
Saat ini Ardian dan Marino sedang beradu energi gaib, saling serang dan saling balas pukulan jarak jauh terjadi.
Marino masih di atas atap yang sama sedangkan Ardian sudah pindah tempat keatap gedung lain, dia lebih leluasa di sana tanpa takut ketahuan Maura.
Cahaya kilat putih biru dari saling bertabrakan di udara diatas gedung-gedung pencakar langit itu, terdengar suara bergemuruh di langit seolah hari mau hujan tetapi langit begitu cerah.
Tentu saja itu bukan tanda cuaca alam tetapi suara adu kekuatan gaib yang saling menyerang, jika dua cahaya itu bertabrakan maka suara bergemuruh seperti kilatan petir membela langit.
Dan itulah yang terjadi saat ini, keduanya melakukan gerakan saling menyerang dan mengirimkan serangan ke arah lawannya.
Bhumm.. dhuarr!
Suara itu saling bersahutan, memekakkan telinga, kaca-kaca dinding di gedung sekitaran bergetar dengan suara dentuman tersebut.
Tapi anehnya orang-orang disekitaran atau yang didalam gedung tidak mendengar atau merasakan apapun, itu hanya bisa dilihat dan didengar oleh orang-orang 'tertentu'.
Pada saat itu, Maura masih mengamati Julian yang terlihat kikuk dan serba salah.
"Kamu kenapa? Kok kayak orang bingung?" Tanya Maura.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hehe!" Katanya sambil cengengesan, tingkah cuek dan slengean itu tak pernah lepas darinya.
"Terus kenapa masih disini, gak mau turun?!" Tanya Maura lagi, dia mulai menunjukkan kecurigaannya.
"Aku ingin beristirahat sebentar, perut dan dadaku masih sakit nih habis kena tendang sama pukulan kalian tadi." Ujar Julian meringis kesakitan.
Maura mulai menurunkan alisnya dan mengalihkan pandangannya, ada perasaan bersalah di dirinya. Dia jadi tak enak dengan Julian, karena pukulannya dia jadi terluka.
"Ah berlebihan kamu, pukulannya 'kan tidak kuat!" Ujar Maura sambil mengalihkan pandangannya.
Saat dia menatap kearah Rosario dia terkejut makhluk itu sudah tak ada, ternyata Julian sukses mengalihkan perhatian Maura dan Dewi Srikandi.
"Sia*l, kemana makhluk itu pergi?! Sepertinya aku ditipu oleh bocah tengil ini," gumam Maura kesal.
"Ya udah kalau begitu, mari ikut denganku. Akan aku obati kau di tempatku, jangan berpikir macam-macam yah?! aku tulus ingin membantumu!" jawab Maura dengan ketus.
"Tidak usah, sepertinya ini sudah lebih baik. Aku mau pulang aja, istirahat di rumah sendiri lebih baik daripada di rumah orang" jawabnya sambil melenggang santai menuruni anak tangga.
Julian tersenyum puas karena berhasil menjalankan misinya, wanita asing tadi selamat sedangkan Rosario sudah berhasil kabur juga.
Sekarang dia tak perlu berpura-pura lebih lama lagi, dia jadi teringat dengan Joanna yang ditinggal lama olehnya.
Dhumm..!!
Suara dentuman keras yang menggoyahkan gedung apartemen itu seperti gempa besar saja. Julian mengetahui bahwa ini bukan gempa atau bencana alam lainnya.
Dia mengkhawatirkan Ardian, bagaimana jika dia ketahuan Maura? Mengingat Maura masih diatas atap itu, pasti dia bisa melihat dan merasakannya.
"Ah! Biarkan sajalah dia, dia pasti bisa mengatasinya. Yang jelas misiku sudah berhasil, ah... Aku kangen sayangku, Joanna i'm coming!" ujarnya berseru ceria.
"Firasat ku mengatakan ada yang beda dan aneh dengan pemuda itu, apakah dia juga yang membebaskan makhluk itu?!" geram Dewi Srikandi.
"Sepertinya begitu Dewi, kelakuannya mencurigakan kita bisa merasakan energi gaib ditubuhnya yang lumayan besar itu.
Dan aku lihat juga ketika dia dan makhluk itu saling pandang, dan gerakan mereka juga mencurigakan.
Seharusnya aku tahan makhluk itu dengan ikatan yang lebih kencang lagi, agar dia tak bisa kabur. Dan dia juga tak bisa pergi sebebas itu, agar kita bisa melihat kekuatannya langsung.
Aku yakin sekali mereka berkaitan dengan wanita asing tadi, mereka berdua sama-sama memiliki kekuatan tidak terlalu besar, mustahil mereka yang menyihir wanita itu tadi.
Sepertinya mereka juga disuruh oleh seseorang, berarti ada orang lain juga selain mereka." Kata Maura terlihat khawatir sekali.
"Itu sudah pasti benar, entah itu manusia atau makhluk yang jelas mereka tidak hanya berdua. Pasti masih ada lagi, aku harap itu bukan hal yang besar" sahut Dewi Srikandi.
Maura terlihat merenungi setiap kejadian hari ini, dia ingin memikirkan sesuatu yang bisa saja terlewatkan olehnya. Tiba-tiba...
Dhumm..!!
Suara dentuman dahsyat menggelegar dilangit, gedung yang dia pijak bergetar hebat seolah akan rubuh.
Maura terkejut, dia dan Dewi Srikandi kebingungan dengan apa yang terjadi.
Sekejap Dewi Srikandi melesat keluar dari tubuh Maura, dia berkeliling gedung untuk mengawasi apa itu.
Saat itu dia melihat Ardian duduk tersungkur diatas gedung yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen Maura.
Ardian terlihat muntah darah, dia terlihat memalingkan wajahnya sehingga Dewi Srikandi tak bisa melihat wajahnya.
Ardian sadar serangan mereka bisa mengundang makhluk lain atau membuat makhluk lemah lain menghindari tempat itu, takut kena imbasnya.
Saat melihat Dewi Srikandi melayang terbang mengelilingi gedung-gedung sekitaran apartemen Maura, Marino menghentikan serangannya.
Dia tidak ingin terlihat olehnya, entah kebetulan atau tidak Marino juga reinkarnasi dari jenderalnya para penyihir itu.
Makanya dia bisa mengenali Dewi Srikandi dan yang lainnya, dia merasa beruntung terlahir kembali dalam keadaan berkuasa, maka akan lebih mudah untuknya menyebarkan sihirnya.
Dan menjadi bawahan langsung Arion Gaharu, membuatnya orang yang berkuasa dikalangan penyihir saat ini.
Dia mundur sementara, untuk menghindari peperangan. Saat ini dirinya dan pasukan gaibnya belum siap, karena Arion Gaharu masih dalam keadaan lemah.
Dan saat itu, Dewi Srikandi berusaha melihat wajah pria di atas atap tersebut karen pria itu berlalu dengan cepat turun ke bawah gedung itu.
Dia masih bertanya-tanya sendiri, siapa sebenarnya pria itu? Kenapa gestur tubuhnya tak asing dengannya?
......................
Bersambung