RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kembali Ke Rumah


Lantas apakah peperangan ini telah berakhir? Tentu saja tidak, tugas Maura malah semakin banyak karena dia tahu kalau musuhnya masih banyak, termasuk dari keluarga ayahnya sendiri.


Dan ini merupakan tantangan baginya, ketika ayahnya saja tak sanggup melawan keluarganya, apakah dia akan sanggup melawan mereka? Apakah ayahnya mau membantunya atau malah menentangnya?


Dan disinilah mereka kembali lagi, ketempat asal mereka menghilang. Di gedung mewah yang akan di jadikan rumah sakit atau kantor cabang baru buat persekutuan para penyihir yang baru, gedung yang dibangun oleh Marino de Paquillo.


Tapi sekarang gedung ini sudah tak berguna lagi, para sekte di wilayah itu sudah bubar dan pemimpinnya sudah tewas. Sekarang gedung itu menjadi gedung angker, dijadikan tempat tinggal para makhluk tak kasat mata.


"Aneh, saat kita pergi bukankah ruangan ini begitu berantakan dan banyak bekas darah-darah berceceran? Sekarang bukan hanya bekas darah, debu menempel saja tak ada" ucap Julian merasa aneh.


"Benar, ini terlalu bersih dan rapi" sahut kevin juga.


"Mungkinkah ada yang membereskannya? Siapa? Tidak mungkin kan itu Marino? Dia kan sudah tewas!" ujar Julian lagi.


"Mungkin anak buahnya, manusia yang lain ikut bersekutu dengannya" sahut Ardian ikut berkomentar.


"Tapi siapa? Bukankah sudah tak ada yang tersisa lagi?" sahut Julian penasaran.


"Tidak ada yang tak mungkin, kita tahu perjalanan kita masih panjang. Dan ini baru awalnya, masih banyak pekerjaan kita.


Ingat, persekutuan penyihir, ilmu hitam dan lainnya itu sudah dimulai ribuan bahkan ratus ribuan tahun yang silam.


Tidak akan putus dalam semalam, dan aku yakin Arion Gaharu tak sendirian melakukan semua ini. Ingat, dia memiliki banyak istri dan banyak anak juga.


Mereka semua terlibat, kita harus menemukan mereka. Setelah itu, kita akan tahu sekte-sekte yang mereka pimpin dan akan lebih mudah melakukan misi ini" ujar Ardian menjelaskan semua.


Saat ini mereka berjalan menuju keluar gedung ini, saat mereka pergi hari masih siang dan ketika kembali suasana sudah berubah. Di langit nampak langit memancarkan sinar surya berwarna jingga.


Mereka tidak tahu apakah itu sunset atau sunrise, mereka menuju jalan kedepan parkir mereka melihat ada beberapa makhluk yang bersembunyi dibalik pepohonan di taman hijau itu.


"Mereka kenapa?" tanya Kevin penasaran.


"Tidak usah dihiraukan, mungkin mereka takut kepada kita" jawab Joanna.


"Takut? Gak salah tuh! Yang ada kita yang takut lihat makhluk begituan" jawab Kevin lagi.


"Haha! Lucu kamu, hei kita ini habis darimana emangnya? Kau pikir kita menghilang seharian ini, habis wisata gaib yah?! Heh, kita habis menyaksikan pertarungan live dunia gaib dan hampir mati oleh itu!


Masa sama makhluk begitu udah takut, takutan yang tadi malah" ujar Julian gemas kepada Kevin.


"Hehe! Iya, yah. Maaf masih jetlag soalnya" cengir Kevin menanggapi Julian.


"Jetlag? Kau pikir habis naik pesawat!" ucap Julian.


Maurice dan Joanna saling pandang, gak disangka sifat kedua kekasih mereka memiliki sifat yang hampir sama, slengean dan jarang serius.


"Sabar ya Kak" ucap Maurice ke Joanna.


"Sudah biasa..." sahut Joanna pula.


Sedangkan Maura sedari tadi hanya diam saja, dia terus melamun. Pikirannya masih melayang teringat kejadian tadi, ketika dia harus kehilangan Gerald.


"Hem, pulang saja yah. Aku capek" ucap Maura lesu.


"Ya udah, kita pulang. Guys, kita langsung ke apartemen Maura yah!" ujar Ardian memberikan arahan kepada teman-temannya.


Semuanya mengangguk setuju, Ardian bagaikan pemimpin kelompok semua temannya mendengarkan setiap perkataannya. Jika Julian, Joanna dan Rosario setuju itu sudah sepatutnya karena mereka memang bekerja dengannya.


Tapi Kalau Maurice dan Kevin mau mengikuti arahannya karena dianggap Ardian pantas dan cocok dijadikan pemimpin mereka, karena bagaimanapun juga mereka butuh pemimpin yang berpengalaman dalam bidang ini.


Setelah sampai di apartemen, mereka sudah disambut oleh bi Marni, Tari juga Angga dan Dhania. Tangis haru menyelimuti mereka, tak ada yang mengira kalau mereka harus menghadapi dan mengalami hal-hal yang begitu ajaib dan luar biasa di dimensi gaib itu.


"Syukurlah kalian bisa selamat, Bibi tidak pernah berpikir jika kalian akan tersedot juga ke alam itu. Seharusnya kita sudah mengantisipasi soal itu, maafkan Bibi ya anak-anak" ucap bi Marni terlihat menyesali itu.


"Tidak, Bi. Bibi tak salah, lagian siapa yang bakal mengira akan ikut juga ke sana. Kalau dari awal bakalan tahu seperti ini, mungkin kita punya rencana yang lain, kan!" ucap Julian menenangkan bi Marni.


"Betul, Bi. Yang penting kami semua kembali dengan selamat dan sehat, lihat kami juga punya cindera mata buat Bibi dan lainnya" ucap Kevin juga sambil memperlihatkan beberapa batu permata didalam kantong kain berwarna merah.


"Dasar bocah nakal! Kalian tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan hak kalian, apalagi mengambil tanpa izin!" kata bi Marni kesal kepada Kevin sambil memukuli anak itu.


"Ampun, Bi. Ampun! Kevin gak nyuri, ini dikasih!" ujar Kevin terus mengaduh, dia ditertawakan oleh Julian dan lainnya.


"Emang betul? Oleh siapa?" tanya bi Marni dan berhenti memukuli Kevin.


"Betul, Bi. Ini dikasih langsung oleh Yang Mulia Ratu Kenanga Ungu sebagai ucapan terima kasih dan tanda persahabatan kita" ucap Joanna membenarkan.


"Benar, Bi. Semuanya kebagian kok, termasuk Kak Dhaniel juga. Btw, kemana dia? Kok gak keliatan?" tanya Maura heran.


"Dia sudah pergi, jangan tanyakan soal dia lagi!" jawab Tari ketus.


"Ish, kenapa dia?! Ngomel terus!" ujar Maura kesal dengan sikap kakaknya yang selalu terlihat dingin itu.


"Sudah, sudah. Nanti saja kita bahas lagi, ok?! Adik-adik pasti pada laper dan capek kan? Yuk makan dulu, habis itu langsung istirahat" ucap Dhania menengahi, karena dia tahu apa yang terjadi dan tak ingin lagi membuat luka baru untuk keluarga itu.


Semuanya nampak kelelahan, perjalanan mereka dari dunia manusia ke dunia gaib itu melelahkan ditambah lagi ada pertarungan dan suport jantung terus-menerus membuat mereka semua kelelahan, apalagi mereka juga harus pulang pergi begitu, benar-benar menguras energi sekali.


Untungnya Ratu Kenanga Ungu memberikan batu permata itu kepada mereka, setidaknya batu itu bisa memberikan energi yang lebih untuk mereka agar bisa bertahan lebih lama lagi.


Batu itu ada 12 buah, semuanya kebagian termasuk untuk Daniel dan Gerald. Anggap saja Ratu tak tahu pengkhianatan Daniel, tapi Gerald? Bukankah mereka semua tahu kalau Gerald sudah tiada?


"Aku berikan batu ini kepada kalian sebagai hadiah, manfaatkan sebaik mungkin untuk hal-hal yang positif dan yang baik-baik saja. Jangan jadikan ini jimat atau batu bertuah lainnya.


Karena aku tak ingin kalian semua menjadi musrik oleh itu, anggap saja ini sovenir karena telah berkunjung ke kerajaan kami" ucap Sang Ratu pada saat itu.


Mereka mendapatkan batu itu sesuai dengan warna kepribadian masing-masing, dan memiliki kekuatan sesuai takaran masing-masing pula.


Kini mereka semua sudah membentuk kawanan baru untuk menumpas para penyihir sampai ke pelosok negeri.


......................


Bersambung