RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Ingatan Yang Hilang..


Peristiwa tragis itu adalah penggalan ingatan Maura waktu kecil.


Saat ini, di rumah sakit..


Saat Maura pingsan, semua orang panik dan memanggil dokter untuk diperiksa lagi.


"Tidak apa kok, cuma syok sedikit.. Nanti kita kasih sedikit obat penenang ketika dia udah bangun, sekarang biarkan dia istirahat sebentar." Kata dokter sambil berlalu.


Semua orang telah kembali, pak Wisnu, pak Irwan dan Angga juga ada di sana.


"Ada apa ini, kenapa dengan Maura?" tanya Angga panik melihat kondisi adiknya terbaring lemas.


Saat itu pak Irwan melirik bik Marni, bik Marni menganggukkan kepala seolah sedang memberitahukan sebuah isyarat kalo apa yang dipikirkan oleh pak Irwan itu benar.


Wajah pak Irwan langsung pucat, dia keluar sebentar untuk menenangkan diri. Disusul bik Marni juga.


"Jadi, hari itu datang juga... Kenapa sekarang Yuk, dia masih terlalu muda.." kata pak Irwan dengan nada lirihnya,terlihat wajah sedih di sana.


"Entah itu sekarang atau nanti, hari itu akan datang. Siapa menyangka ini terjadi begitu cepat.." kata bik Marni sambil menghela nafas.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kalau dia sampai bertanya.." sahut pak Irwan terlihat bingung.


"Katakan saja yang sebenarnya, lebih baik dia tau sekarang darimu... Daripada terlambat dan mendengar cerita dari orang lain," timbal bik Marni.


"Ini salahku Yuk, seharusnya aku tak pergi seperti pengecut. Aku membawa musibah bagi anak anakku.." katanya menyesal.


" Itu bukan salahmu juga, ini terjadi karena kita. Kita yang orang dewasa tak bisa mengambil keputusan yang benar.." sahut bik Marni sedih.


"Sudahlah, menyesal tak ada gunanya. Kita hadapi ini bersama sama. Kita harus menjaga Maura, bimbing dia supaya tidak berjalan kearah jalan yang salah.." sambung bik Marni lagi.


Sementara itu.


Maura masih larut dalam mimpinya, tidak sadar air matanya menetes ke pipi. Dia terbangun dan bergumam.


"Mama..." katanya sambil menangis.


Mama Kevin yang sedari tadi menungguinya juga merasa kasihan.


Keluarganya merupakan sebagian orang yang mendukung pak Irwan selama berbisnis di Amerika, jadi dia juga tau tentang keluarganya.


Dia teringat Maura kecil selalu melamun sendirian, dia selalu murung dan pendiam. Jika tidur selalu mengigau menyebut nama mamanya.


Jadi, mama Kevin juga yang mengurus Maura kecil. Sampai dia besar, baru kali ini dia menyebutkan mamanya. Betapa terharu dan sedihnya bu Ella, mama Kevin melihat itu.


"Sayang, kamu udah bangun? Yuk duduk dulu, minum obat dulu yah... Biar tenang" kata bu Ella dengan lembutnya.


Bu Ella memberikan obat penenang yang diresepkan oleh dokter tadi.


"Bagaimana, udah baikkan?" kata bu Ella.


"Iya Ma, terima kasih.." sahut Maura, masih terlihat lemah.


Maura memanggil bu Ella mama juga, karena bu Ella mengijinkannya. Beliau tidak ingin anak ini tumbuh tanpa ada mama. Meskipun bukan ibu kandungnya, dia tulus menyayangi anak-anaknya pak Irwan.


"Papa dengan Bik Marni kemana Ma?" tanya Maura.


"Lagi keluar, sebentar yah Mama panggil mereka dulu.." sahut bu Ella.


Maura,kamu mendengarkan aku kan..?


"Meeongg!" Gerald memberitahu dirinya kepada Maura.


Maura kaget sekali mengetahui ada kucing yang bisa bicara.


"Jangan takut, aku takkan menyakiti kamu" sahut Gerald.


Maura berusaha tenang tapi tidak berhasil dia mengambil air minumnya dimeja dekat ranjang, tapi sayangnya gelas itu jatuh karena tangannya bergetar sebab dia masih syok.


Gelas itu menggelinding dibawah ranjangnya.


Maura ingin mengambil gelasnya dibawah ranjang, tangannya meraba-raba dibawah tanpa sadar menyentuh sesuatu.


karena penasaran apa yang dia sentuh dia ingin melihatnya, karena dia tahu itu bukan gelasnya.


Saat Maura menundukkan kepalanya kebawah ranjang, hantu leher patah tadi ada di sana sambil menyeringai..


"Tooong, akuuu" katanya sambil menjulurkan tangannya ke arah Maura.


Sontak Maura kaget dan berteriak kencang.


"Aakkhh! Hantu, hantu.. Ada hantu dibawah!" katanya sambil berteriak.


Gerald turun kebawah, lalu mengertak hantu itu.


"Pergi, jangan kemari lagi! Kau tahu, aku bisa melakukan apapun kepadamu dan itu pasti menyakitkan" ancam Gerald.


"Tapi aku butuh pertolongan" jawab hantu itu sedikit takut dengan Gerald.


"Enyah kau dari sini! Jangan ganggu nona ini lagi kalau kau masih mengganggunya. Akan kumusnahkan kau sekarang juga!" Gerald sudah mulai marah.


Hantu itu takut lalu pergi menghilang, Gerald kembali keatas ranjang sambil duduk dipangkuan Maura.


Kevin dan Maurice penasaran apa yang dilihat Maura tadi sampai ketakutan begitu, mereka bersama-sama melihat kearah bawah ranjang Maura.


tapi tidak ada siapapun di sana, hanya saja Kevin dan Maurice saling bertemu pandang. Kevin tersenyum menggoda Maurice, dan Maurice berpura-pura cuek tapi hatinya berdebar kencang.


"Apa nih, masa cuma liat dia senyum doang aku begini?!" katanya menyangkal perasaanya.


Sedari tadi Maura memperhatikan mereka, dia tersenyum.


"Ga ada salahnya lihat hantu dibawah, ternyata ada hikmahnya juga.." katanya nyengir melihat kedua temannya.


Baru aja mau minum, dia dikagetkan dengan kedatangan Camelia. Camelia tiba-tiba saja nongol didepan matanya.


Maura hampir saja tersedak minumnya...


"Ya Tuhaan..cobaan apalagi iniii.."


......................


bersambung