RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kejadian Yang Tak Bisa Dilupakan


Malam itu adalah salah satu malam yang dijanjikan, dimana malam itu mereka memulai ritualnya. Salah satu tetua itu melakukan semedi di kuburan keramat yang di tuakan oleh keluarga itu.


Mereka mempersembahkan darah binatang sebagai sesembahannya, dimana darah dan sesajen itu diletakkan ditengah-tengah kebun bunga dibelakang rumah.


Sehingga menyebabkan pintu portal dunia gaib terbuka, membuat sebagian penghuni dunia itu masuk dan menguasai daerah itu. Makanya para hantu atau jin yang sudah lama tinggal di daerah sana marah, tapi mereka tak bisa melawan karena kekuatan para 'penghuni baru' begitu kuat.


Pada saat Maura dan Maurice ke belakang rumah, mereka sempat melihat beberapa jenis hantu atau jin diluar rumah dikarenakan oleh semua itu.


"Kita terlalu meremehkan anak itu, dia tak sekadar pemilik darah murni tapi dia juga memiliki sesuatu yang lebih kuat lagi" ucap nenek, si pemimpin sekte itu.


"Dan kau Herman, awasi lagi anak-anakmu! Lihat ulahnya, menghancurkan rencana kita" ucap nenek memarahi putranya itu.


"Ba-baik, Bu" ucap pak Herman gugup.


Dalam hatinya dia mengumpati anaknya, si Nala. Karena berani melawan peraturan rumah itu, dan juga nekat membantu orang-orang asing itu.


Pagi telah tiba.


Maura membantu Maurice berkemas dan membawa beberapa barang miliknya masuk kedalam bagasi mobil, pagi ini Kevin dan Maurice akan menuju kampus untuk mengurus berkas-berkas masuk ke kampus itu, sekalian menuju asrama mereka.


"Kalian jangan pergi dulu, kita sarapan aja dulu yah" ujar bu Sinta ramah.


Mereka tak punya pilihan selain menerima tawarannya, kebetulan perut mereka juga sudah lapar minta diisi.


"Jadi Maura, kamu juga ikut dengan mereka?" tanya bu Sinta.


"Iya, Bi. Sekalian aku ingin mengurus beberapa berkas milikku di kampus" jawab Maura.


"Baiklah kalau begitu, pulangnya jangan terlalu sore" ujar bu Sinta lagi.


Setelah sarapan mereka pamit untuk pergi, mereka pun berpamitan kepada semua orang yang ada didalam rumah itu, termasuk kepada nenek dan si kembar Nala dan Nayra.


"Nek, kami pamit dan terima kasih atas tumpangan dan bantuannya" ucap Maurice ramah.


"Hem!" si nenek hanya menjawab seperti itu.


"Nala, terima kasih sudah membantuku dan mau menerima kami sebagai tamu di rumah ini" bisik Kevin.


Nala diam tak menanggapinya, dia pura-pura sibuk membantu yang lain mengurus beberapa barang Kevin dan Maurice.


"Lain kali, dimanapun kamu berada harus menjaga sikapmu. Karena tempat ini sangat berbeda dengan tempatmu" ucap Nala sambil mengurus ini itu.


dia tak ingin terlalu terlihat dan jadi pusat perhatian oleh para tetua rumah itu, setelah kejadian tadi malam. Apalagi dia sudah ditegur keras oleh ayahnya, membuatnya jadi takut.


"Baiklah, aku mengerti" ucap Kevin.


Mereka naik ke mobil menuju kampus tempat kuliahnya, kampus mereka berada di tengah kota itu sedangkan rumah neneknya berada diatas perbukitan di sebuah desa kecil yang jaraknya cukup jauh dari kota.


Untuk menuju kota mereka harus melewati beberapa hutan dan desa-desa lainnya, meskipun mereka tinggal di desa tapi fasilitas dan kebutuhan penduduk desa terpenuhi dan dilengkapi listrik dan internet juga.


Tapi yah itu, mungkin kesadaran penduduknya hingga alamnya masih terjaga dan banyak hutan-hutan lindung yang masih terawat dengan baik.


Mereka melewati jalan-jalan berliku dan jembatan menyeberangi sungai kecil, dan disisi jalan kanan dan kiri terlihat hutan-hutan lindung ataupun perkebunan teh milik keluarga nenek Maura.


Perkebunan teh itu sangat luas sekali, dan ada juga perkebunan lainnya, seperti kebun kopi, sayuran dan bahkan bebuahan.


"Kevin, bangun! Tidur mulu dari tadi" kata Maura sambil membangunkan temannya itu.


Mereka menuju asrama kampus dulu, untuk menemui ketua asrama untuk mengurus kamar Maurice dan Kevin. Setelah itu baru menuju kampusnya.


"May, dari desa nenekmu itu menuju kampus kita itu lumayan jauh. Apa gak capek pulang pergi kayak gini?" tanya Maurice.


"Iya, betul itu. Aku aja sampe ketiduran loh saking jauhnya" sahut Kevin juga.


"Itu mah emang kamu nya tidur mulu kerjaannya" sungut Maura.


"Tapi kan itu karena aku kurang tidur, May. Bisa dikatakan aku gak tidur semalaman gara-gara kejadian semalam" balas Kevin.


"Itu jadi pelajaran buat kamu, Vin. Jika melihat sesuatu ataupun tahu sesuatu ada baiknya bercerita atau kasih tahu orang, jangan bertindak sendirian. Kecuali itu hal pribadimu sendiri, itupun jika tak membahayakanmu" ucap Maura.


Dengan kata lain kita berada di pusat sihir itu sendiri, kita harus bisa menjaga diri disini" ucap Maurice juga.


"Iya, aku tahu. Tapi aku tak seceroboh itu juga, aku awalnya tak ingin keluar tapi setelah melihat kalian dan kalian juga mengajakku pergi, mau gak mau aku ikut juga" akhirnya Kevin memberitahu soal kejadian sebenarnya.


"Apa yang dikatakan makhluk itu sehingga membuatmu setuju ikut dengan mereka?" tanya Maura.


"Tidak banyak sih, hanya saja aku khawatir melihat kalian bermain ditengah-tengah kebun itu" jawab Kevin.


"Seharusnya kamu mikir, masa iya kami bisa ngelakuin hal begitu ditengah malam. Mending tidur" sahut Maurice.


"Tapi, May... Kamu juga aneh banget malam itu, kenapa sampe tidur sambil duduk? Kamu juga ngucapin kata-kata aneh gitu..." kata Maurice sambil mengingat kejadian tadi malam.


"Aku gak tau soal itu, yang jelas aku sempat bermimpi aneh. Aku lihat Dewi Srikandi berada ditengah-tengah kebun itu, sambil menunjuk kearah Kevin dan Nala yang sedang dikelilingi oleh beberapa Zombie itu.


Seolah mengatakan kalau mereka dalam bahaya, aku hanya berpikir harus menyelamatkan mereka berdua. Itu saja" jawab Maura.


"Uuh, sweet banget si temankuu! Aku terharu May, makasih yaah" ucap Kevin terharu.


"Lebay, ah!" ucap Maurice sambil memukul-mukul lengan Kevin.


"Kenapa sih sayang? Cemburu yahh" ledek Kevin.


"Ih, apaan sih?! Gak lah" ucap Maurice malu.


Maura hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabatnya itu, dari kejauhan ada Ardian, Julian dan juga Joanna datang menghampiri mereka.


"Akhirnya kalian datang juga, aku pikir kalian terjebak di rumah itu selamanya" celetuk Julian duluan.


"Hampir sih, iya" kata Kevin menanggapi perkataan Julian tadi.


"Maksudnya apa?" Julian pun jadi penasaran oleh ucapan Kevin barusan.


"Kita cari tempat nongkrong dulu buat ngobrol" kata Joanna.


"Oke!" sahut keduanya kompak.


Mereka memilih kantin kampus itu untuk mengobrol dan menceritakan kisah mereka semalam tadi, mereka duduk dipojok kantin itu setelah memesan makanan.


"Aku heran, di desa itu memiliki listrik dan internetnya bagus. Tapi anehnya kami tak bisa menghubungi siapapun lewat Hp kami" ujar Kevin setelah menceritakan semua kejadian semalam.


"Mungkin Hp kalian belum di upgrade dan waktunya belum disesuaikan oleh waktu disini" jawab Ardian juga.


"Mungkin juga yaa.." balas Kevin.


"Aku hanya mengkhawatirkan Maura saja, jika dia masih tinggal lama di sana. Baru semalam aja udah banyak kejadian aneh di sana, bagaimana dengan malam-malam selanjutnya" ucap Maurice.


"May, kenapa gak tinggal di asrama saja seperti kami?" tanya Joanna.


"Aku tak bisa, meskipun aku mau. Kalian ingat tujuan utama kita kesini apa? Selain kuliah, ada misi yang harus kita selesaikan. Yaitu memberantas sekte itu, agar tak ada lagi orang-orang tak berdosa menjadi korban selanjutnya" jawab Maura menjelaskan semuanya.


"Tapi itu terlalu berbahaya untuk kamu lakukan!" ujar Ardian.


"Aku gak sendirian, ada kamu... Ada yang lainnya juga, untuk membantuku disini" ucap Maura sambil tersenyum menatap Ardian.


Melihat itu Ardian terdiam melihat senyuman manis itu.


"Ehem, ada orang!" goda Julian.


Membuat keduanya tersadar dan salah tingkah sendiri dibuatnya, mereka menikmati makanan kantin itu sambil membahas banyak hal. Dari mulai masalah kampus hingga dunia pergaiban mereka bahas.


Dan tanpa sadar ada orang lain yang memperhatikan mereka.


......................


Bersambung