RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Rencana


Beberapa saat kemudian, Rosario kembali kedalam pesawat. Semua orang menunggu kabar darinya, siapa yang mengikuti mereka tadi.


"Dia sepertinya salah satu jin yang ada didalam penginapan tadi. Dia ingin ikut kita pergi, tapi sudah kuhalau" jawab Rosario tenang.


"Apa dia berbahaya?!" tanya Julian penasaran.


"Tidak terlalu, dia masih kecil. Kemungkinan dia ingin pergi dari tempat itu, dan melihat kita." jawab Rosario lagi.


"Dan melihat energi Maura yang cukup besar, tidak heran mengapa begitu banyak makhluk yang ingin berada didekatnya" jawab Ardian pula.


"Betul sekali, sepertinya para makhluk itu tertarik denganmu, Maura!" ledek Julian.


"Bodo amat, yang penting jangan dekat-dekat kepadaku dan tidak membahayakan semua orang" ujar Maura.


"Berarti kau membiarkan mereka semua mendekatimu?" tanya Maurice bergidik ngeri.


"Ya gaklah, iya kali aku temanan sama setan! Bukan kamu ya Rosariooo" ujar Maura lagi.


"Aku Jin! Bukan setan!" ujar Rosario kesal.


"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Makhluk itu sudah pergi, ayo kita istirahat saja" ujar Kevin yang terlihat kelelahan sekali.


Semuanya kembali berisitirahat dengan damai tanpa ada gangguan lainnya.


//


Tidak sadar akhirnya mereka sampai juga ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.


Biasanya penerbangan antara Amerika - Indonesia cukup panjang sekitar 22jam lebih dan bisa transit dua kali.


Tapi dengan pesawat jet pribadi yang mereka sewa bisa melaju tanpa transit lagi, dan tidak perlu khawatir soal energi bahan bakarnya. Semuanya berjalan dengan baik.


"Terima kasih, Pak. Atas bantuannya..." ucap Ardian kepada Pilot dan beberapa krunya, sebelum mereka terbang kembali.


Saat di bandara mereka sudah dijemput oleh beberapa orang kenalan Ardian dan keluarga Kevin dari sebelah ayahnya, yaitu keluarga pak Wisnu.


Mereka akan menginap di Jakarta beberapa beberapa hari sebelum ke kota Pagar Alam, Sumatera Selatan.


"Kalian menginap di apartemen saja yah, kebetulan apartemennya kosong karena kakak sepupu Kevin baru saja pindah keluar kota, dia ditugaskan oleh perusahaannya di luar pulau" kata tantenya Kevin.


Semenjak pak Wisnu sukses, dia tak pernah putus membantu keluarganya agar tak dipandang sebelah mata lagi oleh orang lain. Dan akhirnya banyak saudara-saudaranya yang sukses, sampai kuliah dan bekerja di Jakarta juga, salah satunya tante Erni adiknya pak Wisnu.


"Oh iya, tante. Terima kasih sudah banyak membantu" ucap Kevin sopan, bahasa Indonesia masih terlihat kaku.


"Tidak apa, Nak. Sebelumnya papa mu sudah mengatakan semuanya, daripada kalian menginap di hotel, lebih baik disini. kamarnya ada dua cukup untuk kalian menginap disini sementara waktu" ucap tantenya lagi.


Setelah itu beliau pergi untuk membiarkan mereka untuk beristirahat, apartemen bersih dan rapi dilengkapi dengan beberapa furniture minimalis dan juga perlengkapan lainnya.


Termasuk juga makanan-makanan yang sudah penuh didalam kulkas dan didalam lemari dapur, yang membuat mereka begitu senang tidak perlu repot keluar lagi nyari makanan.


Sedangkan Ardian dan teman-temannya berada di apartemen miliknya yang sudah disiapkan oleh anak buahnya yang ada di Jakarta.


"Kita akan beristirahat dulu disini sambil membuat rencana kedepannya bagaimana nanti, btw... Maura kau yakin akan tinggal bersama nenekmu yang di sana?


Apa gak takut? Bukankah mereka itu salah satu penyebab permasalahan yang ada dihidup keluarga kalian? Termasuk kematian mendiang ibumu?" tanya Kevin.


"Mau gak mau, aku harus mendekati mereka agar aku tahu siapa mereka sebenarnya. Lagian aku gak ingin mereka merasa curiga nantinya jika aku sudah tahu tentang silsilah keluarga itu" ucap Maura.


"Kalian bagaimana, masih mau ikut denganku?" tanya Maura balik.


"Ya iyalah, udah sampai disini juga! Yang jelas aku dan Maurice akan mencari kos-kosan saja, ogah ikut tinggal bersama mereka. Ngeri cuy, takut kena-" ucap Kevin, tapi berhenti seketika oleh sikutan tangan Maurice.


"Syut, diam! Jangan bicara aneh-aneh, bagaimanapun juga itu keluarganya" bisik Maurice.


"Ups, sorry!" ujar Kevin sambil menutup mulutnya sendiri. Dia merasa menyesal berbicara seperti itu.


//


Sementara itu, di kota indah yang masih dengan panorama alamnya yang alami. Kota sejuk dengan sektor pertanian yang subur dan salah satu kota berpenghasil teh dan kopi terbaik di negaranya.


Kota Pagaralam, kota sejuta kenangan bagi keluarga Maura. Kota yang menjadi saksi bisu atas kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Apa anak itu sudah sampai?" tanya seorang nenek tua, dengan kulitnya yang sudah berkeriput dan rambutnya memutih sempurna, dia masih memiliki fisik yang kuat.


Dia sedang duduk di balkon rumahnya di lantai atas sambil menikmati teh buatan rumahnya, dia memandangi hamparan kebun bunga mawar di belakang rumahnya itu.


"Sudah, Bu. Katanya dia sekarang berada di Jakarta saat ini, Maura dan teman-temannya akan menginap beberapa hari di sana sambil berbelanja keperluan disini dan ingin menikmati sedikit waktu liburan mereka" jawab seorang lelaki yang umurnya tak jauh beda dengan pak Irwan.


"Kenapa harus menginap segala di sana?! Kalau ingin berbelanja, bukankah disini juga bisa! Apa dia pikir segitu kecilnya kota ini sampai ingin berbelanja saja susah?!


Dasar anak sombong, persis seperti orang tuanya! Kalau dia sudah sampai, suruh dia menghadap kepadaku. Agar aku beritahu peraturan tinggal bersamaku, dia tak bisa bebas disaat diluar negeri sana!


Dia harus disiplin jika ingin tinggal bersamaku, kau harus atur semuanya, Herman! Dia tak boleh membangkang seperti ayahnya itu!" ucap nenek tua itu.


Mereka adalah ibu dan saudara ayahnya Maura, terlihat dari cara bicara dan sikapnya pak Herman begitu patuh dan takut dengan ibunya yang sudah sepuh itu.


Tapi wanita tua itu terlihat sekali fisiknya sangat kuat, pandangannya masih tajam, begitu juga dengan pendengarannya. Bahkan saat berjalan dia begitu tegap, gerakannya pun begitu luwes.


Pak Herman mengumpulkan beberapa orang yang ada di rumahnya, mereka adalah anggota keluarga lainnya. Terdiri dari istri, anak-anaknya juga keluarga dari saudara-saudaranya.


"Sebentar lagi salah satu anggota keluarga kita akan datang, sambut dia dengan baik. Dia sudah lama kita nantikan, jangan buat dia merasa tak nyaman tinggal disini.


Terutama kalian berdua, Nala dan Nayra. Diantara saudara-saudaramu kalianlah yang paling iseng dan jahil, jangan ganggu Maura nanti kalau dia sudah ada disini!" ujar pak Herman memberikan penjelasan kepada seluruh anggota keluarganya.


Nala dan Nayra merupakan dua anak kembarnya, mereka sedikit lebih tua dari Maura. Dalam satu rumah itu ada tiga anggota keluarga yang tinggal, termasuk nenek mereka.


Rumah besar itu ada tiga lantai, semua fasilitas di rumah itu lumayan lengkap dan memiliki teknologi lumayan canggih. Mereka juga memiliki beberapa pelayan dan penjaga yang loyal terhadap keluarga itu.


"Emang siapa sih si Maura itu?! Kayak tamu istimewa banget!" ujar Nayra ketus, dia merasa kesal gara-gara tamu satu orang semuanya harus sibuk mengurus ini itu demi tamu itu.


"Dia anak bungsu mang Irwan, masa kamu lupa sama dia? Kalian waktu kecil sering bermain looh" ujar ibunya.


"Aku lupa soal dia, karena sudah lama sekali" jawab Nala juga.


"Tentu saja, pada saat itu umur kalian 6 tahun dan Maura dibawah kalian satu tahun. Sudah, pokoknya nanti kalian harus berteman dengannya yah. Awal kalau jahil, ibu jewer telinga kalian berdua" ancam ibunya.


"Iya, iya bu! Ih, kayak anak kecil aja masih main jewer-jewer segala" sungut Nala.


Mereka kini ada didalam kamar Nala, Nayra terlihat gelisah sekali. Sekali-kali dia mengintip di sela pintu kamar saudara kembarnya itu.


"Baru saja kita berniat ingin pergi dari sini, eh anak itu malah datang kesini! Merepotkan saja" ucapnya kesal.


"Biarkan saja dia datang, kita akan buat dia tak betah tinggal disini" ujar Nala dengan senyuman sinisnya.


Sementara itu, pak Herman, bu Sinta dan pak Heru sedang berada di salah satu ruang kerja mereka. Mereka nampak begitu serius membahas sesuatu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara benda jatuh dari depan ruangan itu.


Praaangg!!


"Apa itu?!" seru pak Herman.


"Bang..." bu Sinta terlihat cemas.


"Biarkan aku lihat, ada apa diluar sana" ucap pak Heru.


Dia membuka pintu ruangan itu pelan-pelan, dia mengintip dari balik pintu itu dan melihat sosok bayangan hitam didepan ruangannya saat ini.


......................


Bersambung