
Jam pelajaran telah selesai, Maura bergegas menuju pintu keluar kelasnya itu tapi langkahnya kalah cepat dibandingkan langkahnya Arga alias Garaga. Manusia jadi-jadian itu menahan tangan Maura sambil tersenyum sinis, Maura langsung menepis tangannya.
"Lepaskan! Jangan berbuat yang aneh-aneh disini, mungkin semua orang disini bisa kau kelabui tapi ada juga beberapa orang yang tak bisa kau kendalikan!" ucap Maura sambil memandangnya sinis.
"O ya, siapa? Kau dan lelaki aneh yang selalu menempel padamu itu? Ah, benar dugaanku! Dia juga ada disini," ejek Arga sambil melihat kearah pintu keluar.
"Maura!" dan benar saja tidak lama kemudian Ardian datang menghampiri mereka dengan ekspresi tak suka.
"Jauhi dia," ucap Maura kepada Arga dengan pandangan tajam.
"Kenapa, bukannya menarik punya saingan seperti dia?" ujar Arga sambil memainkan kedua alisnya.
"Maura, ayo kita ke kantin.. Katanya hari ini ada menu baru yang enak," ucap Ardian setelah sampai mendekati mereka.
"O ya, menu apa? Aku baru tau.." tanya Maura sedikit bingung.
"Sate ular.." ucap Ardian sambil melirik Arga tajam.
Maura langsung tersentak saat mendengar ucapan Ardian itu, dia langsung melirik Arga dan sosok menyamar jadi manusia itu nampak geram sambil menatap tajam balik kearah Ardian.
"Hah-hahaha.. Bisa aja kamu, mana ada menu seperti itu," ucap Maura sambil tertawa canggung, dia takut akan ada perkelahian diantara mereka.
"Kata siapa, apa kau tak tau.. Di daerah sebelah selatan kota ini ada beberapa kedai sate ular yang dijual sepanjang jalanan itu," sahut Ardian lagi, pura-pura tak melihat kearah Arga.
"Ya sudah-sudah! Ayo kita pergi," sahut Maura kesal dengan tingkah Ardian yang menurutnya kekanak-kanakan itu.
Maura menyeret Ardian keluar dari kelasnya menjauhi Arga, dia tak ingin ada perkelahian di sana. Sebelum semuanya terjadi, sebaiknya dia harus membawa salah satunya dari mereka untuk menjauh.
Arga menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan tajam, sedangkan Phoem yang sedari tadi memperhatikannya hanya menghela nafas berat, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Arga selanjutnya.
Sementara itu di kantin.
Ardian sedari tadi hanya diam saja, berbanding terbalik dengan sikapnya tadi saat berada di kelasnya Maura. Dia terlihat begitu dingin dan cuek kepadanya, membuat Maura bingung dan tak mengerti dengan sikapnya itu.
"Hei, kenapa dia?" tegur Ichan saat melihat tingkahnya Ardian yang menurutnya aneh itu.
"Aku gak tau, kau kenapa tiba-tiba ada disini? Mengagetkanku saja!" gerutu Maura.
"Sedari tadi juga aku ada disini, Mauraaa.. Kau saja yang melamun gak menyadari kedatanganku," sahut Ichan sambil memanyunkan bibirnya.
"Haha, maaf.. Ya udah, kamu mau makan apa? Hari ini aku yang traktir," ucap Maura langsung disambut suka cita oleh Ichan.
"Apa aku juga boleh? Lumayan ada yang traktir,," tau-tau Arga sudah ada disamping Maura.
Maura benar-benar merasa jengah sekali dengan kehadiran Arga, apalagi sekarang Ardian menatap tajam kearah keduanya. Melihat Ardian yang memanas, Arga semakin senang saja dia terus tersenyum.
"Ayo, kita pindah saja duduknya!" Ardian langsung menghampiri mereka dan menarik tangan Maura untuk berpindah tempat.
Arga langsung berdiri begitu saja saat melihat Maura berjalan mengiringi Ardian, dia hendak menyusul tapi langkahnya terhenti tak kalah beberapa mahasiswi mendekatinya ingin berkenalan.
"Sial!" gerutu Arga dalam hati.
Sementara itu Ardian mengajak Maura duduk dimeja paling pojok di kantin itu, mereka tersenyum-senyum sendiri saat melihat Arga nampak kewalahan menghadapi kelakuan beberapa mahasiswi yang di sana.
"Apa kamu tau siapa dia?" tanya Ardian sambil menatap Maura serius.
"Iya, tau.." jawab Maura pelan, dia tau kini dirinya sedang ditatap tajam sama lelaki dihadapannya sekarang.
"Sudah berapa lama kau tau?" tanya Ardian lagi.
"Em, baru kemarin aku mengetahuinya.." jawab Maura sambil menelan ludahnya pelan.
"Huft, kenapa kau tak bercerita kepadaku tentangnya? Kau kan tau aku tak suka ada rahasia diantara kita.." ucap Ardian terdengar kecewa.
"Aku tak merahasiakan apapun kepadamu, aku hanya lupa saja menceritakan tentang dirinya! Lagian itu juga tak penting bagiku, tidak usah terlalu dipikirkan.." ujar Maura berusaha biasa saja agar Ardian tidak larut dalam kesalahpahaman nya.
"Tapi aku melihatnya tak seperti itu," ucap Ardian lagi.
"Kamu,, gak percaya sama aku?" tanya Maura sambil menghentikan makannya.
"Aku percaya sama kamu, tapi tidak dengannya.." jawab Ardian sambil menatap Arga yang berpura-pura tak memperhatikan mereka.
Aku ingin kau berhati-hati dengannya, dan jangan terlalu dekat juga dengannya, aku tak suka.. Mungkin saja dia memiliki maksud tersendiri untuk mendekatimu, dan aku harap kamu tetap menjaga batasanmu.." ucap Ardian sambil menghabiskan minumannya.
"Ayo, kita pergi.. Aku sudah selesai," ucap Ardian kembali.
"Tapi aku belum selesai, aku masih mau makan!" sahut Maura protes.
"Bukannya sedari tadi makan yah? Masa gak habis-habis," tanya Ardian sambil menatapnya aneh.
"Jangan samakan aku denganmu, aku memang makannya lambat. Huft, kamu sudah membuat aku tak berselera makan lagi, ya sudah!" ucap Maura kesal, setelah menghabiskan minumnya dia langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ardian yang sedikit kaget dengan sikapnya itu.
"May, Maura! Tunggu aku," panggil Ardian sambil mengejar Maura.
Saat dia hendak keluar dari kantin itu, matanya tak sengaja bertatapan dengan Arga. Sosok itu tersenyum sinis menatapnya seolah mengejek pertengkaran keduanya barusan.
"Awas kau," ancam Ardian sambil menunjukkan kedua jarinya kearah Arga, sosok itu hanya terkekeh saja.
.
.
Maura duduk sendirian di taman hijau samping kampusnya itu, taman yang dikelilingi oleh beberapa pohon rindang yang biasanya dijadikan para mahasiswa untuk berteduh, beristirahat ataupun sekedar membaca dan belajar bersama.
Dia menatap ke sekelilingnya, semuanya nampak damai tak ada gangguan sama sekali. Dia jadi berpikir, mungkinkah beberapa makhluk yang biasanya berkeliaran di kampusnya menghilang ada campur tangannya Arga.
"Masuk akal juga jika aku berpikir begitu, dia makhluk yang kuat bukan hal yang sulit baginya mengusir mereka semua. Tapi buat apa, toh makhluk yang lainnya juga tak mengganggu?
Jika makhluk yang usil dan membahayakan mungkin saja, tapi makhluk yang seperti itu sudah diusir dan ditangkap juga sama pak Kyai waktu itu. Sebenarnya siapa dia? Apa tujuannya mendekatiku?" gumamnya sendiri.
Sedangkan diatas pohon yang tak jauh darinya, Phoem nampak memperhatikan Maura dengan seksama. Dia tersenyum kemudian dia berdiri dan melayang tinggi terbang meninggalkan tempat itu.
Sraaakk!
"Apa tuh?!" Maura kaget dia seperti sedang mendengar sesuatu dibelakangnya.
Dia menoleh kebelakang tepatnya di pohon tempat Phoem berdiri tadi, tak ada siapapun di sana. Kemudian dia mengangkat bahunya tanda tak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Mungkin suara ranting pohon yang tertiup angin.." gumamnya berusaha berpikir positif.
Dari arah kejauhan nampak Ardian berjalan kearahnya, Maura sudah menghela nafas duluan. Dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan lagi olehnya, dia tidak ingin membahas sesuatu yang menurutnya tak penting.
"May, aku mau ngomong sesuatu.. Kamu tadi kenapa tinggalin aku gitu aja di kantin?" tanya Ardian sambil duduk disampingnya.
"Bukannya kamu yang ngajak pergi, kenapa tak langsung menyusulku?" tanya balik Maura dengan tatapan didepan.
"A-aku hanya kaget liat reaksimu tadi, gak biasanya kamu kayak gitu.." ucap Ardian sambil.menatap Maura.
"Memangnya reaksi aku berlebihan? Kayaknya biasanya saja, kamu saja yang terlalu sensitif orangnya. Perasaan biasa saja," ucap Maura terlihat risih.
"Maura!" tiba-tiba Ichan datang menghampiri mereka, Ardian sedikit kesal dengan kedatangan Ichan karena dia tak bisa berbicara berdua dengan Maura.
"kenapa?" tanya Maura.
"Temani aku ke perpustakaan, ayo! Aku harus meminjam beberapa buku buat tambahan bahan belajarku, ayo!" ucap Ichan sambil menarik tangan Maura, entah dia melihat ada Ardian atau tidak, dia tetap menarik tangan Maura.
"Ta-tapi aku.." Maura kebingungan, Ichan terus menariknya hingga menjauhi Ardian.
"May.." panggil Ardian, terlihat kecewa.
"Ketemu nanti pas pulang yah!" teriak Maura kearah Ardian.
Ardian hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, dia tau meskipun Maura sedang kesal dengannya tapi sifatnya tak pernah berubah. Maura tetaplah Maura yang dia kenal seperti biasanya.
"Dasar, bodoh!" ucap Arga dibalik pohon tak jauh dari sana sambil menatap Ardian dengan pandangan sinis.
Kemudian dia menyusul Maura ke perpustakaan, Ardian masih belum menyadari apapun yang terjadi saat itu.
......................
Bersambung