RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Reinkarnasinya Gerald


Maura menoleh kearah sampingnya dan benar saja Dewi Srikandi sudah ada disampingnya, Dewi tersenyum melihat kearahnya dan memberi isyarat untuk mengikuti kyai itu.


Diam-diam Maura mengikuti Kyai itu atas saran Dewi Srikandi, pak Kyai naik mobil yang datang menjemputnya diujung gang rumah itu. Cepat-cepat Maura menyetop ojek yang baru lewat dan menawarinya tumpangan.


"Ikuti mobil didepan ya, Pak!" pinta Maura kepada kang ojek.


Motor itu selap-selip menyalip mobil dan motor lainnya mengejar mobil didepannya yang melaju lumayan cepat itu, daerah mereka bukanlah daerah sibuk dan macet, jadi tidak ada kesibukan atau kemacetan seperti di kota besar lainnya.


"Kemana mobil tadi? Kok cepet banget jalannya?!" tanya Maura heran.


"Mau kemana lagi, Dek?! Ini udah gak ada jalan lagi, didepan sana hutan dan perkebunan warga. Dan diarah sananya lagi ada pondok pesantren sekaligus padepokan silat gitu..


Kamu mau kemana, mau nyantri atau mau ngebun? Buruan, ini udah mau magrib nih?!" ucap kang ojek gak sabaran.


"Hem, gak mungkin juga pak Kyai masuk hutan apalagi pergi ke kebun, kan udah mau malam begini" gumamnya dalam hati.


"Coba ke pesantren aja, Pak" ucap Maura cepat sebelum kang ojek berubah pikiran.


"Pegangan ya, Dek! Mau ngebut dikit, ini udah masuk magrib udah kedengaran suara azan dari arah pesantren itu" ucap kang ojek.


Maura manut aja, dia juga tak ingin berlama-lama diluar saat senja hari. Takut banyak makhluk astral keluar pada jam segitu, apalagi dia juga sempat melihat sekelebat bayangan melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, disamping mereka berhenti.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah pemukiman pesantren yang lumayan luas dan lebar itu, sangat asri sekali karena dibangun di atas bukit dan ditengah-tengah hutan, jauh dari hiruk pikuk kebisingan dan kesibukan ibukota.


Saat dia menuju pesantren itu dia disuguhi pemandangan yang indah sepanjang jalan menuju pintu gerbangnya, meskipun langit sudah mulai gelap, dia masih melihat beberapa taman bunga-bunga yang berada disisi kiri dan kanan jalan menuju pintu gerbang pesantren itu.


Krieett!


Pintu besar itu terbuka secara otomatis, dan tak sengaja Maura melihat kamera Cctv dan sensor disamping ruang pos jaga security. Mungkin pintu gerbang itu terbuka karena ada sensor yang mengenali benda asing didepannya dan langsung terbuka untuk menghindari tabrakan didepan.


"Kok tau kalau pintu gerbangnya bisa buka sendiri, Pak?!" tanya Maura penasaran.


"Saya sudah sering nganter santri atau keluarga dan pengurus disini, jadi sudah hafal. Ini pesantren terkenal loh di daerah sini bahkan seluruh daerah negeri ini tahu pesantren ini.


Katanya banyak juga santri dari luar daerah yang nyantri disini, termasuk yang ada diluar negeri juga. Bahkan baru aja kemaren saya bersama beberapa teman ojek nganterin anak-anak muda yang mau nyantri disini, ada bule nya lagi. Cantik!" ucap kang ojek nyengir.


Maura tak menanggapi ucapan kang ojek dia hanya ha ho ha ho saja, setelah berkeliling cukup lama mereka berhenti didepan masjid yang sangat besar, dan terlihat ada beberapa santri lelaki berlari mengejar waktu sholat berjamaah di masjid agar tak ketinggalan.


"Dek, kita sholat dulu yah disini. Udah waktunya" ucap kang ojek.


"Iya, Pak!" jawab Maura.


Kang ojek markirin motornya tak terlalu jauh dari masjid dan langsung menuju tempat berwudhu, Maura juga melakukan hal yang sama.


Ada beberapa makmum santriwati dan beberapa pengurus juga ustadzah yang terlihat heran dan mungkin aneh melihat seseorang yang asing bagi mereka ikutan sholat di sana.


Bukannya marah ataupun tidak terima, hanya saja masjid itu diutamakan untuk para penghuni pesantren yang ada di sana, bahkan tempat mereka sangat jauh dari pemukiman warga, makanya tak mungkin kalau ada warga iseng atau sekedar mampir saja.


"Siapa dia?"


"Mungkin santriwati baru"


"Oh iya, aku juga dengar ada santri baru yang masuk"


Itulah kira-kira obrolan mereka sebelum waktunya sholat berjamaah, setelah sholat selesai Maura buru-buru keluar dan menemui kang ojek, dan Maura melihat kang ojek tadi sedang mengobrol dengan pak Kyai didepan pelataran masjid, mereka nampak begitu akrab.


"Dek, sini!" ujar kang ojek melambaikan tangannya.


Maura menghampirinya ragu-ragu, sejenak dia menjadi pusat perhatian karena tak menutup auratnya dengan benar, rambut panjangnya dengan wajah mungil nan cantik itu membuat beberapa santri pria tak berhenti mengaguminya.


"Ehem! Jaga pandangan!" ucap salah satu kakak pembina santri pria itu.


Semuanya langsung membubarkan diri, sementara itu Maura tak sengaja bertatapan dengan pembina santri itu, masih terlihat muda dan tampan, ada ketegasan dibalik wajah tampan itu sangat cocok dijadikan pemimpin.


Lelaki itu berlalu meninggalkan mereka yang masih ada di sana, pak Kyai tersenyum melihat Maura dengan wajah ramah dan teduh itu seolah memang menunggunya.


"Tidak saya sangka, nak Maura langsung mau datang kesini! Kenapa tidak bareng saja tadi sama Bapak?" tanya pak Kyai ramah.


"Em, niatnya tadi saya mau liat aja Pak!" ucap Maura sungkan dan malu.


"Oh, gak apa kok. Tapi ini sudah malam loh, mau balik lagi diantar sama si Supri? Kalau menurut Bapak sih, menginap disini aja malam ini.." ucap pak Kyai lagi.


"Boleh ya, Pak?" tanya Maura ragu.


"Boleh kok, sebentar yah. Bu, bu!" teriak pak Kyai memanggil seorang ibu-ibu yang baru lewat.


"Iya, Pak. Kenapa?" tanya ibu itu dengan sopannya.


"perkenalkan ini Maura, dia ini anak angkatnya bu Nela karena ngekost di rumahnya. Sekarang rumah itu dalam renovasi, tolong bantu dia untuk sementara menginap disini" ucap pak Kyai.


"Saya sedang kuliah, Bu.. Takut gak bisa bagi waktu antara kuliah dan belajar disini, lagian.. Tak ada uangnya, hehe!" ujar Maura merendah.


"Oh, masalah itu mah gampang. Kamu bisa ikut belajar gratis setiap Sabtu dan Minggu aja!" sahut si ibu bersemangat.


"Em, iya bu. Nanti saya coba pikirkan lagi.." sahut Maura sungkan.


"Tak perlu sungkan disini, Maura.." ucap pak Kyai.


"Iya, pak kyai" sahut Maura lagi.


Setelah membayar ongkosnya ke kang ojek dia langsung ikut Ibu itu tadi, untung saja didalam saku celana jeansnya masih ada beberapa uang yang tersimpan di sana.


"Nak, Maura tidur aja dikamar sini malam ini yah.. Masih ada satu ranjang yang kosong, tiganya lagi sudah ada penghuninya, sebelum tidur mandi dulu dan ikut kita makan malam bersama yah.." ucap ibu itu ramah dan baik.


"Hm, para santri yang lain kemana Bu?" tanyanya penasaran.


"Oh, biasanya jam segini mereka sedang berkumpul di aula sambil melafalkan beberapa ayat al qur'an sebelum menunggu sholat isya berjamaah dan dilanjutkan makan malam bersama" jawab ibu itu dengan sabar.


"Ooh.." sahut Maura sambil manggut-manggut.


"Nak Maura jika mau, boleh ikutan pencak silat di padepokan sana. Masih milik pesantren ini, dan pak Kyai Mustafa langsung yang memimpin.." ucap ibu itu lagi.


"Pak Kyai Mustofa?" tanyanya bingung dengan nama asing itu.


"Itu nama Kyai yang berbicara denganmu tadi, emang kamu belum kenalan yah sama pak Kyai? Hehe.." ucap si ibu sambil bercanda.


"Hehe, iya bu. Tak sempat, baru bertemu hari saya dengan pak Kyai. Beliau sangat ramah dan baik, sampai saya belum sempat menanyakan nama beliau.." ucap Maura malu.


"Oh, gak apa. Kyai memang seperti itu orangnya, tak perlu sungkan dia memang orangnya sangat baik, menolong orang tanpa pamrih dan tak tanggung-tanggung, jika sudah menolong orang sampai tuntas.


Contohnya, ada anak yatim yang beliau sekolah kan, maka anak itu akan di sekolahkan gratis olehnya sampai ke perguruan tinggi. Makanya banyak orang-orang yang dia bantu dan sukses ditangannya, membantunya balik.


Salah satunya pesantren dan padepokan itu, hampir semua biaya dana operasional mereka-mereka yang bantu" ucap ibu itu lagi dengan bangga menceritakan kebaikan pak Kyai dan anak didiknya itu.


"Aduh, keasikan bercerita jadi lupa, hehe.. Ini baju ganti sama hijabnya, kalau disini para ukhti diwajibkan menutup aurat dengan sempurna, tak apakah Maura? Tapi kami juga tak memaksamu juga.." ucap ibu itu.


"Iya, Bu tak apa.. Saya juga muslimah, bukankah itu juga kewajiban saya menutup aurat setelah dewasa? Tapi saya belum siap sepenuhnya, kemungkinan hanya dalam lingkungan ini saja saya memakainya.." ucap Maura sambil menundukkan wajahnya malu.


"Tak apa, semuanya butuh proses. Lebih baik sedikit terlambat daripada tidak sama sekali, belajar dulu sedikit-sedikit nanti lama-lama akan banyak dapat ilmunya, dan kesadaran itu akan datang dengan sendirinya" jawab ibu itu.


Dia meninggalkan Maura di sana sendirian, tidak menunggu waktu lama dia langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Ada dua ranjang yang sedari tadi menarik perhatiannya, ada selimut dan kain yang sangat dia kenal.


"Hem, tidak mungkin. Ini kebetulan saja.." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


Gara-garanya itu dia jadi teringat dengan teman-temannya yang ada di kota tetangga, dia merindukan kebersamaannya dengan Maurice dan Kevin, kekonyolan Julian dan sikap juteknya Joanna. Dan tentu saja si pemilik hati, Ardian..


"Meooong!"


Terdengar suara kucing dari arah kamar itu, Maura keluar dan mencari arah suara itu. Dia melihat kucing sejenis Persia berbulu putih sedang menatapnya diatas pilar bangunan itu.


"Gerald?! Ah, tak mungkin! Lagian Gerald sejenis kucing Anggora, yang itu bukan. Astaghfirullah Maura, apa yang kau pikirkan?! Sadarlah, dia sudah tenang disisi Yang Maha Kuasa.." gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya.


Dia hendak berbalik tiba-tiba terhenti oleh suara kucing itu, suara yang sangat menggemaskan itu membuatnya semakin yakin apa yang dia lihat itu.


"Maura, apa kau tak merindukanku?!" suaranya lebih lembut sedikit dibandingkan suara asli Gerald yang memiliki suara bariton.


"Gerald?!" reflek Maura bertanya sambil menghampirinya.


"Bukan, panggil aku Gerry!" ucap kucing itu sambil melompat kedalam pelukan Maura.


"Haha, sejak kapan namamu menjadi Gerry!" tawa riang Maura sambil mengusap bulu halus itu.


"Disini aku bereinkarnasi, dilahirkan beberapa bulan yang lalu. Mereka memanggilku Gerry, dan ingat aku ini kucing jantan dan berwibawa. Perlakuan aku dengan hormat!" ucap kucing itu dengan keras penuh wibawa.


"Baik, Tuanku. Haha!" goda Maura sambil menguyel-eyel wajah Gerry gemas.


"Hei, perlakuan aku dengan baik!" ucap Gerry gusar.


Jika orang awam melihatnya Maura sedang bermain dengan kucing biasa yang sedari tadi mengeong-ngeong saja, tapi di pendengaran Maura dan orang-orang berkemampuan khusus pasti dapat mendengar jelas suaranya kucing ajaib itu.


......................


Bersambung


Wah senangnya Maura ketemu sahabat kecilnya, akhirnya Gerald bereinkarnasi menjadi Gerry, yuk bantu othor dengan dukunganmu 👍 Bantu like, koment dan kasih gift atau vote juga boleh, makasih yah 🥰🙏