RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Pesugihan


Maura sedikit menjauh dari hadapan Phoem, dia ternyata salah faham mengenai jenis burung itu, dan yang lebih mengagetkannya kalau ternyata burung itu juga siluman, apa makhluk ini yang dimaksud dari panglima dari kerajaan bayangan itu? Jika iya, pantas saja dia tak menyadarinya.


"Ka-kau siapa?" tanya Maura pura-pura cuek melanjutkan makannya.


"Hem, ternyata kau baru pertama kali melihatku yah? Kau akan tau sendiri nantinya, kalau tidak.. Coba kau tanya sendiri sama dia," ujar Phoem sambil tersenyum sinis kearah Maura, setelah itu arah pandangannya menuju sosok yang berada dibelakang Maura.


"Apa enaknya makan disini, apa kau ingin berbagi makanan dengan burung ini?" Arga menatap tajam kearah mereka, dia menghampiri keduanya dengan wajah ditekuk.


"Ya Tuhan, ada apa dengan mereka ini? Senang sekali mengurusiku mau makan dimana saja pakai dikomentari segala!" ucap Maura dalam hati, gondok sekali.


"Aku sudah selesai, silakan kalau mau mengobrol kalian berdua!" ucapnya ketus seraya meninggalkan Arga dan Phoem diatas Rooftop itu.


"Sial!" umpat Arga kesel, baru saja dihampiri langsung ditinggal pergi.


"Yang aku tau, wanita itu tidak suka dikejar-kejar seperti itu.. Apalagi dia telah memiliki pasangan, kau tak bisa berharap lebih dengannya. Dan, kau juga harus tau diri!" ucap Phoem sambil meninggalkan Arga di sana sendirian.


Sementara itu Maura turun dari atap menuju kelasnya dan tak sengaja berpapasan dengan Ichan, sekilas dia melihat bayangan hitam menempel dibelakangnya Ichan, Maura berhenti dan memperhatikan sekali lagi, tapi bayangan itu sudah tak ada.


"Emm, mungkin aku salah lihat. Mana ada makhluk yang seperti itu disini, ada makhluk halus disini lebih suka mageran ditempatnya bukannya ngintilin manusia.." gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ichan dan Maura masuk ke kelas mereka untuk mengikuti kelas terakhir hari ini, sosok bayangan hitam yang Maura lihat tadi sedang bersembunyi dibalik tembok, mulai keluar berlahan dari persembunyiannya disini.


"Apa yang kau lakukan disini, makhluk hina?!" Arga melihat makhluk itu keluar dari dinding langsung menarik lehernya dengan keras.


"Khhkk! Kekekkkhhk! Lepaskan akuuu, inii tidak ada hubungannya denganmuuu, silumaaaann..." ujar makhluk hitam itu merasa kesakitan karena tercekik oleh Arga.


"Aku tak peduli dengan tujuanmu disini, tapi tak ada yang boleh makhluk lain berada di rumahku ini! Setidaknya kau harus izin dulu jika mau masuk!" ucap Arga sambil mengencangkan tekanan tangannya pada leher makhluk itu.


"Kkhhkk! Ba-baiklah, aku izin masuk!" ujar makhluk hitam itu.


"Tidak aku izinkan, pergi sana!" ucap Arga sambil melempar makhluk itu keluar.


Dalam sekejap makhluk itu sudah berada diluar pagar kampus itu, Arga langsung membentengi seluruh kampus agar tak ada makhluk lain yang berani menyelinap lagi masuk kedalam sana.


"Sebenarnya, dia itu apa? Jika dia siluman berarti dia sama saja dengan iblis atau jin, mereka adalah bangsa jahat yang suka menyesatkan manusia. Tapi apa yang aku lihat tadi nampak berbeda.. Dia malah mengusir makhluk itu meskipun tak membunuhnya, dengan sekali lempar makhluk itu tak berada dikawasan ini lagi.." gumam Ardian, dia tak sengaja melihat momen itu.


Sementara itu, diluar pagar nampak bayangan hitam tadi menggeram dan berteriak kesal karena kehilangan targetnya. Dan tepat diatas rooftop tadi Phoem memperhatikan makhluk jahat itu, rasa khawatirnya mulai datang saat melihat energi kelam si makhluk.


"Ada niat jahat terselubung didalam makhluk itu, dia dikirimkan untuk mengambil tumbal. Sepertinya aku harus lebih waspada lagi, tugasku selain menjaga gedung ini tetap aman, tapi perjanjian lama tetap harus aku lakukan, sesuai aturan langit.." ujar Phoem.


Dia mulai nampak serius dan berjaga, Phoem yang biasanya terlihat santai dan lebih suka mageran, mulai menunjukkan sisi kuatnya. Jubah berbulunya mulai berubah menjadi sayap, dia ingin berpatroli mengelilingi kampus dan menjaganya tetap aman.


Sementara makhluk tadi sadar ada sosok yang sama kuatnya dengan makhluk didalam tadi, langsung pergi dari sana daripada mati sia-sia.


.


.


Jam pelajaran sudah berakhir, Ichan masih ingin tinggal di kampus karena harus mengerjakan sesuatu, dia sedang menuju perpustakaan karena dia pikir berada di sana lebih tepat dan nyaman jika ingin belajar.


"Astaga! Kau mengagetkanku saja," ucapnya terkejut saat mengambil buku disalah satu rak di sana, tatapan matanya tak sengaja bertatapan langsung dengan Arga tepat dihadapannya.


"Kenapa? Memangnya aku tak boleh disini?!" tanya Arga tak senang.


"Bu-bukan begitu, aku hanya kaget saja.." ucap Ichan sedikit takut dengan tatapan tajam matanya Arga.


Dia pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju meja tempat dia belajar, sedangkan Arga berada tak jauh dari sana, dia juga terlihat seperti sedang membaca dengan serius tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu.


Padahal sebenarnya dia sedang memperhatikan Ichan, dengan kekuatan penglihatannya jadi tembus pandang sehingga dia bisa memperhatikan pemuda itu tanpa harus khawatir ketahuan.


"Sebenarnya ada apa dengannya? Apa dia atau keluarganya sedang melakukan ritual pemuja setan? Kenapa makhluk itu tadi menginginkannya?" gumamnya sambil memperhatikan Ichan dibalik buku itu.


Sementara anak itu masih fokus dengan bukunya tanpa curiga sama sekali sedang diperhatikan.


Akhirnya Ardian bisa pulang juga bersama dengan Maura dengan sedikit membujuknya, mau gak mau gadis itu mengikutinya. Hanya saja ia jadi lebih pendiam.


"Kamu kenapa?" tanya Ardian.


"Gak ada apa-apa.." jawab Maura pelan.


Mendengar hal itu Ardian tau pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya, dia membelokkan arah laju motornya menuju sebuah kedai makanan dipinggir jalan.


Maura mengangguk setuju, lagian siang ini dia hanya makan sedikit saja dengan roti sandwich miliknya, dan tentu saja tidak bisa mengenyangkan perutnya. Maura memperhatikan kedai itu, tidak terlalu ramai seperti kedai diseberangnya padahal menu makanannya juga sama, malah kedai ini lebih bersih dan rapi.


"Kenapa gak nyoba di sana aja? Di sana rame, biasanya kalau rame enak makanannya" bisik Maura kepada Ardian.


"Yakin makanannya enak?" tanya Ardian sambil menunjuk kearah kedai seberang.


Maura menoleh kearah telunjuk Ardian, betapa kagetnya dia melihat sejumlah makhluk tak kasat mata sedang meludahi beberapa makanan dan minuman yang ada di sana, seketika dia mual melihatnya.


"Aku tau, dan aku gak mau tau apalagi sampai mencobanya! Tidak, terima kasih!" ucap Maura terlihat jijik melihat kearah kedai itu.


Ada seorang lelaki yang merupakan pemilik kedai sedang menoleh kearah mereka dari kedai itu, sepertinya dia sadar ada manusia yang bisa melihat dan menyadari bisnis kotornya itu.


Maura dan Ardian pura-pura tak melihatnya dan sibuk menikmati makanan dan minuman di kedai yang mereka singgahi itu, setelah selesai keduanya memilih untuk langsung pulang tak mau berlama-lama di sana karena menyadari jika mereka sedang ditatap tajam oleh beberapa makhluk di seberangnya.


"Permisi, bu? Mau bayar!" ujar Ardian memanggil pemilik kedai.


"Iya, nak.." sahut seorang wanita paruh baya dengan hijab panjangnya, senyum manisnya menghiasi wajah teduhnya itu.


"Makanan ibu enak-enak, lebih bersih dan rapi juga. Em, maaf sebelumnya ya bu.. Tadi kita diam-diam ngevlog buat promosiin tempat ibu ini, biar teman-teman kita ngerasain enaknya makan disini.." ucap Maura bohong.


Sebenarnya dia sedang berusaha menyingkirkan pagar gaib yang mengelilingi kedai itu yang dibuat oleh saingannya, yaitu pemilik kedai pesugihan diseberangnya. Pagar itu untuk mengalihkan pandangan semua orang agar tak melihat kedai milik si ibu, malah singgah ke kedai miliknya, tentu aja dengan bantuan para makhluk itu.


"O iya, terima kasih! Saya malah bersyukur jika ada yang mau bantu saya mempromosikan tempat ini, tadinya kedai ini begitu ramai, tapi enggak tau kenapa semakin hari semakin berkurang pengunjungnya. Padahal kedai ini milik anak saya yang kerja jadi TKI, saya takut jika dia pulang dikiranya saya gak ngurus kedainya ini.." ucap si ibu melas.


Maura dan Ardian hanya menatapnya kasihan, ya begitulah setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing, anggap saja itu merupakan ujian dari Tuhan mereka tak bisa menolong lebih dari itu.


Tapi jika berurusan dengan ilmu hitam dunia pergaiban, insyaallah mereka bisa membantu karena urusan sihir merupakan bagian dari misi mereka.


Setelah melakukan pembayaran mereka berdua pamit untuk pulang, entah kebetulan atau disengaja motornya Ardian sedikit oleng saat mengendarainya, tiba-tiba bagaimana bisa itu motor malah nyelonong masuk ke kedai seberang dan menabrak sebuah pot bunga didepannya.


"Akh! Ardian, kamu gak apa?!" tanya Maura panik mengejar Ardian bersama motornya, untungnya Maura belum sempat naik tadi.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!!" terdengar suara teriakan yang begitu murka dari dalam kedai itu.


"Ah, maaf pak! Saya benar-benar tak sengaja, nanti saya ganti pot bunganya.. Em, sekalian saya beliin juga bunganya yang baru," ucap Ardian nampak menyesal sekali.


"Kamu menghina saya yah?! Saya mampu beli pot sama bunganya, kamu gak usah sok-sokan mau ganti rugi segala! Gara-gara kamu, usaha saya ini bisa bangkrut tau gak?!" teriak bapak-bapak bertubuh gempal itu murka sekali.


Semua orang memperhatikan mereka dan ada juga yang diam-diam merekam perselisihan itu, Ardian dan Maura nampak bingung dengan ucapan si bapak.


"Lah, bukannya apa-apa, pak.. Bukannya pacar eh, teman saya ini baru saja nabrak dan mecahin pot bunganya, kenapa malah bilangnya dia bisa bangkrutin usahanya bapak? Emang ada apa dengan pot bunga itu dengan usaha bapak?" pertanyaan Maura memancing kericuhan dari para pengunjung, yang mereka pikir benar adanya juga.


"Bu-bukan begitu.. Sa-saya.. Akh, sudah pergi sana dan jangan terlihat lagi olehku, kalau tidak --" si bapak mau mengancam mereka tapi tak bisa.


"Kalau tidak apa? Bapak mau kirim santet atau apa?! Ingat, bisnis dengan cara haram seperti ini tidak akan berjalan lama apalagi sampai menutup rezeki orang lain, gak akan berkah! Jangan macam-macam, jika tidak ingin semua peliharaanmu ini musnah ditanganku.." bisik Ardian ditelinga si bapak, sambil mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.


Bagi orang awam, mereka tak melihat apapun. Tapi bagi orang yang memiliki kemampuan 'khusus' mereka bisa melihat pedang besi terbuat dari besi dan perak yang begitu besar, membuat bapak itu gemetaran dan semua makhluknya bersembunyi dan menghilang begitu saja.


"Weeek, makanan apaan nih?! Bau dan gak enak!" terdengar suara beberapa pengunjung yang protes dengan rasa makanannya.


"Iya, terlihat menjijikan!" sahut juga yang lainnya.


Satu persatu mereka mulai meninggalkan kedai itu dan langsung pergi, bahkan ada juga yang beralih ke kedai seberangnya. Beberapa mereka ada yang baru menyadari jika diseberang mereka ada juga kedai makanan yang enak.


Bapak itu tak berkutik saat melihat pedangnya Ardian, si titisan panglima Arialoka. Dia begitu pasrah melihat pot bunga yang merupakan media untuk menarik pelanggannya hancur berantakan.


Maura dan Ardian pergi dari sana, ada kelegaan dihati mereka setelah melakukan semua itu, setidaknya mereka sudah melakukan misinya sedikit meskipun mereka tak bisa menangkap semua makhluk itu dan mengintrogasi si bapak darimana dia mendapatkan ilmu pesugihan itu.


Karena si bapak langsung pergi menghilang begitu saja ketika pandangan Maura dan Ardian teralihkan sebentar saat memperhatikan semua orang pindah ke kedai seberangnya.



Ardian


......................


Bersambung