
Pak Kyai menyusul Meera yang kerasukan oleh ratu jin itu, semuanya melihat mereka dari seberang gedung tadi dan menatap was-was menunggu apa yang akan terjadi nanti.
"Anak ini tak ada hubungan dengan semua ini, keluarlah dan hadapi langsung aku!" ucap pak Kyai menatap dingin ratu jin itu.
"Aku tau kau sengaja mempengaruhi anak ini untuk menarik perhatian dariku, tapi kau tak memikirkan konsekuensinya sama sekali, anak ini bisa terluka jika kau biarkan dia terlalu lama di dimensimu" kata pak Kyai.
"Hihi! Jika kau tau betul maksudku, terus kenapa kau tak datang langsung? Kenapa harus menunggu ini terjadi baru kau datang? Munafik! Apa anak dari reinkarnasi panglima Arialoka dan Dewi Srikandi itu tau siapa sebenarnya kau?!" ucap ratu jin itu menjawabnya sambil menyeringai.
"Diamlah! Semua ini tidak ada hubungannya dengan mereka, jangan kau libatkan mereka!" bentak pak Kyai geram.
"Betulkah? Apa panglima Arialoka tau jika ayahnya tewas dimedan perang karena disebabkan oleh pengkhianatan rekannya? Apa Dewi Srikandi tau, kalau kerajaannya dulu hancur akibat ulah seorang pengkhianat juga?
Haha! Aku tak bisa membayangkan jika mereka tau semua fakta yang sebenarnya, hihi!" ujar ratu jin itu menatap menyeringai kepadanya.
"Aku sudah menembus semua kesalahanku dimasa lalu, dan aku sudah menerima hukumannya. Di kehidupanku yang sekarang aku ingin memperbaiki kesalahan yang lalu, dengan membantu mereka.." ucap pak Kyai.
"Apa, membantu? Haha! Jangan sok kamu Adyaseka!" teriak ratu jin itu.
Dia langsung menyerang pak Kyai, mereka saling baku hantam saling serang satu sama lainnya. Semua orang terkejut melihat Meera begitu kuat melawan pak Kyai, dia sering kali terjatuh, terjungkal, dan sampai tangan dan kakinya terluka, tapi dia terlihat biasa-biasa saja.
Tentu saja yang merasukinya adalah ratu jin, bukan jin biasa. Dia tak peduli tubuh manusia yang dia tumpangi itu terluka, sedangkan pak Kyai berusaha menghindari serangannya, tak ada keinginan menyerang balik karena makhluk itu merasuki tubuh manusia, dia takut Meera akan terkena dampaknya.
.
.
Sementara itu, Ardian dan Maura juga Nur dan Rizal masih di atas gedung seberangnya, mereka ingin membantu tapi pak Kyai melarang mereka mendekatinya, dia meminta mereka untuk mengawasi yang lainnya.
Pak Kyai takut ratu jin memanggil anak buahnya dan mulai menyerang orang-orang yang ada di sana, tapi disisi lain mereka juga harus menemukan dan menyelamatkan Meera didalam penjara buatan ratu jin itu, di dimensi lain.
"Pergilah kalian, biarkan kami disini. Kami akan berjaga agar Kyai tak terluka, dan juga agar gak ada yang kerasukan lagi. Aku kali ini akan fokus lagi, percayalah padaku!" ucap Nur lagi.
"Baik, kami percaya kepada kalian. Kami usahakan tidak akan lama, mudah-mudahan Meera tidak dikurung didalam sarangnya" ucap Ardian juga.
Ardian dan Maura duduk bersila di sisi atap rooftop itu, mereka berusaha tetap fokus dan konsentrasi mengumpulkan energinya, dan memanggil para khodam mereka untuk menuntunnya agar bisa lepas raga.
"Apa tak apa membiarkan mereka lepas raga? Amankah?" tanya Rizal sedikit khawatir melihat mereka.
"Kata pak Kyai, mereka malah sering keluar masuk ke dunia lain tanpa lepas raga, jadi aku yakin tak apa. Malah bagus seperti ini, setidaknya tubuh mereka aman disini" jawab Nur.
"Aku masih tidak percaya saat pak Kyai menceritakan tentang mereka, aku pikir hanya sebuah cerita saja. Sihir, ilmu hitam, reinkarnasi dan kisah mereka mirip seperti cerita novel saja.
Tapi saat aku pertama kali melihat Ardian dan teman-temannya, aku mulai berpikir.. Ternyata mereka ada nyatanya, apalagi saat bertemu dengan Maura.. Aku pikir dia adalah gambaran sosok putri jaman dulu, dan sepertinya dia memiliki aura yang cukup kuat" ucap Rizal menatap kagum mereka.
"Hem,, apakah kau tertarik dengan Maura?" tanya Nur hati-hati.
"Siapa yang tak tertarik dengannya, semuanya pasti tertarik. Hanya saja aku harus bisa mengukur diri sendiri, aku bukanlah jodoh pilihan Allah untuknya, karena dia sudah ditakdirkan berjodoh dengan seseorang di masa lalunya.
Dan soal jodohku, aku serahkan kepada Allah SWT saja.. Mana yang terbaik untukku, dan untukmu" ucap Rizal sambil memandang Nur.
"Ma-maksudmu?" tanya Nur gugup.
"Kita harus fokus dulu dengan keadaan sekarang, kita harus mengawasi pak Kyai dan dua orang terpilih itu, jangan sampai ada jin lain mencoba merebut tubuh mereka juga" ucap Rizal sambil tersenyum penuh arti.
"Kemana kita harus mencari jiwa Meera? Dunia ini begitu luas sekali melebihi dunia manusia" tanya Maura bingung.
"Kita ke dunia bawah tanah, di sanalah para jin dan iblis berkumpul, semakin dalam mereka di sana, maka semakin kelam hidup mereka. Ayo kita kesana" ujar Ardian.
Mereka ditemani oleh panglima Arialoka dan Dewi Srikandi, tidak seperti sebelumnya mereka biasanya masuk dan keluar dunia itu tanpa ditemani kedua khodam mereka.
Biasanya mereka datang jika kekuatan mereka dibutuhkan saja, tapi sekarang mereka benar-benar ditemani dan menjelajahi dimensi itu bersama.
"Dimensi ini berbeda dengan dimensi yang pernah kalian masukin, disini energinya paling gelap. Konon katanya para manusia berilmu hitam tinggi bersekutu dengan para jin dan iblis dari dimensi ini" ucap Dewi Srikandi menjelaskan itu ke mereka semua.
"Itu mengapa lebih baik kalian tidak bisa dilepaskan begitu saja, jika terlihat ada dua jiwa manusia yang masih hidup berkelana di negeri ini, akan mengundang banyak jin dan jika mereka tertarik kepada kalian.. Maka kalian tak bisa pergi begitu saja dari sini" sambung panglima Arialoka.
"Kalian benar, dari tadi sudah banyak yang mengintai kita" ucap Maura merinding sendiri.
"Ayo, kita harus cepat bergerak. Dan jangan berhenti disembarang tempat, jangan biarkan mereka memiliki kesempatan untuk menyerang atau mempengaruhi kalian" ucap panglima Arialoka.
Mereka menyusuri hutan penuh kabut itu, ada beberapa makhluk kecil bersayap mengelilingi mereka seperti kunang-kunang, berkelap-kelip menerangi hutan gelap itu.
Jika diperhatikan lagi sebenarnya makhluk itu berbentuk seperti manusia kecil dengan sayap kecil dipunggung mereka, yang biasa orang panggil peri kecil.
"Hati-hati, ada sesuatu yang datang dari depan.." bisik panglima Arialoka.
Mereka berhenti melangkah, peri-peri kecil itu berjumlah ratusan itu mengelilingi mereka membentuk seperti barikade sebagai pelindung mereka.
"Makhluk apa ini, Dewi?" tanya Maura penasaran.
"Mereka ini adalah makhluk penjaga, mereka hidup diatas pohon-pohon dihutan ini. Mereka penjaga hutan ini, mereka memiliki dua sifat dan sifatnya muncul tergantung makhluk lain yang mau masuk ke hutan ini.
Jika dari awal kita masuk kehutan ini dengan niat buruk, niat jahat. Maka mereka akan berkumpul jadi satu, entah menjadi harimau atau naga, yang jelas mereka akan menghalau siapapun yang akan masuk.
Kecuali para penghuni hutan ini, mereka bebas keluar masuk,, dan soal kita.. Mungkin karena niat kita ingin menolong Meera, makanya mereka bersikap seperti ini kepada kita" ucap Dewi Srikandi menjelaskan semuanya.
"Bagaimana kau tau semua tentang hal ini, Dewi?" tanya Maura lagi penuh keingintahuan.
"Maura, puluhan ribu kami hidup sebagai jiwa di dunia ini. Melalang buana di setiap dunia di dimensi yang berbeda, tentu saja banyak pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki.
Bak pepatah, makin tua umurmu, makin lama hidupmu dan makin banyak juga kamu memiliki pengalaman hidup" ucap Dewi mengakhiri ucapannya sebelum makhluk didepan mereka datang.
Tuk.. Tuk.. tuk..!
Criing! Cring!
Terdengar suara langkah kaki kuda kearah mereka diiringi suara loncengnya, terlihat panglima Arialoka dan Dewi Srikandi begitu mawas diri menghadapi sesuatu didepan mereka itu.
"Ada apa didepan sana?" gumam Maura.
Sedangkan Ardian terlihat begitu khawatir, perasaan Maura menjadi tak enak. Dia tahu didepan mereka nanti akan ada makhluk yang sangat kuat, bukan lawan yang mudah.
......................
Bersambung