap dapat perlindungan dari hewan kecil ini.


Dia akan mengejarmu,kemanapun kau pergi dia akan tetap menemukanmu..." Lalu Ular itu menghilang dengan tubuh yang penuh luka.


Maura kaget,dia terduduk melihat kejadian itu. Dia tidak tau harus berpikir apa,ini begitu mengejutkannya baginya. Mulai dari ular besar entah datang darimana,sudah jatuh dan terluka berat tapi masih bisa bangun,dan dia berbicara.. Ya,dia bicara..!


Oh Tuhan,apalagi ini. Cobaan ini begitu berat baginya. Tapi tunggu dulu,ular tadi bilang keturunan darah murni? Kesultanan Sriwijaya?


"Gerald,apa kau tahu sesuatu.. Apa maksud dari ular itu tadi,darah murni.. kesultanan? Apa maksudnya...?" Tanya Maura penasaran.


"Soal itu aku tidak tahu,lebih baik kau tanyakan saja ke Bik Marni. Dia yang akan menjawabnya.." Jawab Gerald dengan mulut berlumur darah ular tadi.


"Baiklah, sekarang kita pulang dulu. Bersihkan dulu dirimu ini.." Kata Maura sedikit mual mencium aroma bau busuk darah ular itu.


"Baiklah,aku juga tidak nyaman dengan ini.." Sahut Gerald,dia tidak mau bulu indahnya jadi kotor dan bau karena darah itu.


" Sebaiknya kalian bergegas,aku merasakan sesuatu disana.." Tiba-tiba Camelia menyahuti mereka sambil memandangi apartemen mereka.


Sontak Maura maupun Gerald menatap kearah yang sama,ada kabut hitam mengelilingi apartemen itu.


"Bahaya,nampaknya semua arwah itu sedang mengincar mereka.." Kata Gerald berlari kencang kearah apartemen itu.


"Apa maksudmu Gerald,mereka.. mereka siapa?" Tanya Maura sambil berlari mengejar Gerald yang sudah melesat jauh.


"Bik Marni dan para sahabatmu..." Camelia menyahutinya.


Maura kaget,ada rasa takut yang mendalam dihatinya. Dia teringat mimpinya tentang kematian Mamanya.


Kabut hitam itu mengingatkannya akan kejadian dimimpi itu,dia takut Bik Marni dan sahabat-sahabatnya mengalami kejadian mengerikan.


Entah itu firasat atau bukan,tapi dia merasa bahwa mimpi itu nyata. Sambil menangis dia mengejar Gerald masuk kedalam apartemen itu..


......................


Bersambung