
Seolah mengerti situasinya, Julian buru-buru membawa Ardian keluar dari klinik itu. Dia langsung menutupinya memakai jaket yang dia pakai.
"Terima kasih Dok, maaf sekali lagi merepotkan mu. Sampai jumpa lagi Dok!" ujarnya setengah berlari sambil menuntun Ardian.
Semua orang penasaran ingin melihat Ardian, pria kritis tadi dan sekarang sudah sehat wal'afiat.
"Lain kali, kalau mau datang telpon dulu! Kalau perlu gak usah datang kalau Ardian terluka!" Sahut dokter Jeffrey sambil berteriak, karena jarak mereka lumayan jauh sekarang.
Mereka berlari kencang, takut dikerumuni oleh orang-orang. Dan akhirnya jika ada kamera jahat akan memfoto atau memvideokan mereka, jangan sampai wajah Ardian terekspos media.
Karena banyak hal, makanya mereka sementara waktu harus menyembunyikan identitasnya.
Sedangkan dokter Jeffrey pusing kewalahan menghadapi banyak pasien, mereka ingin dirawat atau disembuhkan olehnya. Gara-gara melihat Ardian sembuh begitu saja.
"Aku bukan dukun! Memang dasarnya anak itu gak kenapa-kenapa saja, kalian saja yang menanggapinya berlebihan." Ujar dokter Jeffrey kesal.
Dia meminta asistennya untuk mengosongkan jadwalnya, dan meminta pasiennya yang terlanjur menunggu dialihkan ke dokter lain. Dia harus kabur kalau tidak dia tidak akan bisa keluar.
"Apa yang disembunyikan oleh Ardian, kenapa dia terlihat misterius sekali? Apalagi dia juga pengusaha muda yang menjadi salah satu terkaya di kota ini.
Dan dia merahasiakan semuanya, ada yang aneh dengannya..." ujarnya bergumam.
*
Ditempat parkiran, Julian dan Ardian berhenti berlari. Mereka terlihat lelah sekali, Joanna sedari tadi menunggu juga di sana malah ditinggal oleh Julian.
Dia juga ikut berlari mengejar mereka, berulang kali dia memanggil tapi tidak dihiraukan. Makanya dia mengejar mereka, malah Julian dan Ardian salah sangka dikiranya yang ngejar orang-orang yang di klinik tadi.
Setelah sampai, Joanna langsung menepuk bahu Julian. Julian kaget refleks menarik tangan Joanna dan menghantamnya ke tanah.
"Ugh!" Joanna tersentak, dia menahan sakit di dada dan tangannya.
Julian dan Ardian terkejut melihat Joanna yang ada di sana.
"Sa-sayang, maafkan aku. Aku gak tahu jika itu kamu, gerakan ku tadi refleks tidak terkontrol olehku!" ujarnya panik.
Dia buru-buru membantu Joanna berdiri, dan membersihkan pakaiannya dari debu dan kotoran di tanah. Tangannya langsung ditepis oleh Joanna, dia langsung berlalu pergi menuju mobilnya.
"Sorry bro, aku gak bisa tinggalin dia sendirian. Kamu tahu sendiri, Joanna menyeramkan jika lagi marah." Ujarnya seraya pergi menyusul Joanna.
"Pergilah, lagian aku sudah bilang padamu jika aku terluka tidak usah dibawa ke klinik!
Jadi begini kan, nih sekalian bawa jaketmu kali aja dia cemburu padamu, karena lebih perhatian kepadaku dibanding dengannya." Jawab Ardian seraya melempar jaket Julian kearahnya.
Dia tersenyum geli melihat kedua sahabatnya itu, dia tidak bisa memikirkan apa yang terjadi nanti. Mungkin dia akan hancur ditangan Joanna.
Mengingat dulu pernah melihat Joanna hampir mematahkan tangannya, gara-gara sempat berselisih faham dengan Julian hingga berujung perkelahian.
Ardian tak sengaja memukul Julian sampai bibirnya berdarah, tadinya Joanna berusaha tenang dan mencoba menengahi keduanya.
Malah harus emosian saat melihat kekasihnya terluka.
Alhasil Ardian harus menghadapi kekuatan Joanna yang belum terkontrol olehnya. Tangannya hampir dipatahkan oleh Joanna, jika bukan Julian yang memeluk Joanna hampir tamatlah nasib tangannya itu.
Dan sekarang terulang lagi, kali ini Julian pelakunya. Malah lebih parah, sudah ditinggal pergi eh dihajar pula. Kasihan Joanna.
"Lebih baik aku pergi dari sini, biarlah itu masalah mereka." Katanya berlalu pergi.
Mobil hitam klasik nan mewah itu berlalu pergi menuju rumah pribadinya, rumah bergaya Eropa kuno. Terlihat klasik dan mewah sekali.
Dan jarak antara para tetangga paling dekat 5km dari pagar rumah itu, dia termasuk orang introvert. Dan lebih suka menyendiri di rumah besar itu, dan hanya dia sendiri penghuninya.
Dan tentu saja ditemani puluhan bodyguard dan pelayan yang siap melayaninya.
Ardian langsung menghempaskan tubuhnya, dia masih terbayang saat Dewi Srikandi berkeliling mencari sumber arah kekuatan besar itu.
Dia juga sadar diri, jika sang Dewi ingin melihat wajahnya. Dia tidak ingin Dewi tahu kalau panglima Adipati Arialoka juga bereinkarnasi.
Biarlah ini akan menjadi rahasianya dengan Panglima adipati Arialoka yang lebih suka bersemayam ditubuhnya.
Selama ini mereka sudah melihat banyak kejadian sebelum Dewi Srikandi muncul, Dia dan panglima lah yang membantu mereka yang kesusahan oleh 'dunia' kecil itu.
Panglima Adipati Arialoka keluar dari tubuhnya, dia berdiri menghadap kearah jendela kaca kamarnya. Dia seperti merenungkan sesuatu.
"Ada apa denganmu? Apa kau merindukan kekasihmu?" Goda Ardian.
"Jaga bicaramu Ardian, dia bukan kekasihku. Dia tunangan sahabatku, tidak mungkin aku mengkhianatinya." Ujar Panglima dengan nada datar.
"Terus kenapa kau nampak lesu begitu, kau sengaja keluar agar aku tak bisa mendengar suara hatimu 'kan?!" Kata Ardian lagi.
Panglima menghela napasnya dengan berat, lalu menoleh kearahnya. Dia tersenyum, pria ini bertubuh kekar dan perkasa dengan otot-otot yang menonjol dibahu, lengan dan perutnya. Dada bidang dan perut sixpack nya nampak berotot sekali.
Dia memakai memakai pakaian tempo dulu, dengan celana panjang warna kuning keemasan ditambah kain songket melilit pinggangnya, sabuk emas sebagai penambah dan keris di pinggangnya.
Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke atas dengan Songko di kepalanya, sangat cocok dengannya. Wajah tampan dengan tubuh atletis itu sungguh mempesona.
Jika Ardian perempuan mungkin dia akan tergila-gila padanya saat ini, tapi bagi Ardian dia seperti melihat dirinya sendiri.
Karena mereka terlihat copy paste sekali, yang membedakan penampilan mereka dan tentu saja sifatnya.
"Ardian, sebentar lagi kita akan kembali ke Bumi Sriwijaya. Ada banyak tugas yang sudah menunggu kita" ujar Panglima.
"Tugas? Tugas apa maksudmu? Bukannya tugasku melindungi Maura, dan dia ada disini sekarang.
Dan sekarang ini, disini juga banyak masalah yang dilakukan para pengikutnya Arion Gaharu. Kita harus menghentikan mereka dulu, sebelum terjadi kekacauan besar nantinya" ujar Ardian serius.
"Aku tahu, tapi kamu juga harus tahu... kejadian itu datang semenjak Dewi Srikandi muncul dipermukaan" jawab Panglima.
"Tidak, kau salah. Kejadian itu terjadi karena mereka yang mulai mengganggu Maura dan orang-orang disekitarnya.
Menyebabkan Dewi Srikandi harus muncul kepermukaan, dan sepertinya Arion Gaharu telah lama menemukannya. Dan memiliki kesempatan untuk menarik Maura kesisinya.
Untungnya Dewi segera bertindak, kalau tidak Maura sudah dibawah kendali Arion Gaharu" ujar Ardian, nafasnya memburu seperti menahan emosinya.
"Ardian, apakah kau mencintai Maura?" Tiba-tiba saja Panglima bertanya seperti itu.
Ardian tadi mau minum, terkejut mendengar ucapan Panglima sehingga tak sengaja menumpahkan air minumnya.
"Apa?!"
...----------------...
Bersambung
......................
Bersambung