RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Terima Kasih, Pak.


Pagi itu Ardian dan pak Kyai sangat khawatir karena sampai saat ini belum ada kabar apapun tentang Maura, panglima Arialoka semalaman berkelana ke setiap dimensi dunia lain melacak keberadaan Maura, tapi tak ditemukan di manapun dia berada.


Pada saat panglima sedang kebingungan, Aurora yang sedang beristirahat di kerajaan bayangan mendekatinya, dia mengatakan untuk tidak khawatir kepada Maura, karena gadis dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa kau yakin? Bagaimana kau tau, apa dia sempat menghubungimu?" tanya panglima Arialoka penasaran.


"Hem, karena aku yang lain ada di sana waktu itu. Sudah tenanglah, katakan kepada Ardian dan lainnya untuk tetap tenang dan tunggu saja kepulangannya..." ucap Aurora sebelum pergi meninggalkan panglima Arialoka yang masih tak mengerti maksudnya tadi.


"Aku yang lain? Maksudnya apa?" gumam panglima Arialoka penasaran.


Dia pun melapor kepada Ardian dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Aurora tadi, Ardian pun sama bingungnya dengan panglima Arialoka.


"Apa Aurora memiliki saudara lain? Apa dia bisa membagi dirinya menjadi beberapa bayangan?" tebak Ardian.


"Entahlah, sepertinya kita harus menunggu kepulangan Maura dan menanyakan hal itu kepadanya langsung.." jawab panglima Arialoka.


.


.


Sementara itu, Maura sudah sampai di kota Lahat pagi itu. Dia berhenti di terminal bus dan meninggalkan mobil Shalimar di sana, tak ada yang tau ataupun curiga dengannya. Hanya saja orang-orang sedikit bingung dan heran melihat seorang gadis cantik penuh dengan kotoran dan bau sekali.


"Permisi, Pak... Boleh pinjam ponselnya sebentar, saya mau menelepon teman saya agar bisa jemput saya disini..." pinta Maura kepada bapak-bapak pedagang asongan.


"Boleh, dek... Tapi pulsanya tinggal sedikit," jawab bapak tua itu.


"Cukup buat nelpon gak, Pak? Nanti saya ganti pulsanya.." tanya Maura.


"Ya cukup kalau mau ngomong sebentar," ucap bapak itu jujur.


"Gak apa, Pak. Terima kasih mau bantu..." ujar Maura sambil tersenyum.


Tut.. Tuuut.. Tuuut!


"Halo? Siapa ini?!" terdengar suara Ardian dari ujung telpon itu.


"Halo, Ardian.. Ini Maura, bisa telpon balik?" tanya Maura cepat.


"Hah, Maura? Bener ini Maura? Jawab jujur, aku gak punya waktu untuk meladeni orang iseng!" terdengar suara Ardian sedikit gusar.


"Sama, aku pun tak ada waktu berlama-lama menelpon sekarang, telpon balik aku sekarang! Pulsanya tak cukup menelpon lama," ujar Maura tak kalah gusarnya.


Tiiitt!


Dia langsung mematikan telponnya, dan benar saja Ardian menelpon balik ke nomor ponsel itu.


"Halo, Ardian..." jawab Maura sedikit lega.


"Maura, ini kamu kan?" tanya Ardian masih tak yakin, karena saat ini dia dan lainnya masih bingung dengan keberadaannya saat ini.


"Hei, apa kau tak mengenali suaraku?! Sudahlah, jemput aku di terminal A. Aku berada disini sekarang, jangan lupa bawa uang dan ponselku!" jawab Maura lagi.


"Baiklah, tunggu aku! Tidak akan lama," ucap Ardian lagi.


Setelah itu dia langsung menceritakan perihal telpon dari Maura itu kepada pak Kyai dan lainnya, panglima Arialoka langsung melacak keberadaan Maura di terminal, dan ternyata benar itu dia, meskipun penampilannya sedikit berbeda tapi dia masih bisa mengenalinya.


"Iya, itu dia!" lapor panglima Arialoka.


"Baik, aku segera ke sana sekarang juga!" ucap Ardian bersemangat.


Dia meluncur memakai motor sport miliknya, tidak lama kemudian dia sudah sampai di terminal dan menuju tempat Maura berada sesuai petunjuk dari panglima Arialoka.


"Maura?" tanya Ardian bingung melihat penampilan gadis itu, begitu kotor dan bau.


"Jangan tanya, apa kau bawa uang dan ponselku?" tanyanya balik, enggan menjawab keheranan Ardian.


"Tasmu aku bawa, semuanya ada di sana. Sekalian langsung pulang saja kita," jawab Ardian.


"Terima kasih, mana tasku?" pintanya.


Ardian memberikan tas itu kepada Maura dengan tatapan aneh kepada gadis itu, Maura tak memperdulikan tatapan Ardian itu, dia begitu sibuk dengan tasnya.


"Pak, sesuai janji saya tadi kalau saya bakalan ganti uang pulsanya, ini ambil. Dan terima kasih ya Pak.." ucap Maura sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada bapak tua pedagang asongan itu.


"Ini gak kebanyakan, Dek? Wah, pagi-pagi udah dapat rezeki lebih, terima kasih ya.." ucap bapak itu senang sekali.


"Uangnya disimpan, Pak. Disini banyak preman, hati-hati.." ujar Maura lagi.


Siapa tau gadis kotor dan bau itu, yang penampilannya seperti gembel ternyata seorang gadis berada, dan juga baik hati. Dia sempat berpikir jika Maura sedang membuat konten sosial eksperimen.


"Baik banget kamu..." puji Ardian kagum.


"Kalau bukan karena kebaikan bapak itu, mau pinjami ponselnya.. Mana bisa aku ketemu sama kamu, makanya uang itu tak seberapa dibandingkan kebaikannya.." ucap Maura.


"Aku mau mandi, makan dan tidur! Aku benar-benar lelah sekali.." ucapnya lagi.


Ardian membawa Maura ke rumahnya, dia memilih untuk istirahat di sana saja saat ini, karena rasanya tak kuat untuk bepergian lagi, karena dirinya juga sangat kelelahan.


"Kita ke rumahku saja, gak mungkin juga kamu pulang ke kostan dalam penampilan kayak gini, sekalian nanti ceritakan kepadaku apa yang terjadi semalam," ucap Ardian lagi.


Maura tak menjawab, dia juga kelelahan. Motor Ardian melaju kencang menuju rumahnya dan berharap Maurice dan Kevin belum berangkat kuliah.


"Hei, ada apa dengan kalian? Darimana saja kalian? Angga terus menghubungi aku karena dia tak bisa menghubungi kalian berdua," tanya Dhania keheranan melihat mereka berdua.


"Maura, kamu kenapa? Bau dan kotor sekali, mandi sana! Aku siapin baju buat kamu dulu.." tanya Maurice juga heran melihat penampilan Maura.


"Apa yang terjadi?" Kevin tak kalah penasarannya.


Ardian menceritakan semuanya yang ternyata dari kemarin sore, sampai kejadian di pesantren termasuk hilangnya Maura tanpa kabar.


"Aku semalaman tak bisa tidur dan makan, aku benar-benar khawatir dengannya. Nanti kau bisa tanyakan kepadanya nanti, karena dia belum bercerita apapun kepadaku.." jawab Ardian lemas.


Maura sudah selesai mandinya, kemudian dia dan Ardian sarapan bersama di sana, untungnya Maurice tadi pagi membuat sarapan lebih, entah kebetulan atau apa, dan porsi sarapannya pas untuk mereka berdua.


"Kalian tidak berangkat? Nanti telat loh! Aku dan Maura sepertinya hari ini izin dulu," tanya Ardian kepada mereka bertiga.


"Kami penasaran dengan apa yang terjadi dengan kalian semalam, dan pengen tau ceritanya.." jawab Maurice penasaran.


"Iya, kita ke kampus juga untuk mengurus kepindahan kita aja kok, siangan dikit juga bisa.." ucap Kevin juga.


"Sebentar lagi Angga sampai, dia sangat khawatir kepada kalian berdua," ujar Dhania.


"Baiklah, kalau begitu tunggu kak Angga sampai aja ceritanya biar gak ngulang lagi kalau ditanya lagi kenapa dan bagaimana, serius... Aku benar-benar lelah," ucap Maura, dia beberapa kali terlihat menguap, hal yang sama dilakukan oleh Ardian.


Dan benar saja, tidak lama kemudian dia datang dan langsung mencecar keduanya dengan berbagai pertanyaan, menatap keduanya dengan pandangan curiga.


"Kak, tolonglah... Jangan negatif thinking dulu, dengerin dulu ceritanya jangan main tuduh aja!" ujar Maura kesal karena Angga sempat curiga, mengira kedua sengaja ingin berduaan tak ingin diganggu.


"Bagaimana tidak curiga, kalian sama-sama gak ada kabar trus telpon kakak juga gak diangkat!" gerutu Angga lebih kesal lagi.


"Maura gak bawa ponselnya, sedangkan aku dalam mode khawatir jadi gak sempat ngecek ponsel, untungnya saat dia nelpon tadi aku denger suara telponku.." kata Ardian menjelaskan semuanya.


"Kalau begitu ceritakan semuanya yang terjadi dengan kalian, aku ingin dengar darimu dan juga dari Maura, kalau satu dari kalian bohong, aku pasti tau juga!" ujar Angga dengan tegasnya.


Ardian mengulang lagi ceritanya, kali ini lebih detail kepada Angga dan semuanya, begitu juga dengan Maura. Untungnya ceritanya keduanya nyambung dan Angga percaya. Karena sesuai dengan buktinya juga.


"Kau tinggalkan begitu saja mobil itu di terminal, apa gak takut hilang? Kelihatannya mobil itu mahal," tanya Dhania.


"Itu lebih baik, setidaknya itu bisa mengaburkan keberadaan Maura. Aku yakin nenek dan lainnya tau Maura terlibat dengan semua itu, dan mereka juga sudah tau keberadaan Maura.


Sebaiknya dia memang harus pindah dari tempat konstannya juga, kalian juga cepatlah berkemas. Kalau surat-surat kepindahannya sudah jadi, kita langsung ke Jakarta dan kembali ke New York, disini sudah tak aman lagi.." ucap Angga khawatir.


"Kalian pergilah, aku dan Ardian akan tetap disini setidaknya sampai misi kita berhasil. Kakak gak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Disini masih banyak orang baik, dan di dunia gaib juga aku dilindungi.


Sebaiknya kalian cepat pergi sebelum mereka menemukan kalian, aku sangat mengkhawatirkan kalian, karena kalianlah kelemahanku.." ujar Maura.


"Apa kau yakin?" tanya Angga khawatir.


"Iya, tapi sebelum itu hubungi Nayla atau Nala. Ada satu lagi anak yang ingin pergi dari tempat itu, tapi dia masih bingung, mungkin dengan Nayla dan Nala ia bisa memantapkan hatinya.." pinta Maura.


"Soal itu, kau tak perlu khawatir. Kami akan menjemput anak itu segera.." ujar Angga pasti.


"Kasihan dia, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kematian dua saudara sepupunya itu, dan jujur... Aku merasa bersalah," ucap Maura sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu gak salah, itu bukan kemauanmu, Maura.. Kamu hanya membela diri, dan kematian mereka juga penyebabnya adalah sihir, bukan kamu. Mereka mati karena senjatanya sendiri.." ujar Dhania sambil memeluk Maura, menguatkan gadis itu.


"Terima kasih, Kak..," ucap Maura merasa lebih tenang setelah dipeluk oleh Dhania, merasa dipeluk mamanya sendiri.


Setelah bercerita banyak mengenai kejadian semalam, Maura dan Ardian tak sadar ketiduran di ruang keluarga itu, Maura tertidur dipangkuan Angga diatas sofa, sedangkan Ardian tertidur dibawahnya beralaskan karpet lembut.


......................


Bersambung