
Setelah makan malam, Maura diminta untuk menemui neneknya. Sedangkan yang lain sedang berkumpul di ruang keluarga, teman-temannya ikut makan malam bersama dengan yang lain, setelah para tetua selesai baru mereka bisa menikmati makan malam juga.
"Ada apa nenek memintaku menemuinya? Jangan-jangan dia memintaku untuk menggantikannya saat ini" gumam Maura dalam hatinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Dia mengetuk pintu itu hati-hati, lalu pintu itu terbuka ada seorang lelaki paruh baya yang membukakannya pintu itu, wajah datarnya menyambut kehadiran dirinya.
"Nek..." sapanya pelan.
"Masuk!" ucap neneknya datar.
Dia melihat isi kamar neneknya itu penuh dengan barang-barang antik, dia juga merasakan aura gelap, hitam dan sangat pekat mengelilingi kamar neneknya itu.
Nenek itu melihat kearah lelaki tua itu tadi dengan pandangan penuh arti, seolah-olah mengatakan ini adalah cucunya.
"Kemarilah, nenek ingin bicara kepadamu" ucap sang nenek.
Dia duduk di samping kasurnya dan menepuk bahu kasur sampingnya, meminta Maura duduk disampingnya.
Maura pun mengikuti arahannya, dia bisa melihat warna merah disudut bibirnya itu. Neneknya tengah mengunyah sirih dimulutnya.
"Apakah ada gangguan setelah kau datang kemari?" tiba-tiba saja neneknya bertanya seperti itu.
"Maksud Nenek?!" tanya Maura tak mengerti, dia takut mensalahartikan pertanyaan itu.
"Maksudku, apakah kau mendapat gangguan dari para sepupumu atau tidak. Mengingat mereka itu sangat nakal-nakal sekali" jawab neneknya itu.
"Oh, itu. Tidak, Nek... Mereka menyambutku dengan baik" jawab Maura ramah.
Meskipun dia tahu berulang kali dia dan teman-temannya mendapat banyak penolakan dari para sepupunya itu.
"Untung saja aku tak menjawab apapun, jika tidak nenek bisa salah faham denganku" gumam Maura dalam hati.
"Bagaimana dengan teman-temanmu itu? apakah kalian memerlukan sesuatu? Jika butuh sesuatu katakan saja" ucap neneknya lagi.
"Mereka besok pagi katanya akan langsung pergi ke kampus, Nek. Untuk mengurus kamar asrama mereka" jawab Maura hati-hati.
"Dan kau sendiri, apakah akan pergi ke asrama juga?" tanya neneknya dengan sorotan tajam.
"Ti-tidak, Nek. Kata ayah aku harus tinggal bersama keluarga disini saja" jawab Maura, sedikit merasa terintimidasi oleh tatapan neneknya itu.
"Bagus kalau begitu, dan memang seharusnya. Jika kau dan teman-temanmu membutuhkan sesuatu, katakan saja!" ucap nenek itu.
"Iya, Nek. Terimakasih" jawab Maura dengan anggukan.
Setelah itu dia keluar dari kamar itu, saat dia hendak keluar kamar dia melihat sorotan mata tajam lelaki tua itu.
"Siapa lelaki tua itu? Dia nampak tak asing bagiku" gumamnya agak heran.
Sementara itu, dikamar neneknya tadi. Nampak sang nenek sedang menghadap kemeja riasnya berukiran ornamen-ornamen kuno.
Rambut panjangnya yang mulai memutih itu dia gerai jatuh sampai ke pinggangnya. Lelaki tua tadi nampak telaten menyisiri rambutnya pelan-pelan nampak kehati-hatian.
"Kau lihat tadi, dia memiliki aura besar dan kuat. Sangat besar melebihi milik anak-anakmu itu, bahkan Irwan sendiri, ayahnya tak memiliki aura sebesar itu.
Aku jadi yakin tentangnya soal semua ini, jangan khawatir setelah dia mengikuti semua arahan dan perintahku, Nining buyutmu akan melepaskanmu, hingga jiwamu bisa bebas menuju Nirwana" ucap sang nenek kepada lelaki tua itu.
Lelaki itu masih diam sambil menyisiri rambutnya dengan tatapan kosong menghadap kaca cermin dihadapannya, wajah datarnya begitu dingin.
"Abang, yang sabar yah. Cucumu itu akan membantu kita nanti" ucap nenek lagi, sambil meraih tangan itu.
Tangan dingin pucat dan kaku, dia memeluk pinggang tubuh kaku itu. Ia adalah mayat suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, yang jiwanya dia biarkan iblis merasukinya, seolah dia masih hidup.
Sementara itu, malam semakin larut. Semua orang sudah masuk kedalam kamarnya, ada peraturan di rumah itu, jika sudah memasuki pukul 22.00 semua orang diwajibkan telah didalam kamarnya masing-masing.
Tidak ada yang boleh melanggar peraturan itu, jika ada yang melanggarnya maka mereka akan bersiap-siap dengan hukuman yang ada.
Malam itu tiga sekawan tak bisa tidur, maklum perbedaan waktu di negaranya membuat mereka kesulitan beradaptasi, meskipun sudah beberapa hari mereka tinggal di sana, tetap saja mereka kesulitan menentukan jam tidurnya.
Di kamarnya Nala, Kevin masih asik bermain dengan gadgetnya sedangkan Nala sudah tertidur pulas. Setelah waktu berlalu, dia mulai bosan dengan permainan di Hpnya.
Dia iseng berjalan menuju jendela kaca kamar itu, dia sedikit menyingkapkan tirai jendela itu. Dia melihat hamparan kebun bunga sangat luas, dia takjub melihatnya. Kebun itu berada tepat dibelakang rumah itu, meskipun minim cahaya, Kevin masih bisa lihat warna-warni bunga-bunga itu.
"Rajin sekali mereka ini, sampai segitunya merawat bunga-bunga cantik itu" gumamnya.
"Keviiiinn..." sayup-sayup dia seperti mendengar ada yang memanggilnya dari luar rumah itu.
Dia tidak menanggapinya, mengira itu suara angin saja. Tapi terdengar kembali suara orang memanggil namanya, ketika dia mencoba menajamkan telinganya, tak terdengar sama sekali.
Tuk!
"Keviiin..."
Kali ini ada sesuatu yang melempari jendela kaca itu diiringi suara panggilan itu, mendengar itu Kevin memberanikan diri membuka jendela kaca itu. Dia terkejut melihat Maura dan Maurice ada dibawah memandanginya dari bawah.
"Hei, apa yang kalian lakukan dibawah? Kalau ketahuan bisa berbahaya!" teriak Kevin setengah berbisik.
"Kami bosan! Kemarilah, bergabung dengan kami" ujar Maura dan Maurice.
"Bukankah kita dilarang untuk keluar kamar? Apalagi sekarang kalian berada diluar rumah, bahaya! Cepat kembalilah sebelum ketahuan" ujar Kevin lagi, khawatir dengan tingkah para sahabatnya itu.
"Sudah tak apa, orang-orang di rumah ini kolot semuanya! Mereka tak mengerti arti bersenang-senang dimalam hari, ayo ikut kami kesini" ucap Maurice menyakinkan Kevin.
Entah karena mengkhawatirkan mereka atau dia ingin bermain juga, akhirnya Kevin menurut juga. Dengan hati-hati Kevin membuka pintu kamar itu, memastikan Nala tak terbangun.
Pelan-pelan dia berjalan menuju tangga lantai bawah untuk keluar rumah itu, saat dia masih diatas menyusuri koridor lantai rumah itu, samar-samar dia mendengar suara orang seperti berbisik dari arah dinding setiap kamar dilantai itu.
"Rumah ini aneh, sungguh tak nyaman tinggal disini. Setiap dinding rumah ini seperti memiliki mata mengawasi setiap gerak gerikku, dinding-dinding ini seolah dapat berbicara" gumamnya dalam hati.
Saat diluar, dia melihat Maura dan Maurice nampak bersenang-senang bermain di tengah kebun bunga itu. Melihat itu Kevin pun ingin bergabung dengan mereka.
Baru saja dia ingin berteriak memanggil nama mereka, tiba-tiba ada tangan yang menarik dirinya hingga jatuh terduduk ketanah.
"Auhh, sakit!" teriaknya refleks kesakitan.
"Syut, diam! Nanti mereka bisa mendengar" terdengar suara orang berbisik dibalik rerimbunan bunga-bunga liar.
Kevin memperhatikan baik-baik siapa orang yang menarik tangannya itu, betapa terkejutnya dia melihat Nala ada di sana.
"Bagaimana bisa kau ada disini?!" ujar Kevin penasaran.
Yang dilakukan oleh Nala malah membekap mulut Kevin, dan menarik tubuhnya bersembunyi dari balik rerimbunan bunga-bunga itu.
Dan benar saja, ada sekitar dua atau tiga makhluk lewat melintasi mereka. Mereka berlalu begitu saja tanpa menyadari kehadiran mereka berdua dibalik rerimbunan itu.
Wujud sosok makhluk-makhluk itu seperti mayat hidup, mereka berjalan kaku dengan tubuh tersayat-sayat penuh luka. Keadaan mereka sungguh mengerikan.
"Apa itu tadi? Kenapa bisa terjadi disini??" bisik Kevin.
"Seharusnya kau mengikuti peraturan rumah ini, jika kau patuh maka kita tidak akan berada disini" ucap Nala ketus.
"Aku kesini untuk mengajak mereka kembali, sebelum ketahuan oleh orang-orang rumah ini. Tapi yang terjadi malah begini, o iya! Maura, Maurice! Mereka masih di sana.
Ayo kita ke sana sebelum mereka bertemu dengan para zombie itu" bisik Kevin penuh khawatir.
"Zombie?!" kening Nala mengkerut aneh mendengar nama itu.
"Ah, itu sebutan bagi kami buat makhluk seperti tadi" ujar Kevin menjelaskan.
"Heh, nama yang aneh dan kesan dibuat-buat! Kami menyebutnya Mayit idup, sesuai dengan sosoknya. Sudahlah, ikuti aku dari belakang dan jangan berisik. Kita akan kembali sebelum para makhluk itu menemukan kita" ucap Nala pelan.
"Tapi Maurice, Maura..." Kevin ragu karena teman-temannya masih ada di sana.
"Matamu sudah tertipu oleh mereka, yang kau lihat itu bukan teman-temanmu tapi mereka! Mereka menghipnotismu tanpa sadar kau ketahui sedikit pun" ucap Nala lagi.
Dia berjalan membungkuk sambil mengendap-endap dibalik rerimbunan tanaman bunga itu diikuti oleh Kevin, hatinya masih ragu apakah yang diucapkan oleh Nala itu benar atau malah Nala itu sendiri Mayit Idup?!
Sementara itu, Maurice nampak gelisah sekali sehingga dia bangun dari tidurnya. Dia melihat Maura duduk bengong dipinggir kasur.
"May, kamu kenapa?" tanyanya heran.
Tapi Maura hanya duduk diam terpaku sambil menatap kosong kedepan. Maurice mencoba menyadarkannya, tiba-tiba tangannya dicengkeram keras oleh Maura.
"Auh, May! Sakit tau" teriaknya meringis.
"Mereka sudah datang... Mereka sudah datang... Mereka sudah datang..." bisik Maura berulang kali.
Maurice bingung harus berbuat apa, dia ingin membantu Maura tapi tak tahu caranya. Sedangkan diluar rumah itu, Nala maupun Kevin tak menyadari ada sosok Mayit Idup yang mengikuti mereka dari belakang.
......................
Bersambung