RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Bantuan Datang


Maura dan Ardian terlihat kelelahan menghadapi puluhan jin dan makhluk lainnya yang terus berdatangan, mereka mencium bau wangi tubuh Maura yang menurut mereka itu bisa membuat mereka bertahan lebih lama lagi di hutan itu, dan bisa juga masuk ke dunia manusia.


Mereka menginginkan Maura, karena tubuh wanginya itu yang mereka inginkan. Tentu saja tak semudah itu, Ardian tak pernah mengizinkan mereka menyentuh wanitanya.


"Maura, apakah kau masih bisa bertahan?" tanya Ardian.


"Aku masih kuat, kekuatan mereka tidak seberapa dibandingkan dengan para prajurit iblis tadi" jawab Maura mengingat kejadian mereka melawan anak buah Marino.


Dari kejauhan dia melihat sekelebat bayangan menuju kearah mereka, dia juga mendengar suara dentingan gemericik suara lonceng dikalung kuda.


Tiba-tiba angin kencang menerpa semua makhluk itu, mereka semua tak bisa bergerak karena kuat dan kencangnya angin itu.


Kabut tebal menyelimuti hutan itu menghalau pandangan mereka, nampak ada beberapa bayangan keluar dari kabut itu.


Dia melihat Julian, Joanna dan Rosario bersama Maharaja Balaputradewa datang diikuti oleh ratusan pengawalnya.


Saking kuat dan berpengaruhnya kekuasaannya, membuat para jin dan makhluk jahat lainnya kabur melarikan diri daripada nantinya mati konyol atau tidak menjadi koleksinya didalam botol-botol milik sang raja untuk menahan para makhluk yang berbuat onar.


Tibalah mereka di sana, melihat Maura dan Ardian nampak begitu kelelahan. Julian dan Joanna berlari menghampiri mereka berdua.


"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Julian.


"Pertanyaan apa itu? Kau lihat kami, apakah terlihat baik-baik saja!" bentak Ardian kesal dengan Julian.


"Kan nanya doang, Bos. Apa gak boleh ni basa-basi dikit?" ujarnya nyengir cengengesan.


"Gak boleh!" jawab Ardian galak.


Dia membantu Maura berdiri dari duduknya karena terpaan angin kencang tadi, angin itu tujuannya menyerang para makhluk jahat itu tadi, saking kencangnya bisa mengenai mereka juga.


"Apakah lukanya semakin parah?" tanya Ardian lembut kepada Maura.


Sikapnya berubah ketika menghadapi wanita terkasihnya itu, Julian meledeknya dengan menjulurkan lidahnya.


"Maura, Ardian..." sapa Maharaja Balaputradewa.


Keduanya terkejut karena sang raja menghampiri mereka, keduanya langsung berlutut memberi hormat dengan cara membungkukkan badannya.


"Tidak perlu bersikap begitu padaku, Apakah lukanya cukup parah?" tanya sang raja.


"Tidak, Baginda... Hanya luka gores saja" ucap Maura, tapi antara mulut dan hati berlawanan.


Ketika dia bilang tidak apa, di sana dia menahan rasa sakit akibat luka yang dia dapat dari serangan para makhluk jahat tadi.


Tentu saja Maharaja Balaputradewa tau kalau Maura terluka, karena sang Dewi terhubung dengannya.


Terlihat luka cukup dalam menganga di perut bawah sebelah kirinya, hampir semua di area pinggangnya itu terkena luka bakar akibat serangan bertubi-tubi tadi.


"Kau harus dibawa segera ke istanaku, agar bisa ditangani segera. Jika lukamu tak segera diobati maka akan semakin parah dan membahayakan keselamatanmu sendiri" ujar sang raja.


Awalnya Maura menolak, tapi mau gimana lagi perintah sang raja harus dituruti. Apalagi saat ini mereka di dunia gaib, dia takkan bisa pergi ke dokter manusia, karena memang tidak ada manusia di sana kecuali mereka.


"Luka ini didapatkan dari para makhluk astral, dan ini dunia mereka. Pasti akan berefek fatal bagi tubuhmu, ikuti saja perintah sanga raja agar kau bisa selamat" ujar Ardian tadi membisikkan kata-kata itu ditelinga nya.


"Baiklah" ucap Maura pasrah.


Mereka semua menuju Istana Bayangan Maharaja Balaputradewa, di sana mereka sudah ditunggu oleh Ratu Kenanga Ungu. Beliau menunggu mereka didepan pintu masuk istana utama itu.


Dia bersama para dayang juga para punggawa dan prajurit lainnya menunggu mereka dengan berbagai sambutan.


"Ini kita disambut kayak gini, macam ngunduh mantu aja" ucap Julian berbisik kepada Joanna.


"Huss, diam!" hardik Joanna pelan.


Karena mereka memasuki area istana itu dihiasi penuh dengan bunga-bunga dan ornamen-ornamen cantik yang menghiasi ruangan dikhususkan menjamu mereka.


"Kalian beristirahatlah disini, dan kau Maura ikutlah denganku. Aku akan mengobati luka-lukamu itu" ujar sang ratu.


"Dia siapa, cantik banget" puji Julian.


"Emang kamu gak tau siapa dia?" tanya Joanna.


Julian menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu apa-apa, Rosario meledeknya karena banyak tidak tahunya.


"Aku hanya dapat cerita saja, kadang masih banyak yang tidak kuketahui. Maklum saja aku bukan reinkarnasi dari siapapun ataupun bukan makhluk halus" ucap Julian pelan dengan nada lesu.


"Hem, gitu aja ngambek bos!" ledek Rosario.


Joanna menyikut Rosario untuk tidak mengganggunya dulu, memang agak sensitif pembahasan itu bagi Julian, secara dia anak cucu keturunan abdi dalem ayahnya Panglima Arialoka tapi tidak tahu apa-apa.


......................


Bersambung