RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Persembunyian Maura


Dewi Srikandi membawa Maura ketempat yang cukup jauh dari rumah neneknya itu, dia membawa Maura kedalam hutan yang terletak tidak jauh dari desa tempat tinggal nenek Dawiyah.


"Beristirahatlah disini sebentar, kau harus memulihkan energimu!" ujar Maura kepada Dewi Srikandi.


"Aku harus menghubungi Nala, agar dia bisa menolongmu dan membawakanmu barang-barang milikmu yang tertinggal didalam" sahut Dewi Srikandi.


"Buat apa, nanti kau ketahuan! Kau tahu kan rumah itu memiliki energi gaib yang cukup besar, sehingga semua makhluk alam lain tidak bisa masuk sembarangan.


Apalagi auramu itu sangat berbeda dengan makhluk lain, kau akan tertangkap nantinya, dan energimu juga sedang menipis saat ini" ujar Maura menghalangi Dewi Srikandi untuk pergi.


"Tapi, kamu--" sahut Dewi Srikandi tidak bisa berkata apapun lagi.


"Kau lupa kita sekarang ini berada dijaman apa? Ini dijaman dimana teknologi sangat berdominan dalam hal apapun termasuk untuk berkomunikasi" ujar Maura sambil tersenyum.


"Kau lihat ini apa namanya? Ini adalah gawai pintar yang biasa kami sebut Handphone alias telpon genggam, lebih gampang lagi nyebutnya Hp atau ponsel.


Memakai ini memudahkan kami dalam segala hal, termasuk berkomunikasi, belanja, pesan makanan, pesan kendaraan, atau lainnya. Hebat kan?" ujar Maura sambil memperlihatkan ponselnya didalam saku bajunya itu.


"Waah, keren sekali. Hanya satu benda bisa melakukan apapun! Di jamanku dulu, jika ingin menghubungi orang yang sangat jauh harus mengirimkan surat dari pelepah kulit kayu, dan mengikatnya dengan kaki burung dara" ujar Dewi Srikandi kagum memperhatikan ponsel Maura.


"Ya sudah aku menelpon Nala dulu" kata Maura sambil merebut ponselnya ditangan Dewi Srikandi.


"Nala, ini aku..." dia menghubungiku Nala dan mengutarakan keinginannya.


Berselang beberapa saat kemudian, Nala datang bersama Nayla. Saat melihat Maura keduanya langsung berhambur kedalam pelukan Maura dengan kencangnya.


"Apa yang kalian lakukan?! Uhuk! Lepaskan aku tak bisa bernafas!" ujar Maura kesal.


"Huhu.. Maafkan aku, aku terpaksa meninggalkanmu sendirian" ujar Nala sambil terisak menangis.


"Maura, terima kasih..." ucap Nayla sambil berkaca-kaca.


"Sudah, sudah! Jangan seperti itu, nanti aku bisa besar kepala. Hehe! Btw, kau sudah membawa barang-barang yang aku minta kan?" tanya Maura kepada Nala.


"Tentu saja, apa kau tak melihat koper yang ada di sampingmu itu? Itu adalah semua barang-barang yang kau minta" ujar Nala lagi.


Maura memriksa isi dalam koper itu, ada beberapa berkas penting lainnya, beberapa lembar pakaiannya, termasuk dompet, uangnya, laptop dan juga sepatu dan tas mahal Maura.


"Banyak banget, aku kan tadi bilang ambilkan aku dompet dan uangku saja. Yang lain ditinggal juga tak apa, nanti kalau semuanya hilang bisa membuat mereka curiga.." ujar Maura terlihat khawatir.


"Tidak usah panik, sebelum kamu menghubungiku.. Isi kamarmu itu sudah diacak-acak sama yang lainnya, mereka sibuk mencari pakaianmu untuk mereka ambil. Untung saja yang lainnya belum mereka temukan.


Makanya aku bisa menyelamatkan yang ini, kalau tidak semua habis dijarah oleh mereka semua, Apalagi si Shalimar, dia sangat senang memiliki barang-barang mahal dan mewahmu itu" ujar Nala terlihat marah sekali.


"Tentu saja, mereka sudah lama menunggu waktu ini. Mereka mungkin tak sabar ingin memilikinya, tanpa menyadari apa yang terjadi. Tapi, bagaimana bisa kalian bebas keluar dengan membawa koper ini?" tanya Maura heran.


"Semua tetua nampak sibuk mengurus nenek yang terluka parah, entah apa yang membuatnya terluka seperti itu.. Sedangkan lain sibuk menjarah isi kamarmu, aku dan Nayla memanfaatkan momen itu untuk mengelabui mereka.


Kami bilang untuk membuang sebagian barang milikmu agar tidak dicurigai orang lain, kalau semuanya habis mereka ambil nanti jadi bahan omongan orang-orang, dan anehnya mereka percaya.." ujar Nala menjelaskan semuanya.


"Mereka itu bodoh gampang dibohongi, tidak heran kenapa para tetua bisa memanfaatkan mereka begitu saja" sahut Nayla juga.


"Oh, jadi begitu ceritanya.. Aku mengerti sekarang, terima kasih yah sudah membantuku, setidaknya aku bisa berganti pakaian dan tidak kehilangan identitasku begitu saja.


Sekarang kalian boleh pulang, jangan terlalu lama-lama kalian disini nanti mengundang curiga orang-orang itu" kata Maura lagi.


"Tapi, bagaimana denganmu?" kata Nayla dengan raut sedih.


"Aku akan baik-baik saja, percayalah.. Sebentar lagi temanku akan datang, aku sudah aman.. O ya, Nala sesuai janjiku, aku akan mengeluarkan kalian berdua dari rumah itu.


Aku sudah mengirimkan email juga kepada kakakku di AS, mereka akan mengirimkan kalian beasiswa kuliah di sana. Ini adalah salah satu jalan kalian keluar dari rumah terkutuk itu" ucap Maura memberikan pernyataan.


Terlihat Nala dan Nayla sangat senang dengan senyum sumringah mereka itu, sangat senang dan bersyukur sekali dengan bantuan Maura.


Terlihat dari kejauhan Ardian datang dengan motor sportnya, Nala dan Nayla pamit pulang dan memeluk Maura cukup lama sebagai tanda ucapan terima kasih dan sebagai tali persaudaraan mereka itu.


"May..." sapa Ardian dengan pandangan sendu.


Dia nampak begitu khawatir dengan keadaannya, dia tak bisa membayangkan situasi Maura dikala itu, pasti takut, sepi, sendirian dan terluka parah tanpa ada yang menolongnya, itulah ada dipikirannya saat ini.


Dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya, betapa kuat dan beraninya Maura menghadapi semuanya dan bisa memecahkan setiap misteri yang ada.


"Kau kenapa menatapku seperti itu?!" tanya Maura sambil mengerutkan keningnya.


"Tidak, tidak apa-apa.." jawab Ardian, dia menatap koper di samping Maura heran.


"Mau kau apakan koper itu? Itu tidak cukup ditaruh diatas motorku, ini kok menghilang ketara banget bawa barang beginian?" tanyanya heran.


"Udah, gak usah banyak tanya. Bawa aku sekarang juga!" ujar Maura ikutan kesal juga.


"Tunggu, tunggu dulu.. Untuk aku bawa ransel gede, ini pakai aja buat naruh barang-barang kamu, kalau gak penting-penting amat tinggalin aja!" ujar Ardian sambil melempar ranselnya kearah Maura.


"Sayangnya isinya penting semua, jadi aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Ah! Pas sekali, untung semuanya masuk dan muat kedalam ranselmu ini, makasih yah" ujar Maura sambil tersenyum manis.


Ardian lega melihat senyuman itu lagi, setidaknya gadis itu baik-baik saja saat ini. Mereka pergi meninggalkan koper kosong itu, Maura menyempatkan menoleh kearah hutan itu, dia melihat para penghuni hutan itu menatapnya takut.


Sepertinya berita mengenai dirinya yang menyeberangi beberapa dimensi dan melawan beberapa makhluk jahat dan iblis lainnya sudah tersebar begitu cepat.


"Ck, informasi mereka lebih cepat dibandingkan internet!" gumamnya.


//


Ardian membawa Maura kesebuah hotel ditengah kota itu, bagaimanapun juga Maura harus beristirahat dulu untuk memulihkan energinya. Setelah mandi, Maura makan dengan lahapnya di kamar hotel itu ditemani oleh Ardian.


"Makannya pelan-pelan saja, gak usah terburu-buru begitu... Nanti keselek" ujarnya memperingati anak itu.


"Uhuukk!" dan akhirnya kejadian juga.


"Tuh kaaann, dibilangin juga! Nih, minum dulu!" ujarnya kesal tapi ada rasa khawatir juga.


"Iya, ya! Ih, bawel!" ujar Maura kesal kena semprot mulu sama si Ardian.


"Aku begitu karena peduli denganmu.. O ya, aku habis ini langsung pulang, kamu istirahat aja dengan tenang, aku agar memagari tempat ini agar tidak terlacak oleh makhluk apapun!


Aku juga sudah membelikanmu beberapa makanan dan minuman diatas meja itu, di sana juga ada beberapa obat-obatan jika kamu membutuhkannya, aku juga membelikanmu beberapa peralatan mandi.


Untuk sementara kebutuhanmu sudah aku penuhi, jika ada keperluan lainnya gak usah keluar biarkan aku saja yang datang. Jangan membukakan pintu ini kecuali aku atau petugas hotel ini, jika kamu ragu kamu bisa menghubungi petugas resepsionis dibawah, oke?!" ujar Ardian memberinya pengarahan dan perlindungan.


"Baik, Bos!" ucap Maura sambil bersikap memberi hormat kepada Ardian, dia keningnya digetuk oleh Ardian.


"Aauuhh, sakiiittt!" ujarnya meringis sambil bersikap sok imut.


"Jangan sok imut begitu, ingat kita ada dimana sekarang jangan mencoba memancing.." ujar Ardian sambil mencoba menahan diri.


"Hehe, aku kan cuma becanda!" ujar Maura sambil nyengir.


Ardian menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadisnya itu, dia berpamitan dan mengecup kening Maura lalu pergi dari tempat itu.


Sebelumnya dia sudah memagari seluruh disi kamar itu entah dari luar maupun didalam kamar itu, agar tak terdeteksi oleh keluarga neneknya itu keberadaannya maupun dari makhluk lainnya.


Maura bisa beristirahat dengan nyaman dan damai tanpa harus memikirkan apapun lagi, dia senang ada Ardian yang selalu ada untuknya, lelaki itu mampu membuatnya nyaman dan bisa diandalkan.


......................


Bersambung