RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Rencana Yang Tak Terduga


Angga pelan-pelan memindahkan Maura ketempat tidurnya Dhania, sedangkan Ardian hanya diselimuti saja sambil diberi bantal saat tidur itu. Kemudian Angga meminta Dhania, Kevin dan Maurice bertemu di meja makan.


"Aku ingin ngomong sama kalian, sepertinya keadaan sekarang ini memang dalam keadaan genting. Kita bisa lihat sendiri keadaan mereka. Kita tak boleh jadi penghambat mereka dalam menjalani misi ini.


Surat kepindahan kalian sepertinya sudah jadi, nanti siang aku dan kamu, Kevin.. Kita ambil surat kepindahan kalian dan juga hal lainnya. Aku juga meminta secara khusus kepada rektor dan pihak lainnya untuk memberikan cuti kepada Maura dan Ardian.


Agar keduanya bisa bergerak dengan bebas tanpa memikirkan kuliahnya saat ini, aku harap semuanya akan berjalan dengan baik dan tidak terjadi apa-apa selama misi ini berjalan.


Dua atau tiga hari lagi kita akan berangkat ke New York, besok kita pergi ke Jakarta. Hari ini mulailah berkemas, dan... Hem, sepertinya memang harus seperti ini, aku tak bisa menyerahkannya begitu saja, aku tak mau dia pergi dalam keadaan seperti ini.


Tapi aku juga tak bisa meninggalkan mereka berdua begitu saja, mau gak mau aku harus merelakannya, aku yakin papa dan lainnya, juga kalian percaya dengan keputusanku, dan percaya kepadanya bisa menjaga Maura dengan baik.." ujar Angga panjang lebar menjelaskan semua yang terjadi.


"Maksud kamu apa? Coba ceritakan apa maksudmu?" tanya Dhania masih kurang mengerti penjelasan Angga.


"Dhan, sepertinya aku dan kamu memang ditakdirkan untuk menikah di akhir setelah adik-adik kita.. Aku berniat akan menikahkan Maura dan Ardian nanti malam di pesantren tempat kalian mondok itu," jawab Angga kepada Dhania dan Kevin juga Maurice.


"Apa? Menikah? Tapi kenapa? Bukankah itu terlalu cepat, mereka juga masih terlalu muda. Oke kalau Kevin dan Maurice karena ada sesuatu dan lain hal mereka terpaksa harus menikah, tapi Maura dan Ardian? Hal urgent apa yang memaksakan keduanya harus menikah cepat, malam nanti kan?" tanya Dhania bingung tak mengerti.


"Setelah kita pergi dari sini, hanya mereka berdua saja disini. Bukannya aku tak percaya kepada Maura dan Ardian, tapi alangkah baiknya jika mereka tinggal bersama, bisa saling melindungi dan menjaga satu sama lainnya.


Aku tak bisa memungkiri, setiap lelaki pasti memiliki naf.su terhadap lawan jenisnya, apalagi itu wanita yang sangat dia sukai. Aku gak mau menodai hubungan mereka itu dengan kedekatan yang menjurus hal yang dilarang, kalau sudah menikah mau ngapain juga sah-sah aja, itu maksudku.." jawab Angga menjelaskan maksudnya.


"Aku mengerti maksud kak Angga, nantinya Maura dan Ardian akan terus bersama. Melawan para manusia yang bersekutu dengan jin dan iblis, dan mereka juga akan melawan para setan itu juga.


Pasti kemana-mana akan selalu berdua, apalagi disini juga tak ada keluarga lain ataupun saudara yang bisa dipercaya. Hanya ada mereka berdua, aku yakin juga kalau salah satunya kenapa-kenapa orang lain bakal menghubungi Maura ataupun Ardian juga.


Jadi, ada baiknya mereka harus disatukan dalam hubungan yang sah.." ujar Kevin juga mengutarakan pendapatnya.


"Aku mau kedalam dulu, mau siap-siap berkemas. Kak Dhania juga yak, nanti kita ke pasar beliin kebaya buat akad nikahnya si Maura dan jas atau kemeja buat Ardian!" ucap Maurice bersemangat.


"Hati-hati sayang.." kata Kevin melihat Maurice sedikit berlari menuju kamarnya, dia khawatir kepada baby mereka.


Setelah itu, Dhania juga nampak berkemas didalam kamarnya, Maura dan Ardian tak terbangun oleh suara kebisingan yang terjadi di rumah itu. Kevin dan Angga sedang membereskan barang-barangnya yang lain, sedangkan Maurice membereskan barang-barangnya dan Kevin.


"Apa semuanya sudah selesai? Ini saja?" tanya Angga setelah membantu Kevin membereskan barang-barang mereka.


"Iya, selain itu semuanya barang Ardian. Kami akan membawa pakaian dan beberapa barang saja, gak banyak kok. Ayo kita ke kampus ambil surat kepindahannya, setelah itu mampir ke showroom Ardian kan?" ujar Kevin.


"Iya, aku mau mengambil beberapa barang milikku dan Ardian.." jawab Angga.


"Bagaimana cara bawanya,? Gak mungkin kan pakai motornya?" tanya Kevin bingung.


"Aku kesini bawa mobilnya Ardian, nanti angkut barangnya pakai itu. Setelah itu masih banyak urusan yang harus kita lakukan, bergegaslah jangan sampai sore kita belum siap juga.." jawab Angga lagi.


Setelah itu keduanya langsung berangkat ke kampus setelah pamitan sama Dhania dan Maurice, karena setelah dari kampus dan showroom, mereka juga harus memberitahukan niatan baik itu kepada para tetangga juga, dan juga ke ke pesantren tentunya, sebelum itu Kevin sudah menghubungi pak Kyai terlebih dahulu.


"Ayo, Maurice! Kita harus cepat berangkat sebelum keduanya bangun," kata Dhania.


"Ayo, Kak! Aku sangat excited sekali, aku harap acara ijab qobul mereka tak sesederhana kami dulu.." ujar Maurice.


Dhania mendengar hal itu menjadi terharu, dia memeluk adik iparnya itu. Dia memberinya semangat kepada Maurice.


"Tenang saja, mama dan papa sudah menunggu kepulangan Kalian, akan ada begitu banyak pesta menyambut kalian, pesta resepsi pernikahan kalian yang tertunda, baby moon, dan lainnya.." ucap Dhania, Maurice tersenyum senang.


Kemudian mereka pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Maura dan Ardian yang masih terlelap tidurnya. Sesampainya di pasar, keduanya singgah ke toko pakaian yang menjual pakaian khusus pernikahan dan juga perlengkapan lainnya.


Kamu juga pilih buat kamu dan Kevin, dan aku dan Angga. Why? Jangan pilih yang buat nikah, tapi kebaya biasa aja. Aku sangat suka paduan kebaya dan kemeja batik ini," ujar Dhania lebih bersemangat dibandingkan Maurice.


Maurice hanya tersenyum dan tertawa geli melihat kehebohan Dhania yang membeli perlengkapan nikahannya si Maura, apalagi katanya barang-barangnya sangat murah sekali, hanya beberapa dolar saja jika dijadikan mata uang negaranya sendiri.


Maurice juga menghubungi ustadzah Mariam, dia meminta saran snack dan makanan apa yang cocok buat nanti malam buat hidangan para tamu dan undangan.


"Terserah apa saja, tapi sebaiknya dibikin nasi kotak saja. Biar gak repot pesan saja, Nak.. Saya bisa bantu untuk itu, Ibu punya teman usaha catering. Tinggal bilang saja, nanti dia buatkan. Menunya apa dan berapa jumlahnya?" tanya ustadzah Mariam.


"Bagaimana jika bebek goreng saja sama nasi, sambal, lalapan dan ada kerupuk udang juga buahnya, air mineralnya juga. Berapa jumlah santri dan santriwati yang ada di sana? Jumlahkan juga dengan beberapa pengurus, pengajar, ustadz dan ustadzah dan pihak keamanan.


Termasuk juga bagian padepokan pencak silat yang ada di sana, Maura dan Ardian banyak yang kenal di sana. Dan mungkin sekitar sepuluh atau lima belas orang lainnya, mereka adalah pak Rt, pak Rw dan beberapa tetangga juga.


Kami juga beli beberapa snack juga sebagai makanan pembuka dan desert nya, ada beberapa buah dan minuman. Kami hanya minta bantuan ustadzah dan beberapa santriwati untuk mempersiapkan semuanya.." pinta Maurice.


"Tenang saja, soal itu hal yang mudah. Tadi pak Kyai juga sudah memberitahu setelah Kevin juga sebelumnya sudah menghubunginya.


Akad akan dilakukan didalam masjid, dan tasyakuran nya akan dilakukan di aula besar, dan itu cukup untuk menampung semuanya, nanti juga bakalan dibangun tenda juga buat para santri dan santriwati yang tak bisa masuk semuanya kedalam aula.


Dan akan ada acara juga buat Maura dan Ardian, termasuk buat kalian juga Maurice, terutama buat kamu dan Kevin.." ucap Ustadzah Mariam, dia sedang menahan sebak di dadanya.


"Kejutan, kekuatan apa ya Ustadzah?" tanya Maurice penasaran.


"Nanti kamu juga tau, baiklah.. Kami disini juga harus bersiap-siap, sampai ketemu nanti sore, assalamualaikum.." jawab ustadzah Mariam langsung memutuskan telponnya.


"Kejutan apa?!" tanya Dhania penasaran saat mendengar telponnya tadi.


"Gak tau, kita liat aja nanti katanya.." jawab Maurice.


"Mungkinkah kejutannya adalah kalau aku dan Angga akan dinikahkan juga?!" tebak Dhania sambil terkekeh sendiri, Maurice hanya tersenyum saja, dia juga merasa tak enak hati karena dia dan Kevin mendahuluinya menikah.


Setelah berbelanja dan menghubungi ustadzah Mariam, mereka langsung pulang. Saat pulang ternyata Ardian sudah bangun dan nampak sedang duduk di sofa sambil melamun, sepertinya dia baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kalian darimana saja? Kenapa sepi sekali rumah ini? Maura mana?" tanya Ardian masih dengan suara seraknya, tanda baru bangun.


Dhania dan Maurice hanya tersenyum penuh arti saat Ardian menanyakan keberadaan Maura, jadi keputusan Angga untuk menikahkannya dengan Maura tak salah.


"Ada keperluan saja, Maura juga kayaknya masih tidur didalam kamarku. Ya ampun, hari sudah sore aja, kau cepatlah bergegas! Mandi sana," perintah Dhania.


"Aku sudah mandi kak tadi, kok mandi lagi.." tanya Ardian tak mengerti.


"Beda, mandi tadi sama sekarang beda.." jawab Dhania.


"Beda apanya?!" tanya lagi Ardian heran.


"Sudah, mandi lagi aja. Daripada pusing kamu ngeladeninya, yang bersih dan wangi. Kapan perlu wudhu juga sekalian, biar afdol mandi sucinya, hehehe..." goda Maurice.


Ardian tak tahu maksud dari perkataan Maurice, tapi dia ikut juga sarannya agar mandi lagi. Sedangkan Maurice pergi ke kosannya Maura untuk mengambil beberapa pakaian Maura di sana, dia nekat pergi sendiri tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti.


......................


Bersambung