
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. Siapa?" tanya Kevin.
"Ini, aku Ardian.." jawab Ardian.
Clek!
Pintu dibuka, dan Alhamdulillah itu Ardian beneran. Mereka terlihat lega sekali, membuat Ardian heran dengan sikap keduanya.
"Kalian kenapa, kayak abis lihat hantu aja?!" gurau Ardian sambil duduk di kursi makan menatap keduanya heran.
"Emang habis lihat hantu kok.." sahut Maurice.
"Hah?! Apa?!" tanya Ardian tak percaya.
"Setelah kepergianmu mengantar ibu tadi pulang, beberapa saat kemudian kami juga mendengar suara minta tolong, kami pikir orang lagi minta tolong benaran kayak ibu tadi.." jawab Kevin.
"Iya, malah kami pikir jangan-jangan ini adalah korban selanjutnya setan yang ganggu ibu tadi, malah kami juga lihat pak Adam tetangga sebelah juga keluar, tapi.." Maurice agak ragu menjelaskannya.
"Tapi apa? Jangan gantung kalau lagi cerita?" tanya Ardian penasaran.
"Itu setan beneran!" sambung Kevin.
"Kok bisa?! Bagaimana caranya, tadi pas aku cek udah gak ada di gang sebelah musholla itu!" ucap Ardian merasa aneh.
"Mungkin dia pindah kesini kali.." sahut Maurice asal.
"Hus, jangan asal bicara kamu!" timbal Kevin.
"Maaf.." ucap Maurice pelan.
Mereka sepakat untuk tidak membicarakan hal itu lagi, karena 'mereka' bisa mendengar atau merasakan jika sedang dibicarakan atau dibahas oleh makhluk lain, dengan kata lain oleh manusia.
Maka, mereka akan terpanggil untuk mendatangi orang yang membicarakannya, tidak aneh jika kita selalu merasa merinding atau merasa aneh setiap kali membicarakan hal gaib, karena bisa jadi 'mereka' ada disekitaran kita.
.
.
Sementara itu di kosannya Maura, anak-anak kost sedang berkumpul duduk diatas balkon teras lantai atas, sedang bercengkrama dan bersenda gurau seperti biasa.
"Ngobrol-ngobrol kayak gini enak kalau ditemani makanan sama minuman ini.." sahut salah satu dari mereka.
"Kopi ama gorengan, enak kali yak" ucap yang lain.
"Emm, dikamarku kopi lagi habis, snack sama roti juga udah abis, aku mau keluar, siapa yang mau nitip nih?" ucap Kalista, salah satu teman kostnya Maura.
"Aku mau nitip roti sobek sama kopi instan!" kata yang lain.
"Aku juga mau ikut, sekalian mau beli keperluanku juga, yuk berangkat!" ucap Kara, teman kamar sebelahnya Maura, pengganti Meera.
"Oke, jangan lama-lama ya gaes!" ucap yang lain.
Kalista dan Kara keluar dari rumah kostnya menuju minimarket didepan jalan besar yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah kost mereka, tapi mereka harus melewati gang sempit dan gelap untuk menuju minimarket tersebut.
"Ih, ini gelap banget. Muter aja yuk.." rengek Kara takut.
"Ih! Gini aja takut, gak terlalu gelap juga! Diujung gang kan ada lampu dijalan, kelihatan kok, lagian ini juga gak terlalu jauh.." jawab Kalista santai.
"Tapi tetap aja, Kalistaaa.. Mending kita muter aja dulu yuk, gak apa jauhan dikit yang penting aman.." ucap Kara lagi.
"Mau ikut, ayo! Kalau gak mau, ya udah! Aku sendirian aja.." ucap Kalista nekat.
Tau-tau dia udah jalan aja sendirian masuk kedalam gang gelap itu, Kara kaget dan hendak mengikutinya, tapi ada sesuatu yang membuatnya berhenti dan urung berjalan menyusul Kalista.
Sedangkan Kalista yang berjalan sendirian didalam gang itu mendengar suara kaki ikut melangkah berusaha menjejerkan langkah mereka, tersenyum sumringah.
"Tuh kan, akhirnya ikut juga! Lagian penakut banget jadi orang, gak ada apa-apanya juga disini, ayo cepetan! Biar cepat sampai dan selesai juga.." ucap Kalista sambil menggandeng tangan yang dia kira Kara itu.
"Tanganmu dingin banget, Kara! Masih takut aja kamu, haha! Lihat kita sudah sam--" mata Kalista terbelalak saat melihat sosok yang berada disampingnya itu.
Sosok wanita hamil dengan badan penuh luka menatapnya dengan seringai mengerikan, matanya melotot menatap tajam kearahnya.
"Sakit,, sakit,, tolong akuu.." ucap sosok itu sambil menyeringai didepan Kalista langsung.
Sontak gadis itu langsung pingsan didepan gang itu, para tukang ojek yang mangkal tak jauh dari sana langsung menyelamatkannya dan dibawa ke salah satu ruko yang masih buka itu.
Mereka berusaha menyadarkannya, dan menolong sebisa mungkin, mereka hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya saja.
"Kami juga bakalan dirugikan kalau begini, kalau disini sepi gara-gara takut karena teror itu, kita juga gak punya pelanggan buat beli dagangan kita, Bang!" ucap pemilik toko itu.
"Dia sudah lama menghilang, kenapa tiba-tiba dia kembali lagi? Apa masih ada dendam yang terlewatkan olehnya?" tanya salah satu tukang ojek itu.
"Emang, setan ini apa sih?" tanya pemilik toko penasaran.
"Namanya Kadarsih.. Dia gadis yang meninggalnya tak wajar, dia dituduh berselingkuh dengan kakak iparnya dan hamil anak mereka, dia mati dihajar warga karena dianggap aib bagi mereka dan juga terpengaruh oleh fitnah yang sebarkan untuk menjatuhkannya.
Padahal, itu semua belum terbukti. Tapi fakta terkuak saat dia dan anak dalam kandungan telah meninggal, kakak iparnya memang menyukainya, tapi dia tak mau karena mengingat hubungannya dengan sang kakak perempuannya.
Tapi malangnya gadis itu malah dikerjai oleh orang suruhan kakak iparnya karena cinta ditolak, dia diperkosa dan hamil, dia mengadukan hal itu kepada orangtuanya dan kakaknya, malah dia diusir dari rumah.
Diputusin pacarnya, dan malah sang pacar nikah sama temannya. Semenjak itu dia bergentayangan menuntut balas kematiannya, kakak iparnya mati kecelakaan, orang yang katanya memperkosanya hilang tanpa jejak, sedangkan kakak perempuannya menjadi gila.
Sedangkan pacarnya dan sahabatnya itu, tidak terdengar kabarnya lagi. Katanya sih, pacarnya juga terlibat soal pemerkosaan itu.." ucap bang Maman, si tukang ojek bercerita.
"Salah, yang terlibat itu sahabatnya. Memanfaatkan situasi agar bisa mendapatkan kekasih sahabatnya sendiri.." jawab seorang wanita disamping mereka.
"Oh, begitu. Baru tau saya.. Loh, dek! Udah bangun, kok kita baru ngeh sih? Mau pulang, nanti Abang anterin dah!" ucap bang Maman kepada Kalista yang sudah sadar dari pingsannya.
"Adek ini tau juga ceritanya, kok bisa?" tanya pemilik ruko juga kaget melihat Kalista yang tiba-tiba bangun dan langsung duduk itu.
"Huhuuu... Sakit,, sakit,, tolong akuuuu..." tiba-tiba gadis itu menangis tapi tak mengeluarkan air matanya.
Membuat semua orang yang ada di sana saling pandang, mereka sedikit mendekati gadis itu dan menatapnya lekat memperhatikannya.
"Apanya yang sakit, dek? Tadi pas pingsan ada yang luka karena jatuh tadi?" tanya bang Maman lagi.
"Perutku, Bang! Perutku, mereka menginjaknya dengan kuat, bayiku.. Huhuuu, bayikuuu, Huhuuuaaaa.. Hahaha.." Kalista yang sedari tadi menangis pilu langsung tertawa terbahak-bahak.
Membuat semua yang ada di sana ketakutan mundur menjauhinya, mereka sadar jika gadis itu saat ini bukan dirinya lagi, melainkan sosok lain yang menumpang ditubuhnya.
Saat Kalista tertawa cekikikan, nyaring dan mengerikan. Tukang ojek dan pemilik toko langsung lari meninggalkannya sendirian, tukang ojek langsung kabur dengan motor-motor mereka, sedangkan pemilik toko lari entah kemana, dia sudah tak peduli dengan tokonya saat ini. Yang penting menyelamatkan diri dulu dari amukan orang yang lagi kesurupan itu.
"Mereka semuanya lari meninggalkan aku sendirian, sama seperti dulu! Kali ini aku takkan diam saja, aku akan menuntut balas!" ucap Kalista yang lagi kesurupan setan Kadarsih.
.
.
.
Sementara itu, saat melihat ada sosok lain mengikuti Kalista dari belakang, Kara langsung berlari kencang menuju rumah kostnya.
"Hei, cepet banget udah pulang?! Belanjaannya mana? Kalista juga mana?" tanya teman-temannya.
Bukannya menjawab, Kara malah menangis tersedu-sedu membuat yang lain merasa heran dan penasaran, mereka langsung mendekatinya dan berusaha menenangkannya.
"Coba ceritakan pelan-pelan, apa yang terjadi? Kalista mana?" tanya temannya lagi.
"Huhuu.. Bolong, ancur, remuk.." hanya itu yang keluar dari mulut Kara, membuat mereka tambah tak mengerti.
"Udah, minum aja dulu. Tenangin diri.." tiba-tiba saja Maura keluar dari kamarnya sambil memberikan air minum ke Kara.
"Kamu ada didalam kamar? Kirain pergi, abisnya dari tadi ngerem bae didalam!" ledek temannya.
Maura tak mau menanggapi mereka, makanya dia tak suka bergaul dengan anak-anak kost, mereka hanya bisa bergosip dan membicarakan hal yang tak penting. Yang menurutnya, membuang waktu saja, maka dari itu dia kurang disukai oleh teman-teman kostanya.
Saat ini dia hanya fokus kepada Kara, dia mencoba menerawang apa yang dilihat oleh Kara dengan menatap mata gadis itu, sedangkan Kara berlahan sedikit lebih tenang saat meminum air dari Maura tadi.
"Aku melihat Kalista jalan sendiri menyusuri gang sempit dan gelap didepan minimarket itu, kalian tau kan gang yang aku maksud?! Aku tidak berani lewat sana, entah aku merasa takut dan aneh saja saat mau lewat sana.
Aku sudah berusaha membujuknya untuk lewat tempat lain, tapi dia ngotot mau tetap lewat sana. Saat aku menjelaskan untuk mencari jalan lainnya, tiba-tiba saja dia sudah meninggalkan aku sendirian dan berjalan di gang itu.
Tapi yang membuatku takut adalah,, emm.. Ada sosok lain yang mengikutinya, samar-samar aku melihat sosok itu karena gelap didalam sana, jadi tidak terlalu yakin apa yang aku lihat.
Saat aku perhatikan lagi, ternyata belakangnya bolong, ada daging ancur dan remuk didalamnya! Ada cairan pekat dan baunya sampai tercium olehku padahal jarak kami lumayan jauh!
Ugh! Pokoknya mengerikan sekali, aku tak sanggup harus membayangkannya lagi, huhu.. Kalista, maafin aku pulang duluan! Hiks!" ucap Kara menjelaskan semua yang dia lihat, sambil menangis menyesal mengkhawatirkan kondisi temannya itu.
Dia berusaha ditenangkan oleh teman-temannya lagi, mereka semuanya juga takut, gak tau harus bagaimana, sedangkan mereka sendiri bingung mau apa lagi.
Tapi dibalik kebingungan dan kekhawatiran mereka, mereka sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi Maura sudah menghilang pergi meninggalkan mereka, karena gadis itu sudah melihat semuanya apa yang dia lihat dari mata Kara tadi.
Maura sudah didepan gang yang dimaksud oleh Kara tadi, dia merasakan aura gelap dari dalam gang itu, bukan karena gelap gulita tidak ada pencahayaan dari sana, tapi memang ada sesuatu yang berbahaya didalam gang itu.
Pelan-pelan Maura masuk kedalam gang, samar-samar dia mendengar suara tangisan bercampur tawa serak beriringan, terdengar sangat pilu dan mengerikan.
Dia melihat sosok gadis duduk ditengah gang itu menutupi jalan, lebih tepatnya jongkok sambil menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya kearah Maura, dan berlahan mendongakkan wajahnya dan menyeringai menatap Maura.
......................
Bersambung