RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Rencana


Hari ini mereka terpaksa makan siang bersama, Angga dan Dhania meminta petugas perpustakaan untuk menutup perpustakaan untuk sementara waktu sampai mereka selesai makan siang, dengan alasan ada yang harus dibahas soal pelajaran hari ini kepada tiga mahasiswa itu, siapa lagi kalau bukan Maura, Ardian dan Maurice.


"Bagaimana bisa kalian menutup perpustakaan begitu saja? Kalau ada mahasiswa yang lain ingin belajar gimana? Ini bukan Amerika hingga kalian bisa berbuat seenaknya saja!" ucap Maura kesal dengan mereka berdua.


"Memang, tapi menurut petugas itu tidak banyak mahasiswa yang akan berkunjung pada jam makan siang, biasanya mereka berkumpul di kantin atau ditaman samping kampus ini, so.. Sudah dipastikan kalau jam makan siang ini perpus sepi, dan petugas itu juga butuh istirahat, dek.. Biarkan dia makan siang dengan tenang diluar, tanpa harus menunggui perpus ini terus.." ujar Angga menimbalinya.


"Terserahlah, yang pasti jangan sampai membuat kegaduhan disini. Dan ingat, profesional pak dosen dan bu dosen. Aku gak mau semua orang tahu tentang hubungan kita, aku mau jadi pusat perhatian terus!" ucap Maura lagi.


"Iyaa, jangan ngambek lagi dong! Emang gak kangen sama kakak?" goda Angga sambil mencolek dagu adiknya itu.


"Ish, aku masih sebel sama kakak! Coba jelasin semuanya ke aku bagaimana bisa kalian berdua bisa ada disini sekarang, dan kalian berdua.. Ardian dan Maurice, kenapa gak bilang-bilang sih kalau mereka mau datang?! Kan semalam aku sama kalian terus!" gerutu Maura.


"Kita juga gak tau, May.. Belum lama kamu pulang dianter sama Ardian, ada pak RT nganterin mereka ke rumah. Mana katanya hampir nyasar pula.." kata Maurice menjelaskan sambil menahan tawanya.


"Aku bingung dengan alamat disini, kenapa alamat rumahnya tidak beraturan?! Sampai muter-muter kami nyari alamat kalian," ucap Dhania juga terlihat sekali dia merasa keheranan.


"Kami juga gak tau, baru pertama kali datang juga sama seperti kalian. Tapi kalau tinggalnya didalam perumahan komplek, atau perumahan mewah lainnya maka alamatnya rapi sesuai urutan rumahnya, beda kalau ditinggal di kampung-kampung.." timbal juga Ardian.


"Kenapa kalian lebih memilih tinggal di kampung? Kenapa gak di kompleks aja?! Mansion, paviliun or bungalow? kalian bisa tinggal bersama gak misah kayak gini, Maura!" tanya Dhania lagi.


"Gak ada disini yang namanya begituan kak, disini adanya Villa tapi di puncak sono deket gunung, kejauhan!" jawab Maura geregetan.


"Puncak? Gunung?" ucap Dhania keheranan.


"Sudah, gak usah dibahas lagi. Nanti kamu akan banyak tahu juga, pelan-pelan aja belajarnya.." ucap Angga tersenyum manis kearah Dhania sambil mengusap kepalanya lembut.


"Jadi?" Maura tak mau lama-lama melihat kemesraan mereka, dia jadi risih diperhatikan oleh Ardian seakan-akan dia mau juga kayak mereka.


"Sebenarnya sudah lama sekali kami ingin datang ke Indonesia semenjak kepergian kalian kesini, kalian jarang sekali memberi kabar kepada kami dan sempat lost contacts, mamah dan papahnya Kevin cemas dengan keadaan kalian, ayah juga takut kamu kenapa-kenapa..


Sebenarnya Dhania akan pindah ke Florida bersamaku sebelum hari pernikahan kami, tapi entah kenapa perasaan ini gak nyaman saja apalagi bi Marni sempat merasakan kehadiranmu waktu itu, emm.. Tepatnya kemarin sih..


Jadi, mamah dan papah ingin kami datang kesini untuk menjemput Kevin dan Maurice, umm.. Mereka akan kuliah di New York saja, dan Kevin akan bantu papah di perusahaannya.


So, hanya kalian berdua saja tinggal disini saja. Karena takut terjadi sesuatu lagi, bi Marni dan ayah sepakat akan menikahkan kalian berdua, kalau bisa sebelum kami berangkat ke Amerika.." ujar Angga menjelaskannya dengan serius, tapi saat kata-kata terakhir dia seperti menahan tawanya mencoba tetap serius.


Sedangkan Maurice dan Dhania memalingkan wajahnya agar tak terlihat ekspresi wajah mereka yang sangat nampak menahan tawanya itu, soal Ardian.. Dia menatap serius kearah Maura, seolah bertanya-tanya apa gadis ini mau menerima keputusan ini?


"Hahaha, lihat ekspresi keduanya! Ada yang serius penuh harap, dan satunya keliatan banget paniknya! Haha!" Maurice tergelak tawa, dia sudah tak tahan melihat dua sahabatnya itu.


"Ish, kalian jahat banget sih! Gak lucu tau!" ujar Maura kesal.


"Yaaah, kirain beneran," gumam Ardian.


"Tenang, bro! Kuliah saja dulu sampai selesai, baru itu menikah! Soal ekonomi, akan yakin kamu lebih dari mampu, tapi soal mental kesiapan aku gak tau,, jadi nikah itu bukan soal kesiapan ekonomi dan cinta aja, tapi mental juga!" ucap Angga kepada Ardian.


"Emang mental kakak sudah siap?" tanya Maura, meledeknya.


Tapi udah keduluan si Kevin ama Maurice, yah.. Terpaksa menikahnya diundur sebentar, kebetulan aku dan Dhania masih ada proyek bisnisnya lainnya yang harus dikerjakan sebelum pernikahan kami dilaksanakan.." ujar Angga lagi.


"Emm, maaf.. Kami menggagalkan rencana kalian untuk melaksanakan pernikahan disini, dan kalian terpaksa mengundurkan rencana pernikahan kalian lagi.." ucap Maurice pelan sambil menundukkan kepalanya sedih, merasa bersalah.


"Kami mengatakan hal itu bukan untuk menyalahkan kamu dan Kevin, dan kami juga tau semua perihal yang terjadi di sini selama kalian berada disini juga. Termasuk fitnah dan pernikahan itu, dan aku bersyukur adikku lelaki yang gentleman, dia benar-benar bertanggung jawab dan konsisten.


So, Maurice.. Mamah dan papah juga keluarga di Amerika semuanya sudah menerima pernikahan kalian, termasuk juga keyakinan kalian yang baru. Dan ada kemungkinan aku dan mamah bakal log in juga..


Kami lakukan bukan semata-mata karena papah, Kevin ataupun Angga dan keluarganya. Tapi pada dasarnya kami sudah dekat dengan agama ini tapi belum mengakuinya saja, and... Semenjak kejadian di gedung itu, kau tau bukan aku dan Angga tiba-tiba punya penglihatan aneh itu juga, sama seperti kalian..


Dan gak usah takut atau berusaha menyembunyikan sesuatu, karena kami juga pasti akan tahu juga. Mungkin di keluarga kita hanya mamah, papah dan ayah yang gak punya kelebihan kayak gitu, so.. Gak usah khawatir dengan itu semua,," ucap Dhania menguatkan Maurice.


"Mungkin lebih tepatnya hanya aku dan Kevin yang tak memiliki keistimewaan lebih itu, kalau cuma bisa melihat dan mendengar 'mereka' itu bukan kelebihan kata pak ustadz, tapi kita yang kena gangguan dari para jin disekitar kita.." sahut Maurice sedikit lebih tenang.


"Malah bagus, jadi kalian gak usah capek atau repot seperti Maura dan Ardian ngejar-ngejar demit mulu, eh! bocah, dari tadi diam bae ternyata udah makan duluan aja!" sahut Angga kaget melihat Maura dan Ardian sudah hampir habis menyantap makan siangnya.


"Kami masih ada kelas, kak.. Kemungkinan pulang agak sorean, jadi perut harus diisi dulu! Dan kamu Maurice, makan yang banyak kasihan tuh baby nungguin terus," jawab Maura cuek sambil menghabiskan makanannya.


"O iya, kamu makan aja gih! Gak usah terlalu sungkan dengan kami, eh.. Sejak kapan kamu jadi sungkan dan pemalu kayak gini?" tanya Angga sambil menatap adik angkatnya itu heran.


"Semenjak menikah dengan Kevin, jadi dia sedang berprilaku baik didepan kakak iparnya, haha!" goda Maura.


"Mauraaaa.." rengek Maurice, tersipu malu.


"Ya sudah-sudah, makan dulu.. Kebetulan hari ini kami hanya punya satu kelas saja, dan ini juga untuk perkenalan biasa.. Setelah ini kami pulang kok sambil nyari kost-an juga, gak mungkin kan numpang ditempat Ardian terus.." ucap Angga sambil melirik lelaki itu.


"Aku sih gak masalah, tapi kita juga harus menghormati norma-norma yang tertanam di negeri ini, gak baik yang bukan muhrimnya satu rumah, kecuali aku sudah mengumumkan kalau Maurice dan Kevin adalah sahabat sekaligus saudara angkat, makanya para tetangga bisa memaklumi, lagian aku juga jarang tidur di rumah, lebih banyak tidur di showroom.." sahut Ardian juga.


"Kali ini gak kayak gitu, biarkan Maurice dan Kevin tinggal bersama Dhania saja. Dan kalian berdua bersamaku, jika gak keberatan kamu mau pindah dari rumahmu itu? Untuk sementara, Dhania yang akan menemani adik-adiknya..


Dan kamu bisa satu rumah dengan kami, maksudku bersama aku dan Maura. Ini adalah titipan bi Marni agar aku bisa mengawasimu dan Maura dalam bersamaan, dan aku percaya jika kalian bisa menjaga diri dan perilaku saat bersama. Bagaimana?" tanya Angga lagi.


"Aku sih gak keberatan.." ucap Ardian sambil melirik Maura.


"Aku, terserah kakak aja.." sahut juga Maura pura-pura tak melihat Ardian.


"Oke, kalau gitu! Setelah ini kalian boleh kembali ke kelas, Maurice juga sudah selesai kelasnya dan bisa langsung pulang bersama kami, dan temani kami mencari rumah kontrakan yang baru yah?" pinta Angga kepada Maurice dengan lembut.


Maurice mengangguk senang, dia bisa meluangkan waktu yang banyak hari ini bersama mereka, setidaknya dia tak merasa kesepian lagi di rumah. Jika Kevin pulang selalu malam, setelah bekerja lanjut kuliah, Ardian juga jarang di rumah, sedangkan dengan Maura mereka juga jarang punya kelas yang sama..


Maka, dia senang sekali ada yang menemaninya kembali dan akan kembali ke New York dalam beberapa bulan lagi.


......................


Bersambung