
Wuuuzzz!
Bhooom!
Sinar terang melesat cepat menuju rumah sakit, awalnya datang cuma satu lama-kelamaan datang lebih banyak lagi, sudah seperti hujan meteor.
Bhooom!
Sinar-sinar itu menghujami rumah sakit itu seperti peluru-peluru dari senapan mesin canggih, tak henti-hentinya dia berusaha masuk dan merusak perisai pelindung, sobekkan mulai terlihat, bunyi retakan seperti kaca pecah terdengar dari sobekan perisai itu.
Para prajurit mulai bersiaga, panglima Arialoka dan Aurora sudah bersiap menyambut tamu tak diundang itu, mereka akan mengeluarkan tenaganya lebih besar lagi, karena kali ini lawan mereka merupakan prajurit-prajurit iblis berumur ratusan ribu tahun, yang kekuatannya melebihi para penyihir terkuat di dunia ini.
"Ya Allah, Ya Robb.. Lindungi hamba dan istri hamba, lindungi orang-orang terdekat hamba, mereka yang tidak berdosa, mereka yang tidak tahu apa-apa, dan para makhluk ciptaan-Mu yang berusaha menjadi abdi-Mu.." doa Ardian sambil berzikir memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Sementara itu, Maura terlihat gelisah. Dalam tidurnya dia merasa seperti ada sesuatu yang merayap ditubuhnya, dia membuka matanya pelan-pelan dan terkejut karena ada seekor ular besar sedang merayap dan melilit tubuhnya.
Bau anyir bercampur darah meruak ditubuh ular itu, lendir hijau milik ular itu menempel ditubuhnya bersama sisiknya yang tertinggal, Maura menahan nafasnya karena tak tahan akan baunya, ditambah lagi jika dia bernafas dengan cepat, maka pergerakan ular itupun makin cepat, seolah nafas Maura adalah kekuatannya.
"Hah.. Hah.. Le-lepaskan aku!" bersusah payah dia mencoba melepaskan diri dari lilitan ular itu.
"Ssss... Nona, apa kau melupakan aku? Ssssss.." ular itu berdesis sambil menanyakan sesuatu kepada Maura.
"Si-siapa kau?!" bentak Maura.
"Zeaaa... Ssss... Apa nama itu tak asing di telingamu? Ssss.. Aku kehilangan tempat tinggalku! Tak ada yang menerimaku, kemanapun aku pergi, pasti tidak diterima! Langit dan bumi menolakku, aku akan berkeliaran sampai kiamat tiba! Ssss.. Aku datang, mencari keadilan! Sss.." ujar ular itu memberikan pernyataannya.
"Apa?! Zea?! Bukankah kau sudah musnah diwaktu pertarungan itu?! Kenapa kau bisa kembali lagi?!" tanya Maura tidak percaya, tiba-tiba dia teringat kembali akan kejadian beberapa bulan yang lalu, hampir satu tahun lamanya kejadian menegangkan itu kembali hadir diingatkannya, pertarungan itu juga dia kehilangan Gerald dan Camelia.
"Hihihi.. Ssss.. Aku adalah makhluk abadi, tidak akan musnah begitu saja kecuali Tuhan yang menghendaki, Ssss... Kini aku sudah bebas tanpa ada kendali dari siapapun! Aku bebas melakukan apapun juga, Ssss.." ujar Zea lagi, mata merahnya menatap tajam kearah Maura dengan lidah menjulur menjilati wajah Maura.
Zhaaaatt!
Sebuah sinar kuning melesat dari arah atas menyerang Zea, membuat ular itu mendesis kesakitan. Dia mengendurkan cengkeramannya ke Maura, dia menoleh dari arah serangan itu berasal.
"Dasar siluman rendahan! Berani-beraninya kau menyerangku! Ssss.." teriak Zea kearah Siluman yang dia teriaki itu.
"Aku hanya tak ingin targetku lepas dan malah menjadi mangsa makhluk lain seperti dirimu, makhluk tak diinginkan!" balas siluman itu mengejeknya.
"Ga-Garaga?!" Maura terkejut melihat Arga ada di sana dengan wujud setelah ular.
"Hai, Maura.. Ternyata dimana saja kamu berada, masih nyusahin aja yah! Tidur aja masih nyusahin orang apalagi bangun," ledek Arga dalam wujud Garaga, dia mengabaikan Zea yang bersiap menyerangnya.
"Diamlah, Arga! Ini bukan waktunya bercanda," ujar Maura.
"Aku tidak becanda, saat ini aku sedang berjaga bersama beberapa prajurit Langit, tapi malah diutus untuk menjaga seorang Dewi Perang yang sedang terbaring lemah, terluka akibat kebodohannya sendiri! Ck, dasar.. Akhirnya aku juga yang akan menyelamatkanmu, sudahlah.. Tinggalkan saja dunia manusia, menikah saja denganku akan kejadian ratuku, kita akan menjadi kuat!" ujar Arga, masih sempat-sempatnya dia menggoda Maura.
Padahal saat ini dia sedang kewalahan menghadapi serangan-serangan dari Zea, ular penjaga danau perbatasan kerajaan bayangan dan hutan terlarang itu semakin agresif dan liar, tak ada hukum yang bisa mengontrol dirinya lagi, sehingga dia bisa menyerang ataupun mengeluarkan kekuatan sebesar apapun yang dia miliki.
"Zea, hentikan!" teriak Maura.
Dia ingin bangun dari tidurnya, tapi dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Seolah lendir dari tubuh Zea merupakan lem perekat yang kuat membuat Maura tak bisa berkutik.
"Diamlah, Nona! Saat ini tubuhmu dalam keadaan lemah, kau pun takkan bisa apa-apa. Dia saja jika tidak sisik itu akan menusuk tubuhmu!" teriak Arga sambil membalas serangan Zea.
Maura baru menyadari jika tadi Zea sedang menandai dirinya sebagai daerah teritorialnya, maka lendir dan sisiknya yang tertinggal ditubuh Maura akan menjadi senjatanya jika Maura berusaha memberontak ataupun ada makhluk lain yang berusaha mendekatinya.
Grrrr!
Dan benar saja, dirinya seolah memiliki magnet yang begitu besar sehingga mampu mendatangkan beberapa makhluk untuk mendekatinya.
"Syial! Bagaimana ini, aku harus apa?!" ujarnya kebingungan.
Disatu sisi, Arga sedang bergulat hebat melawan Zea, ditempat lain beberapa makhluk mulai mengincar dirinya, dia berusaha bangun dari cengkraman bahaya ditubuhnya, saat dia sedikit menggunakan kekuatannya, maka lendir-lendir itu seperti lelehan lilin panas mencair dan sisik-sisik tajam itu menempus kulitnya.
Dia bagaikan simalakama, jika dia diam saja maka akan menjadi sasaran para makhluk itu, jika dia berusaha melawan maka dia akan mati berlahan dengan sendirinya.
"Tidak, aku tidak akan mati begitu saja! Aku datang bukan untuk ini, aku ditakdirkan menjadi seorang Dewi bukan untuk mati sia-sia! Aaargghh!" teriaknya.
Wuuuz!
Ctaaarrr!
Angin ribut entah datang darimana berputar-putar bagaikan angin topan didalam ruangan itu, menghempaskan siapa saja yang terkena olehnya. Arga dan Zea tak kuasa menahan angin kencang itu, sehingga keduanya terlempar jauh dan menempel diatas atap plafon kamar itu.
"Gggrrr!"
"Aaauuuuu!!"
"Aaaakkhhh!"
Teriakan dan lolongan para makhluk itu memekikkan telinga, mereka semua terhempas jauh meninggalkan ruangan itu begitu saja, tubuh Maura mengeluarkan cahaya putih dan kekuningan, lendir dan sisik yang menempel ditubuhnya menghilang begitu saja.
"Benar dugaanku, jika tak dipancing maka kekuatannya tidak akan keluar begitu saja. Jika pikirannya terus ter sugesti kalau dia lemah karena terluka, maka dia akan diam saja takkan bisa melakukan apapun.." ujar Zea kepada Arga.
"Tentu saja, tapi masalahnya adalah sekarang ini dia sudah sepenuhnya menjadi Dewi Srikandi! Bukan Maura lagi, bisa-bisa kita mati begitu saja dianggap musuh!" teriak Arga panik.
Karena saat ini kekuatan tersembunyi milik Dewi Srikandi yang sudah lama terpendam, keluar sepenuhnya dan menguasai tubuh Maura sehingga gadis itu tidak sadar apa yang dia lakukan sekarang.
"Aku sudah lama tertidur, aku datang menuntaskan misiku yang tertunda.. Penyihir, siluman, jin laknat dan iblis, datanglah! Akan aku hancurkan kalian semua! Aaarrrgg!" teriak Maura menggema.
Kini pakaiannya entah sejak kapan sudah berubah, dengan mahkota emas di kepalanya, kain songket dan kemben merahnya, selendang kuning melilit cantik di pinggangnya yang ramping, dan konde emas diujung berkepala bunga teratai berwarna emas kekuningan.
Maura begitu cantik dan berwibawa, karisma dan auranya sangat menakutkan bagi para siluman dan para penyihir iblis, dan mampu menggoda para panglima dan ksatria untuk memilikinya.
Wuuuzz!
Dia melesat terbang menebus dinding dan melupakan keberadaan Arga Maupun Zea, kini dua makhluk ular itu tak bisa berbuat apa-apa lagi, jika sang Dewi sudah keluar
"Kau hebat juga berakting!" puji Arga kepada Zea, entah memuji atau ngeledek itu.
"Apa itu akting?" tanya Zea.
"Bersandiwara! Ah, susah kalau hidupmu hanya berkutat di dunia yang membosankan terus! Makanya sesekali main ke dunia manusia agar sedikit berkembang otakmu!" ujar Arga sok tau.
"Bagaimana mau main, aku mendekat saja sudah diusir sama penjaga perbatasan gerbang dua dimensi itu!" balas Zea.
"Makanya kalau mau datang dengan niatan jelek tentu saja dilarang, coba kalau datang dengan niat liburan, pasti diizinkan," ucap Arga lagi.
"Ah, omonganmu itu aneh! Sejak awal aku tak ada niatan apa-apa, hanya saja ada beberapa makhluk yang memanfaatkan diriku saja! Sudahlah, ayo cari cara bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini!" teriak Zea.
Mereka masih kewalahan mengatasi angin topan yang terus berputar didalam ruangan itu, tidak meninggalkan mereka sejak tadi, seolah keduanya adalah tahanan.
Sebenarnya, kedatangan Zea diutus oleh panglima langit untuk membangunkan Dewi Srikandi yang sudah lama tertidur didalam tubuh Maura. Tidak ada cara lain selain melakukan pengancaman agar Dewi keluar.
Saat ini, kerajaan langit dan kerajaan bayangan sedang kewalahan menghadapi beberapa prajurit iblis yang terus berdatangan.
Mereka berharap, dengan bangunnya sang Dewi maka setidaknya ada harapan untuk mereka menghadapi semua pasukan iblis itu. Setidaknya dia bisa menghalau dan menghancurkan beberapa pasukan iblis dan makhluk laknat lainnya, sehingga dia dan prajuritnya bisa datang membantu mereka saat ini.
Sementara itu, di dunia saat ini. Ardian masih fokus dengan zikir nya di samping Maura yang sedang tertidur pulas, padahal kini jiwa manusia sedang berubah wujud menjadi seorang Dewi perang, dan melawan para pasukan iblis.
Ardian, sang suami sedang berdoa memohon pertolongan Allah, sedangkan sang istri yaitu Maura sedang berjibaku melawan para iblis dengan wujud lain. Mereka bekerja sama dengan baik, selain berikhtiar berdoa memohon pertolongan dari Allah, mereka juga harus berusaha melawan sendiri ke bhatilan itu sendiri.
...----------------...
Bersambung