
Dewi Srikandi bersama Maura yang berada diatap gedung itu merasakan ada getaran gaib dibawah gedung ini, Maura mencoba berkomunikasi dengan yang lainnya melalui saluran earphonenya.
"Apa kalian semua merasakan getaran itu?" tanyanya.
"Tidak, kami tidak merasakan apapun" jawab Kevin mewakili Maurice juga.
"Kami merasakan sesuatu energi yang cukup besar, tapi dari tempat lain" jawab pula Julian.
"Aku merasakan firasat buruk, coba kita cek lagi area basemen. Aku curiga dengan tempat itu" jawab Ardian.
"Tunggu dulu, coba kita tanyakan dulu ke kak Dhania mungkin dia bisa membantu kita. Saat ini dia bersama Marino, jika lelaki itu masih bersamanya bisa jadi itu berasal dari tempat lain, berbeda jika Marino tidak ada ditempat" sahut Kevin.
"Bisa saja betul kata anak ini" ujar Julian.
"Entah mengapa, aku memiliki firasat buruk" ucap Ardian.
"Tidak salahnya kita hubungi kak Dhania" sahut Maura.
"Tapi ini janggal, bukankah panggilan kita hanya ada dua saluran. Yang pertama panggilan sesama untuk kita jadi semua yang ada di gedung ini bisa saling berkomunikasi lewat satu panggilan.
Dan yang kedua panggilan kita ke apartemennya Maura, jadi siapapun yang di apartemen bisa kita panggil lewat satu panggilan juga. Dan kenapa kak Dhania tidak menjawab atau merespon panggilan ini?" tanya Maurice curiga.
"Kevin, coba kamu hubungi kak Dhania lewat telpon. Bisa saja dia tak bisa menjawab panggilan ini karena ada Marino disampingnya" ujar Maura.
Kevin mencoba menelpon kakaknya, tapi tak dijawab dia mencoba lagi tapi sama tak dijawab. Perasaan kesal dan khawatir membuatnya gusar dan mencoba berulang-ulang kali menghubungi kakaknya tapi tak dijawab.
"Bagaimana ini? Aku harus keatas dan mengeceknya sendiri" ujarnya nampak begitu khawatir sekali.
"Jangan, nanti kau akan dicurigai. Ingat, acara penyambutan ini bersifat privat hanya yang diundang saja yang boleh masuk" jawab Joanna juga.
"Biarkan aku yang masuk" jawab Rosario.
"Apalagi kau, bisa hancur berantakan rencana ini jika mereka menyadari kalau sedang diawasi" jawab julian juga.
"Betul itu, didalam sana aku yakin banyak penyihir ataupun budak penganut ilmu hitam yang datang" sahut Ardian.
"Jadi, bagaimana ini?" kata Kevin suaranya bergetar menahan rasa takutnya, dia tidak ingin kakaknya celaka.
"Coba aku hubungi lagi" ucap Maurice, dia merasakan juga apa yang dirasakan Kevin. Rasa takut kehilangan itu menyakitkan.
Dan akhirnya telpon itu dijawab, padahal baru satu panggilan dari Maurice dan tidak sampai dari hitungan detik langsung dijawab. Seolah memang ditunggu telponnya itu.
"Halo, Kak. Kakak ada dimana? Tadi Kevin telpon Kakak tapi gak dijawab, dia khawatir nih" ujar Maurice senang akhirnya telponnya diangkat juga.
"Ha-halo, a-aku baik-baik saja... Aku, aku masih bersama Marino menemani para tamu. Ka-kalian tidak usah kha..watir" ujar Dhania terbata-bata.
"Aku merasakan sesuatu, ada yang gak beres ini. Mari kita langsung ke sana saja, aku dan Maura langsung menuju ruangan tempat mereka berkumpul Julian dan Joanna dibantu Rosario kalian ke basemen.
Sedangkan Kevin dan Maurice kalian tetaplah diruangan itu, bahaya jika kalian ikut keluar. Tenang saja ruangan itu sudah kami lindungi tidak akan ditemukan oleh mahkluk apapun jika kalian masih di sana," kata Ardian memberi arahannya.
Semuanya menjalankan misinya masing-masing, Maura dan Ardian menuju ruang auditorium di gedung itu. Dimana tempat itu dijadikan tempat acara penyambutan pembukaan gedung itu.
Tetapi itu hanyalah kedok saja, mereka melakukan ritual penyambutan kedatangan sesembahan mereka yaitu Arion Gaharu. Saat itu, Marino dengan tenang dan secara gamblang menyatakan bahwa acara sesungguhnya telah dimulai.
Para penyihir, orang-orang serakah penganut ilmu hitam dan para dukun lainnya langsung memakai jubah hitam mereka. Membuat para tamu undangan lainnya yang tidak tahu apa-apa merasa heran termasuk juga dengan Dhania.
Saat itu dia ingin menghubungi para kawanan, tetapi sayangnya niatnya terputus karena diam-diam Marino mengikutinya dan menyekapnya dari belakang. Dia diikat erat di atas kursi dan dihadapkan kearah patung besar menyerupai penyihir tua berjubah panjang, Dhania tidak tahu jika itu perumpamaan dari Arion Gaharu.
"Perhatikan baik-baik sayang, kami akan melakukan pertunjukan hebat kau tonton dan nikmati saja pertunjukan ini. Hehe!" ujar Marino sambil menyeringai.
Perasaan Dhania merasa tidak enak dia berontak tapi ikatan itu tak bisa lepas, malah dia ditertawakan oleh para manusia-manusia bus*k itu. Sedangkan para undangan yang lain hanya menatap heran, mereka pikir itu pertunjukan hingga dibuat tercengang dan syok oleh apa yang terjadi.
Beberapa orang yang disana berubah bentuk menjadi mengerikan, ada berbentuk setengah hewan dan setengah manusia. Salah satu makhluk berbentuk ular setengah manusia melilit manusia yang berdiri tidak jauh darinya dan menghisap habis darahnya setelah itu dia lempar tubuhnya ditengah keramaian.
Semua orang menjerit panik berlari berhamburan menuju pintu keluar, tetapi tidak bisa karena sudah dikunci dari luar dan sayangnya suara teriakan mereka tak terdengar dari luar. Sepertinya gedung itu di desain untuk itu, meredam suara apapun yang keluar dari sana.
Dhania syok apa yang dia lihat barusan dan yang lebih mengerikan lagi beberapa makhluk itu berebutan memangsa mayat itu, dan itu bertepatan didepannya.
Saat itu telponnya berdering dan itu dari Kevin, Marino merampas Hp Dhania dan dia menyeringai. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Dhania, matanya merah menyalak dengan wajah putih pucat seringainya mengerikan karena menunjukkan gigi-gigi taringnya.
"Kau tahu, Dhania... Semua pergerakan kalian sudah kami ketahui, jauh sekali kalian menyadari hal ini kami sudah mengatur semuanya. Hihi!
Kalian pikir sudah hebat? Tidak! Kamilah yang paling hebat dan berkuasa, kalian masih didalam genggamannya! Dan sekarang aku ingin kau mengangkat telpon ini jika berdering lagi.
Katakan saja jika kau baik-baik saja, jika tidak aku akan membunuh orang-orang yang ada disini satu persatu" ujar Marino dengan seringainya.
Setelah Dhania mengangkat telpon dari Maurice, Marino mengingkari janjinya dia membunuh semua orang yang ada di pesta itu dan hanya menyisakan Dhania saja.
Mayat-mayat itu ditumpuk menjadi satu, saking banyaknya mereka ditumpuk sampai menggunung di tengah ruangan itu. Ternyata mereka menjadikan manusia yaitu para undangan itu sebagai tumbalnya dan juga sebagai makanan jin peliharaan mereka.
Dhania sudah tidak kuat melihat pembantaian massal didepan matanya sendiri, suara teriakan dan jerit tangis tak meluluhkan hati mereka. Mereka semuanya menjadi kalap jika mendengar suara teriakan dan jerit tangis, seperti hiburan saja bagi mereka dan tertawa-tawa melihat penderitaan semua orang di sana.
Marino dan para pengikut iblis lainnya sedang membentuk sebuah lingkaran, Dhania yang pingsan mereka pindahkan kesebuah ruangan rahasia. Mereka semua bersiap menunggu kedatangan tamu besar.
Kira-kira siapa tamu besar itu, Arion Gaharu atau Maura dan Ardian?
......................
Bersambung