RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Pengorbanan Tari


"Kakak benar-benar aneh, kenapa nekat banget sih?!" Angga terlihat marah sekali kepada Tari.


"Aku harus melakukannya, jika tidak kebohongan ini akan terus berlanjut entah sampai kapan. Jangan sampai dia berbuat nekat lebih jauh lagi" kata Tari masih terlihat lemah.


Pisau belati itu memang tidak Terlalu tajam tapi cukup untuk melukainya, seiring kekuatan supranatural menghilang tubuhnya semakin melemah.


Sebagai anak pertama, dia sebenarnya juga memiliki kekuatan yang sama seperti ibunya. Tetapi dia tak berniat memilikinya setelah melihat apa yang terjadi kepada mendiang ibunya itu.


"Tapi Kak, dengan melukai Kakak saja dia sudah berbuat nekat. Seharusnya Kakak sudah sejak dari dulu melakukannya" ujar Angga geram.


Tari hanya diam, dia tak mampu menjawab perkataan adiknya itu. Dia berpikir, itu memang kesalahan dan kebodohannya yang tak bisa menilai niat seseorang kepadanya.


"Tari, Nak. Sejak kapan kamu mengetahui kalau Daniel berniat jahat padamu? Lebih tepatnya, sejak kapan dia menginginkan kekuatanmu?" tanya bi Marni.


"Sejak awal pernikahan kami, dan aku benar-benar mengetahui niatnya ketika kami di Korea. Saat itu membantu salah satu kerabatnya dari gangguan jin jahat.


Sebenarnya aku tak mau menggunakannya, tetapi aku kasihan dengan mereka yang sudah putus asa dan saudaranya sudah sekarat.


Sekali dua kali, aku masih bisa membantu. Tapi aku mulai merasa kalau Daniel memanfaatkan aku setelah beberapa kali menerima orang lain untuk dibantu.


Dia bahkan memasang tarif, padahal aku ikhlas membantu tanpa meminta imbalan. Karena aku bukan dukun!


Makanya aku meminta untuk pulang ke US, dia awalnya menolak untuk kembali tetapi aku mengancamnya, jika tak ingin kembali aku meminta cerai.


Dan akhirnya dia menyetujuinya, aku curiga kenapa dia setuju begitu saja denganku. Bukannya tak senang dia mau ikut kembali tetapi rasanya ada yang janggal dengannya.


Aku mengikutinya, sampai suatu hari dia pergi ke dukun yang cukup kuat ilmunya untuk meminta belati itu. Belati yang bisa menyerap seluruh energi supranatural ku dan juga bisa melemahkan tubuhku.


Aku sengaja menjebaknya disini, setidaknya aku bisa lepas dari kutukan ini dan juga lepas dari jeratannya.


Pada akhirnya, aku bisa hidup normal lagi..." ujar Tari menjelaskan semuanya.


Angga dan bi Marni hanya diam mendengarkan cerita isi hati Tari, mereka tidak pernah mengira jika dirinya semenderita itu.


"Maafkan aku, Kak... Aku tidak pernah tahu soal itu, Kakak tidak pernah menceritakan hal itu kepada kami. Bahkan saat papa mengkhawatirkan Kakak disana, kami selalu mengatakan kalau Kakak pasti baik-baik saja" ujar Angga, dia menyesal begitu kurang perhatian kepada Kakaknya itu.


"Ah, ayah. Apa kabarnya? Aku merindukan sosoknya yang begitu keras, aku pikir dia tak pernah peduli padaku. Ada benarnya juga dia bersikap keras kepadaku selama ini, mungkin dia mempersiapkan aku untuk hal ini" ujar Tari semakin berkaca-kaca matanya.


"Ayah sekarang ada di Indonesia, kita akan bertemu dengannya lagi nanti" jawab Angga terharu.


"Tidak, aku malu bertemu dengannya nanti. Apa yang harus aku katakan kepadanya nanti, jika ayah mengetahui hidupku hancur seperti ini" ujar Tari dan akhirnya menangis juga.


"Kata siapa hidup kamu sudah hancur? Kegagalan rumah tangga bukan suatu hal yang buruk apalagi jika pasanganmu memperlakukan kamu dengan buruk.


Lebih baik berpisah daripada saling melukai, ayahmu tetaplah seorang ayah. Dia tidak pernah membencimu, bahkan setiap saat dia selalu menanyakan kabarmu.


Ingat, ayah adalah orang yang pertama melindungi anak-anaknya. Dan dia takkan pernah melepaskan anaknya meskipun jarak mereka terpisah jauh" ujar bi Marni mencoba menenangkannya.


"Terima kasih Bi, Angga. Aku senang masih memiliki keluarga seperti kalian, karena saat seperti ini aku tidak sendirian" ucap Tari.


Mereka saling menguatkan satu sama lain, keluarga selalu yang pertama untuk dirimu. Karena kita tak pernah sendirian.


Sementara itu, Daniel yang tersekap didalam gudang mulai sadar dari pingsannya. Dia menyadari jika rencananya gagal, berusaha melepaskan diri dari ikatannya tetapi gagal.


Angga mengikatnya dengan kencang dan kuat, bahkan bi Marni juga mengikatnya dengan kekuatan supranatural juga, jika dia berusaha kabur menggunakan kekuatan 'lainnya' setidaknya sudah terkunci oleh bi Marni.


......................


Bersambung