
Waktu begitu cepat berlalu, tiba-tiba sudah menjelang sore hari saja. Maura bangun dari tidurnya dengan perasaan nyaman dan lega, perutnya yang terasa nyeri berlahan menghilang karena racikan jamu bu kost, dan tidur siangnya menjadi lebih nyenyak, tanpa gangguan juga.
"Sore, Non!" sapa mang Supri ramah, menyapa Maura yang baru keluar dari kamarnya.
"Sore, Mang!" sahut Maura riang, dia melihat mang Supri nampak sibuk menyapu daun-daun pohon rambutan yang terus berguguran.
Ternyata itu ulah jahilnya si Kunti, dia senang melihat mang Supri begitu sibuk menyapu daun-daun yang pada rontok, Maura menatap tajam kepada si Kunti, tapi makhluk itu hanya cekikikan lalu menghilang begitu saja, dan daun-daunan itupun berhenti berguguran.
"Aneh, perasaan sudah disapu terus tapi kok gak beres-beres yak?" ujar mang Supri merasa keheranan.
"Angin kali, Mang! Dah, noh daun-daunnya gak rontok lagi tuh.." sahut Maura lagi.
"Iya yak, haduh gini nih kalau sudah tua! Baru kerja dikit udah kerasa banget capeknya, haha!" gurau mang Supri.
Maura hanya tersenyum saja mendengar celotehannya, dia jadi kasihan dengannya seringkali menjadi korban kejahilan si Kunti, meskipun makhluk itu tak pernah menampakkan diri didepan semua orang, tapi dia benar-benar jahil sekali.
"Maura!" seseorang memanggil namanya dari kamar kost kosong disampingnya.
Maura celingukan mencari orang yang memanggilnya, dan setahu Maura kamar bekasnya Meera kembali kosong semenjak penghuni barunya kembali pindah, entah sejak kapan kamar itu berubah menjadi kamar angker, setiap orang yang ingin mengisinya pasti tidak ada yang betah.
"Huufh, mulai deh isengnya.. Yang jelas ini bukan si Kunti, tapi makhluk lainnya. Sepertinya si Kunti gak tau kalau areanya kembali disusupi sama makhluk baru lainnya.." gumam Maura.
Dia masuk kedalam kamarnya lagi, karena sudah sore dia mulai dengan kesibukannya yang lainnya, seperti beberes kamar, mandi dan pas waktunya magrib dia ingin sholat tapi jadi urung karena baru sadar dirinya lagi datang bulan.
"Huft, lapar! Keluar ah, nyari makanan.." gumamnya sendiri.
Maura turun dari lantai dua, dibawah dia melihat mang Supri sedang mengobrol dengan seseorang, lelaki yang usianya hampir sebaya dengannya. Lelaki itu nampak memperhatikan Maura dengan lekat, Maura sedikit cepat berjalan karena risih diperhatikan seperti itu.
"Itu non Maura, salah satu penghuni rumah kost ini.." terdengar mang Supri memperkenalkan dirinya, Maura terus berlalu tanpa menghiraukannya.
"Maura!" sesaat dirinya ingin membuka pintu gerbang kost, dia dipanggil sama yang punya kost.
"Ya bu?" sahut Maura sambil menoleh kebelakang.
Dia terkejut saat melihat kebelakang ada ibu kost sama seorang nenek-nenek yang menatapnya tajam, ibu kost melambaikan tangannya untuk meminta Maura mendekat kearahnya, sedikit berat hati dia menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan kamu? Udah enakkan?" tanya bu kost.
"Sudah, bu! Obat ibu manjur juga ternyata, makasih ya bu, hehe.." jawab Maura sambil berusaha ramah kepada mereka.
"Wah, baguslah kalau begitu! Eh, kenalkan ini mbahku namanya Mbah Sutinah, beberapa hari ini dia akan nginep disini bersama kami karena mau menghadiri acara nikahan keponakanku, karena rumah saudaraku udah rame jadi aku minta Mbah tinggal disini sampai acara nikahannya selesai.." ujar bu kost memperkenalkan siapa nenek tua itu.
"Ah, iya! Salam kenal nek, nama saya Maura!" ucap Maura sopan dan ingin menjabat tangan nenek-nenek itu.
Plak!
"Gak sopan!" ucap mbah Sutinah sambil menepis tangan Maura.
Seketika Maura dan bu kost bengong, lalu Maura sejenak berpikir apa kesalahannya dan baru ingat cara dia mengenalkan diri rasanya kurang tepat kepada orang tua seperti mbah Sutinah.
"Ah, maaf Mbah! Ini nak Maura baru beberapa bulan tinggal disini, belum terbiasa dengan adat dan budaya kita, nanti kita pelan-pelan mengajarkan dirinya tentang adat dan tata cara orang-orang sini.." ucap bu kost menjelaskan semua tentang Maura yang dia tau.
"Ma-maaf, Mbah.." ucap Maura takut-takut.
"Hem.." sahut si mbah Sutinah lalu masuk kedalam rumah bu kost yang berada di lantai bawah kostan itu.
"Maafin si mbah ya Maura, maklum dia masih kolot orangnya, hehe.. Biasa orang tua," ucap bu kost merasa tak enak.
"Iya, bu! Gak apa kok, Maura bisa mengerti.." ucap Maura sambil pamit mau keluar.
Setelah beberapa saat Maura kembali lagi dengan menenteng kantong plastik berisi nasi bungkus kesukaannya dan beberapa makanan lainnya, dia hendak menaiki anak tangga tiba-tiba saja sekujur tubuhnya merasa merinding.
Maura sengaja menunggu dibawah membiarkan orang itu turun lebih dulu, saat tiba dibawah lelaki itu melirik Maura dengan tatapan aneh. Setelah itu dia berjalan lurus masuk kedalam rumah bu kost, sejenak Maura terdiam sambil memperhatikan lelaki aneh itu, dan..
Bugh!
"Auh, sakit!" dia berteriak karena ada yang memukul punggungnya cukup keras.
"Mm-mbah?!" ucap Maura lagi, terkejut saat mengetahui siapa yang memukulnya barusan.
"Dasar, bocah! Kebiasaan melamun, nanti kesambet setan baru tau rasa!" ucap si mbah sambil melotot kearah Maura.
"I-iya, maaf.." jawab Maura pelan sedikit takut dengan pandangan orang tua itu.
Dia sedikit membungkuk saat ingin melewati si Mbah karena dia ingin naik ke lantai atas, tangganya tepat dibelakang mbah, mau gak mau Maura harus memutar lagi jika ingin naik, saat dia ingin menginjakkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mbah membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Hati-hati, mereka menyukaimu! Bau tubuhmu mengundang semua makhluk disekitar wilayah sini, apalagi dirimu sedang mengeluarkan banyak darah, maka energimu semakin banyak keluar memikat mereka untuk mendekatimu," ucap si mbah sambil berlalu pergi.
"Emm, maksudnya apa mbah?" tanya Maura kembali berbalik lagi.
Tapi si Mbah sudah berjalan jauh darinya, padahal tubuhnya sudah sangat renta dengan berjalan dibantu oleh tongkat kayunya, tapi saat berjalan dia terlihat begitu cepat dan lincah.
"Soal itu aku tau mbah, tapi.. Bagaimana mbah tau tentang saya, sejauh mana mbah tau siapa saya sebenarnya?" gumam Maura sendirian.
Setelah itu dia kembali naik ke lantai atas dengan berbagai pertanyaan, dan dia merasakan sesuatu yang aneh lagi. Malam ini dia tak mendengar senandung rindu dari si Kunti lagi, Maura memperhatikan pohon rambutan disamping balkon, tak ada tanda-tanda si Kunti berada di sana.
"Kemana dia? Apa lagi nyari hiburan diluar buat njahilin orang lagi?! Ck, dasar hantu gak tau diri!" ujarnya kesal.
Malam itu sangat berbeda dari biasanya, entah mengapa Maura merasa ada yang aneh dengan rumah kostnya saat ini berbeda dari biasanya. Jika dia merasa ada gangguan dari alam lain, maka dengan cepat dia bisa mendeteksinya. Tapi kali ini hawanya berbeda, seperti ada sesuatu yang ditutupi.
.
.
Keesokan harinya, Maura merasa tubuhnya sudah benar-benar merasa lebih baik, dia memutuskan untuk pergi kuliah pagi itu. Dia berangkat dengan semangatnya menyambut pagi itu, saat keluar sekilas dia seperti melihat bayangan Ardian, ternyata benar ada Ardian sedang menunggunya keluar dengan motor sportnya.
"Eh, kok malah pergi?! Lah, beneran ditinggal aku!" ujar Maura kesal saat melihat Ardian malah pergi meninggalkannya.
Gadis itu menggerutu kesal, dia sudah berniat untuk mendiami lelaki itu jika sudah sampai di kampus nanti. Saat dia hendak menunggu angkot menuju kampusnya, dia malah melihat Ardian lewat sambil membonceng seorang wanita dibelakangnya.
"A-apa?!" dia benar-benar terkejut sekali.
Dia yakin sekali jika itu benar-benar Ardian, dari motor, helm full face nya, hingga jaketnya pun sama persis. Dan dia yakin jika wanita yang dibonceng Ardian itu bukan Maurice, dada Maura semakin berdebar tak karuan, dia benar-benar merasa kecewa dan sakit hati, apalagi posisi wanita itu sedang memeluk mesra Ardian.
Tiiinn..
"Angkot, Non?" tidak lama kemudian ada angkot berhenti didepannya.
Maura langsung naik kedalam angkot tanpa berbicara sedikitpun, wajah cantik itu ditekuk hingga siapapun yang didalam angkot jadi merasa tak enak melihatnya. Padahal jika dia bisa bersabar sedikit saja, tepat dibelakang angkot itu ada mobil Kevin bersama Maurice berjalan menuju kearahnya.
"Yah, keduluan angkot.. Jadi gak bisa bareng," ucap Maurice sedikit kecewa saat melihat Maura naik kedalam angkot.
"Nanti juga ketemu di kampus kok.." sahut Kevin yang berada didepan bersama seseorang.
"Iya," sahut Maurice sambil menyenderkan tubuhnya dibelakang jok mobilnya.
Saat ini mereka tidak berdua berangkatnya, melainkan bertiga bersama Ardian. Ardian? Lalu siapa yang dilihat Maura tadi?
......................
Bersambung