
Hari-hari berjalan seperti biasanya, tidak terlalu banyak kasus yang dijalani oleh Maura dan Ardian, mereka masih fokus kuliah, dan menyelidiki kasus yang belum terpecahkan dari berbagai narasumber yang dapat dipercaya mengenai aliran menyimpang lainnya, entah itu perdukunan, atau ilmu hitam lainnya.
"Mauraaa! My bestieee.." teriak Ichan, dari ujung lorong kampus mereka.
"Apaaa?!" teriak Maura tak kalah kencangnya.
"Et dah bushet, bocah! Anak perawan gak usah teriak-teriak, ntar gak laku!" sahut Ichan sambil menghampirinya.
"Udah laku ini!" balas Maura cuek sambil masuk ke kelasnya.
"Sama siapa? Ardian? Emang udah nikah?" tanya Ichan penasaran.
"Ih, kepo deh!" sahut Maura sambil nyengir menjulurkan lidahnya, ngeledek Ichan.
Ichan mau membalasnya tapi dosen mereka sudah masuk, dan pelajaran telah dimulai. Sedangkan Ardian lagi absen dari kampusnya, dia bilang lagi ada urusan, Kevin lebih memilih kuliah sore, karena pagi harinya dia harus kerja, sedangkan Maurice kuliah pagi bersama Maura.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah selesai mengikuti mata kuliah hari ini, Maura berniat ingin mengajak Maurice pulang bersama sambil mampir ke perpustakaan umum untuk mencari bahan untuk mata kuliahnya esok harinya.
"Tapi kita mampir dulu yah ke apotek.." ujar Maurice.
"Mau apa, beli obat? Siapa yang sakit?" tanya Maura penasaran.
"Bu-bukan, aku mau beli itu..." jawab Maurice agak malu-malu.
"Apaan sih? kamu mau beli obat kan," tanya Maura lagi penasaran.
"Udah, kamu masih bocil belum saatnya mengerti.." ucap Maurice sambil tersenyum simpul.
"Ih, orang kita ini seumuran kok!" sungut Maura tak terima disebut bocil.
"Iya, ya.." sahut Maurice tak mau berdebat.
"Hoeekk!" tiba-tiba saja Maurice merasa mual.
"Kenapa kamu? Mual-mual, masuk angin? Atau maag kambuh? Wah, si Kevin benar-benar dah!" ucap Maura khawatir sekaligus kesal dengan Kevin.
"Aku yang mual, kenapa kamu yang marah sama Kevin? Kan wajar dia suamiku, Maura.." sahut Maurice heran.
"Justru dia suamimu, makanya kebangetan! Emang kamu gak dikasih makan sampe maag mu kambuh? Ampe masuk angin segala!" ujar Maura sok tau.
"Wah, sarap ni bocah! Au ah, aku abis dari apotek langsung pulang aja yah, lemes bestieee!" ucap Maurice lemas.
"Ya udah, pulang aja deh. Kasihan kamu sampe pucat kayak gitu, besok gak usah masuk aja kuliahnya.." ucap Maura baru memperhatikan wajah sahabatnya itu.
"Iyaaa, kita ke apotek deket perpustakaan itu aja, setelah menemani aku mampir ke apotek, kamu langsung aja ke perpustakaan, aku langsung pulang aja.." ujar Maurice lagi.
"Ini gak apa kamu pulang sendiri?" tanya Maura sedikit khawatir juga dengan sahabatnya itu.
"Iyaa, yuk! Mumpung belum terlalu siang.." jawab Maurice sambil menggandeng tangan Maura.
Jarak kampus mereka tidak terlalu jauh dari pusat komersil, karena letaknya sangat strategis sekali, kotanya itu tidak terlalu besar, jadi mau kemanapun lebih gampang dan mudah, karena semuanya berdekatan.
Mereka lebih memilih jalan kaki, meskipun cuacanya cukup terik tapi mereka mulai terbiasa dengan suhu di negeri ini. Angin segar ditengah cuaca terik itu bagaikan sebuah kenikmatan tersendiri bagi mereka, jilbab Maurice yang panjang dan cukup lebar itu melayang-layang, maura tersenyum melihat Maurice terlihat sibuk merapikan jilbabnya.
Samar-samar Maura seperti melihat ada siluet seseorang dari balik jilbab Maurice saat melayang tertiup angin tadi, saat diperhatikan lagi, tak ada satu orang pun dibelakang mereka, ataupun makhluk tak kasat mata lainnya.
"Mungkin perasaanku saja.." gumamnya.
Setelah mengantarkan Maurice ke apotek, dia langsung pergi ke perpustakaan umum yang terletak di seberang apotek tersebut, padahal sebelumnya dia penasaran mau lihat Maurice mau beli apa, tapi sahabatnya itu terlihat enggan dan malu, dan menyuruh Maura pergi dari sana.
"Dasar, emang mau beli apaan! Pake acara maluan segala" cebik Maura sedikit kesal kepadanya.
Tapi pada akhirnya dia nurut juga, untuk pergi ke perpustakaan dan meninggalkan Maurice di sana sendirian. Saat dia hendak keluar dari apotek tiba-tiba dia merinding begitu saja, dia melihat kesekeliling apotek tersebut.
Dia melihat berbagai ornamen yang terpasang di apotek tersebut khas Tionghoa, dan dia juga melihat ada tempat sembahyang mereka, dengan menyalakan lilin aroma terapi dan bau khas kayu gaharu, membuat Maura teringat dengan sosok yang selama ini menjadi momok baginya.
Dimana tempat itu terletak sebuah dupa atau hio untuk pemilik atau karyawan apotek itu untuk sembahyang sesuai dengan kepercayaan mereka anut, tapi aroma dari dupa itu membuat Maura merinding, aroma gaharu, tak ada yang salah dengan itu, aroma yang wangi dan khas, semua orang menyukainya tapi tidak dengan Maura, karena itu mengingatkannya akan sesuatu.
"Mungkin ini hanya perasaanku saja, dan hanya kebetulan saja.." gumamnya lagi sambil meninggalkan apotek itu.
Setelah Maura sudah pergi, Maurice baru menanyakan apa yang dia cari, dengan malu-malu dia mengatakannya, pemilik apotek itu seakan mengerti, dia mencari apa yang dimaksud oleh pelanggannya itu.
"Sudah tau bagaimana cara penggunaannya?" tanya pemilik apotek tersebut.
"Emm, belum. Ini yang pertama kalinya.." jawab Maurice jujur.
"Kalau begitu, coba aja disini. Disebelah ruangan ini ada toilet, kamu boleh pakai, nanti kita bisa lihat bersama-sama.." ucap wanita dewasa berparas Tionghoa itu.
"Bolehkah? Apa Cece bisa tau dengan ini semua? Nanti kalau negatif bagaimana?" tanya Maurice dengan polosnya.
"Aku juga seorang ibu, jadi sudah pastilah aku tau. Apa suamimu sudah tau tentang semua ini?" tanya pemilik apotek tersebut.
"Belum, dan aku juga tak yakin apa aku hamil atau tidak, makanya aku belum mengatakan apapun kepadanya, takutnya nanti mengecewakan dirinya.." sahut Maurice pelan.
"Bagus, memang harus begitu, makanya aku menawarimu untuk periksa nya disini aja, agar tak ketahuan oleh suamimu. Tenang saja, saya juga tenaga kesehatan, jadi bisa menjamin kesehatan dan keselamatanmu.." ucap apoteker tersebut sambil tersenyum penuh arti.
"Boleh, tapi.." Maurice masih terlihat bimbang.
"Tenang saja, aman kok. Saya jamin itu, apotek kami ini selain menjual dan mengenalkan berbagai obat-obatan dari bahan kimia lainnya, kami juga menjual berbagai obat herbal tradisional lainnya juga.
Nanti setelah kamu dinyatakan positif hamil, saya akan merekomendasikan vitamin apa yang bagus untuk ibu hamil, dan disini juga ada pemeriksaan gratis untuk ibu hamil" ucap apoteker itu sambil menatapnya aneh memandangi perut Maurice.
Melihat itu, Maurice agak curiga dengan sikapnya yang menurut Maurice berlebihan, apalagi mereka juga baru kenal, rasanya sungkan saja untuk membahas hal intim, untuk pengobatan, Maurice tak percaya dengan obat-obatan herbal, dia memilih datang ke rumah sakit atau klinik saja, kalau harus diperiksakan kehamilannya itu.
"Enng, gak usah deh bu, terima kasih. Saya tenang jika memeriksanya di rumah saja, tak apa.." akhirnya dia memutuskan untuk mengetesnya sendiri.
"Loh, kenapa? Diperiksa disini aja, saya kasih gratis satu deh jika beli dua, tapi harus cek urinenya disini aja, saya akan bantu kamu jika kesulitan membaca analisisnya nanti," ibu tadi cukup ngotot juga memaksanya.
"Gak usah, bu. Nanti saya periksa sendiri aja, kan ada petunjuknya di labelnya nanti" ucap Maurice sedikit jengah karena dia sedikit merasa jengah juga karena si ibu sedikit memaksakan kehendaknya.
"Ya udah jika itu maumu, nanti datang aja kesini jika berubah pikiran." ucap ibu pemilik apotek tersebut masih dengan senyumannya yang sulit diartikan.
"Ini gak dapat dua, bu? Beli satu dapet dua?" tanya Maurice dengan polosnya saat teringat dengan tawaran sang ibu apoteker.
"Kan kalau diperiksa disini, kalau gak jadi gak dapatlah!" ucap si ibu itu sedikit ketus kepadanya.
"Astogeee, tadi perasaan baik bener dah, kenapa sekarang berubah sekali?" gumamnya dalam hati.
"Ya udah, bu.. Dua aja," ucapnya lagi.
"Kamu mau periksa disini?!" tanya ibu itu senang, seperti sedang mendapatkan undian belanja di IndoMei aja.
"Ma-maksud saya beli dua aja testpack nya, gak apa saya bayar aja, hehe! Terimakasih.." ucapnya pelan.
Dia sedikit merinding saat menatap sorot tajam mata si ibu apoteker tersebut, setelah mendapatkan benda yang dicarinya dia pamit pulang dengan perasaan was-was.
"Ikuti dia, cari tahu dia tinggal dimana. Setelah itu mari rencanakan sesuatu untuk mendapatkannya, percuma saja kalau kamu seharian ini keluar mencari mangsa jika tak dapat apapun." ucap wanita tersebut, kepada sosok bayangan yang bersembunyi di dibelakangnya itu.
"Agak susah untuk menutupi diri dari mereka, karena mereka bisa melihat keberadaan kita, maka sebaik mungkin agar tak terlihat lagi olehnya, itu susah. Sudah bagus mereka masih terpikat oleh diriku untuk datang ke apotek ini, untuk selanjutnya kita lihat saja nanti.." ucap sosok bayangan hitam itu.
"Kau benar, tanpa harus di test lagi kita sudah tahu keadaan wanita itu tadi, darahnya sangat wangi dan harum, darahnya berbeda dari biasa manusia pada umumnya jika sedang hamil.
Dia seperti seorang dewi yang akan melahirkan seorang anak dewa, aku tak sabar ingin menantikan hari itu, haha!" ucap wanita itu tanpa dosa.
Setelah itu sosok hitam tadi melesat pergi jauh dari sana, dia pergi untuk mencari Maurice, tidak susah baginya menemukan Maurice, bau wanita hamil muda itu sangat harum bagi mereka.
......................
Bersambung