RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Hanya Salah Faham


Maura terbangun dari tidurnya karena terkejut mendengar suara teriakan dari arah luar kamarnya, dia melihat teman-teman kamarnya keluar untuk melihat apa yang terjadi diluar sana.


"Ada apa?!" terdengar suara Nur bertanya diluar kamar itu.


Maura ikut keluar dan melihat Hesti sedang menangis terduduk didepan kamarnya, Nur memberinya air minum untuk menenangkan dirinya, setelah tenang Hesti pun mulai bercerita.


"Tadi aku bangun untuk sholat malam, dan aku liat teman-teman kamarku sudah tak ada ditempat tidurnya, aku pikir mereka pergi ke mushola untuk sholat tahajud di sana.


Aku melihat salah satu teman kamarku ada yang sholat didalam kamar, dan aku mau mengambil air wudhu kedalam kamar mandi yang ada di kamar, aku pikir ada orang didalam karena mendengar suara air yang mengalir dari kran.


Setelah cukup lama, suara itu berhenti dan pintu kamar mandi terbuka setengah tapi tak ada yang keluar, ketika aku mencoba membuka pintu kamar mandi itu, kosong! Tak ada orang.


Aku mendengar suara dari belakang, aku pikir temanku sudah selesai sholatnya dan aku ingin mengatakan keanehan itu, tapi.. Yang ada di belakangku malah pocong!


Aku takut, Nur! Semua temanku tak ada di kamar, aku gak tauu!" ujar Hesti sambil menangis.


Semua orang terlihat bingung dengan ucapan Hesti, mau tidak percaya tapi anak itu terlihat sangat terguncang sekali. Dan tidak lama kemudian, tiga orang teman kamarnya datang dari arah musholla didepan kamar asrama mereka.


"Dari mana saja kalian?! Kenapa meninggalkan Hesti sendirian didalam kamar?!" tanya Nur terlihat marah.


"Kami semua baru selesai sholat tahajud bersama di Musholla, Hesti sudah kami bangunkan, tapi dia tak mau bangun juga. Kami pikir dia tak ingin sholat tahajud di Musholla.


Maka kami biarkan dia tidur sebentar lagi dan mengiranya sholat tahajud didalam kamar, soalnya ketika aku hendak masuk kamar aku melihat Hesti lagi sholat, Nur!" jawab salah satu teman kamar Hesti.


"Gak, aku belum sholat malah! Aku dikejutkan oleh sosok yang mirip denganmu yang lagi sholat dan ternyata itu--" dia ingin melanjutkan kata-katanya tapi dicegah oleh Nur.


"Sst, jangan!" ucap Nur sambil menggelengkan kepalanya.


Hesti terdiam sambil menundukkan wajahnya, terlihat dari wajahnya betapa dia sangat syok dengan kejadian yang menimpanya.


"Ya sudah, kalian kembali ke kamar kalian sana. Dan Hesti, mending kamu ambil air wudhu dan sholat, tenangkan diri kamu" ucap Nur lembut, sikapnya nampak berbeda dari biasanya yang jutek.


Semuanya kembali kedalam kamar masing-masing, waktu subuh dua jam lagi masih ada waktu sedikit untuk mereka beristirahat, tapi tak ada yang bisa tidur didalam kamar itu, mengingat cerita Hesti tadi.


"Apa mungkin asrama kita ini ada hantunya?" tanya Lita penasaran.


"Hus! Hati-hati kalau bicara, mana ada begitu, ini tempat anak-anak belajar ilmu agama segala jin, setan atau apalah namanya itu gak ada!" sahut Nur.


"Tapi kejadian Hesti tadi.." Lita ingin melanjutkan kata-katanya tapi terhenti saat melihat ekspresi Nur yang begitu dingin.


"Aku yakin dia berhalusinasi, mungkin masih mengantuk jadi penglihatannya masih belum jelas benar, kata orang hawanya belum ngumpul benar tapi sudah melihat atau mendengar yang bukan-bukan.


Sudahlah, gak usah dipikirin lagi. Kita harus yakin jika manusia itu derajatnya lebih tinggi dari jin maupun sejenisnya, jadi gak usah takut, yang takut itu seharusnya mereka.


Ya udah, aku mau mandi dulu. Mau belajar murotal, setelah itu mau bangunin anak santriwati yang lain untuk sholat subuh berjamaah" ujarnya sambil mengambil peralatan mandinya.


"Dasar gak punya perasaan" gumam Maurice, dan terdengar juga oleh Maura maupun Lita.


"Bukan tak punya perasaan, itu sudah jadi tanggung jawabnya untuk membuat para santriwati di pesantren ini merasa nyaman tinggal di asrama ini.


Aku yakin dia juga merasa gelisah, tapi kita harus hargai kerja kerasnya untuk tetap menjaga kedisiplinan para santriwati lainnya. Sebenarnya dia gadis yang baik dan ramah.." sahut Lita.


Maurice hanya mengangkat bahunya tak mengerti setelah itu dia mulai membereskan tempat tidurnya yang masih berantakan tadi diikuti oleh Maura dan Lita juga, mereka hanya diam saja tapi didalam pikiran mereka, begitu banyak pertanyaan tentang kejadian barusan itu.


Sholat subuh sudah selesai, mereka mulai dengan aktivitasnya masing-masing. Maura pamit mau balik lagi ke kostnya untuk mengambil beberapa barang-barangnya yang masih tertinggal di sana.


"Mau aku temani, Maura?" tanya Maurice.


"Gak usah, lagian kamu udah jadi santri disini, belajarlah dengan rajin, lagian tak mudah minta izin keluar dari sini. Apa kau lupa dengan wajah seramnya Nur, haha!" ledek Maura.


"Iya yah, haha.. Aku hampir melupakan dirinya" sahut Maurice.


Maura pamit pulang, Gerry minta pulang bersama Maura. Meskipun sulit tapi Maurice merelakannya, bagaimanapun juga dia tahu siapa itu Gerry.


"Kenapa kau tak tinggal di pesantren saja? Tinggal bersama mereka" tanya Gerry kepadanya.


"Aku ingin, tapi aku takut. Bukan takut karena apa, tapi aku takut kehadiranku di sana hanya menyebabkan marabahaya bagi teman-teman di sana.


Kau liat semalam Hesti dapat gangguan, aku yakin salah satu penyebabnya adalah aku. Kau tau sendiri Gerry, kemanapun aku pergi akan banyak gangguan datang menghampiri" ucap Maura sambil merenung.


"Aku tau, Maura. Tak mudah menjadi dirimu, ada bagusnya juga teman-temanmu sekarang berada didalam pesantren ini, mereka akan terlindungi dari bahaya diluar sana, baik itu dari manusia jahat ataupun jin laknat lainnya" ucap Gerry.


"Maura? Maura kan?" tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya dari belakang.


Maura sedikit terkejut ada Rizal di sana, dia datang bersama beberapa santri dibelakangnya.


"Mau kemana pagi-pagi begini?" tanyanya ramah.


"Aku mau pulang, mau memindahkan barang-barangku.." jawab Maura ramah.


"Mau pindah ke pesantren ini kan? Mau kami bantu? Kebetulan kami semua mau berangkat ke pasar, ada yang ingin kami beli. Pulangnya kita bisa mampir ke kost kamu buat bantu angkat barang-barangnya" ucap Rizal ramah.


"Gak usah, ngerepotin-" ucap Maura, dan langsung disambung oleh Rizal lagi.


"Gak kok, kita bawa mobil pick up. Ini lagi nungguin mobilnya datang" sambungnya lagi.


"Tapi--" dia ingin menjawab Rizal, tau-tau Ardian datang dengan sok cool nya.


"Dia tidak mau, jangan dipaksa" sahut Ardian.


"Tidak kok, aku hanya menawari bantuan" ucap Rizal, terlihat dari wajahnya tak suka kepada Ardian.


"Maura, mau pulang kan? Ayo bareng aku, aku bawa motor sendiri" ucap Ardian sambil menunjukkan motor sportnya itu.


"Tidak boleh! Santri dan santriwati tidak boleh berjalan berduaan, apalagi naik motor seperti itu" ucap Rizal tak suka.


"Kami bukan santri dan santriwati di pesantren ini, Maura hanya menginap semalam saja disini karena habis bertamu dengan pak Kyai.


Sedangkan aku? Aku hanya murid di padepokan itu, bukan murid tetap juga. Aku punya tempat tinggal sendiri" jawab Ardian dingin.


"Tapi tetap saja.." Rizal terus ingin berargumen, tapi dicuekin oleh Ardian.


Ardian menarik tangan Maura didepan para santri itu, dan memintanya naik keatas motornya. Mau gak mau Maura mengikuti keinginan Ardian, dengan tetap menjaga jaraknya.


Rizal menatap mereka yang berlalu melewatinya dengan tatapan tak suka dan seperti sedang menahan sesuatu.


Setelah cukup jauh jarak mereka dari pesantren dan padepokan itu, Ardian menarik kedua tangan Maura yang dibelakang kearah pinggangnya.


"Pegangan, aku mau ngebutan dikit biar cepet sampainya. Ini masih sangat pagi, hawa cukup dingin diluar sini" ucap Ardian cuek.


Bukan hanya hawa dingin menerpa Maura diatas motor Ardian itu, tapi sikap Ardian yang dingin itu membuatnya bingung dan kikuk.


"Iyaa" jawabnya pelan.


Entah bagaimana caranya Ardian tahu tempat kostan Maura, dia tanpa dikasih tau sudah tau tempat kostan Maura yang dulu. Awalnya Muara tak sadar, tapi ketika Ardian berhenti didepan kostan nya baru dia ngeh soal itu.


"Sudah sampai.." ucap Ardian membuyarkan lamunannya.


"Sudah sampai? Cepet banget, kok tau tempat kostku?" tanya Maura penasaran.


"Gak penting!" sahut Ardian.


Setelah Maura turun, dia langsung meluncur pergi begitu saja. Sangat berbeda dengan Ardian yang dia kenal.


"Dia kenapa sih? Aneh banget, sejak malam sikapnya kayak gitu!" gerutu Maura.


Dia juga dongkol dengan Ardian yang tak menjawab pertanyaannya tadi, jika dia tahu tempat tinggalnya, kenapa tak berusaha menemuinya? Kalau begitu Ardian dan teman-temannya pasti sudah lama pindahnya dari kota itu.


Sejak kapan? apa satu bulan yang lalu, dua bulan yang lalu? Atau jangan-jangan mereka pindah pada hari itu juga saat dia memutuskan meninggalkan kota kelahirannya itu.


Saat dia sibuk melamun dan memikirkan berbagai pertanyaan di kepalanya itu, dia tak sadar dirinya sudah di lantai atas rumah itu, dan..


Bruk!


Terdengar suara benda jatuh dari arah kamar mbak Shelly. Deg! Maura baru ngeh kalau di rumah itu sepi, tidak ada orang. Tapi, siapa yang menyalakan lampu-lampu ini? Oh, mungkin tetangga samping rumah. Tapi rumah ini tak dikunci? Oh, mungkin lupa.


"Hiks, hiks! Hiks.." terdengar suara tangis dari arah kamar lain.


"Astaghfirullah, apalagi ini!" gumamnya gugup.


Pelan-pelan dia membuka pintu bekas kamar Ranti, dia melihat sosok wanita berambut panjang menjuntai kebawah duduk di samping kasur itu, duduk membelakanginya Maura.


Pelan-pelan dia sosok itu menoleh kearah Maura, seketika wajah Maura pucat pasi dan rasanya mual ingin muntah melihat sosok itu.


Brak!


Brak!


Brak!


"Maura! Maura buka pintunya! Maura!" teriak Ardian diluar rumah itu, dia terlihat panik dan ketakutan sekali.


Dia mencoba membuka pintu rumah itu tapi sangat susah sekali, seperti ada sesuatu yang menahannya dari dalam.


......................


Bersambung