
Blam!
Maura terjatuh kedalam dasar jurang yang dia tak tahu seberapa kedalamannya, yang jelas tempat itu sangat gelap, lembab dan dingin. Maura meraba-raba dinding yang berada disekitarnya, berharap menemukan celah untuk keluar dari tempat itu.
"Maura..," terdengar seseorang menyebut namanya, tepat disampingnya.
"Hah, siapa itu?!" teriaknya terkejut, dia menatap di sekelilingnya tapi tak ada apapun, lebih tepatnya tak terlihat apapun saking gelapnya.
"Jangan takut, ini aku.." terdengar kembali suara lembut itu.
"A-Aurora?" tanyanya memastikan lagi siapa yang mengajaknya bicara.
"Iya, dengarkan aku kita tak punya waktu lagi cepatlah bergerak.. Maaf sebelumnya aku terpaksa menarikmu kesini sebelum makhluk itu membuatmu terperangkap di dunia itu," jawab Aurora didalam kegelapan itu.
"Apa maksudnya? Aku tak mengerti.." tanya Maura lagi.
"Baiklah, akan aku ceritakan tapi sebelum itu kau harus keluar dari tempat ini sebelum makhluk itu menemukanmu, dan membuatmu kebingungan disini. Pegang sayapku ini..." jawab lagi Aurora, kemudian Maura seperti merasa ada yang menyentuhnya dengan lembut.
Maura menyentuh benda itu yang ternyata adalah sayap lembutnya Aurora, dia mengikuti arah yang dituntut oleh Aurora langsung, sampai pada sebuah dinding dengan celah sedikit, ada sinar masuk dari celah tersebut sehingga Maura bisa melihatnya.
"Keluarlah dari sini, cepat!" ujar Aurora karena sayup-sayup mereka mendengar seperti suara geraman dibalik kegelapan itu.
"Sampai jumpa lagi, Aurora.. Jangan lupa janjimu untuk menceritakan semuanya apa yang terjadi denganku tadi.." ucap Maura sebelum membuka pintu itu.
Aurora tak menjawab Maura, karena ada sosok hitam dan mengerikan sedang berada didekatnya. Dia menahan sosok itu agar tak menjangkau Maura.
Maura membuka pintu itu dengan hati-hati, pertama yang dia lihat adalah sebuah tempat yang sama seperti dia baru datang tadi, sebuah ruangan yaitu kamar anak kecil tadi yang dia yakini adalah kamarnya sewaktu kecil.
Tapi suasana dan keadaannya sedikit berbeda, tempat itu sekarang nampak sama dengan pertama kali Maura datang ke rumah itu. Apa sekarang dia berada di masa lalu atau berada dimasa kini?
Sementara itu, didalam kegelapan tadi tepatnya didalam lubang hitam dimana Aurora menemukan Maura, di sana ada dua makhluk yang saling bertatapan tajam, makhluk yang di sangka Maura adalah Aurora ternyata arwah mamanya yang ditahan didalam dunia ciptaan neneknya itu, sebagai arwah tumbal yang berharga, karena Laura merupakan salah satu dari garis keturunan Sultan Sriwijaya yang memusnahkan nenek moyang dari nenek Dawiyah, ibu mertua Laura.
"Licik juga ternyata kau, bisa-bisanya kau membawa anak itu kesini!" ujar makhluk hitam mengerikan itu.
"Itu salahmu sendiri membawanya ke dunia ini, katakan padaku apa tujuanmu membawanya kesini?!" bentak Laura murka.
Sekarang wujudnya sudah menjadi dirinya sendiri tapi sedikit lebih mengerikan, gaun hitam panjang menutupi seluruh tubuhnya, rambut panjang bergelombang yang sama persis seperti Maura, dengan wajah putih pucat dan mata merah menyala.
"Aku hanya ingin mengingatkan kembali dirinya apa yang dia lihat dulu, mungkin dia lupa karena dia masih kecil belum lagi ingatannya yang sengaja ditutup, hihi.. Mungkin dia rindu ibunya, dan apakah kau juga merindukannya? Bukankah aku baik mempertemukan ibu dan anak? Apa kau tidak terharu denganku?!" ujar makhluk itu dengan nada mengejek.
"Hahahaa.." Laura tertawa mengejeknya.
Makhluk itu nampak bingung dengan reaksinya Laura, dia tak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu. Bukannya marah dan geram tapi Laura nampak mengejeknya.
"Dasar makhluk bodoh! Kau lupa siapa aku, jika aku mau aku bisa saja menghancurkan dunia ciptaan majikanmu ini! Aku sengaja menahan diri sampai anakku dewasa dan mengetahui semuanya, sampai dia bisa menjaga dirinya dan orang-orang disekitarnya.
Malah aku berterima kasih kepadamu, setidaknya dia sudah tau apa yang terjadi, dengan begitu dia tak perlu merasa bersalah lagi karena mengira kematian mamanya karena dirinya, tapi karena keinginan mamanya sendiri untuk melindunginya keluarganya.
Hei, makhluk hina! Kau tau bukan kalau darahku ini setengahnya milik sang pemilik negeri ini di jaman lampau?! Berarti darahku ini selain bisa membuat kuat bagi Dawiyah tapi bisa juga menjadi racun baginya!
Anak-anakku memiliki darah setengah penyihir dan setengah manusia 'suci', mereka merupakan senjata pembunuh bagi Dawiyah dan takdir mereka sudah ditentukan! Kalian para iblis dan penyihir tidak akan pernah bisa menaklukkan mereka maupun dunia!
Satu lagi rahasia yang aku simpan sampai sekarang, mau tau apa? Kau tau setiap darah keturunan langsung Sultan Sriwijaya akan dapat perlindungan dari Sang Pencipta, termasuk yang sudah mati seperti diriku ini? Hem, tidak tahu?! Haha.." ujar Laura sambil tertawa puas, dia rasa sudah waktunya membuka semuanya karena sudah tak ada lagi yang perlu dirahasiakan lagi olehnya.
"Ma-maksudmu apa?!" tanya makhluk itu takut, seketika nyalinya ciut dan ingin pergi dari tempat itu.
"Sebenarnya aku tak sepenuhnya berada disini, aku berada ditempat lain menjadi sosok lain menjaga putriku! Aku sekarang merupakan sosok bayangan saja, dan itu cukup untuk mengelabui kalian semua!
Pergilah, temui tuanmu dan katakan saja semuanya! Biarkan dia datang dan melihat semuanya sendiri, tanpa mengirimkan lagi makhluk-makhluk seperti kalian ini!" teriak Laura murka.
Kemudian ada seberkas sinar datang dari arah atas, dan posisi Laura saat ini melayang ditengah-tengah lubang hitam dan besar itu dan sinar itu menerangi semua isi lubang itu sehingga terlihat dasarnya.
"Aakkhh! Panas, panas! Lepaskan, lepaskan dasar wanita licik!" ujar makhluk itu geram.
"Tidak, aku tidak licik. Aku hanya membalas apa yang kalian berikan padaku maka aku juga membalasnya demikian," ucap Laura sambil menatap makhluk itu penuh kebencian.
Bara apa itu seketika meleleh menjadi lava dan meluap naik keatas dan menenggelamkan makhluk itu didalamnya, Laura terbang keatas dan muncul didalam kamar putrinya, Maura.
Dia memperhatikan sekelilingnya, kamar dan dunia ciptaan nenek Dawiyah untuk mengurungnya, dia teringat kembali kejadian belasan tahun yang lalu, dimana dia sengaja membiarkan para saudara iparnya menjadikan dirinya tumbal meskipun dia tahu bahwa dia akan segera mati, jika tidak maka salah satu anaknya akan menjadi tumbal mereka.
Makhluk yang mati tenggelam oleh lava buatannya, merupakan makhluk kiriman nenek Dawiyah yang mengambil nyawanya didepan putrinya langsung, kini dia telah membalas kematiannya langsung dan sekarang waktunya menghancurkan dunia ciptaan itu.
"Sudah cukup lama aku berdiam diri, sudah waktunya aku kembali kepada sang pencipta! Diriku yang lain sudah lebih dari cukup menemani putriku, tak perlu ada diriku yang lainnya juga berada disampingnya. Setidaknya aku tak mau muncul dihadapannya dengan wujud seperti ini..." ujar Laura pelan sambil menatap sayu disekelilingnya.
Kemudian dia terbang tinggi dan keluar dari tempat itu, dia berada ditengah-tengah kebun bunga ilusi miliknya, dia menatap dunia ciptaan nenek Dawiyah untuk mengurungnya, kemudian dia menengadahkan tangannya dan berteriak kencang.
"Aku sudah selesai, tugasku sudah selesai! Izinkan aku kembali kepangkuanmu Ya Sang Ilahi, lindungi anakku.. Jaga dia, bantu dirinya menghancurkan para manusia-manusia yang terkutuk bersekutu dengan iblis! Hancurkan tempat ini, hancurkan!" teriaknya kencang, suaranya menggema mampu menggetarkan tanah disekelilingnya.
Blam!
Blaass!
Suara ledakan dari tanah menghancurkan benda apapun yang berada ditempat itu, berlahan tanah menyedot bangunan rumah tua itu, tenggelam ke dasar bumi, membawa apapun yang ada didalamnya, termasuk para makhluk yang ditugaskan menjaga dirinya di sana oleh nenek Dawiyah.
"Kyaaaa!! Aarhhh!"
Terdengar beberapa suara teriakan dan lolongan menakutkan dari para makhluk itu, yang ketakutan akan mati didalam rumah dan dunia ciptaan itu, mereka akan mati hangus terbakar oleh lava api didalam tanah itu.
Ketika semuanya sudah tenggelam tinggallah Laura sendirian di sana, kemudian ada kuda putih bersayap datang dari atas langit menemuinya, Laura tersenyum dan membelai kuda itu.
"Tetaplah berada disisinya, jaga dia.. Setidaknya aku akan lebih tenang jika kamu ada untuknya, baiklah... Kini sudah waktunya, kamu datang untuk menjemput ku bukan?" tanya Laura.
Kemudian kedua terbang ke langit hitam tanpa cahaya itu, Laura tak menunggangi kuda itu dia hanya berpegangan saja pada sayapnya.
Sementara itu di dunia manusia, nenek Dawiyah yang sedang melakukan rapat penting yang disiapkan mendadak itu, merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia merasakan sesuatu yang salah tapi bingung apa itu.
"Ada apa, bu? Apa ada sesuatu?" tanya pak Herman.
"Tidak tau, aku merasa seperti ada sesuatu yang hancur tapi tidak tahu apa itu.." jawab Nenek Dawiyah.
"Biar aku menyuruh orang dan beberapa makhluk lainnya untuk mengecek apa yang terjadi disekitar rumah dan dunia ciptaanmu itu,,," ucap pak Herman.
"Baiklah, tapi untuk dunia itu biar aku yang memeriksanya langsung!" pinta nenek Dawiyah.
Pak Herman dan lainnya membubarkan diri padahal rapatnya belum selesai, mereka ingin merencanakan penyerangan langsung terhadap Maura dan orang-orang disekelilingnya.
Apalagi pak Herman, dia sangat murka setelah tau kedua anak kembarnya melarikan diri ke negeri seberang. Dan lebih mengejutkan lagi, Nayla dan Nala bahkan bisa dan mampu menyakinkan para sepupunya untuk keluar dan pergi dari tempat itu.
Apalagi pak Irwan dan bi Marni juga bersedia membawa mereka semua dari tempat itu asalkan mau melepaskan semua ajaran sesat nenek dan orang tua mereka.
Dan anak-anak polos tak tahu apa-apa itu jauh lebih tertarik dengan keinginannya itu daripada terus berada didalam rumah dan hidup dengan orang-orang itu-itu saja, karena mereka juga ingin melihat dunia luar yang sangat luas dan indah itu.
Di rumah itu, hanya ada nenek Dawiyah, pak Herman, pak Heru dan bu Sinta juga beberapa tetua yang memutuskan tinggal di sana juga, anak-anak yang tertinggal cuma ada dua atau tiga saja, diantaranya adalah Shalimar, dia yang sudah terpengaruhi sihir sejak dulu sudah tak bisa lepas lagi, apalagi setelah dia melakukan ritual setubuh darah, bercinta dengan saudaranya sendiri maka sihir telah masuk kedalam tubuhnya.
Berbeda dengan anak-anak di bawahnya yang belum terkena dan belum mengenal apapun, mereka belum terkontaminasi ilmu sihir sepenuhnya, jadi masih bisa diselamatkan. Dan pak Irwan dan bi Marni berharap tidak ada lagi anak keturunan yang meneruskan ilmu iblis itu lagi.
......................
Bersambung