
Di masa sekarang, masa modernisasi. Dimana manusia mengandalkan teknologi ilmu pengetahuan, bukan sihir lagi. Tetapi, masih ada saja orang percaya dengan sihir, santet dan ilmu perdukunan lainnya.
Tetapi itu ada benarnya juga, terkadang yang kita lihat dan dengar belum tentu juga orang bisa melihat dan mendengarnya juga, begitupun sebaliknya.
Seperti saat ini, Maurice sedang merawat Mamanya yang sakit. Entah kenapa, padahal sudah di cek suhu tubuhnya. Tetapi badan beliau sangat panas dan ia menggigil kedinginan.
Hasil termometer menunjukkan suhu tubuh Mamanya normal, saat dokter datang memeriksanya pun beliau sehat dan tak ada tanda-tanda kelainan atau orang sakit pada umumnya.
" Mom, aku ke depan dulu ya..mau nganter dokter pulang keluar." Kata Maurice kepada Mamanya.
Beliau hanya mengangguk lemas, semenjak orang tua Maurice pulang dari Florida mengunjungi pamannya, sudah banyak hal yang aneh mereka alami.
Tetapi mereka mengabaikannya, seperti mendengar suara derap sepatu yang berlari dari lantai atas sampai kebawah, padahal saat itu sudah tengah malam dan hanya ada mereka sendiri di rumah.
Dan banyak hal aneh lainnya, tetapi mereka tak ambil pusing. Karena mereka tak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu juga dengan Maurice.
*
Hingga puncaknya, pada tengah malam itu mereka terbangun lagi dengan derap langkah kaki yang ada di lantai bawah. Padahal mereka tidur dilantai atas, saking kencangnya suara itu membangunkan mereka.
"Kamu disini aja, aku mau lihat ada apa dibawah." Kata Papa Maurice.
"Jangan, aku takut." Kata Mamanya.
"Ga perlu khawatir, paling kucing atau ga tikus." Kata beliau berusaha menenangkan hati Mama Maurice.
"Bagaimana kalau bukan itu, kalau ada maling atau.." Mama Maurice takut meneruskan omongannya.
"Sudah, tidur aja lagi. Kebetulan aku juga haus mau minum. Lihat air di gelasku juga habis." Kata Papa Maurice sambil tersenyum.
Akhirnya Mama Maurice mau menunggu sendirian, lima belas menit berlalu tak ada suara apapun diluar. Tiga puluh menit kemudian masih belum juga suaminya kembali, dia berusaha sabar dan ngantuk pun datang.
Tanpa sadar beliau ketiduran, beliau terbangun ketika mendengar suara dentingan gelas dari luar kamar. Dan melihat sudah satu jam lebih berlalu suaminya belum kembali.
"Apa yang dia lakukan dibawah sana sampai tak kembali lagi. Seharusnya aku ikut saja tadi." Kata beliau menggerutu.
Mama Maurice keluar kamar, dan dia merasa ada yang aneh diluar sini. Hawa udaranya sedikit lembab, lampu sangat redup hampir menghalau penglihatannya.
Beliau berlahan turun dari tangga, dia merasa ada yang aneh karena di rumahnya begitu hening dan sepi. Yah, ini waktu lewat tengah malam waktunya semua orang istirahat. Apalagi di rumah hanya ada mereka berdua.
Para asisten rumah tangga tidak ada yang menginap, dan malam itu Maurice juga menginap di apartemennya Maura.
Saking sepi dan sunyinya, suara angin atau bunyi detakan suara jam dinding pun tak terdengar.
" Honey..? Honey, kamu dimana?" Teriak Mama Maurice mencari suaminya.
Dari ruang keluarga menuju ruang makan dan dapur tidak terlalu jauh, hanya karena sinar lampu yang redup itu penglihatannya rabun jadi terganggu.
Saat tiba di ruang makan, dia melihat suaminya berdiri mematung didepan kulkas. Kulkas itu terbuka lebar, dan dia hanya memandanginya saja.
"Honey, kamu kenapa. Kok diam saja." Kata Mama Maurice heran.
Saat beliau ingin menghampirinya, dia baru sadar ada sesuatu di sampingnya. Ada benda tergantung didekat suaminya itu, karena tidak jelas apa itu beliau pun menghampirinya.
"Honey, apa yang ada di sampingmu itu.. " Katanya penasaran.
Sesuatu yang bergantung terbalik di samping Papa Maurice itu berbalik dan menatap Mama Maurice.
Sesosok makhluk mengerikan sedang bergelantungan terbalik di sana, kepalanya dibawah dengan rambut panjang terurai sampai ke lantai dan badannya bergantung ke udara.
Wajah itu putih pucat dengan bercak darah diwajahnya. Menyeringai menatapnya.
Shock, melihat sosok itu sampai terduduk lemas. Dia berusaha sekuat mungkin untuk bangkit dan memberanikan diri.
"Papa, to-tolong..!" Beliau sekuat tenaga berbicara untuk meminta bantuan suaminya itu.
Tiba-tiba suaminya pun berbalik menghadapnya, alangkah terkejutnya dia yang dia lihat dan sangkakan suaminya itu ternyata bukan suaminya.
Muka serba hitam menutup seluruh permukaan wajahnya itu dengan mata merah menyala, menyeringai menghampiri Mama Maurice yang kembali terduduk lemas ketakutan.
"Kemana putrimu, kenapa belum pulang? Ckck.. Seharusnya kau lebih baik lagi mendidiknya, tapi tak apa mulai sekarang biar aku yang mengurusnya. Hihihi.." Kata sosok itu.
Saking takut dan tidak kuatnya beliau akhirnya pingsan.
*
*
"Honey, honey.. Hey sayang, bangunlah." Kata suaminya.
Saat beliau terbangun hari sudah pagi, sinar matahari pun sudah masuk lewat jendela rumah yang terbuka.
Dia melihat disekelilingnya sudah ada suami beserta beberapa asisten rumah tangganya sudah datang dan memperhatikannya heran.
Beliau ingat kembali dengan kejadian tadi malam, matanya menatap nanar disekelilingnya. Sampai tertuju dengan suaminya itu.
"Kau, kau siapa hah ?!" Katanya berusaha menyakinkan dirinya itu suaminya atau bukan.
"Bohong! Kamu pasti setan itu kan, iya kan..?!" Katanya histeris sambil mencengkram leher baju suaminya itu.
Semua orang berusaha menenangkannya, hingga beliau kembali tenang dan menangis. Hingga Siang Maurice pulang ke rumah dan melihat keadaan Mamanya itu, terlihat seperti orang sakit menggigil kedinginan, wajahnya pucat dan berkeringat.
Tak terasa sudah tiga hari berlalu dan keadaan Mamanya sama saja.
"Mama kenapa pa?" Tanya Maurice kepada Papanya itu.
"Papa juga ga tau dia kenapa sayang, Papa menemukan Mamamu tertidur di ruang keluarga. Tapi semenjak Papa bangunin sikapnya menjadi aneh sekali.
Berulang kali dia berteriak kalau Papa sebenarnya bukan Papa yang asli tapi palsu katanya" Papa Maurice yang selalu positif thinking itu tersenyum geli mengingat tingkah istrinya tadi.
"Kok bisa begitu Pa?" Tanya Maurice khawatir, akhir-akhir ini dia sering parnoan semenjak mimpinya malam itu.
"Ah, tidak ada apa-apa kok. Paling Mamamu itu kecapekan saja, ditambah stress ama pekerjaannya itu. Hehe.." Kata Papanya santai.
Maurice jadi khawatir dan takut kalau apa yang menimpa Mamanya sama seperti yang dia rasakan malam itu.
Dia juga ingin bercerita tentang mimpi dan kejadian malam itu kepada orang tuanya, tetapi melihat keadaan Mamanya jadi dia menundanya.
Saat Maurice dan Papanya kembali ke kamar, mereka melihat Mamanya jatuh tergeletak dilantai dan matanya melotot sambil memandang keatas langit-langit.
*
Sebelum Maurice dan Papanya kembali ke kamar, dia sedang tertidur sendirian dikamar, tiba-tiba wajahnya seperti ada yang meniup-niup wajahnya.
Dia merasa terganggu, dia kira itu Maurice yang iseng. Ketika dia membuka matanya, tepat didepan wajahnya sosok yang ada diwaktu malam itu menyeringai, bau anyir tercium di hidungnya.
Karena kaget, otomatis Mamanya mundur kebelakang hingga jatuh tersungkur kebawah.
"Apakah merindukanku? Hihihi... Ahh, aku mendengar suara Maurice diluar, aku ingin menyapanya, hihi..!" Kata mahkluk itu sambil berputar-putar melayang hingga menembus langit-langit diatasnya langsung.
Mamanya kembali shock, dan terdiam sambil terbelalak matanya.
"Mama..!" Teriak Maurice dan Papanya.
Mereka berniat membawa Mamanya ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Papa Maurice duduk dibelakang bersama Mamanya, sedangkan didepan ada sopir. Sedangkan Maurice diantar sama sopir lainnya memakai mobil Mamanya bersama sopir.
*
Sepanjang perjalanan, tiba-tiba badan Mamanya semakin menggigil kedinginan. Suaminya berusaha memeluknya memberikan kehangatan kepada istrinya itu.
"Honey, jangan tinggalkan aku sendiri. Tetaplah bersamaku" Kata Papa Maurice sambil memeluk erat istrinya itu yang semakin menggigil kedinginan.
"Pak, tolong cepat sedikit dan Ac-nya kecilkan lagi yah" Pinta Papa Maurice.
"Baik Pak, dan ini hampir tak menyala Ac-nya pak" Kata supirnya menjelaskan, karena dia sendiri merasa kepanasan karena Ac-nya mati.
Saat itu, Maurice was-was memikirkan keadaan Mamanya itu. Mobilnya mengikuti mobil Papanya yang didepan.
Dan ada angin kencang entah datang dari mana menerpa kuat, seperti ada dorongan kencang untuk menabrak mobil Papanya didepan. Terlihat mobil didepan berusaha mengimbangi laju kendaraannya tersebut, tetapi gagal.
Mobil itu seperti mainan anak-anak dipermainkan begitu saja, terhempas, berguling-guling di jalanan hingga terbalik. Keadaan mobilnya hancur ringsek tak beraturan. Terlihat genangan darah yang mengalir dari dalam mobil hingga keluar.
"Mamaaa..! Papaaa..!" Teriak Maurice histeris.
Dia meminta sopirnya berhenti dan ingin menghampiri orang tuanya yang sekarat itu, tetapi sopir itu seperti orang lain. matanya menatap kosong didepan dengan membawa mobil melaju kencang menuju mobil orang tua Maurice yang ringsek, hancur tak beraturan itu.
Dhuaggghh..!!
Mobilnya menabrak mobil didepannya itu dengan kencang, mundur lagi dan melaju kencang lagi menabrak mobil itu sampai tiga kali. Hingga mobil yang ditumpangi Maurice itu berputar-putar kencang mengelilingi mobil orang tuanya sudah hancur berantakan itu.
"Tidaakk, berhenti...! Mamaa, Papaaa..!" Teriaknya histeris campur tangis pilunya
Dia hanya mampu menatap dari kaca jendela mobil itu, dan menangis melihat kedua orang tuanya yang terluka penuh darah. Dan dia melihat keduanya berpelukan erat.
Dan akhirnya mobil itupun berhenti setelah ada mobil lain menabraknya supaya berhenti, tapi anehnya mobil itu berhenti dan langsung terbalik kebawah. padahal mobil yang menabraknya tidak kencang, benar-benar aneh.
Maurice merangkak keluar menuju mobil orang tuanya, kakinya lemas tak mampu berdiri apalagi berjalan. Dia hanya merangkak sekuat tenaga menghampiri tubuh orang tuanya penuh darah.
"Mama, Papa.. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut. Aaaghhh..!!" Dia berteriak histeris memeluk orang tuanya.
Kesedihan tiada tara, tidak kuat menanggung beban sendirian. Kesendiriannya kini benar-benar terjadi, jika selama ini orang tuanya pergi bisnis dan selalu kembali meskipun lama, dia bisa memaklumi. Tetapi kali ini mereka benar-benar akan pergi selama-lamanya.
"Aaaaaaakhhhh..!!" Dia melampiaskan amarah kesedihannya sambil memeluk jasad kedua orang tuanya.
Akhirnya dia pun jatuh pingsan, karena dia juga terluka lumayan parah setelah tabrakan tiga kali, hingga tabrakan terakhir membuat mobil yang dia tumpangi tadi terbalik juga.
Setengah sadar, dia merasakan ada yang menarik dan membawanya ke ambulans. Samar-samar dia melihat di samping mobil hancur itu, orang tuanya melambaikan tangannya sambil tersenyum. Mereka terlihat baik-baik saja seperti masih hidup.
......................
bersambung