RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Rosario Dalam Dilema


Maura kaget, tidak disangka tinjunya kuat juga. Dia teringat waktu pertama kali menggunakan tinjunya ke makhluk tak kasat mata, semuanya sia-sia seolah dia meninju angin.


Tapi hari ini, dia benar-benar bisa merasakan tinjunya, dia meninju makhluk itu seperti meninju benda padat biasanya.


"Nona, apa yang kau lakukan? Jangan halangi aku." Ujar Rosario meringis menahan sakit di dadanya.


"Aku akan menghentikanmu sebelum kamu mencelakainya" jawab Maura.


Sebelum Rosario menjelaskannya, Maura sudah melayangkan tendangannya tepat diperutnya.


Rosario menahan rasa sakit itu, dia bingung harus melawan Maura atau tidak. Sedangkan dia juga harus menghentikan wanita yang hendak terjun itu.


"Nona, saya rasa ini ada kesalahpahaman. Tolong dengarkan saya dulu" ujar Rosario.


"Tak ada kesalahpahaman sama sekali diantara kita, aku tahu betul makhluk sepertimu itu pandai menjebak manusia." Ucap Maura.


Kali ini Rosario tak ingin bernegosiasi lagi dengan Maura, dia melihat wanita asing itu sudah mulai memanjat pagar pembatas itu.


"Hei, mau kemana kau jin laknat?! Kemarin kau, lawan aku!" teriak Maura.


Rosario tak menanggapinya, dia berusaha menggapai wanita itu tetapi tangannya ditepis oleh Maura.


Maura masih salah faham dengannya, dia masih mengira Rosario akan mencelakai wanita tersebut.


"Maura, sebaiknya kau tolong dulu wanita itu. Dia masih dalam pengaruh hipnotis jin itu.


Bantu dia dulu, setelah itu kita beri pelajaran lagi jin jahat ini agar dia tak mengulangi kejahatan ini lagi" sara dari Dewi Srikandi.


"Baik Dewi, tapi sebelum itu kita ikat dulu makhluk ini sebelum dia lepas dan melarikan diri" jawab Maura.


Saat itu Maura menggunakan selendang merahnya Dewi Srikandi, dengan kekuatan gaibnya dia berhasil mengikat Rosario.


Maura bergegas menolong wanita asing itu, saat Maura melihat wanita itu dia nampak terkejut sekali.


Ternyata dia wanita yang dia temui waktu di lift bersama Ardian tadi. Dia buru-buru menangkap wanita itu.


Tubuh wanita asing itu cukup besar bagi maura, tubuhnya tinggi dan cukup berisi sedangkan Maura memiliki tubuh cukup kecil sebagai wanita Asia lainnya.


Dengan entengnya dia mengangkat wanita itu seperti menggendong bayi.


Wanita itu masih terpaku diam menatap lurus, wajahnya pucat seluruh tubuhnya kaku. Seperti robot siap menerima perintah apapun dari penciptanya.


Berulang kali Maura yang dibantu Dewi Srikandi menghapus hipnotis itu, tapi tak berhasil.


Berbagai cara dia lakukan, tapi tetap saja nihil. Maura dan Dewi Srikandi menatap Rosario tajam.


"Lepaskan wanita ini, apa maumu? Tak ada gunanya bagimu dengan melakukan semua ini." Ujar Maura menatapnya tajam.


"Nona, seperti kubilang tadi bahwa ini hanya kesalahpahaman saja. Aku tak melakukan apapun kepadanya.


Aku hanya ingin menolongnya" jawab Rosario sembari berusaha melepaskan diri dari lilitan selendang merah Dewi Srikandi.


"Dengar, aku takkan melepaskanmu jika kau tak jujur. Selendang itu akan terus mengikatmu sampai kau berterus-terang denganku" kata Maura.


"Nona, ilmumu lebih tinggi daripada diriku, seharusnya kamu bisa menyelamatkannya. Bagaimana makhluk lemah seperti saya bisa memberikan hipnotis besar seperti itu?!" Ujar Risario putus asa.


Rosario seketika teringat dengan perkataan Julian, bahwa wanita selalu ingin menang sendiri dan tak pernah mengaku salah dan tak pernah salah itu.


Melihat Maura, dia mengamini ucapan Julian, padahal Julian hanya asal bicara saja saat bercanda dengan Joanna.


Rosario jin lugu dan polos ini tak tahu dengan ungkapan bahasa manusia, tetapi dia sangat kuat.


Meskipun begitu dia bukan tandingan Ardian sang titisan Panglima Adipati Arialoka dan Maura sang titisan Dewi Srikandi.


Saat itu Maura masih berusaha menghilangkan hipnotis dari wanita asing itu seraya menahan wanita itu agar tak bisa mendekati pagar pembatas tersebut.


Sedangkan Rosario masih sibuk berusaha melepaskan selendang itu yang mengikat tubuhnya kuat.


Tiba-tiba Melanie datang menghampirinya, Rosario kaget melihatnya. Saat itu dia terlalu fokus dengan ikatan ditubuhnya, sampai tak bisa mendeteksi kehadiran Melanie.


"Apa yang kau lakukan disini, terikat tak berdaya seperti orang bodoh?!" ujar Melanie menatapnya sinis.


"Ma-maafkan saya Nona" jawab Rosario gemetaran didepan Melanie.


"Maaf buat apa, hah?! Kau sudah mengacaukan rencanaku, padahal aku sudah membayar banyak pada majikanmu itu" ujar Melanie dengan geram.


Saat itu dia tak melihat atau memperhatikan Maura yang masih sibuk dengan wanita asing itu.


Jarak diantara mereka cukup jauh, jadi wajar saja jika tak saling memperhatikan.


"Nona, aku tak bisa melakukan tugas itu lagi. Karena aku bukan pesuruh dukun jahanam itu.


Aku sudah memutuskan ikatan dengannya, jadi jika anda merasa keberatan silakan hubungi lagi dukun itu" ucapnya.


Dia sudah belajar banyak dengan Julian, termasuk menolak dengan sopan jika ada yang memaksanya melakukan sesuatu.


Seperti hal sekarang ini, meskipun beda konteks nya. Dia mencoba sopan didepan Melanie.


"Eh, kau pikir ke sana gak pakai duit hah?! Aku sudah berkorban banyak, belajar ilmu hitam sampai harus kerja sama dengan dukun itu" jawab Melanie.


"Aku tak mau tahu, kau harus menuntaskan tugas terakhir itu. Jika tidak aku akan menghukum mu!" teriak Melanie.


Rosario pusing, hari ini dia berhadapan dengan tiga wanita sekaligus. Yang satu masih terhipnotis susah disadarkan.


Yang kedua memiliki kekuatan luar biasa, tidak hanya kekuatan fisiknya saja bahkan kekuatan mulutnya pun luar biasa.


Luar biasa pintar ngomongnya sampai dia pun tak bisa membalas perkataannya.


Yang ketiga apalagi, lebih cerewet, berbahaya dan menantang. Apakah semua makhluk wanita seperti ini? pikirnya.


Sementara itu, Ardian hanya mengamati mereka dari jauh. Dia mengintip mereka dari celah pintu tangga darurat itu.


Dia hanya berharap semoga Melanie dan Maura tidak bertengkar lagi, dan Rosario bisa menjaga amanahnya untuk tidak membocorkan rahasianya.


Sedangkan Julian dan Joanna lebih memilih menunggu mereka dari bawah, mereka juga harap-harap cemas semoga tidak ada pertarungan besar diatas.


......................


Bersambung