RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Takluknya sang Penyihir


Saat ini Maura aka Dewi Srikandi sedang berhadapan dengan Arion Gaharu, tak ada satupun yang berani mendekati mereka ataupun bisa mendekati mereka. Perisai buatan Dewi Srikandi sangat kuat membentengi mereka.


"Sekarang kau mau apa, anak kecil?! Hanya sedikit kekuatan kau sudah berlagak sombong! Bagiku, kekuatanmu itu bukan apa-apa" ujar Arion Gaharu angkuh.


Dewi Srikandi tak menanggapinya, dia hanya menatap penyihir iblis itu dengan tatapan tajam penuh arti, tiba-tiba dia mengucapkan sebuah kata-kata yang hanya Arion Gaharu yang tahu.


Ayik kulu ayik kilie


Berayak sampai petang


Jangan kaba cacak macak


Awak masih dibawa yang maha kuase


Jangan besakka dade ame masih bejalan nunduk


Tubatlah jangan sampai yang kuase murke


Mendengarkan kata-kata sang Dewi, membuat Arion Gaharu tergelak. Dia meremehkan kata-katanya.


"Jangan sok tahu anak kecil! Jangan coba-coba mengajariku tentang kehidupan ini! Aku lebih tua darimu, umurku tak pernah putus!" jawab Arion Gaharu dengan lantang.


Seandainya dia tahu dibalik kata-katanya ada mantra yang menyelimuti setiap kata-kata itu, itu bukan sekedar nasehat tapi hukuman baginya.


"Hoeekk!"


Arion Gaharu tiba-tiba memuntahkan darahnya, darah hitam kental membusuk. Dia nampak terkejut sekali, bagaimana bisa dia tak bisa mendeteksi ada mantra atau serangan menuju kearahnya.


"Apa yang kau lakukan?! Hoek! berani-beraninya kau memantraiku, anak kecil! Hoek!" dia terus-terusan memuntahkan cairan darah hitam busuk itu.


Lama kelamaan tubuhnya mulai menyusut menjadi sangat kecil seperti goblin kecil hijau, tongkatnya terlepas karena tak sanggup dia bawa.


Tongkat tengkorak itu begitu besar sebesar betis manusia biasa, di pegang oleh makhluk kecil itu tentu saja takkan sanggup dia bawa. Seiring menyusutnya tubuhnya, begitu juga kekuatannya semakin menipis. Saat dia memuntahkan hampir seluruh isi perutnya, maka dia juga memuntahkan kekuatannya.


Tongkatnya terlepas, pakaian dan jubah kebesarannya terlepas. Terlihatlah makhluk mungil menggemaskan, tapi jangan salah meskipun tubuhnya mengecil dan kekuatannya berkurang bukan berarti dia tidak berbahaya lagi.


Justru dia semakin liar dan mengamuk, bagaikan anak monyet berlari kesana-kemari mencoba menyerang para kawanan dan makhluk lainnya, tapi untungnya perisai kubah cukup kuat menahan serangannya.


Dewi Srikandi menghampiri makhluk liar itu, dia menarik tubuhnya seperti menjinjing mainan. Dia menatap makhluk itu sehingga membuat mahkluk itu ketakutan dan terdiam.


Tapi siapa tahu, makhluk kecil itu malah menyerangnya. Menyabet wajah cantik Dewi Srikandi dengan kuku-kuku tajamnya.


"Dewi!" spontan sang Raja Balaputradewa menyebutkan namanya.


"Jangan kanda, dia hanya mahkluk lemah sekarang. Jangan buang-buang tenaga untuk melukainya, semesta pun pasti tak mengizinkan.


Mari kita kurung dia kedalam penjara mu, biarkan dia rasakan dulu hukumannya sebelum jiwanya terbawa kedalam neraka jahanam.


Lagian, masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Dan dia satu-satunya kunci dari jawaban itu" ucap Dewi Srikandi bijak.


"Baik, Dinda. Jika itu maumu akan aku laksanakan, tapi apakah kau akan kembali kepadaku sekarang?" tanya Balaputradewa terlihat sendu menatap kekasihnya itu.


"Suatu hari nanti kita akan bersatu kembali, tapi tidak sekarang. Aku harus menemani Maura dan menjalankan misi selanjutnya, seperti kataku tadi Masih banyak misteri yang belum terpecahkan.


Keluarga ayah Maura, mereka semua anak keturunan Arion Gaharu. Sekte itu masih berjalan, kita harus menumpasnya.


Mari tolong aku, bantu Maura dan teman-temannya memecahkan misteri selanjutnya" pinta sang Dewi dengan lembutnya.


"Jika itu demi kebaikan dan kepentingan umat manusia, demi keturunanku juga. Aku bersedia, Dewiku" ucap sang Raja tak bisa menolak keinginan sang Dewi.


Seperti yang kita tahu, Maura dan kakak-kakaknya merupakan anak dari Irwan Hartawijaya yang notabene masih keturunan para penyihir dibawah pimpinan Arion Gaharu, meskipun ayahnya Maura menolak ikut serta dalam sekte itu.


Sedangkan ibunya, Laura Magdalena. Merupakan keturunan Kesultanan Sriwijaya dari anak cucu Ratu Kenanga Ungu, yang masih memiliki darah yang sama seperti Raja Balaputradewa, yang merupakan saudara kandung Ratu Kenanga Ungu.


Antara darah suci dan darah hitam menyatu ditubuh Maura dan saudara-saudaranya, hingga mereka harus menerima kutukan seumur hidupnya. Yaitu harus menerima kelebihan yang mereka miliki, indra keenam. Kecuali Angga, dan sekarang dia memilikinya juga.


"Baiklah, aku akan membawa semua tahanan ini ke Kerajaanku. Mereka takkan bisa melawan ataupun mencoba kabur, karena Kerajaanku memiliki perisai sama kuatnya milikmu" ucap sang Raja.


"Tentu saja, karena kita memiliki guru yang sama" ucap sang Dewi pelan sambil menatap panglima Arialoka dari kejauhan.


"Aku tahu itu, kita bertiga bersahabat. Dan memiliki guru yang hebat, salah satu panglima terkuat di Kerajaan pada masanya. Dan dia ayahnya" ujar sang Raja sambil mengarahkan pandangannya ke panglima Arialoka juga.


"Kanda, bagiku kita tetap sama seperti dulu. Aku kekasihmu dan dia sahabatmu, jangan pernah berubah. Dan perasaanku pun tak pernah berubah padamu, dan dia hanya sahabat bagiku juga" ucap sang Dewi mengerti maksud dari perkataan sang Raja.


"Aku percaya kepadamu" ucap Raja pelan dan memegang lembut tangan sang Dewi.


Raja dan Ratu dari Kerajaan Bayangan membawa semua tahanan perang ke istana itu, mereka sebelum dilepaskan menuju neraka abadi, mereka harus diintrogasi mengenai perkembangan sekte yang dipimpin oleh Arion Gaharu.


Sedangkan Dewi Srikandi, Panglima Arialoka beserta Rosario membawa semua kawanan ke dimensi manusia. Ketempat awal mereka sebelum pergi.


......................


Bersambung